Married By Challenge

Married By Challenge
Part 108


__ADS_3

Freya hanya bisa duduk termenung sendirian di ruang tunggu rumah sakit, sedangkan Jason menemani Venita yg saat ini sedang di obat. Dan William, suami tercinta nya itu masih di tangani Dokter dan sejak tadi William terus menggumamkan nama Caitlin.


Sebagai seorang istri, tentu hati Freya terasa perih mendengar suaminya menggumamkan nama wanita lain. Tapi Freya juga mengerti, mungkin kejadian tadi mengingatkan William pada apa yg pernah ia alami bersama Caitlin.


Freya sangat bersyukur karena Venita bersama polisi datang di saat yg tepat, sehingga mereka bisa menangkap para penjahat itu dan juga bisa menyelamatkan William tepat waktu.


"Sayang..." Jason duduk di samping Freya dan ia memeluk nya, seketika tangis Freya pecah dalam pelukan ayah mertua nya itu.


"Maaf, Pa. Gara gara Fe Mama dan William sampai celaka" ucap Freya di tengah tangis nya yg kencang. Ia begitu ketakutan, takut terjadi sesuatu dengan keluarga nya.


"Ini bukan gara gara kamu, papa justru bangga sama kamu yg tetap berpegang pada prinsip mu"


Freya menggeleng, ia berusaha menghentikan tangis nya namun terasa sangat sulit.


"Freya mau mundur dari kasus Evelyn, Pa. Freya engga bisa membahayakan orang yg Freya cintai" bisik Freya.


"Jika seandainya Sarah yg ada di posisi Evelyn, apa kamu akan menyerah?" tanya Jason yg seketika membuat tangis Freya terhenti "Bahkan adik Devano juga pernah ada di posisi Evelyn dan dia engga mendapatkan keadilan apapun sampai dia meninggal" lirih Jason merasa sedih. Joson juga tahu bahwa William terus menggumamkan nama Caitlin "Kasian gadis itu, Fe. Dia masih kecil, mungkin luka fisik nya bisa sembuh tapi bagaimana dengan mental nya?"


Freya kembali termenung mendengar ucapan ayahnya. demi membela Evelyn, Freya hampir saja kehilangan suaminya, bahkan ia dan ibu mertua nya hampir di lecehkan. Tapi jika Freya berhenti dari kasus Evelyn, benar kata sang ayah mertua. Bagaimana jika itu terjadi pada Sarah? Mereka tentu tak akan berhenti meskipun nyawa menjadi taruhan nya.


"Kamu tetap semangat ya, Nak..." pinta Jason dan Freya mengangguk "Papa aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi kalian semua"


"Terimakasih, Pa" lirih Freya "Bagaiamana keadaan Mama?"


"Dia tidur setelah di beri obat sama suster" ucap Jason.


Tak lama kemudian suster keluar dari ruang UGD, Freya pun segera mencecar nya dengan berbagai pertanyaan.


"Pasien sudah keluar dari masa kritis nya, tapi masih belum sadar. Pukulan di kepala nya cukup keras sehingga kami harus melakukan pemeriksaan ulang nanti untuk memastikan keadaan nya"


"Putra ku akan baik baik saja kan, Dok?" tanya Jason.


"Iya, semoga saja. Kita harus tetep mendoakan dan men support nya" jawab Dokter itu sambil tersenyum meyakinkan.


...... ...


Naina pergi ke mall sendirian, ia menghabiskan waktu nya disana dengan makan, main, nonton, namun semua itu tidak bisa menghilangkan rasa kesepian Naina tanpa sahabat sahabat nya. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan hal hal yg sangat tak berfaedah, biasanya mereka akan pergi makan sepuas nya dengan di traktir Jacob, membuat Jacob harus lebih irit dengan keperluan pribadi nya sendiri.

__ADS_1


Huf, Naina rindu saat saat seperti itu...


Setelah dari mall, Naina pergi ke apartemen Jacob.


Sesampainya di sana, ia di kejutkan dengan Juan yg entah muncul dari mana dan tiba tiba sudah ada di belakang nya saat ia hendak masuk ke apartemen Jacob.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Naina ketus.


"Kamu yg ngapain di sini, mau ketemu selingkuhan ya? Mentang mentang tunangannya lagi di luar negeri" ucap Juan yg membuat Naina mendengus.


"Aku itu sangat setia, ini juga apartemen Jacob" jawab nya dan kemudian ia segera masuk, saat hendak menutup pintu nya, Juan menghalangi dengan kaki nya "Apa lagi?" tanya Naina kesal.


Dan tiba tiba Juan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar dan ia langsung masuk ke dalam "Engga sopan banget" gerutu Naina.


"Aku cuma mau mampir, sekalian nemenin kamu. Siapa tahu kamu kesepian" ucap Juan dengan nada yg sangat menggelikan di pendengaran Naina.


"Keluar ya, please..." pinta Naina mencoba tak terpancing emosi nya. Namun Juan malah semakin berjalan masuk, ia melihat barang barang Jacob yg tertera rapi di sana dan apartemen itu sangat bersih.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Juan.


"Engga" jawab Naina singkat.


"Selain bersih dan rapi, apartemen ini juga sangat nyaman sebagai tempat tinggal aku dan Jacob nanti" jawab Naina yg kini membuat Juan mendengus.


"Kamu cinta banget ya sama dia..." itu adalah sebuah pernyataan namun ekspresi Juan sangat lah mengejek.


"Sangat, Juan. Aku sangat sangat mencintai nya" jawab Naina tegas.


"Okey...." gumam Juan dan kini ia berjalan mendekat pada Naina. Tatapan nya sangat mencurigakan membuat Naina bergerak mundur. Namun dengan cepat Juan menarik pinggang Naina dan hanya dalam hitungan detik, Bibir Juan menempel di bibir Naina membuat Naina langsung mendorong Juan dan


PLAAKKKK....


"Shhh..." Juan meringis sambil memegang pipi kiri nya yg terasa sangat panas perih, sementara Naina menatap tajam Juan sembari mengusap kasar bibir nya "Tangan semungil ini sakit juga ya kalau nampar" ucap Juan tak peduli tatapan marah Naina.


"Keluar...." teriak Naina namun Juan tak mengindahkan nya "Aku bilang keluar, Bastard!" teriak Naina dengan mata yg terasa panas dan seketika air mata nya pun tumpah.


"Hey hey, Jangan nangis, Naina. Tadi aku cuma bercanda..." ucap Juan panik yg melihat Naina menangis.

__ADS_1


"Kamu tuh bajingan, berani nya..." geram Naina.


"Ayolah, Naina... Kita cuma berciuman, bukan bercinta..." ucap Juan kemudian dengan tenang. Tentu hal itu semakin menyulut emosi Naina.


"Aku bukan perempuan yang bisa kamu lecehkan begitu saja, Juan"


"Astaga, jangan berlebihan okey? Itu bukan pelecehan, masak iya ciuman aja udah di bilang pelecehan"


Naina menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, ia tahu percuma berdebat dengan Juan. Naina menarik paksa Juan agar keluar dari apartemen itu. Dan setelah nya Naina langsung mengunci pintu nya dari dalam tak perduli dengan suara Juan yg terus memanggil nya.


"Benar benar bajingan...." gerutu Naina dan ia segera pergi ke dapur. Naina mencuci bibir nya bahkan menggosok nya dengan kasar.


Ponsel nya berdering, ia pun merogoh nya dan itu panggilan video dari Jacob.


"Hai, Beb..." sapa Jacob manis namun Naina membalas nya dengan memberengut "Aku suka cara kamu menampar nya" ucap Jacob kemudian. Naina mengerutkan dahi nya tak mengerti, kemudian ia mendongak dan teringat Jacob memasang cctv di berbagai sudut di apartemen nya dan Jacob bisa mengakses nya dari mana saja.


"Maaf..." ujar Naina lirih, ia takut Jacob marah karena Juan sudah mencium nya.


"Aku engga marah, tapi aku benar benar merasa cemburu. Sebisa mungkin jauh dia, okey?"


"Aku selalu menjauhi nya, Jack..."


"Aku tahu, pria seperti Juan engga akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yg dia mau" ucap Jacob sembari menghela nafas berat "Tapi aku percaya kamu bisa menjaga diri, Sweetheart"


Naina tersenyum hangat mendengar ungkapan itu "I love you, kamu juga jaga diri lho disana. Awas aja kalau kami lirik cewek lain, aku congkel mata mu itu" ancam Naina yg membuat Jacob tertawa geli.


"Memang ada banyak cewek cantik dan seksi di sini, tapi aku engga tertarik. Soalnya hati dan mata ku cuma tertarik nya sama kamu" ujar nya yg membuat Naina tersipu "Bagaiamana dengan Sarah? Sudah ada petunjuk?"


"Belum, Jack. Sarah seperti di tekan bumi saja"


"Dia akan kembali, dia sangat mencintai keluarga nya kan. Dan bagaimana dengan Devano?"


"Entahlah, aku engga tahu"


"Baiklah, Sayang. Sekarang udahan ya video call nya, nanti aku akan telpon kamu lagi. Take care, honey. Love you"


"Love you too"

__ADS_1


▫️▫️▫️


__ADS_2