
Tanpa sengaja, Naina kembali bertemu dengan Juan di sebuah mall. Tentu Juan takkan menyia nyiakan kesempatan itu, walaupun sebenarnya iya datang ke mall itu untuk bertemu dengan salah satu teman lama nya tapi Juan membatalkan pertemuan itu demi menghabiskan waktu bersama Naina.
"Jadi Big boss juga bisa jalan jalan ke mall" ujar Naina sembari menikmati es krim vanilla kesukaan nya.
"Big boss juga manusia yg butuh hiburan" jawab Juan "Jadi, apa rencana mu, Naina?" tanya Juan sembari mengikuti Naina yg berjalan tanpa arah.
"Entahlah, aku cuma kangen Sarah..." ujar Naina dan tampak raut nya terlihat sedih. Ia memang sangat merindukan teman nya itu, biasanya mereka selalu ke mall hampir setiap akhir minggu.
"Semua orang merindukan nya, Devano bahkan hampir gila karena gadis kecil itu meninggalkan nya" ujar Juan.
"Gadis kecil itu istri nya, cinta pertama nya. Kalau kamu bisa merasakan cinta, kamu juga akan bisa merasakan kegilaan Devano saat cinta mu itu pergi" ujar Naina penuh makna.
"Cinta itu sama dengan kebodohan, bullshit" ujar Juan.
"Kita kesana..." Naina menunjuk salah satu Cafe di sana.
"Oke..." jawab Juan, keduanya pun menuju cafe itu.
Naina membaca menu yg di sediakan "Aku mau pesen pancake with vanilla ice cream" ujar Naina pada pelayan yg melayani keduanya "Kamu mau pesan apa?"
"Sama" jawab Juan sambil tersenyum.
"Kalau gitu pancake with Vanilla ice cream tiga ya"
"Tiga? Buat siapa satu nya?" tanya Juan heran.
"Buat aku lah, hehe" jawab Naian yg membuat Juan terkekeh geli, entah kenapa ia merasa gemas dengan Naian.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengobrol layak nya teman. Tentu obrolan itu di pimpin oleh Naina, karena Juan tak kan mungkin tidak mengeluarkan jurus buaya nya untuk membuat wanita yg bersama nya melayang. Tapi Naian tak membiarkan hal itu terjadi, ia selalu menanggapi rayuan Juan dengan candaan atau dengan sangat serius. Membuat Juan merasa keheranan dengan Naina dan membuat ia meragukan jiwa buaya nya.
"Oh ya, Vino kemana?" tanya Naina kemudian karena memang sudah lama ia tak melihat Vino sejak ujian selesai.
"Dia pergi kerumah ibunya" jawab Juan dingin.
"Ibu nya?" tanya Naina "Maksud nya ibu kalian?"
"Ya, wanita yg melahirkan kami" ujar Juan dan tampak sekali di wajahnya ia tak suka dengan siapa yg mereka bicarakan.
Naina pun memasang wajah serius nya sembari menepuk pundak Juan "Bagaiamana pun juga dia ibu mu, kan?" lirih Naian.
"Pancake nya datang..." Seru Juan nyaring dan terlihat sekali ia menghindari topik yg mereka bicarakan sebelum nya. Naina mencoba mengerti dan ia menyunggingkan senyum lebar nya.
__ADS_1
"Wow...." seru Naina saat pancake nya itu di sajikan.
"Kamu seiring kesini?" tanya Juan dan ia mulai menikmati pancake nya.
"Sangat, aku, Sarah dan Jacob. Kami sering ke sini" ujar Naina.
"Naina, kamu engga was was gitu kalau Jacob selalu jauh dari kamu. Jerman itu sangat jauh lho, dan wanita wanita disana sangat bebas. Mereka bahkan bisa tidur dengan pria mana pun tanpa terikat hubungan, begitu juga dengan pria nya" tutur Juan panjang lebar berharap ia bisa sedikit memanas manasi Naina. Namun Naina malah menanggapi nya dengan santai.
"Seperti kamu..." ujar nya.
"Apa?" tanya Juan karena ia memang tak mengerti apa maksud Naian.
"Juan..." Naina menatap kedua manik cokelat Juan dengan dalam "Aku bisa mengerti apa yg membuat mu menjadi bajingan seperti sekarang, Vino pernah bercerita.... Juan..."
Tanpa mendengar ucapan Naina, Juan langsung pergi karena sudah mengerti kemana arah pembicaraan itu. Naina berusaha mengejar Juan namun Juan sudah pergi sangat jauh.
Naian kembali ke meja nya dan kembali menikmati pancake nya "Kamu harus sadar apa yg kamu lakukan itu salah, Juan. Aku yakin aku bisa menyadarkan mu"
..........
Sepulang nya dari kantor nya, Devano mampir kerumah mertua nya. Ia tahu Jason masih sangat marah, tapi ia juga tahu Venita sudah memaafkan nya.
Devano membelikan sebuah tas limited edition sebagai oleh oleh untuk Mama mertua nya itu, sekaligus permintaan maaf atas segala kebodohan nya.
"Kamu apa kabar, Dev? Aku dengar kamu sudah berhenti merokok..." ujar Venita.
"Aku baik, dan ya aku memang sudah berhenti merokok. Oh ya ini aku bawakan sesuatu..." Devano menyerahkan paper bag bermerk Hermes pada Venita. Dengan ragu Venita menerima nya dan saat melihat isi nya, sebuah tas yang tentu sangat tidak murah.
"Dev, ini..."
"Buat Mama..."
"Apa?"
Tidak, Venita bukan nya terkejut dengan tas yang untuk nya. Tapi sangat terkejut dengan panggilan Devano pada nya.
"Itu tas aku belikan buat Mama..." ujar Devano lagi. Venita menatap Devano dengan sayu, ia mengangkat tangan nya dan membelai pipi Devano yg begitu tirus.
"Mama..." gumam Venita "Mama suka panggilan baru mu itu, Dev" ucapnya sembari memeluk Devano dan Devano memeluk Venita dengan sangat erat, seolah Devano sangat merindukan pelukan seorang ibu.
"Terima kasih..." lirih Devano dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Dan tas ini..." Venita melerai pelukan nya "Ini mahal banget, Dev. Seharusnya kamu engga usah belikan Mama tas yg seperti ini"
"Ini engga seberapa, Ma. Di bandingkan dengan Mama yg berbesar hati mau maafin aku"
"Sayang..." Venita kembali memeluk Devano dengan sayang seperti ibu yg memeluk putra nya "Jangan ulangi itu lagi, kebohongan engga akan pernah melahirkan kebaikan" ujar nya sambil kembali melepaskan pelukan nya.
"Aku tahu, dan aku sangat menyesal"
"Engga apa apa, sekarang yg terpenting semua nya sudah jelas"
"Ma, malam ini aku mau nginep di sini..."
"Boleh, kamu pasti kangen Sarah ya"
"Sangat..."
Devano berkata dengan suara yg kembali bergetar dan bahkan matanya memerah, ia menghela nafas berat "Aku naik dulu..." ujar Devano dan ia pun segera pergi setelah di izinkan oleh ibu mertua nya.
Di kamar Sarah, Devano menyentuh setiap barang barang Sarah yg tertata rapi di sana. Sebuah boneka Teddy bear yg sangat besar ada di tengah ranjang, Devano mengambil dan memeluk nya. Devano seolah masih bisa mencium aroma Sarah yg sangat manis di boneka itu. Devano merasakan Sarah masih berada di sana, Devano sangat merindukan Sarah nya.
"Dimana kamu, Sarah?"
.........
Sarah memutar tubuhnya di depan sebuah cermin di kamar nya, semakin hari tubuh nya semakin berisi, perut nya semakin membuncit. Betis nya semakin bengkak, pipi nya semakin tembem.
"Tapi aku masih cantik kok" ujar Sarah pada diri nya sendiri, ia membelai perut nya dengan sayang dan tanpa terasa ia meneteskan air mata nya saat mengingat keluarga nya.
Sarah sangat merindukan mereka semua dan Sarah sangat mengkhawatirkan keadaan Mama nya. Apakah neraka masih mencari nya, atau kah mereka sudah menyerah?
Sarah tak tahu, hati kecil nya meminta Sarah kembali dan menghentikan aksi pelarian nya. Namun Sarah masih tak siap menghadapi keluarga nya, terutama dengan papa nya yg tak kan mungkin mau menerima kehamilan Sarah.
Dan juga, apa yg akan di katakan orang nanti kalau Sarah hamil di usianya yg masih sangat muda. Apa lagi status pernikahan nya masih lah rahasia. Pemikiran tentang nama baik keluarga nya membuat Sarah semakin merasa tak siap untuk pulang.
Namun Sarah memutuskan akan mengirim surat lagi untuk Mama nya supaya ia tak terlalu memikirkan Sarah.
Dan Devano, Sarah juga sangat merindukan nya, namun rasa kecewa Sarah juga sangat besar pada suaminya itu. Kemarahan Sarah masih menyala dalam hati nya atas apa yg sudah Devano lakukan pada keluarga nya, dan Sarah juga tak bisa memungkiri cintanya pun masih berkobar untuk sang suami.
"Sayang, kamu baik baik di sana ya.." gumam Sarah sambil mengelus perut nya "Mama sayang sekali sama kamu, dan mama engga sabar nunggu kamu lahir. Kamu tumbuh yg kuat ya, Nak. Dan semoga nanti kakek mu mau menerima kamu"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...