
Semua orang sudah berkumpul di kamar rawat Sarah, kini hanya ada tawa dan canda disana. Walaupun Sarah masih merasa sedih karena ia belum bisa melihat apa lagi menggendong dan menyusui anak nya, Devano berasalan karena Sarah melahirkan lebih cepat dari waktu yg seharusnya karena itulah Baby Neo masih perlu di rawat di NICU.
"Padahal tadi aku bangun karena aku mimpi Baby Neo nangis karena haus" lirih Sarah sedih.
"Aduh, Beb... Kan bisa di susui nanti, susu nya engga akan basi kok" ujar Naina sambil tersenyum lebar.
"Perasaan jadi ibu itu beda, Nina bobok. Kalau engga liat anak nya kayak ada yg kurang gitu lho" ucap Sarah masih dengan nada lemah.
"Engga apa apa, Sayang. Paling cuma seminggu aja Baby Neo ada di ruangan NICU" Venita mencoba menghibur putri nya itu dengan lembut. Sarah hanya membalas nya dengan senyuman, kemudian ia menatap Devano yg saat ini berdiri di samping nya sembari terus menggenggam tangan ini.
Semenjak Sarah sadarkan diri, Sarah hanya bisa melihat ada kesedihan yang tersembunyi di mata suaminya.
"Aku sangat lemas, Dev. Seperti tidak punya tenaga, saraf saraf ku seperti mati rasa, seluruh tubuh ku seperti kaku. Apakah memang seperti ini rasanya jika melahirkan dengan cara operasi" ia mengadu dengan tatapan yg begitu sendu kepada Devano, membuat hati Devano mencolos. Devano hanya bisa menatap Sarah dengan begitu sedih, Devano menunduk dan mencium kening Sarah dengan lembut.
"Sabar, Sayang. Besok kamu pasti bisa sehat kembali" ucap Devano sembari mengelus kepala Sarah.
"Oh ya, di apartemen, Jacob membuat gym mini buat kita, beb" sela Naina mencoba menghibur "Jadi nanti kita bisa nge gym bareng deh, biar sama sama seksi lagi"
"Iya, kamu itu gendut sekali, Sarah. Seperti karaung beras" sambung Jacob yg langsung membuat Sarah mencebikan bibir nya kesal.
"Tapi tuan putri Fergueson ini masih sangat cantik kok, apa lagi sekarang sudah menjadi ibu ratu Lake dan sudah memiliki seorang pangeran" Freya menimpali sembari tersenyum lebar, membuat Sarah kembali tersenyum.
"Kalian semua di sini, menghibur ku. Seolah aku sedang dalam masalah yg besar dan rumit" ucap Sarah "Papa dan Kak Will kenapa diam saja?" Sarah menyapa dua pria itu yg sejak tadi hanya terus memperhatikan Sarah dengan sorot yg menyedihkan.
"Kami engga tahu harus bicara apa, Nak" ucap Jason lirih, ia menghampiri putri nya, membelai kepala nya dengan lembut "Begitu besar kebahagiaan yg kamu berikan pada kami, sampai kami tidak tahu harus berkata apa"
__ADS_1
Sarah menyunggingkan senyum sumringah nya "Papa punya cucu laki laki, pasti cucu Papa akan jadi orang yang cerdas, jujur dan bertanggung jawab seperti Papa" ucap Sarah dan Jason hanya mengangguk sambil memaksakan bibir nya tersenyum.
"Nanti dia juga bakal jagain adik nya, Baby Neo pasti akan jadi kakak yg baik untuk anak kami nanti" William pada akhirnya ikut berbicara.
Saat tiba waktunya nya Sarah beristirahat, semua orang pun di persilahkan keluar dari ruangan Sarah. Kecuali Devano yg masih setia menemani istrinya, Sarah bisa melihat wajah letih Devano dan lingkaran hitam terlihat jelas di mata nya.
"Tidur lah, Sayang" lirih Devano kembali mengecup kening Sarah. Sarah mengangguk namun tiba tiba pintu kamar Sarah terbuka, munculla Vino bersama kakak dan kakak ipar nya.
"Apa yg kamu lakukan di sini? Ini waktu nya Sarah istirahat" desis Devano tajam kepada Vino.
"Aku hanya ingin berpamitan" ujar Vino dan ia berjalan mendekati Sarah namun Devano segera menghalangi jalan nya.
"Jangan dekat dekat, bicara saja dari sana" ucap Devano sambil memberi jarak pada Vino, ia tak mau kembali kecolongan pada bocah kecil itu.
"Kamu sadis banget deh sama adikku" ucap Juan heran.
"Aku dan Sarah cuma sahabat, kami seperti saudara" ucap Vino tak mau di salahkan, Devano kembali meradang namun Sarah segera menarik tangan Devano.
"Sayang, dia cuma menggoda mu" ucap Sarah sambil tertawa kecil.
"Aku pergi hari ini, nanti kalau aku pulang dari Amerika, kamu mau apa?" tanya Vino lembut.
"Aku ingin undangan pernikahan mu" jawab Sarah yg membuat Vino meringis.
"Aku ke Amerika untuk belajar, bukan mencari istri" ujar Vino.
__ADS_1
"Tapi siapa tahu dapat pacar" seru Sarah yg membuat Vino tertawa
"Semoga saja" ucap Vino pada akhirnya.
Kemudian Vino dan Juan juga Helen pun pergi dari sana dan membiarkan Sarah beristirahat.
Kini hari sudah akan berakhir, matahari sudah akan tenggelam. Dan Sarah tampak nya sudah tertidur pulas setelah suster memberi nya obat.
"Kamu mau pulang?" tanya Venita setengah berbisik kepada Devano.
"Em iya, Ma. Cuma sebentar, titip Sarah ya, Ma" ucap Devano juga setengah berbisik.
"Iya, Nak. Jangan khawatir. Kami semua di sini menjaga Sarah" seru Venita dan Devano menganggapi nya dengan senyum.
.........
Airin dan Karin di kurung di tempat yg sama dengan Lolly, tempat yg sempat dan hanya ada satu cahaya lampu disana.
Tubuh ketiga nya terikat di kursi dengan mulut di lakban, dan ketiga nya pun terlihat sangat lemas karena tidak makan bahkan tidak minum sejak mereka di bawa kesana.
Dan saat Karin dan Airin melihat keadaan Lolly, keduanya meringis dan merinding. Entah apa yg sudah Devano lakukan pada Lolly, dan entah apa yg segera mereka lakukan pada mereka juga.
Tak ada yg datang seharian, dan mereka terus menunggu dengan was was. Tak ada celah dan kesempatan untuk lari, mereka di jaga dengan begitu ketat dan dalam ruangan yg bahkan tidak memiliki jendela.
Dan jantung ketiga gadis itu berdebar hebat saat terdengar langkah kaki yg tegas dan suara berat Devano. Mereka begitu ketakutan, tubuh mereka gemetar. Dan saat terdengar suara ceklekan pintu di susul dengan pintu yg terbuka, ketiga gadis itu hanya bisa menahan nafas di tenggorokan mereka.
__ADS_1
Tbc....