
Devano hanya bisa mondar mandir di depan IGD dengan perasaan yg sangat kacau. Pandangan nya tak fokus dan ia merasa tubun nya gemetar bahkan Devano merasa kaki nya seperti tidak menginjak tanah.
Ia sangat terkejut saat William menelpon Devano dan mengatakan Sarah masuk rumah sakit.
Apa lagi ketika melihat Sarah yg di tangani Dokter dan Sarah tampak sangat pucat. Ketakutan Devano semakin menjadi dan terbayang kembali saat Caitlin yg juga harus di tangani Dokter di London dulu. Sedih, takut dan cemas bercampur adik dalam hati nya.
Sementara Venita hanya bisa menangis saat ini sambil memeluk Naina yg juga menangis karena takut terjadi sesuatu dengan Sarah.
Tadi saat Naina menunggu Sarah di kantin dan Sarah tak kunjung datang, Naina pun menyusul nya ke toilet. Dan betapa terkejut nya Naina saat melihat Sarah yg sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan dahi yg terluka dan berdarah. Naina berteriak histeris dan itu menarik perhatian teman teman nya. Teman teman nya pun juga terkejut melihat Sarah yg pingsan dan mereka langsung memanggil ambulance. Namun syukurlah Vino memanggil salah satu guru nya dan langsung membawa Sarah kerumah sakit.
"Will..." seru Jason yg baru saja datang dengan nafas yg terengah "Dimana adik mu? Dia engga apa apa kan?"
"Masih di tangani Dokter, Pa. Aku yakin Sarah akan baik baik aja" seru William berharap kedua orangtua nya sedikit tenang walaupun ia sendiri sangat gelisah.
"Sebenarnya apa yg terjadi, Naina?" tanya Jason pada Naina.
"Naina engga tahu, Om. Tadi pas Naina nyusul Sarah ke toilet, Sarah sudah pingsan dan kepala nya berdarah" jawab Naina sambil sesegukan.
"Mungkin dia terpeleset" sambung Venita sembari mengusap air matanya.
Sementara Devano masih mondar mandir dengan wajah yg sangat tegang, bahkan berkali kali ia mengepalkan tangan nya berusaha menahan perasaan khawatir nya namun tak bisa. Apa lagi ketika ia mengingat Caitlin yg saat itu juga masuk rumah sakit, Devano takut ia kehilangan Sarah seperti ia kehilangan Caitlin.
Semua orang pun menjadi sangat tegang hingga seorang Dokter wanita keluar dari ruangan IGD Dokter itu bernama Helen, teman William dulu.
"Putri ku, Helen..." seru Venita dengan wajah yg sangat ketakutan.
__ADS_1
"Sarah engga apa apa, Tante. Dia akan segera sadar. Luka nya pun tidak terlalu parah, dia gadis yg kuat. Kita semua tahu itu" ujar Helen sambil tersenyum yg membuat semua orang bernafas lega dan mengucapkan syukur.
"Will, bisa ikut dengan ku sebentar?" tanya Helen dan William pun mengikuti Helen ke ruangan nya.
"Ada apa? Apa ada masalah dengan Sarah?" tanya William saat mereka sudah sampai di ruangan Helen.
"Aku rasa Sarah engga terpeleset. Tadi saat dia sampai, aku melihat pipi kiri nya yg memerah. Aku periksa itu seperti bekas tamparan yg cukup keras, mungkin dia berantem dengan teman sekolah nya. Aku engga ngasih tahu ini ke orang tua mu sekarang karena mereka sedang shock. Tapi aku sarankan kamu cari tahu apa yg terjadi dengan Sarah, kasian dia kalau sampai di lukai secara fisik seperti ini. Aku takut ini aksi bullying"
William tak bisa berkata apa apa mendengar penuturan Helen. Ia terkejut, panik, dan cemas. Siapa yg bertengkar dengan Sarah di sekolah nya? Yg William tahu, selama ini Sarah tidak punya teman lain selain Naina. Dan tidak mungkin juga Sarah membuat masalah dengan teman nya hingga teman nya itu harus menampar Sarah dan mencelakai nya.
"Tapi Sarah baik baik aja kan? Engga ada luka dalam?" tanya William kemudian.
"Engga kok. Tapi nanti setelah dia sadar, kita akan periksa kembali ke adaan nya" jawab Helen.
"Terima kasih, Helen. Dan tolong berikan perawatan terbaik untuk Sarah"
"Baiklah, aku akan menemui Papa sama mama. Kamu tahu kan Mama punya penyakit jantung, aku takut dia tertekan"
"Iya, katakan pada Tante Sarah baik baik saja"
...........
Kini Sarah sudah di pindahkan ke ruang rawat. Devano dengan setia menunggu Sarah sadar. Ia menggenggam tangan Sarah seolah tak mau melepaskan nya walaupun hanya sebentar.
Hari sudah sore, dan Sarah belum juga sadar yg membuat Devano semakin. Ia takut Sarah tidak bangun seperti Caitlin.
__ADS_1
"Dev..." William menepuk pundak Devano dan seperti nya itu sangat mengejutkan Devano. Terlihat sekali Devano yg pasti melamun sejak tadi.
"Dimana Dokter nya? Kenapa Sarah belum sadar juga?" tanya Devano dengan raut wajah yg sangat ketakutan. Sementara William hanya bisa menghela nafas berat.
Seperti itulah Devano sejak tadi, ia selalu menanyakan Dokter dan meminta nya memeriksa Sarah karena Sarah tak kunjung sadar.
"Dec, Helen bilang Sarah akan baik baik aja. Sebentar lagi dia pasti sadar" ujar William dan tiba tiba Devano tertunduk lesu.
"Aku takut, Will..." bisik Devano dengan suara bergetar "Adikku dulu pingsan dan engga pernah bangun"
William yg mendengar itu pun turut sedih, sekarang ia mengerti kenapa Devano begitu panik sejak tadi. Itu karena Devano seperti nya trauma dengan adik nya.
"Sarah gadis yg kuat, dia cuma terpeleset, kebentur wastafel dan pingsan. Sebentar lagi dia pasti bangun" tutur William berharap Devano menjadi lebih tenang namun seperti nya itu tak bekerja.
"Aku engga akan tenang sampai dia bangun" lirih Devano dan ia mengecup tangan Sarah berkali kali.
"Ayo bangun, Little girl. You make me scared" gumam nya.
Venita dan Jason juga mendengar percakapan William dan Devano, dan sekarang mereka merasa sangat bersimpati pada Devano apa lagi mereka juga berfikir Devano pasti trauma terhadap adik nya.
"Seperti nya Devano benar benar takut Sarah kenapa napa" ujar Jason.
"Itu sudah pasti, apa lagi Sarah adalah satu satu nya yg dia miliki" jawab Venita sedih.
William pun keluar dari ruang rawat Sarah, berniat membiarkan Devano saja di dalam.
__ADS_1
Devano membelai pipi Sarah, ia menatap sendu istri nya itu.
"Sayang, ayo dong bangun..." seru Devano sambil terus membelai pipi Sarah "Aku benar benar takut, sekarang. Ini sudah sore dan kamu engga bangun bangun juga. Mau sampai kapan, Sayang?"