
Seorang sipir penjara datang dan memanggil Karin karena ada yg menjenguk nya. Dengan enggan Karin pun mengikuti sipir itu dan ia menduga ayahnya lah yg datang.
Dan saat ia sampai di ruang kunjungan, Karin langsung bertatapan dengan Sarah. Tatapan Sarah begitu ber api api, penuh amarah, kebencian dan seolah ingin membakar Karin saat ini juga. Ada Devano dan William di samping Sarah, dan juga kedua orang tua Karin.
Karin duduk dengan perasaan yg was was, dan Karin melihat ibunya yang sudah berderai air mata dan mata nya pun begitu sembab.
"Ini salah ku..." lirih Agus "Salah ku mendidik mu menjadi orang yg ambisius dan rakus, salah ku mendidik mu menjadi orang yg tidak berperasaan"
Karin hanya diam, namun tatapan nya tetap lurus menatap Sarah yg juga menatap nya.
"Aku fikir, kamu cuma gadis ingusan yg cuma bisa membully teman sekolah mu. Aku benar benar engga nyangka ternyata kamu punya jiwa pembunuh, Karin. Menang apa salah ku? Sejak dulu aku tidak pernah bermasalah dengan mu" desis Sarah. Karin tetap terdiam dan tetap mempertahankan tatapan nya pada Sarah "Akui kesalahan mu di persidangan, maka itu bisa memberikan sedikit keringanan untuk mu. Tapi jika kamu menolak, kamu tahu dengan sangat baik siapa kami. Siapa suami ku dan siapa orang tua ku, akan sangat mudah bagi kami melenyapkan mu" desis Sarah. Karin merapatkan gigi gigi nya mendengar penuturan Sarah itu namun sekali lagi ia tetap diam.
Seorang petugas polisi datang dan menyerahkan surat pernyataan bahwa Karin mengakui perbuatan nya "Tanda tangani!" tegas Sarah. Sementara Devano dan William hanya mengawasi dengan tatapan tajam mereka. Untuk saat ini, kedua pria itu membiarkan Sarah mengambil kendali.
"Aku engga mau!" tegas Karin yg malah membuat Sarah tertawa sinis.
"Kalau begitu, aku bisa saja membuat mu meninggal dalam sel tahanan mu dan berita akan tersebar bahwa kamu bunuh diri karena depresi" Sarah mengeluarkan sebuah koran dari tas nya. Koran yg berisi berita tentang kematian Karin, membuat Karin terbelalak karena saat ini ia masih sangat hidup.
"Ini berita palsu"
__ADS_1
"Besok pagi akan menjadi berita nyata" tukas Sarah "Ayolah, Karin. Demi mama mu" Sarah merayu dan mencoba mengontrol amarah nya.
"Dan ingat, saat ini kamu hidup karena belas kasih Papa ku. Dia ingin memutus rantai balas dendam ini, sampai kapan, Karin? Sampai kapan kamu akan terus memusuhi dan mencoba mencelai ku? Sementara aku selalu berhasil lolos dari rencana mu, memang apa yg kamu punya sekarang? Tidak ada, setidak nya akui kejahatan mu, terima hukuman nya, dan saat kamu bebas, mulailah hidup baru"
Sarah menarik tas nya dan bangit berdiri, di ikuti William dan Devano "Ingat, kami bisa dengan sangat mudah membuat berita di koran itu menjadi nyata. Tapi setelah Papa memberikan mu kesempatan untuk hidup, sekarang aku memberikan mu kesempatan untuk memilih jalan hidup. Peperangan yg sudah pasti aku menangkan, atau mengalah lah dan kamu punya kesempatan untuk lembaran hidup baru"
Setelah mengucapkan hal itu, Sarah dan kedua pria di samping nya itu pun bergegas pergi.
"Mama mohon, Nak.." Mama Karin memohon dengan sangat, membuat Karin tidak tega "Kami bahkan tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Jika kamu mengakui semua nya, setidak nya mungkin kamu akan di berikan sedikit keringanan. Kami akan setia menunggu mu pulang, Nak"
Karin meneteskan air mata nya namun ia tetap membisu.
Persidangan untuk kasus Sarah kini sudah di mulai, semua orang terdekat Sarah hadir kecuali Freya dan Venita. Kedua wanita itu sedang menjaga Baby Neo di rumah dan juga Venita belum tahu fakta yg sebenarnya.
Selaku korban, Sarah di mintai kesaksian. Dan Sarah memberikan kesaksian yg sejujur jujur nya. Devano juga memberikan bukti bukti percakapan Lolly dan Karin, Karin dan Lolly, Karin dan Airin bahkan Karin yg mencelekai ibu dari resepsionis perusahaan Devano.
Tak sampai disana, Devano juga menghadirkan Talitha, sang resepsionis yg mendapatkan ancaman dari Karin. Dan hal itu sangat mengejutkan Karin.
Seketika Karin teringat pada peringatan Sarah, memang benar apa yg di katakan istri Devano itu. Mereka bisa dengan sangat mudah melenyapkan Karin, dan saat ini Karin tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan.
__ADS_1
Semua bukti memberatkan nya bahkan juga penculikan Margaret dan bagaimana ia mencoba memengaruhi Margaret. Karin mati kutu.
Dan ia semakin mati kutu, saat dua saksi terkahir di hadirkan. Dan dua saksi itu adalah Lolly dan Airin.
Karin sangat terkejut, karena seharusnya mereka berdua adalah tersangka utama. Namun ternyata, mereka juga hadir sebagai saksi.
Saat Lolly memasuki ruang persidangan, ia melirik Sarah penuh penyesalan. Sementara Sarah menatap Lolly dengan kemarahan yg begitu besar.
Lolly dan Airin di sumpah untuk memberikan kesaksian yg sejujur jujur nya.
Dan walaupun dengan terbata bata, Airin dan Karin mengakui perbuatan mereka dan bersaksi atas semua kejahatan Karin. Lolly juga mengatakan ia selalu menolak perintah Karin, namun Karin selalu mengancam akan mencelekai keluarga nya. Lolly sangat takut dan terpaksa melakukan hal itu.
Lolly juga mengatakan ia mencampur susu Sarah dengan racun itu 10-15 tetes.
Sarah meneteskan air mata mendengar pengakuan Lolly. Susu yg ia minum selama ini ternyata adalah racun, padahal Lolly selama ini selalu menyajikan susu Sarah dengan senyum sumringah, seolah ia begitu tulus melayani Sarah. Sarah selalu mengucapkan terima kasih ketika Lolly melayani nya dalam hal apapun.
Dan Airin pun memberikan kesaksian yg juga sangat jujur, memang ia dan Karin dan menculik Margaret dengan berpura pura menjadi suster rumah sakit jiwa. Ia dan Karin yg membayar orang untuk mencelakai ibu Talitha supaya Airin bisa menggantikan posisi Talitha dan bisa masuk kedalam kehidupan Devano. Karin juga menjanjikan akan memberikan seluruh gaji Airin kepada Talitha acara Talitah tutup mulut dan tidak pernah kembali ke Jakarta.
Dan bahkan, Karin masih punya satu rencana terkahir yg itu penculikan pada Sarah karena ia menginginkan sejumlah uang tebusan.
__ADS_1
Namun, uang bukan satu satu nya yg Karin inginkan. Melainkan sebuah dendam, dendam karena suami Sarah dan kakak Sarah telah membuat keluarga Karin bangkrut.