
"Gadis yg William kejar malam itu adalah adik ku, Caitlin"
Sarah menatap tak percaya pada Devano. Ia menatap tepat di mata Devano seolah mencari kebohongan atau gurauan disana, namun yg ia temukan hanya sebuah kejujuran.
"Maksud mu?" tanya Sarah setengah berbisik. Devano menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan, ia beranjak dari tempat duduk nya. Berjalan ke arah jendela dan menatap keluar sana yg sudah mulai gelap, malam akan segera tiba dan matahari perlahan tenggelam.
"Gadis yg William kejar saat itu Caitlin, Sarah. Aku engga tahu gimana caranya Caitlin sampai ke jalan raya sementara William berada di di rel kereta bawah tanah" ucap Devano. Sarah pun ikut berdiri dan menghampiri Devano. Ia memutar tubuh Devano hingga kini menghadap nya.
"Lalu bagaimana kamu tahu gadis yg Kak Will kejar itu Caitlin? Apa Caitlin mengatakan sesuatu? Dan kenapa dia ninggalin Kak Will? Siapa yg melakukan ini pada mereka? Dan kenapa kamu menyembunyikan semua ini?" pertanyaan beruntun Sarah membuat Devano tak tahu harus menjawab apa dan menceritakan nya dari mana. Sementara ekspresi Sarah dalam mengajukan pertanyaan itu membuat Devano tegang, Sarah terlihat menahan amarah dan kecewa.
"Aku engga tahu harus menceritakan nya dari mana" ucap Devano dengan suara lirih.
"Alasan yg engga masuk akal, Dev..." seru Sarah dengan suara tinggi "Kamu berteman dengan Kak William lebih dari tiga tahun, kamu tahu engga Papa sama Mama mencari gadis itu. Dan sampai sekarang mereka engga tahu gadis yg membuat Kak William hampir mati...."
"Masih hampir, Sarah..." desis Devano tajam "Tapi adik ku sudah mati, dia engga bangun lagi sejak hari itu" lanjut nya dan kini ia menatap Sarah dengan begitu sendu. Hati Sarah terkesiap mendengar ucapan Devano yg menyiratkan luka besar itu, apa lagi Caitlin bukan hanya mendapatkan kekerasan tapi juga pelecehan yg berakhir merenggang nyawa.
Devano kembali ke tepi ranjang, ia duduk lesu disana.
"Jadi sejak awal kamu tahu tentang kasus Kak Will? Dan saat aku bercerita, kamu pura pura terkejut. Padahal kamu tahu apa yg Kak William alami" ucap Sarah dengan suara rendah. Devano segera mendongak dan menatap Sarah. Ia menggeleng tegas dan berkata
"Aku engga tahu, Sarah. Aku bahkan engga tahu William saat ini amnesia" jawab Devano. Sekali lagi Sarah menatap kedua manik mata Devano untuk mencari kebohongan disana, namun sedalam apapun Sarah mencoba menyelam dalam tatapan Devano, ia hanya menemukan sebuah kejujuran.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu menyembunyikan semua ini setidak nya dari aku, Dev?" tanya Sarah lagi menuntut.
"Aku..." Devano menghela nafas berat nya "Apa William mengingat Caitlin?" tanya Devano dan tentu Sarah menggeleng "Apa kalian tahu rupa bahkan nama gadis itu?" tanya Devano lagi dan Sarah kembali menggeleng. Devano tersenyum tipis, ia beranjak dari ranjang dan menghampiri Sarah yg saat ini masih berdiri terdiam "Lalu apa gunanya aku menceritakan semua itu, Sayang?" tanya Devano lagi dengan suara sangat lirih.
Ia membelai pipi Sarah seolah menggoda nya, menarik perhatian nya. Sementara Sarah hanya bisa tetap terdiam dan membalas tatapan sendu Devano "Caitlin tidak mengatakan apapun pada ku kecuali satu kata, yaitu William. Sebelum akhir nya dia kehilangan kesadaran nya dan sampai dia meninggal"
"Maksud mu?" tanya Sarah lagi.
"Saat itu, mungkin Caitlin berhasil melarikan diri dari rel kereta bawah tanah hingga dia sampai ke jalan raya. Dan satu kata yg dia ucapkan yaitu William, mungkin dia ingin memberi tahu tentang William yg masih ada disana" tutur Devano hati hati.
"Lalu kenapa kamu engga cari Kak Will?" tanya Sarah lagi.
"Aku sudah mencari nya" jawab Devano tenang "Tapi aku engga menemukan jejak apapun, aku juga engga tahu dimana penyerangan itu terjadi dan William siapa yg bersama Caitlin. Aku... Aku baru tahu kalau William yg di maksud Caitlin itu adalah teman ku, William Fergueson setelah kamu menceritakan insiden yg terjadi padw William"
Sementara Sarah, ia mencoba percaya pada Devano. Dan alasan yg di berikan Devano semua nya masuk akal.
Jika Devano tak tahu William siapa yg di maksud Caitlin, tentu itu masuk akal. Karena Sarah dan keluarganya juga tak tahu sweetie Catty siapa yg William maksud saat itu. Itulah yg ada di fikiran jernih Sarah saat ini, ia mencoba berfikir positif dan mencocokan jawaban Devano dengan kejadian yg Sarah ketahui.
"Kenapa? Kamu marah sama aku, hm?" bisik Devano sembari membelai pipi Sarah dengan sangat lembut. Ia menatap Sarah dengan begitu sendu "Ku mohon jangan marah, Sarah. Aku engga bermaksud apapun, aku cuma engga tahu harus bercerita dari mana apa lagi William juga engga ingat apapun" bujuk Devano.
"Aku engga marah" ucap Sarah yg membuat hati Devano seperti di siram air yg begitu sejuk "Aku cuma terkejut dengan fakta ini dan aku engga habis fikir ternyata gadis yg membuat kami penasaran adalah adik mu" ucap Sarah.
__ADS_1
"Aku juga sama terkejut nya, Sayang..." jawba Devano mencoba meyakinkan "Tapi semua sudah berakhir, William engga perlu mengingat Caitlin. Sekarang dia juga sudah punya kehidupan yg baru dan bahagia bersama Freya. Aku fikir kita engga perlu mengungkit masalah ini lagi, ku mohon"
"Tapi Papa Mama berhak tahu, Dev. Selama ini mereka bertanya tanya siapa gadis itu, apakah gadis itu meninggalkan William atau apakah gadis itu masih hidup atau tidak. Itu menjadi beban tersendiri bagi mereka, apa lagi insiden itu membuat Kak William sampai amnesia dan memiliki trauma"
"Kita akan kasih tahu mereka, aku janji" seru Devano dan ia langsung memeluk Sarah dengan erat "Terima kasih, terima kasih banyak, Sayang" bisik Devano senang.
"Apa ada lagi rahasia mu, Dev?" tanya Sarah juga berbisik namun nada pertanyaan itu sangat tajam. Devano menyimpan begitu banyak rahasia dalam hidup nya dan semua itu sangat mengejutkan Sarah "Kamu punya banyak rahasia yg selalu mengejutkan ku, Dev. Aku engga mau ada kejutan yg lain lagi" ucap Sarah yg membuat Devano kembali terdiam. Ia melepaskan pelukan nya dan menatap Sarah.
"Engga ada..." tutur Devano dengan suara rendah.
"Benaran?" tanya Sarah ingin memastikan karena ekspresi dan mata Devano sangat tidak meyakinkan.
"Engga ada, Sayang..." jawab Devano lagi dan ia kembali memeluk Sarah. Sementara Sarah diam saja tanpa bermaksud membalas pelukan Devano. Ia masih tak percaya rasanya dengan fakta yg baru saja ia ketahui.
Merasakan Sarah yg tak membalas pelukan nya, Devano melepaskan pelukan nya dan bertanya "Kamu marah?" lirih nya, Sarah menggeleng dengan senyum tipis "Terus kenapa engga peluk aku?" tanya nya.
Sarah pun langsung memeluk Devano "Jangan ada lagi kebohongan dan rahasia, Dev. Aku pernah meminta ini sebelum nya, tapi kamu tetap menyimpan sebuah rahasia yang cukup besar. Dan aku engga mau lagi ada rahasia yg lain" pinta Sarah.
"Maaf, Sayang..." hanya itu yg bisa Devano katakan.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...