
Sarah memainkan jemari nya di dada bidang Devano yg masih terhalang kemeja, rasa nya ini sangat tidak adil dimana tubuh Devano masih berpakaian lengkap sementara tubuh Sarah sudah polos dan hanya di tutupi tangan Devano yg memeluk nya.
Saat ini kedua nya ada di sofa panjang yg ada di sisi pintu masuk. Setelah percintaan panas mereka di dekat jendela dengan posisi menantang, kedua nya melanjutkan di meja kerja Devano membuat semua berkas yg ada di sana berserakan. Dan Devano yg belum merasa puas berganti tempat ke sofa dan di sinilah mereka berakhir sekarang, saling berpelukan masih dengan nafas yg memburu dan tubuh yg bergetar menikmati sisa sisa pertempuran penuh gairah yg gila itu.
"Apa yg kamu fikirkan, hm?" tanya Devano karena ia bisa melihat dari mata Sarah bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.
"Gimana kalau setelah aku lulus SMA, kita punya anak?" tanya Sarah yg membuat Devano langsung terbelalak. Tak percaya dengan keinginan Sarah itu.
"Kamu...Serius?" tanya Devano ragu yg membuat Sarah langsung menatap sedih pada nya.
"Kamu engga mau ya?" pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan bagi Devano dan tentu saja ia langsung menggeleng.
"Bukan engga mau, Sayang. Tapi kamu yakin mau jadi ibu muda?" tanya Devano dan Sarah mengangguk dengan senyum lebar nya.
"Aku pengen nanti aku sama anakku punya hubungan yg erat, bisa jadi sahabat malah. Supaya aku tahu bagaimana dia, apa yg dia rasakan, supaya aku benar benar bisa menjaga nya" tutur Sarah yg membuat Devano menautkan kedua alis nya, tak percaya Sarah bisa berfikir sedikit dewasa seperti itu.
"Hem, itu ide yg bagus" ujar Devano dan ia mengecup pucuk kepala Sarah.
"Sebenarnya aku berfikir kesana karena aku melihat diri ku sendiri, Dev. Aku dekat sama Mama, tapi engga se dekat aku sama Naina. Jadi, pengaruh Naina lebih banyak ke aku begitu juga sebaliknya. Bahkan karena ide gila Naina, aku berakhir menikah muda"
"Apa kamu menyesal?" tanya Devano dengan suara lirih.
"Engga, tapi awal dari keindahan ini adalah hal buruk, Dev dan seharusnya engga terjadi. Seharus nya aku membatasi diri dalam segala hal, dan bahkan Mama percaya kalau kita sudah berhubungan badan sebelum nya. Aku rasa itu karena Mama engga benar benar mengenal aku, se nakal nakal nya aku, aku engga mungkin sejauh itu" ucap Sarah dan Devano hanya bisa mengangguk anggukan kepala nya membenarkan apa yg Sarah tuturkan.
"Jadi?"
"Jadi, jika aku jadi ibu nanti. Aku juga ingin jadi sahabat anakku, jadi dia engga akan sungkan untuk bercerita atau bertanya apapun"
"Kamu pasti bisa jadi ibu seperti yg kamu inginkan, Sayang"
"Apa bisa kita punya anak setelah aku lulus?"
"Pasti bisa, tapi bagaiamana dengan kuliah?"
"Aku tetap mau kuliah"
"Mau ngambil jurusan apa?"
"Entahlah, kalau aku liat Kak Freya, aku pengen jadi pengacara. Kayak keren gitu kan jadi pengacara, menangani kasus, mencari bukti" Tutur Sarah dengan mata yg berbinar dan Devano setia mendengarkannya "Terus pas aku liat Kak Helen, aku juga pengen jadi Dokter, jadi Dokter kayak lebih keren lagi. Dokter Sarah" ujar nya yg membuat Devano langsung tertawa geli.
__ADS_1
"Jadi nya Nyonya Lake mau jadi apa?"
"Sekolah bisnis aja deh, soalnya aku liat keluarga Mama Papa di bisnis semua dan mereka kaya kaya" jawab nya yg membuat tawa Devano langsung pecah. Gadis ini...
"Kalau kamu cuma mau kaya, engga usah sekolah. Cukup jadi Nyonya Lake aja" ujar Devano sambil berusaha menghentikan tawa nya. Sarah cemberut dengan bibir yg manyun, membuat ia tampak sangat menggemaskan di mata Devano.
"Kan aku mau nya kaya karena usaha ku sendiri, jadi biar lebih bangga dan rasa nikmat nya punya kekayaan dari usaha sendiri pasti beda" seru Sarah.
"Hem, pintar nya is...."
"Dev, ada yg datang" ujar Sarah panik karena memang terdengar pintu yg terbuka. Refleks Devano langsung membalik tubuh nya hingga kini Sarah ada di bawah nya dan Devano pun menutupi tubuh polos Sarah dengan tubuh nya.
"Mia... Berani nya kamu masuk keruangan ku tanpa permisi..." teriak Devano marah sambil memeluk Sarah dan syukurlah sofa itu membelakangi pintu sehingga mereka berdua bisa berlindung dengan punggung sofa.
"Wow..." terdengar suara Juan yg membuat Sarah semakin panik. Mati lah ia jika Juan melihat nya, tapi rasa nya Devano tak kan membiarkan itu.
"Juan, bajingan..." desis Devano "Keluar sekarang juga!!!" teriak nya namun Juan malah melangkah maju satu langkah sambil tertawa.
"Kalian bertempur siang siang begini, di kantor dan pintu nya engga di kunci? I can't believe it"
"Sial, aku lupa" gumam Devano yg langsung mendapat hadiah cubitan dari Sarah membuat Devano mengerang sakit tanpa sengaja.
"Loh, belum selesai?" tanya Juan menggoda.
Sementara Juan, ia tak bisa menghentikan tawa nya. Apa lagi melihat ruangan Devano yg cukup berantakan.
"Aku masuk cuma mau ngecek keadaan kamu. Kata Mia tadi terdengar suara jeritan" ujar Juan bohong. Namun hal itu itu membuat Sarah semakin panik bahkan tubuhnya gemetar, takut teriakan dan desahan nya tadi benar benar terdengar keluar.
"Dia bohong, Sayang. Ruangan ini kedap suara" seru Devano yg melihat wajah panik Sarah dan sudah ia tebak apa yg Sarah fikirkan.
"Beneran?" cicit Sarah dan Devano mengangguk.
"Juan, please keluar" rengek Sarah dengan suara yg bergetar, ia merasa deg deg an tak karuan bahkan hampir menangis. Ia tak menyangka Juan akan se gila ini dan ia tak menyangka diri nya akan tertangkap basah begini. Malu.
Karena merasa kasihan dengan Sarah, akhir nya Juan pun keluar.
"Okey, tapi lima menit lagi aku akan masuk" ujar Juan "Karena itulah, cepat temukan kain segitiga kesukaan Devano itu, takut nya Devano melempar nya...."
"JUAN...." teriak Devano dan Sarah bersamaan yg sudah tak tahan dengan kegilaan Juan. Juan langsung tertawa terbahak bahak sambil berlari keluar. Devano pun langsung bergegas mengunci pintu dan setelah itu ia mengumpulkan pakaian Sarah yg tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Kok kamu engga kunci pintu nya sih?" gerutu Sarah sambil mengenakan celana nya kembali setelah di ambil kan Devano.
"Lupa, tadi keasyikan" jawab Devano sambil terkekeh geli saat melihat wajah memereh Sarah.
"Malah ketawa, malu tahu" gerutu nya dan Devano pun membantu mengaitkan bra nya karena terlihat Sarah yg kesusahan karena tangan nya yg masih gemetar. Pasti karena dia shock dengan kedatangan Juan.
"Engga apa apa, Sayang. Halal kok, jadi di eksekusi dimana aja dan kapan aja ya engga apa apa" jawab nya. Sarah tak menjawab, ia segera memasang sisa pakaian nya juga sepatu nya.
Setelah itu ia langsung mengambil ransel nya dan hendak pergi tapi Devano malah mencekal pergelangan tangan nya.
"Biar aku antar ke bawah"
"Engga usah, makin malu kalau ketemu Juan" jawab Sarah. Devano pun mencoba mengerti.
"Ya udah, hati hati. Bilangin Aldo jangan terlalu ngebut, malam ini aku akan pulang sebelum jam makan malam. Jadi kita makan malam bersama, okey?"
"Iya" Sarah berjinjit dan mencium pipi Devano sebelum akhir nya ia segera keluar dari sana.
Sarah melangkah keluar dengan perasaan yg was was takut ketemu Juan, eh ternyata...
Benar kata Naina, Juan adalah buaya cap kucing. Saat ini ia sedang sibuk merayu salah satu staf yg berambut pirang. Membuat Sarah geleng geleng kepala.
Dan ia pun melangkah cepat sebelum Juan menoleh dan bertahap muka dengan Sarah. Itu akan membuat Sarah sangat malu.
Sementara Juan yg sudah mendapatkan nomor wanita itu tampak senang. Ia pun segera kembali keruangan Devano dan berharap mereka sudah berpakaian.
Ah, mengingat pasangan muda itulah yg membuat Juan tiba tiba merasa lapar akan sesuatu di bawah sana. Dan seperti nya malam ini ia akan dapat makanan segar.
"Loh, kemana Sarah dan Devano?" tanya Juan karena di ruangan Devano justru ada Mia yg sedang membereskan meja kerja Devano.
"Tidak tahu, Pak. Tapi kalau Pak Devano sudah ada di ruang meeting" jawab Mia dan Juan malah tiba tiba tertawa mengingat Devano dan Sarah tadi.
"Kenapa?" tanya Mia heran.
"Kamu tadi engga dengar ada sesuatu, seperti guncangan?" tanya Juan.
"Apa ada gempa bumi, pak?" Mia balik bertanya "Apa karena itu barang barang di meja kerja Pak Devano berserakan?" lanjut nya yg membuat Juan kembali tertawa terbahak bahak.
"Entahlah, Mia... Oh, aku jadi engga tahan. Pengen nyusul" ucap Juan dengan wajah meringis membuat Mia semakin bingung.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...