
Devano mendelik kesal melihat kedatangan Vino, namun pria muda itu tak memperdulikan nya karena ia hanya ingin melihat Sarah ini.
"Apa pelaku nya sudah di tangkap? Seharusnya di tuntut dengan hukuman mati" ucap Vino sedih. Devano melirik nya tajam namun enggan menanggapi nya "Apa kamu tuli?" desis Vino.
"Kamu siapa nya Sarah?" tanya Devano akhirnya.
"Aku sahabat yg sangat mencintainya" ucap Vino dengan tulus, mendengar hal itu Devano menggeram marah dan hendak memukul Vino namun Vino segera menangkis pukulan Devano "Aku bilang, aku sahabat yg sangat mencintai nya, Devano" tegas Vino "Aku engga ada maksud merebut nya dari mu, aku tahu dia mencintai mu lebih dari apapun dan kamu adalah kebahagiaan nya" tutur Vino dengan lirih, tersemat luka dalam ucapan nya namun juga ketegaran dan keikhlasan.
"Terima kasih" ucap Devano pada akhirnya.
"Besok aku harus kembali ke Amerika, jadi biarkan aku menemani Sarah saat ini" ucap Vino lagi dan Devano mengangguk.
Kemudian kedua pria itu memasuki kamar Sarah, Vino mengelus kepala Sarah dengan lembut "Bangun, Princess. Semua orang menunggu mu, terutama putra tampan mu" ucap Vino "Dan besok aku harus kembali ke Amerika, jika kamu tidak bangun. Aku akan membatalkan keberangkatan ku dan akan menunggu mu sampai kau sadar. Jika Jacob bisa selalu ada untuk mu sebagai sahabat, aku pun juga sahabat mu yg akan selalu ada untuk mu"
Devano tersenyum samar mendengar penuturan Vino, kemudian Vino pergi ke sofa yg ada di sudut ruangan. Hari sudah menjelang pagi, dan Vin merasa mengantuk, ia pun merebahkan diri nya di sofa. Sementara Devano duduk di kursi yg ada di samping bangsal, Devano merasa sangat lelah. Malam ini adalah malam paling panjang, melelahkan dan juga paling membahagiakan dalam hidup nya. Dimana di malam ini ia seolah mendapatkan semua kutukan sekaligus semua anugerah dari Tuhan. Kutukan yg berupa fakta bahwa istri dan anak nya hendak di bunuh pelan pelan dan juga anak nya yg terlahir dengan jantung yg lemah. Namun kelahiran anak itu juga adalah anugerah terindah dalam hidup nya.
__ADS_1
Devano menyenderkan kepala nya di lengan Sarah sembari menggenggam tangan sang istri "Bangun, Sayang. Kalau kamu engga bangun, siapa yg akan mengurus Baby Neo? Aku engga tahu cara mengurus bayi" lirih Devano kemudian ia menutup mata pelan pelan saat kantuk menyerang nya.
..........
Saat mentari mulai menampakan diri, Devano perlahan membuka matanya dan ia baru menyadari tangan nya yg di genggam seseorang. Devano segera membuka matanya lebar lebar dan saat memandang Sarah, ia mendapati istri nya itu sudah membuka mata dan tersenyum lemah di balik alat bantu pernafasan yg menutup mulutnya.
"Hey, kamu sudah bangun? Sarah, Sayang. Oh tuhan, kamu sudah bangun, Sayang" ucap Devano antara panik, senang, terharu dan sebagainya
"DOKTER.!!!!" Devano berteriak kencang yg seketika membuat tawa Sarah tampak semakin lebar.
"Berani nya kamu mencium istri ku!" terisak Devano menarik kerah baju Vino.
"Ini di kamar pasien, harap tenang" ucap Vino santai sembari melepaskan tangan Devano dari kerah baju nya.
Dengan tak bertenaga Sarah mencoba menarik naik ujung baju Devano, membuat Devano kembali fokus pada istri nya.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Kamu sakit, hm? Dimana nya yg sakit? Kamu pusing? Aku panggil Dokter dulu ya" Devano berkata dalam satu tarikan nafas dan mata Sarah memperlihatkan bahwa bibir nya tersenyum.
"Aku... Baik baik saja" ucap Sarah pelan, ia pun melepaskan oksigen dari mulut nya namun Devano mencegah nya.
"Jangan, Sayang. Nanti kamu kenapa kenapa, aku panggil Dokter dulu ya"
"Dia sudah di periksa dan dia baik baik saja" sambung Vino yg langsung mendapatkan tatapan tajam dari Devano.
Pintu ruangan terbuka, dan Dokter muncul dengan senyum lebar di bibir nya.
"Selamat pagi, Bu Sarah" sapa sang Dokter. Ia pun memeriksa detak jantung Sarah dan denyut nadi nya "Suami mu benar, kau wanita yg sangat tangguh. Lihatlah, detak jantung nya sudah jauh lebih baik. Kau sungguh luar biasa" puji Sang Dokter yg hanya di jawab senyuman lemah oleh Sarah.
"Putra ku?" tanya Sarah kemudian.
"Baby Neo baik baik saja dan sangat sehat, dia juga sangat tampan seperti ku" ujar Devano dengan cepat. Tampak binar kebahagiaan di mata Sarah mendengar hal itu, sementara hati Devano merasa sedih mengingat kenyataan bahwa putra nya mungkin akan berbeda.
__ADS_1