Married By Challenge

Married By Challenge
Part 69


__ADS_3

Sarah mengajak Devano berbelanja hadiah pernikahan untuk William dan Freya. Karena Freya sangat baik selama ini pada Sarah dan keluarga nya, Sarah ingin memberikan hadiah yg sangat istimewa untuk Freya.


"Bagaiamana dengan satu set perhiasan?" saran Devano saat ia melewati toko perhiasan.


"Engga deh, kayaknya kurang sopan ngasih begituan sama yg lebih tua" ujar Sarah yg langsung membuat Devano terkekeh.


"Terus kamu mau nya apa,, Sayang?" tanya Devano lagi.


"Bagaimana dengan tiket honeymoon ke negara yg lagi musim dingin?" ujar Sarah yg membuat Devano langsung tertawa.


"Ide bagus sih, tapi kenapa harus ke negara yg lagi musim dingin?"


"Kan honeymoon, Beb. Biar mereka anget anget terus" jawab Sarah yg seketika membuat Devano tercengang namun kemudian tertawa.


"Ada ada aja kamu ini..." seru Devano "Ya udah, nanti aku pesankan tiket untuk mereka ke negara yg lagi musim dingin"


"Thank you, Beb" jawab Sarah dan ia menggandeng tangan Devano.


"Kenapa kamu manggil aku 'Beb' sih? berasa kayak Abg" ujar Devano yg membuat Sarah terkikik.


"Ya kan istri mu memang masih ABG, jadi ya ikut aja trend ABG"


"Okey deh, kalau siang aku ikut kamu trend ABG. Tapi kalau malam, kamu yg ikut aku trend dewasa, hmm" goda Devano yyg membuat wajah Sarah memerah malu.


"Sekarang kamu mesum ya"


"Harus dong, biar semakin menggairahkan hubungan kita"


"Betul sih" gumam Sarah.


.........


William membawa Freya untuk membeli cincin pernikahan.


Ada begitu banyak pilihan yg membuat Freya tak tahu harus memilih yg mana.


"Will, yg ini bagaimana?" tanya Freya menunujuk sebuah cincin yg memiliki ukiran cantik dan dengan mata berlian.


"Ya, itu sangat cantik" ujar William.


"Jadi kita ambil yg ini atau mau cari lagi?"


"Kamu suka yg ini?" William balik bertanya dan Freya mengangguk antusias "Ya udah, kita ambil yg ini aja"

__ADS_1


"Mau di kasih tulisan apa di dalam nya, Pak?" tanya pegawai yg sejak tadi melayani mereka.


"Will Love Fe. Love nya kasih bentuk hati aja" ujar William yg membuat Freya terkekeh.


"Tumben romantis..." ujar Freya menggoda.


"Biar kamu makin cinta" jawab William yg balas menggoda.


Setelah urusan cincin selesai, rencana mereka berikut nya adalah fitting baju.


Tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat, persiapan pernikahan keduanya pun sudah berjalan setengah nya. Tentu dengan bantuan semua orang, banyak juga yg bertanya kenapa pernikahan mereka dadakan begitu, menyiapkan pernikahan dalam waktu tiga bulan saja tentu tak mudah. Bahkan ada yg berasumsi bahwa Freya hamil, tapi nyata nya gadis itu masih lah sehat dan tak ada tanda tanda kehamilan sedikitpun.


William sendiri hanya ingin melaksanakan pernikahan nya bersamaan dengan ulang tahun Freya, karena ia ingin Freya merasa istimewa.


Setelah semua urusan nya selesai, William pun mengantarkan Freya pulang. Karena Freya harus banyak istirahat agar tak sakit nanti nya.


"Engga mampir dulu?" tanya Freya sebelum turun dari mobil.


"Nanti, Fe. Sekarang aku masih ada urusan sebentar di kantor, kamu jangan begadang ya" pinta William sembari mengusap pucuk kepala Freya.


"Iya, kamu juga" jawab nya. Freya pun mengecup pipi William sekilas kemudian ia segera berlari turun. Membuat William merasa gemas dengan tingkah wanita nya itu.


Dan saat William hendak di kantor nya, ponsel nya bergetar terus menerus. William berfikir awal nya mungkin itu hanya notif pesan, tapi karena berdering terus menerus. William menepikan mobil nya dan mengecek ponsel nya.


William mengernyit bingung. Ada 18 foto masuk. Saat memeriksa nya satu persatu, William semakin bingung. Itu adalah foto ulang tahun gadis itu dari ulang tahun pertama nya sampai ulang tahun yg ke 18. Gadis itu tampak sangat manis dengan senyum lebar nya dan William sangat tidak asing dengan wajah itu. William mencoba mengingat siapa yg ada di foto itu namun lagi dan lagi kepala nya terasa sangat sakit. Ia bahkan sampai mengerang merasakan seperti ada benda yg memukul kepala nya.


William mencoba mengabaikan pesan itu, berfikir mungkin orang iseng.


.........


Jason yg ada di kantor pun mendapat email yg sama, begitu juga dengan Venita yg sedang berada di rumah. Foto seorang gadis yg berulang tahun dari ulang tahun pertama sampai yg ke 18.


Namun karena Jason dan Venita tak pernah melihat gadis itu sebelumnya, mereka pun mengabaikan pesan itu. Berfikir mungkin orang mengirim nya secara random.


Venita meletakkan kembali ponsel nya dan kini ia memutuskan untuk menyiram tanaman di halaman depan. Dan bersamaan dengan itu mobil Devano datang.


Sarah keluar dari mobil dengan senyum sumringah sementara di tangan nya ia membawa sesuatu.


"Mama..." teriak nya girang "Sarah beliin cappuccino cake kesukaan Mama" ujar nya senang.


"Sarah atau Devano yg beliin?" goda Venita yg membuat Devano terkekeh sementara Sarah cemberut.


"Sarah lah, Ma. Tapi yg bayar Devano. Hehe"

__ADS_1


"Sebenarnya ada restaurant baru yg buka, waktu itu aku meeting disana dan cappuccino cake nya enak, jadi aku langsung ingat, Tante" ujar Devano.


"Bahkan yg berinisiatif beli Devano ya, bukan kamu" ujar Venita sembari mengambil kue itu dari tangan Sarah. Sarah hanya cemberut sambil melirik sinis Devano.


Venita membuka nya sedikit dan mencium aroma nya "Hem, wangi. Pasti enak, bawa masuk gih. Mama mau siram tanaman dulu" seru Venita dan mengembalikan kue itu ke Devano, bukan pada Sarah. Membuat Sarah semakin melirik sinis Devano. Sementara Devano hanya tertawa geli, ia merangkul pinggang Sarah dan membawa nya masuk.


"Kayaknya Mama sama Papa itu sayang banget lho sama kamu" ujar Sarah.


Kini mereka menuju dapur untuk menyiapkan kue nya.


"Iya dong, kan aku menantu yg baik" jawab Devano penuh rasa percaya diri.


"Sok baik lebih tepat nya" balas Sarah "Sayang nya aku engga punya mertua, mungkin rasanya akan berbeda..." lanjut Sarah dengan suara lirih.


"Apa aku engga cukup sebagai segala nya?" tanya Devano dan tiba tiba ia menarik pinggang Sarah dengan keras hingga Sarah langsung menabarak tubuhnya.


"Lebih dari cukup..." jawab Sarah.


Keduanya saling memandang dengan begitu intens, penuh cinta dan kerinduan yg seolah tak ada habis nya "Sekarang hidup mu juga sempurna kan? Kamu sudah memiliki Mama Papa ku sebagai Mama Papa mu. Bagaimana perasaanmu?" tanya Sarah serius dan ia menatap kedalam mata cokelat Devano.


"Menyenangkan, Sayang. Sebuah kebahagiaan yg engga pernah aku bayangkan dan tak ternilai harga nya" Sarah tersenyum senang mendengar jawaban Devano.


Dan bersamaan dengan itu, Venita menyusul ke dapur dan mengagetkan kedua nya.


"Ehem ehem..." Venita berdeham meskipun tenggorokan nya tak sakit. Sarah dan Devano pun sontak saling menjauh dan tampak salah tingkah. Membuat Venita geleng geleng kepala.


"Sudah di potong belum kue nya?" tanya Venita.


"Eh, belum Ma. Ini masih mau di potong" jawab Sarah sambil berusaha menenangkan jantungnya yg berdebar. Sementara Devano sudah ke depan terlebih dahulu.


"Terus dari tadi kalian ngapain? Mama aja sampai selesai siram tanaman lho"


"Pacaran, Ma. Hehe" jawab Sarah sambil cekikikan.


"Kalian itu udah bersama 24 jam, masak engga puas puas pacaran nya" seru Venita.


"Nama nya juga lope, Ma. Berbunga bunga terus..."


"Dasar anak ini..."


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2