Married By Challenge

Married By Challenge
Part 54


__ADS_3

Sepulangnya dari sekolah, Naina mampir ke sebuah cafe yg tak jauh dari sekolah. Ia sudah janjian dengan Jacob namun seperti nya Jacob terjebak macet hingga datang nya terlambat. Sambil menunggu Jacob, Naina menelpon Sarah, karena ia sudah tak sabar ingin memberi tahu Sarah tentang Vino yg sebenar nya.


"Gila, engga percaya aku ternyata Vino jahat"


"Jahat banget lah, bisa bisa nya dia kefikiran kesana kan? Engga punya ibu apa dia tuh, engga menghargai perempuan. Masih bocah aja udah kayak gitu, gimana gede nya" tutur Naina yg tampak nya masih sangat marah pada Vino "Apa perlu kita laporkan?"


"Engga usah lah. Kita jauhi aja dia" jawab Sarah dari seberang telpon.


"Okey deh. Oh ya, besok kamu udah bisa masuk sekolah kan?"


"Bisa dong, tadi aku kesiangan aja"


"Hem, pasti bertempur habis habisan ya semalam"


"Hehe, rahasia"


"Ugh, menang banyak ya. Dulu aja nyalahinnn aku karena tantangan itu, sekarang nikmat kan?"


"Haha, nikmat banget"


"Dan ada untung nya juga tuh buaya darat cap kucing ngasih kamu obat perangsang. Jadi grand opening yg luar biasa"


"Hehe, udah ah jangan bahas itu lagi. Malu"


"Malu tapi mau"


"Mau bangetlah, wong sama suami. Di ridhoi oleh Tuhan"


"Haha, dasar. Ya udah, sampai ketemu besok di sekolah Nyonya muda"


"Okey Nina bobo, See you"


Setelah Naina mematikan poselnya, ia di kagetkan karena ada seorang pria yg tiba tiba muncul disamping nya. Naina ingat pria itu yg tadi menahan tangan Vino saat akan menampar nya.


"Hai, pak..." sapa Naina bar bar dan berhasil membuat pria itu terkekeh.


"Apa aku terlihat seperti bapak bapak?"


"Ya, sedikit. Aura mu terlihat seperti bapak bapak" jawab Naina yg berhasil membuat pria itu mengernyit. Dan tanpa permisi, pria itu pun duduk di hadapan Naina.


"Kamu keliatan nya marah banget sama Vino, memang apa yg sudah dia lakukan?"


"Dia deketin teman aku cuma buat di tiduri, kurang ajar engga? kecil nya aja kayak gitu, gimana gede nya? apa dia engga di ajari cara menghargai wanita sama ibu nya, atau apa bapak nya engga ngajari dia cara menjadi pria baik"


Pria itu tampak terkejut dan juga seperti memendam amarah mendengarkan penjelasan Naina.


"Ehem..." pria itu berdeham dan tampak berusaha menetralkan ekspresi wajah nya "So, tapi itu engga sampai terjadi kan?"


"Syukurlah itu engga terjadi. Buaya darat itu memang meresahkan ya, malah ada yg lebih parah dari Vino. Dia itu buaya darat cap kucing yg ngasih obat perangsang ke minuman wanita yg baru di kenal nya seminggu. Can you imagine how bastard he is?"


Pria itu hanya bisa membuka matanya lebar lebar dengan mulut yg juga menganga lebar mendengarkan celotehan Naina.


"Siapa cowok bastard itu?" tanya pria itu kemudian.

__ADS_1


"Nama nya..." Naina mencoba mengingat nama pria itu yg pernah Sarah sebutkan "Aku lupa, nanti aku tanya Sarah lagi" ujar Naina.


"Sarah?" tanya pria itu tampak terkejut dan Naina mengangguk degan polos nya sambil menyerudup jus jeruk yg dia pesan tadi.


"Terus kenapa harus di kasih julukan buaya darat cap kucing?"


"Because he is a loser. Ya kan? ngasih cewek obat perangsang diam diam, itu membuktikan dia itu sangat tidak gantle dan mungkin engga tahu cara nya membuai cewek sehingga mereka bisa bercinta dengan suka rela. Ckck, cowok kayak gitu perlu periksa tingkat kejantanan nya"


"Oh God..." pria itu terperangah dan


hanya itu yg bisa ia gumamkan saat mendengar ucapan gadis remaja di depan nya ini. Dan saat pria itu hendak bersuara, tiba tiba Naina berdiri sambil melambaikan tangan keluar.


Dan seperti tak ada manusia di hadapannya, Naina langsung berlalu begitu saja menghampiri Jacob.


"Lama amat sih, Beb" gerutu Naina sambil cemberut.


"Maaf, Sayang. Tadi terjebak macet" jawab Jacob sambil merangkul Naina dan ia pun membawa Naina pergi.


Sementara pria itu hanya terdiam sambil terus memandangi Naina yg begitu mesra dan dekat dengan Jacob. Hingga seorang pelayan mengagetkan nya


"Tuan Juan, pesanan anda..." seru pelayan itu sembari memberikan beberapa paper bag yg berisi makanan.


"Oh, okey. Terima kasih"


..........


Karena hari sudah sore, Devano membawa Sarah keluar dari hotel setelah seharian menghabiskan waktu bersama. Tanpa mereka sadari, seorang wanita mengambil gambar mereka bahkan sampai mereka masuk kedalam mobil.


"Happy?" tanya Devano sembari menjalankan mobil nya dan tentu saja Sarah mengangguk senang.


"Engga apa apa, cuma sekali aja. Oh ya, habis anterin kamu nanti aku harus ke kantor"


"Iya. Tapi engga usah lembur ya, biar kamu bisa istirahat" pinta Sarah karena semalam suami nya itu sudah kurang tidur.


"Hem, perhatian banget sih istri ku" ucap Devano sambil tersenyum lebar.


Dan tiba tiba saja Sarah bergelanyut manja di lengan Devano, ia terdiam dan tak lagi bicara membuat Devano merasa bingung apa lagi ketika di liriknya, Sarah seperti memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Sayang?" tanya Devano sembari mengusap kepala Sarah dengan tangan kirinya.


"Aku bahagia banget, tapi aku juga takut bagaimana kalau nanti kebahagiaan ini hilang?" lirih nya dengan suara rendah.


"Shhtt, my Little girl. Jangan bicara begitu, engga akan ada yg bisa membuat kebahagiaan mu hilang. Kamu tahu kenapa?"


"Kenapa?" tanya Sarah sambil mendongak untuk bisa menatap wajah Devano.


"Karena ada aku, aku janji akan menjaga mu dan akan aku lakukan apapun yg membuat mu bahagia"


"Gombal, semua cowok suka ngomong gitu ya" ujar Sarah


"Sudah ku bilang, aku itu bukan cowok. Aku itu pria"


"Beda nya apa?" tanya Sarah sambil tertawa geli.

__ADS_1


"Beda lah, kalau cowok ya kayak teman sekolah mu itu. Omongan nya cuma bualan untuk berenang senang karena mereka masih bocil. Kalau pria, ya yg bisa memegang omongan nya dan engga mentingin kesenangan tapi mentingin tanggung jawab" setelah Devano mengucapkan itutiba tiba Sarah langsung bertepuk tangan membuat Devano menrnyit bingung.


"Memang lah, suami ku ini sangat bijak" ucap nya yg membuat Devano tertawa.


Hingga tanpa terasa kini mereka sudah sampai di rumah.


"Kamu istirahat ya, Sayang" seru Devano dan Sarah pun mengangguk. Kemudian ia mencium pipi Devano.


"Hati hati di jalan, kalau bisa jangan terlalu malam pulang nya" pinta Sarah yg sudah seperti seorang istri sejati saja.


"Iya, aku usahain pulang cepat" jawab Devano dan kini ia yg mencium kening Sarah sebelum Sarah turun dari mobil.


Setelah itu, Devano kembali menjalankan mobil nya dan Sarah baru masuk ke dalam rumah setelah mobil Devano keluar dari gerbang.


"Nyonya sudah pulang. Mau saya siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Bi Eni.


"Engga, Bi. Sarah sudah mandi" jawab Sarah "Sarah ke kamar dulu ya" lanjut nya sambil berlari kecil menaiki tangga. Dan saat mau masuk ke kamar nya, Sarah mendengar suara berisik dari kamar yg lain. Ia pun menghampiri nya dan terlihat Lolly yg sedang sibuk di kamar itu.


Sarah pernah di beri tahu kalau itu kamar Caitlin tapi Sarah tidak pernah masuk sebelum nya.


"Lolly, apa yg kau lakukan?" tanya Sarah dan terlihat Lolly yg tampak terkejut dengan kedatangan tiba tiba Sarah.


"Nyonya bikin kaget aja" gumam Lolly yg membuat Sarah terkikik.


"Maaf, kamu sih fokus banget kerja nya"


"Iya, Nyonya. Tuan Devano menyuruh saya mengumpulkan barang barang Nona Caitlin, kata nya mau di sumbangkan"


"Oh, gitu..." gumam Sarah dan ia pun berjalan masuk. Lolly saat ini sedang menurunkan buku buku Caitlin dari lemari, sementara di lantai sudah banyak sekali baju baju yg sudah di lipat rapi dan juga beberapa kardus kosong. Sarah juga melihat kardus yg berisi sepatu sepatu Caitlin. Saat Sarah memperhatikan semua barang Caitlin, semua nya adalah barang barang mahal dan branded. Sarah yakin Devano pasti sangat memanjakan Caitlin.


Tak lama kemudian Bi Eni datang dan memasukan baju baju Caitlin ke dalam kardus.


"Caitlin itu orang nya seperti apa sih, Bi?" tanya Sarah penasaran sambil ia melihat lihat foto Caitlin dan Devano di kamar itu.


"Nona Caitlin itu orang nya baik, tapi pendiam. Dia juga sulit bergaul dengan orang, dia lebih suka menyendiri sambil bermain musik" jelas Bi Eni dan Sarah mengangguk anggukan kepala nya sambil ber oh ria.


"Dia manis ya orang nya" ujar Sarah sambil memperhatikan foto Caitlin yg sedang tersenyum "Tapi kok engga ada foto Caitlin sama ibu nya?"


"Tuan Devano melarang nya" jawab Bi Eni yg seketika membuat Sarah merasa sedih dan bersimpati pada Caitlin, namun ia juga tak menyalahkan Devano karena tidak ada yg bisa menerima selingkuhan orang tua nya. Apa lagi selingkuhan nya itu adalah orang yg selama ini dekat dengan mereka.


"Mau di sumbangkan semua?" tanya Sarah kemudian.


"Iya, kecuali alat musik nya. Kata Tuan Devano mau di simpan sebagai kenang kenangan, kalau yg lain nya kan engga mungkin ke pakek lagi. Jadi dari pada di simpan engga ada guna nya mending kasih ke yg membutuhkan. Itu kata Tuan Devano" tutur Bi Eni yg membuat Sarah tersenyum, ternyata Devano punya jiwa simpati dan empati yg tinggi juga.


"Aku fikir Devano itu jahat, kejam, bengis. Tapi ternyata dia baik ya" ujar Sarah sambil memperhatikan foto Devano yg ada di meja Caitlin . Apa lagi ketika Sarah mengingat perlakuan Devano pada Margaret, itu sangat buruk.


"Memang dia seperti itu, Nyonya" jawab Bi Eni yg membuat Sarah mengerutkan kening nya.


"Maksud nya?" tanya Sarah dan ia duduk di samping Bi Eni, membantu Bi Eni memasukan barang barang ke dalam kardus.


"Saya merawat Tuan Devano sejak kecil, dulu dia adalah anak yg baik dan periang. Usia nya hanya selisih dua tahun dengan Nona Caitlin. Mereka sangat dekat, seperti saudara kandung yg tak bisa di pisahkan. Bahkan setelah kematian kedua orang tua nya, Tuan Devano tidak berubah, Dia masih sama. Saya dan Margaret juga merawat nya dengan baik, Devano juga sangat menyayangi Margaret dulu. Namun perubahan besar terjadi ketika ia beranjak remaja dan menemukan fakta bahwa Margaret, pelayan keluarga nya adalah selingkuhan ayah nya dan Nona Caitlin adalah anak dari hasil hubungan gelap itu. Tuan Devano sangat membenci Margaret, dia merasa di khianati. Tapi dia tidak bisa membenci Nona Caitlin karena mereka sudah terlanjur saling menyayangi. Dan ketika tuan Devano membenci seseorang, maka dia akan menjadi sangat jahat pada orang itu. Tapi ketika dia mencintai seseorang, maka dia akan sangat mencintai nya dengan tulus dan rela melakukan apapun untuk orang yg cintai nya"


Sarah terdiam mendengarkan cerita Bi Eni, karena bagian yg ini Devano belum menceritakan nya. Sarah bisa mengerti bagaimana perasaan Devano dan bagaimana kecewa nya dia. Apa lagi Devano memang tidak memiliki siapapun selain adik dan para pelayan yg sudah pasti dia anggap keluarga sendiri karena mereka lah yg menjaga nya. Tentu Devano sangat kecewa saat tahu ternyata orang yg ia sayangi lah yg menghancurkan keluarga nya.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2