Married By Challenge

Married By Challenge
Part 121


__ADS_3

Juan hanya bisa terdiam seribu bahasa namun mata nya dengan jeli mengikuti pergerakan Jacob yg saat ini sedang mencuci beras, sementara di atas kompor yg menyala sudah ada panci yg berisi air yg hampir mendidih. Kemudian Jacob memasukan beras itu ke dalam panci, ia mengaduk nya dengan pelan pelan. Setelah beberapa saat, ia menambahkan kaldu ayam ke dalam panci itu, kemudian dengan cekatan ia menambahkan garam dan penyedap rasa. Dan yg membuat Juan merasa heran, Jacob tahu dimana tempat semua bumbu bumbu itu.


Jacob sekarang juga sibuk memotong dada ayam, ia mengeluarkan beberapa bawang bawangan yg berhasil membuat Juan pusing. Ia bekerja dengan cepat dan rapi.


"Dari pada liatin aku, mending kupasin tuh bawang" ujar Jacob tanpa menoleh sedikitpun pada Juan.


"Do you think I am your maid?" tanya Juan sarkastik.


"Ya udah, pulang sana. Ngapain masih di sini" ujar Jacob tegas kemudian ia kembali mengaduk panci yg berisi beras itu.


"Kamu ngapain sih? Udah kayak rumah sendiri aja" ucap Juan dan ia ikut mengintip ke dalam panci itu.


"Mau buat bubur ayam" jawab Jacob.


"Kamu engga marah liat aku di sini? Dirumah pacar...."


"Tunangan..." Jacob meralat dengan cepat.


"Okey, dirumah tunangan mu"


"Marah lah, pengen aku bunuh kamu tuh. Tapi kalau kamu memang selingkuh sama Naina, ya aku jauh lebih marah sana Naina. Jadi sebelum aku bunuh kamu, aku harus bunuh Naina dulu" Juan langsung bergidik ngeri mendengar kata kata tegas Jacob itu.


"Terus? Kenapa sekarang kamu masih perhatian sama Naina?" tanya Juan lagi.


"Karena aku tahu dia engga selingkuh" jawab Jacob lagi sambil bernafas lega.


"Tau dari mana?" tanya Juan lagi dan ia masih sangat bernafsu untuk memancing emosi Jacob.


"Pertama, aku liat kamar Om dan Tante pintu nya ke buka. Aku fikir Tante ada dirumah, dan engga mungkin kalian berzina kalau ada Mama nya Naina dirumah" ujar Jacob dengan menekan kata berzina dan itu membuat Juan meringis "Kedua, ternyata Naina yg ada disana. Engga mungkin kalian berzina di kamar Om dan Tante kan?" lanjut nya yg membuat Juan menghela nafas panjang "Ketiga, Naian masih berpakaian sangat lengkap. Engga mungkin setelah berzina dia memakai pakaiannya dengan begitu lengkap kemudian tidur, dan ke empat. Ada baskom dan handuk, ke lima, ternyata dia demam tinggi bahkan menggiggil. Itu artinya, mungkin kamu datang, dia pingsan, karena kamu engga tahu dimana kamar nya ya kamu asal bawa aja ke kamar yg paling dekat. Ke enam, air di baskom nya cuma sedikit, tepi ranjang juga sedikit basah. Mungkin air nya tumpah dan kena kamu, karena itulah kamu buka baju"


"Bukan bocah biasa ternyata..." gumam Juan lesu. Ia benar benar tak menyangka Jacob bisa berfikir se detail itu, se positif itu, dan sebijak itu.


Sementara Jacob, setelah mengoceh panjang lebar yg membuat mulut nya sedikit pegal kini ia kembali fokus pada bubur ayam nya. Jacob melihat di dapur tidak ada makanan dan Naina pasti belum makan, karena itulah dia berinisiatif membuatkan bubur ayam.


"Kenapa?" tanya Jacob judes karena melihat Juan juga terdiam.


"Engga apa apa" gumam Juan sambil garuk garuk kepala, Jacob hanya melirik nya sekilas dan ia tersenyum miring melihat ekspresi Juan.

__ADS_1


"Jangan mendekati Naina lagi, atau aku akan memberi mu pelajaran yang luar biasa" ujar Jacob dan kini Juan yg tersenyum miring.


"Menang nya kamu bisa apa? Mengandalkan cinta sejati?" ejek nya. Jacob tak menanggapi, kini bubur ayam nya sudah siap di mangkuk.


Dan saat Jacob hendak membawa bubur nya ke kamar Naina, tanpa sengaja ia melihat ponsel Juan di meja tengah. Sementara Juan masih setia mengekori Jacob.


"Pegang...!" titah Jacob memberikan mangkuk bubur itu dan secara spontan Juan benar benar memegang nya.


Jacob mengeluarkan ponsel nya, ia membuka sesuatu di ponsel nya kemudian mendekatkan ponsel nya dengan ponsel Juan, hampir bersentuhan namun tak benar benar menyentuh selama beberapa detik.


Kemudian Jacob kembali mengotak ngatik ponsel nya sendiri. Ia tersenyum miring dan memberikan ponsel nya itu pada Juan sembari berkata "Apa itu semua privasi mu?" Juan dengan ragu mengambil ponsel Jacob sembari memberikan mangkuk bubur nya.


Jacob naik ke atas sementara Juan, ia melotot tak percaya. Semua isi ponsel nya tanpa terkecuali bahkan data rahasia yg ia kunci bisa ada di ponsel Jacob.


Bahkan ada notifikasi masuk dan itu pesan ke email Juan, bisa di akses dari ponsel Jacob juga. Bahkan dari ponsel itu juga bisa di lihat kemana saja Juan berselancar di dunia maya, seperti di situs yang....


"Oh Tuhan, bocah itu...."


...... ...


William dan Devano sudah ada di pesawat hendak kembali ke Indonesia, Devano memejamkan mata nya walaupun ia tak tidur. Sementara William, ia sibuk membuat sebuah sketsa di kertas. Ia masih berusaha mengingat pria pria itu...


"No Internet connection there, Who can live in a place like that?"


Seketika William teringat Sarah, Sarah juga pernah mengatakan hal yg sama.


Saat itu, Sarah dan Naina heboh menceritakan film horor yg katanya di sebuah pedalaman dan tak ada internet disana. Sinyal ponsel juga susah.


"Siapa yg bisa hidup di tempat seperti itu? Engga ada internet, sinyal susah. Pantas aja horor"


"Di Indonesia ada engga ya tempat seperti itu?"


"Kayaknya ada deh, Nina bobok. Coba deh nanti kita cari, siapa tahu nanti kita bisa travelling kesana"


"Ish, jangan. Bahaya tahu, kalau ada apa apa gimana? Kalau benar benar horor gimana? Kita engga bisa panggil bantuan"


"Iya juga sih, pasti susah juga kan bantuan masuk ke sana. Kalau kita hilang pasti engga bakal di temuin, Ih, seram juga ya..."

__ADS_1


"Devano... Devano..." William langsung mengguncang tubuh Devano yg membuat Devano langsung tersentak kaget.


"Apa sih?" tanya Devano kesal.


"No internet connection...." ujar William yg langsung membuat Devano menepuk jidat William.


"Kamu mabuk, huh?" ujar Devano mengerutkan dahi nya, meresa heran dengan apa yg di katakan William.


"Sarah ada di sana, bodoh...."


"M... Maksud mu?" tanya Devano sambil duduk tegak.


"Sarah pasti ada di suatu tempat, desa, pedalaman, atau sebagai nya. Yg sulit kita jangkau...." ucap William dengan sangat antusias dan meyakinkan.


"Jangan bodoh, Will. Dimana kita bisa mencari desa atau pedalaman seperti itu?" ucap Devano tak percaya namun hati nya sangat berharap itu adalah sebuah petunjuk untuk menemukan istrinya.


"Kamu yg jangan bodoh, menurut mu kemana Sarah pergi? Ke luar negeri? Dia bahkan belum ada ID card, kartu pelajar nya masih di rumah. Belom lagi masalah visa, percaya deh sama aku. Tapi ya aku bingung juga mau mencari ke desa dan pedalaman yg mana"


"Kita bisa meminta bantuan Jacob, dia pasti bisa bantu"


"Jacob kan di Jerman, Devano"


"Dia sudah pulang"


"Hah? Kapan? Kenapa?"


"Jacob akan bekerja sama aku, dia itu hacker yg cukup hebat. Karena itulah dia bisa mendapatkan pekerjaan di Jerman"


"Hacker?" seru William tak percaya.


"Ya, awalnya aku suruh dia pulang karena aku engga mau Juan ngapa ngapain Naina. Aku juga menawarkan dia bekerja di kantor aku supaya engga jauh jauh dari Naina, dan aku tanya dia bisa nya di bidang apa, ternyata dia hebat di bidang IT dan juga hacker. Perusahaan ku akan sangat di untungkan dengan keberadaan Jacob"


"Wow, amazing..." seru William dan Devano hanya terkekeh.


Dan apa kata William tadi? Sarah ada di sebuah desa atau pedalaman?


"I'm coming, my Little girl"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2