
William mencoba mencari jejak Freya dan Venita. Dan saat melihat GPS ponsel Freya yg terus bergerak, William mengikuti nya.
Begitu juga polisi dan Jason pun mengikuti GPS Freya, mereka harus bergerak cepat menemukan dua wanita itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
William berhenti di sebuah rumah yg kumuh dan gelap, letaknya cukup jauh dari jalan raya. Pelacak nya berhenti disana, namun William tak menemukan siapapun disana. Hal ini membuat William merasa frustrasi, namun tiba tiba ia mendengar suara yg tak jauh dari sana. William mengikuti arah suara itu dan ada sebuah tempat yg cukup lapang dan sedikit terangan, disana William melihat Freya dan Mama nya yg di ikat.
William segera menghubungi polisi kembali dan memberi tahu lokasi nya.
Polisi itu memerintahkan William agar tak bertindak gegabah dan menunggu polisi datang, di takutkan terjadi sesuatu yg lebih buruk jika William datang sendirian.
Awalnya William setuju, ia mengawasi dengan perasaan sangat was was. Namun ia tak bisa menunggu saat melihat seorang pria menampar Freya. Tanpa fikir panjang William maju dengan membawa sebuah kayu.
Freya hanya bisa menangis sambil meringis sakit, ini sudah yg kesekian kali nya ia mendapatkan tamparan bahkan tendangan dari preman preman ini.
"Dimana bukti itu? Katakan atau aku akan membunuh kalian berdua..." desis salah satu pria itu.
"Aku tahu dimana bukti itu di simpan, tapi biarkan Freya pergi" teriak Venita dengan suara yg sudah sangat bergetar. Ia juga mendapatkan siksaan yg sama, Venita bisa menerima nya. Namun ia tak bisa menerima jika sampai menantu nya ini yg di siksa.
"Mama..." tegur Freya yg tak ingin membahayakan Mama nya "Bukti itu akan ada di pengadilan, aku bersumpah kalian semua akan membusuk di penjara" tegas Freya yg membuat Pria itu sangat marah dan hendak memukul Freya lagi, namun tiba tiba sebuah kayu memukul tangan pria itu.
"William..." seru Freya dan Venita, keduanya sedikit merasa lega dengan kedatangan William.
"Sialan, berani nya kau..." desis William marah dan ia hendak memukul pria itu, namun tiga anak buah nya malah balik menyerang William.
Perkelahian pun terjadi, sekuat tenaga William berusaha mengalahkan mereka. Namun pertarungan ini sangat lah tidak seimbang, sehingga dengan mudah William di jatuhkan.
"Will..." teriak Venita histeris melihat William tersungkur.
"Aku cuma ingin bukti yg kamu kumpulkan, itu saja" desis pria yg seperti nya ketua preman itu.
__ADS_1
"Jangan berharap..." seru William bangkit dan langsung memukul pria itu dari belakang.
Pertarungan kembali terjadi, empat lawan satu tentu bukan pertarungan yg mudah. William sudah kehabisan tenaga, namun ia tak menyerah.
Hingga sebuah pistol mengacung di kepala William membuat Freya dan Venita langsung berteriak histeris "Kasus mu atau suami mu?" tanya preman itu dengan bangga nya.
"Jangan, Fe..." pinta William dengan nafas yg tersengal. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat pertarungan nya namun William tetap berusaha bertahan.
"Will..." rengek Freya berderai air mata.
"Lepaskan putra ku..." teriak Venita yg juga menangis.
"Untuk terkahir kali nya aku bertanya, dimana bukti itu atau aku ledakan kepala suami mu" ucap nya.
"Ledakan saja kepala ku ini..." ucap William tajam bahkan ia semakin menempelkan kepala nya ke ujung pistol itu "Tapi perjuangan Freya engga akan berhenti" ucap William penuh percaya diri.
Kemudian ia memberikan sebuah isyarat pada tiga anak buah nya. Dan tiga anak buah itu menghampiri Freya dan Venita...
"Menjauh dari mereka...!" teriak William marah apa lagi melihat aksi mereka selanjutnya yg merobek pakaian kedua wanita itu. Membuat mereka berteriak histeris, darah William langsung mendidih melihat pelecehan itu.
Entah dari mana ia mendapatkan kekuatan nya kembali, ia menendang perut pria yg menodong nya dengan pistol dan dengan mudah William merebut pistol itu. Tanpa ragu William langsung melepaskan tembakan pada salah satu preman yg hendak melecehkan ibu dan istri nya, membuat suasana semakin mencekam. Sementara pria jahat itu langsung tumbang.
"Menjauh dari mereka..." seru William sambil menodongkan pistol nya pada preman preman itu.
Preman preman itu tampak waspada, sementara William berjalan menghampiri Venita dan Freya. Dengan satu tangan nya William berusaha melepaskan ikatan mereka, Sementara tangan yg lain masih menodongkan pistol.
"Pergi dari sini..." bisik William pada Freya dan Venita setelah ikatan mereka terlepas.
"Tapi, Will..."
__ADS_1
"Pergi dari sini, percaya sama aku..." pinta William lagi. Dengan ragu kedua wanita itu pun hendak pergi, namun tiba tiba salah satu preman itu dengan cepat mengambil sebuah kayu dan melemparkan nya ke Freya hingga membuat Freya terjatuh, saat itu juga William kembali melepaskan tembakan nya pada pria itu hingga membuat nya tumbang, tinggal dua pria lagi.
"Pergi, Ma..." teriak Freya yg melihat Mama nya juga berhenti dan hendak menolong Freya, Venita menggeleng sambil menangis "Pergi dan cari bantuan, Fe mohon, Ma..." mohon Freya.
"Mama akan kembali dan menyelamatkan kalian..." ujar Venita kemudian ia berlari menjauh.
Sementara sang ketua tiba tiba tertawa mengejek dan berkata "Peluru nya sudah habis" ucap nya. Ia sengaja membuat William kembali menembakan pistol itu dengan memberi isyarat pada anak buah nya untuk melakukan sesuatu, karena jika peluru nya kosong maka William akan dengan mudah di kalahkan. Mendengar itu Freya dan William menjadi panik, William mencoba menekan pelatuk nya dan memang peluru nya sudah kosong.
"Sekarang kalian berdua akan habis di tangan ku..." ujar sang ketua dingin. Ia pun menyerang William dan perkalahian kembali terjadi.
William masih mampu menandingi dua orang itu namun tiba tiba ia merasakan sebuah tusukan di pinggang nya dan sebuah pukulan di belakang kepalanya.
"William..." teriak Freya histeris dan ia berusaha berdiri namun anak buah preman itu malah langsung menyeret Freya dan melempar nya ke depan bos nya, kemudian bos itu mengambil kayu dan sekali lagi langsung memukul kepala William dengan sangat keras membuat William langsung tumbang.
"William...." teriak Freya lagi merangkak menghampiri suami nya yg sudah bersimbah darah "Ku mohon lepaskan suami ku, ku mohon..." pinta Freya menangis histeris, seluruh tubuhnya gemetar "Akan aku lakukan apapun yg kalian mau, tapi ku mohon lepaskan dia" pinta Freya bahkan ia sampai memegang kaki pria itu. Ia memohon dengan sangat.
Samar samar William melihat hal itu, dan ia merasa deja vu . Kepala William semakin terasa sakit. Dan tiba tiba ia mendengar suara seorang wanita yg sedang menangis dan memohon, dan itu bukanlah suara Freya.
"You can do what you want, but please leave him!"
"You can do what you want, but please leave him!"
Suara itu terus terngiang dalam benak William yg sudah mulai kehilangan kesadaran nya, sekuat tenaga ia mencoba membuka matanya. Kemudian Samar samar William melihat seorang gadis dengan penampilan yg sangat memprihatinkan, ia menangis dan memohon di kaki seseorang, gadis itu juga bukanlah Freya. Penampilan gadis itu yg hancur membuat hati William seperti terhimpit batu yg sangat besar, nafas nya terasa berat dan semakin berat. Hingga tiba tiba terdengar suara tembakan bersamaan dengan William yg kehilangan kesadaran nya.
"*Caitlin..."
▫️▫️▫️*
Tbc...
__ADS_1