
Jam 10.25 Juan sampai di kantor nya, hari ini ia mengadakan meeting mendadak dengan staf kantor nya. Namun saat hendak memasuki kantor nya, para karyawan nya malah berbondong bondong keluar.
"Selamat pagi, Pak Juan..." sapa salah satu dari mereka "Terima kasih untuk liburan mendadak nya, Pak..."
"Liburan mendadak apa?" tanya Juan.
"Loh, bukan nya hari ini Pak Juan meliburkan kami semua karena Pak Juan akan bertunangan?" tanya salah satu dari mereka lagi yg membuat Juan semakin keheranan.
"Masuk kalian semua!" teriak Juan kesal "Saya tidak bertunangan dan tidak ada hari libur!" tegas nya.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi tapian..." teriak Juan dan ia pun masuk ke kantor nya di ikuti para karyawan nya.
Terdengar suara bisik bisik anak buah nya itu yg mengatakan padahal Juan sendiri yg mengirimkan email pada mereka dan meliburkan mereka karena Juan akan bertunangan.
"Yang benar saja..."geram Juan kesal.
Dan ya, hari ini memang ada pertunangan, tapi bukan Juan melainkan mantan yg masih di sayang. Helen... Karena itulah Juan mengadakan rapat mendadak ini sebagai pengalihan dari rasa sesak di dada nya, fikiran yg bekecamuk tak menentu. Juan bahkan tidak bisa tidur semalaman karena membayangkan Helen akan bertunangan dengan pria lain.
Sesampainya di ruangan nya, Juan membuka laptop nya dan mengecek email nya. Ia teringat dengan karyawan nya yg mengatakan Juan mengirim email pada mereka. Dan saat Juan membuka email yg terkirim, Juan hanya bisa nendesah panjang lesu. Memang ada email terkirim pada karyawan nya dan meliburkan mereka. Juan tentu sudah bisa menebak siapa yg melakukan ini...
"Jacob, bocah sialan..." geram Juan.
Kini ponsel nya tiba tiba menyala, dan seperti sedang melakukan siaran langsung namun dari sebuah ballroom hotel.
__ADS_1
Juan mengambil ponsel itu dan mencoba menghentikan video itu namun tak bisa, kini video berganti pada beberapa foto. Foto yg mesra antara Helen dan tunangannya.
"Agh, sialan...." Juan melempar ponsel nya itu hingga rusak.
.........
"Kamu beneran engga mau, Sayang?" tanya William pada Freya yg saat ini sedang menatap William menyantap hidangan nya. Freya menggeleng pelan "Ini enak, Sayang. Engga salah Helen pesan makanan ini"
"Awal kehamilan memang kayak gitu, Kak. ***** makan berkurang, terus sering mual" ujar Sarah.
Saat ini mereka semua sedang berada di acara pertunangan Helen yg di adakan di sebuah hotel mewah. Sebenarnya bukan saat nya menyantap makanan karena acara tunangan pun bahkan belum di mulai. Tapi entah kenapa William sangat bernafas untuk mencicipi makanan itu terlebih dahulu.
"Dulu kamu juga gitu, Dek?" tanya Freya.
"Iya, apa lagi kalau sudah masuk fase morning sickness. Ough, mau nangis rasanya. Mual, muntah, pusing, selera makan hilang. Tapi harus tetap di paksakan makan supaya ada tenaga dan janin nya tetap tumbuh" tutur Sarah sembari mengingat masa masa itu yg ia lewati sendiri, sangat sulit tapi Sarah mampu melewati nya.
"Sayang..." lirih Devano sambil menggenggam tangan Sarah "Maaf karena kamu melewati semua itu sendirian, aku merasa gagal menjadi suami yg baik..." ujar Devano sedih, bahkan sorot mata nya pun memancarkan kesedihan dan penyesalan.
"Forget it..." lirih Sarah dan ia balas menggenggam tangan Devano "Yg berlalu tinggalkan di belakang, sekarang saat nya melihat ke depan, Devano" tutur nya dengan sangat bijak.
"Hem yg lagi kasmaran ronde ke dua..." ujar Naina yg sebenarnya sejak tadi ada di samping mereka, namun dua pasang suami istri itu sibuk dengan diri mereka sendiri seolah dunia hanya milik mereka.
Sementara Jacob yg berada di sisi Naina juga sibuk dengan laptop di depan nya, membuat semua orang heran karena Jacob malah sibuk dengan laptop nya di saat seperti ini...
Tapi setelah Jacob menjelaskan apa yg dia lakukan, semua orang mendudung nya.
__ADS_1
"Aku mau ketemu Helen dulu..." Ujar Freya.
"Aku antar?" tanya William.
"Engga usah" jawab Freya, tamu tamu pun sudah pada berdatangan dan memenuhi ballroom hotel.
Freya bergegas ke kamar Helen, dan disana ia melihat Helen yg sudah siap dengan gaun nya yg sangat cantik. Walaupun begitu, kecantikan itu tak sempurna tanpa senyum di bibir Helen apa lagi tanpa binar bahagia di mata nya.
"Helen..." seru Freya lembut.
"Aku... Rasanya aku engga bisa, Fe..." seru Helen putus asa.
"Engga bisa apa nya? Hanya beberapa menit lagi acara di mulai..."
"Tapi, Fe..."
"Lupakan Juan, aku yakin Ben bisa menjadi pendamping yg baik buat kamu"
Helen mengangguk pelan, ia memang menerima Ben Karena Ben sangat baik dan Helen berharap Ben bisa membuat dia melupakan Juan. Walaupun hati kecil nya merasa bersalah pada Ben yg ia jadikan pelarian.
"Helen..." Mama nya Helen datang dan sama seperti Helen, tidak tampak kebahagiaan di wajah sang Mama karena ia tahu dengan pasti bahwa hubungan Helen dan Ben tak lain dari sebuah pelarian dari pria seperti Juan.
"Sudah saat nya, Sayang. Kamu siap?"
Helen menggeleng namun ia melangkah keluar dari kamar nya, siap tak siap ia harus melakukan ini.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc....