
Sarah merasa sangat antusias mendengar kedatangan kakaknya dari bulan madunya, namun Sayang Sarah tak bisa menjemput nya karena ia tak ada waktu. Waktunya habis untuk belajar dan mengerjakan tugas tugas nya.
Malam ini ia pun memutuskan untuk pulang karena sudah sangat merindukan kakak dan kakak ipar nya itu.
Namun saat ia dan Devano sudah siap pergi, William malah kini sudah datang kerumah nya.
"Kak Will...." seru Sarah sambil berlari menuruni tangga, begitu antusias melihat kakak nya itu.
"Little girl, jangan lari nanti jatuh" seru Devano yg juga turun. Namun Sarah tak memperdulikan nya dan saat sudah di bawah, ia langsung melompat kedalam pelukan William dan William pun menyambut nya.
"Jangan lari gitu, nanti kalau jatuh patah kaki mu" seru William kemudian ia mengecup gemas pipi adik nya yg tampak nya semakin tembem itu.
Kini Sarah memeluk Freya "Kak Fe, gimana rasanya bulan madu?" tanya Sarah yg membuat pipi Freya langsung merah padam sambil melirik William.
"Pasti engga pernah absen tiap malam ya..." sambung Devano yg membuat Freya semakin tersipu.
"Engga lah, kasian juga Freya capek" jawab William.
"Oleh oleh buat Sarah mana?" tanya Sarah.
"Itu..." Freya menunjuk beberapa paper bag dari brand terkenal. Sarah langsung mengecek isi nya.
Ada tas, sepatu, baju dan yg lain nya.
"Banyak banget, Will. Emang engga kesulitan bawa nya?" tanya Devano yg melihat oleh oleh untuk istri nya itu memang cukup banyak
"Mama sama Papa setiap hari selalu ingetin buat beliin oleh oleh untuk Sarah. Malah Papa bilang kalau uang ku habis, dia mau transfer biar bisa belanjain Sarah" ujar William yg membuat Sarah terkikik, Devano pun hanya tertawa kecil. Menyadari Sarah sangat di manja dan di sayang oleh keluarga nya.
"Kata nya kamu sakit, Dek. Maka nya kami kesini" ujar Freya.
"Udah baikan, Kak. Cuma masih pusing sedikit"
"Apa kata Dokter, Dek?" tanya William.
"Cuma demam biasa" jawab Devano yg langsung di angguki Sarah. Devano pun membawa Mereka duduk di sofa dan mereka berbincang banyak hal.
.........
Vino memperhatikan foto Sarah di layar ponsel nya sambil tersenyum. Vino merasa sangat menyesal Karena terlambat mendekati Sarah. Sendai nya ia sudah berteman dengan Sarah semenjak pertama kenal dulu, kenapa Vino baru dekat dengan Sarah saat mereka akan lulus dan berpisah, bahkan kini Sarah sudah punya tunangan.
"Ehem ehem..." Vino langsung meletakkan ponsel nya saat mendengar suara dehaman yg di buat buat itu. Ia mendongak dan mendapati kakak nya yg dengan pandangan penuh selidik.
"Foto siapa itu?" tanya Juan.
"Tumben kak Juan pulang, masuk kamar engga ketuk pintu lagi" gerutu Vino dingin.
"Kenapa? Takut ketahuan lagi masturbasi?" ejek Juan
"Najis" desis Vino yg langsung membuat Juan tertawa.
__ADS_1
"Haha, aku tahu kamu udah gituan. Engga usah sok suci" ucap Vino "Tapi siapa gadis ini..." Juan hendak mengambil ponsel Vino namun Vino segera merebut nya.
"Privacy, Kak. Jangan sembarangan" ujar Vino judes.
"Ya mau tahu aja siapa gadis yg kamu liatin sampe segitunya, tumben aja gitu" ucap Juan kemudian ia merebahkan diri nya di ranjang Vino.
"Kak Juan ngapain sih kesini? Pasti ada mau nya" tuduh Vino dan Juan langsung tersenyum miring.
"Teman mu itu, Naina..."
"Oh no..." sela Vino langsung berdiri "Dia udah punya tunangan, okey? Jangan ganggu orang yg udah punya pasangan, karma berlaku lho" tutur Vino mencoba memperingatkan kakak nya itu.
"Cuma mau deket aja, lagian hal biasa kan kalau dalam hubungan itu ada affair. Toh cuma main main, engga serius juga aku mau rebut dia dari tunangan nya"
Vino baru sadar ternyata apa yg di lakukan kakaknya dan diri nya itu sangatlah buruk. Dulu Vino sama seperti Juan, walaupun tidak separah Juan. Semenjak dekat dengan Sarah dan Naina, Vino menjadi lebih mengerti wanita dan perasaan mereka, Vino bisa lebih menghargai mereka.
"Wanita itu bukan barang yg bisa kakak mainkan seenak jidat" tegas Vino kemudian ia keluar dari kamar nya sendiri. Merasa jengah dengan tindakan kakak nya itu.
Juan hanya terkekeh, tak menanggapi serius ucapan Vino.
"Naina... Naina, baru kali ini terasa sulit mendekati wanita. Awas saja nanti kalau Jacob sudah pergi, no one will protect you, Sweetie"
.........
Sarah dan Naina berada di apartemen Jacob untuk membantu Jacob mengemasi barang barang yg akan ia bawa ke Jerman.
Tanpa terasa, sudah saat nya Jacob pergi. Naina tak henti henti nya menangis sambil memasukan beberapa pakaian ke dalam koper Jacob.
"Aku engga mau pisah..." rengek Naina. Ia berbalik badan dan mendapati mata Jacob yg juga memerah, bahkan sudah berkaca-kaca.
"So am I, sweetheart. Tapi kan hanya sebentar, aku akan pulang saat kamu wisuda. Setelah itu kita akan menikah, dan aku akan membawa mu bersama ku" tutur Jacob sembari mengusap air mata tunangan nya itu.
Jacob memeluk Naina, Sarah pun bergabung dan Jacob langsung memeluk dua gadis yg ia cintai sebagai sahabat dan kekasih hati nya itu.
"Kalian harus saling menjaga ya, jangan bertengkar. Kalau ada masalah, harus di selesaikan dengan cara baik baik" ucap Jacob menasihati.
Naina dan Sarah hanya bisa mengangguk, Sarah bahkan ikutan menangis. Jacob sama seperti William bagi nya. Sarah sangat menyayangi dan percaya pada Jacob.
"Kamu hati hati disana, jaga mata dan hati mu. Kalau sampai kamu berpaling dari Naina. Aku akan menguliti mu hidup hidup" ancam Sarah yg membuat Jacob terkekeh.
"Engga akan, di hati ku cuma ada dua ruang. Untuk kekasih ku dan sahabat ku, engga akan ada ruang lagi buat wanita lain" jawab Jacob.
"Kalian ngapain?" terdengar suara berat Devano yg membuat mereka langsung menoleh ke arah nya.
"Pelukan..." jawab Sarah yg masih berada di dalam pelukan Jacob. Devano langsung melangkah lebar dan menarik Sarah menjauh.
"Di depan suami kamu peluk pria lain?" tanya Devano menggeram marah. Dan itu sangat serius di mata nya. Sementara Naina dan Jacob hanya tertawa kecil.
"Kan lagi perpisahan, Dev" rajuk Sarah.
__ADS_1
"Engga harus pelukan begitu, kan?" tanya Devano tak mau kalah "Oh ya, sudah siap belum?" tanya Devano.
Karena sebelumnya Sarah terus terusan membujuk Devano untuk mengizinkan nya mengantar Jacob ke bandara, karena hari ini juga hari minggu dan Sarah tak ada kegiatan apapun. Devano melarang Sarah karena istri nya masih terlihat kurang sehat, namun Sarah terus mendesak Devano. Yg membuat Devano memutuskan Devano memutuskan bahwa ia juga akan mengantar Jacob.
"Sudah, aku ganti baju dulu" ucap Jacob.
Sarah dan Devano turun duluan, sementara Naina masih di dalam. Ia kembali menangis dalam pelukan Jacob. Membuat Jacob juga ingin menangis.
"Naina, kalau kamu masih menangis aku akan batalkan keberangkatan ku" lirih Jacob sembari mengelus rambut panjang Naina.
"Jangan..." bisik Naina, ia berjinjit dan langsung mengecup bibir Jacob dengan kecupan kecupan kecil yg membuat Jacob langsung menarik tengkuk Naina dan me ***** bibir Naina dengan rakus namun tetap lembut.
Naina membalas ciuman itu dengan derai air mata, ia mengalungkan lengan mungil nya di leher Jacob sementara lengan Jacob melingkari pinggang Naina.
Jacob mencium bibir Naina dengan begitu dalam, seolah agar ia tetap bisa merasakan bibir Naina sampai nanti.
"I love you, Naina..." bisik Jacob di bibir Naina.
"I love you more, Jack..."Bisik Naina juga.
Dengan sangat berberat hati keduanya melepaskan pangutan bibir mereka. Jacob membelai bibir Naina yg basah dan bengak akibat ulah nya.
"Aku pasti akan merindukan ini..."ucap Jacob.
"Aku juga" bisik Naina.
.........
Selama perjalanan ke bandara, Naina selalu bersender di bahu Jacob. Jacob pun selalu merengkuh tunangan nya itu. Seolah kedua nya benar benar enggan berpisah.
Sesampainya di bandara, mereka kembali berpelukan dan kembali lagi menangis. Devano yg melihat itu merasakan sesuatu yg menggelitik di hati nya.
Ia tak mengerti bagaimana tiga orang itu memiliki ikatan yg begitu kuat, membuat Devano merasa iri saja.
"Dev..." seru Jacob pada Devano "Aku titip Naina, aku tahu kamu menyayangi dia" ucap Jacob yg membuat Devano mengernyit bingung "Juan..." bisik Jacob
"Oh..." gumam Devano mengerti, Jacob hanya tersenyum tipis.
"Mengingat pria itu, aku takut meninggalkan Naina. Tapi aku percaya Naina akan setia dan aku percaya, sahabat Naina engga akan membiarkan itu terjadi" ucap Jacob setengah berbisik sambil menatap Devano.
Devano mengerti, ia mengangguk "Aku akan menjaga nya, jangan khawatir" ucap Devano yg membuat Jacob sedikit merasa lega.
Saat waktu nya check in, Naina kembali memberikan pelukan terkahir nya.
"Hanya sebentar, Sayang. Aku akan segera menjemput mu nanti" hibur Jacob.
"Dan aku akan selalu menunggu mu" jawab Naina. Kedua nya berpisah setelah sekali lagi memberikan ciuman perpisahan.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...