Married By Challenge

Married By Challenge
Part 64


__ADS_3

Sarah sudah kembali ke sekolah dan beraktifitas seperti biasa, ia hanya berharap tak ada lagi gosip atau pun masalah yg lain yg mengharuskan ia harus bolos sekolah lagi dan lagi. Sarah hanya ingin hidup tenang sekarang.


Hubungan nya dan Vino pun sudah membaik sejak tahu Vino adik dari Juan dan Vino pun sudah meminta maaf lagi dan lagi pada Sarah. Kini Vino pun menjadi teman Sarah dan Naina, bahkan itu sedikit menjadi perbincangan teman teman Vino apa lagi Vino yg semakin menjauh dari teman teman tongkrongan nya. Tapi Vino tak peduli, ia lebih merasa nyaman dekat dengan Naina dan Sarah.


Sementara Karin, Sarah masih sama pada wanita itu. Tak peduli dan cuek dan Karin pun masih sama dengan sikap sebelumnya.


Setelah pulang sekolah, Devano meminta Sarah ke kantor nya dan membawakan nya makanan karena ia belum makan siang, pekerjaan nya menumpuk dan itu membuat nya lupa waktu.


Sarah pun pulang dan meminta Bi Eni menyiapkan makanan sementara ia berganti pakaian.


"Sudah, Bi?" tanya Sarah yg sudah berganti pakaian. Ia mengenakan jeans, tank top yg di padukan dengan jaket denim. Tak lupa ransel dan sneaker nya membuat Sarah semakin terlihat sisi remaja nya.


"Sudah, Bibi bawakan banyak" jawab Bi Eni sembari memberikan paper bag yg di dalam nya berisi makanan.


"Makasih, Bi. Sarah pergi dulu" ujar nya.


Aldo pun langsung membawa Sarah ke kantor Devano.


Di kantor Devano, Sarah hendak langsung pergi ke ruangan Devano tapi di cegah oleh respsionis.


"Maaf, Dek. Jangan asal nyelonong" seru nya yg membuat Sarah menghentikan langkah nya, menatap heran respsionis itu dan Sarah tak mengenali nya. Itu artinya dia pegawai baru, fikir Sarah.


"Aku Sarah, Mbak. Mau ketemu Devano" jawab Sarah memperkenalkan diri karena mungkin resepsionis baru itu tak mengenal Sarah.


"Oh okey, Dek Sarah sudah buat janji dengan pak Devano?" tanya resepsionis itu lagi membuat Sarah garuk garuk kepala.


"Iya sudah, aku kesini mau anterin makanan. Dia yg nyuruh" jawab Sarah dan bersamaan dengan itu Mia dan Devano muncul juga dengan beberapa orang pria.


"Sarah? Kamu sudah sampai, kenapa engga langsung keruangan ku?" tanya Devano, ia langsung melangkah lebar menuju Sarah kemudian memberikan kecupan ringan di pelipis Sarah.


"Baru aja sampai nya" jawab Sarah sambil melirik resepsionis itu yg tampak tercengang. Devano pun membawa Sarah ke ruangan nya.


"Kenapa?" tanya Mia pada resepsionis yg sejak tadi memandangi Sarah.


"Jadi dia tunangan nya Pak Devano?"


"Iya, lain kali kalau dia kesini, langsung anterin ke ruangan nya Pak Devano"


"Tadi aku fikir dia siapa tiba tiba nyelonong, ya aku tanya apa sudah punya janji apa belum. Engga kefikiran sama sekali kalau tunangan nya masih anak 17 tahunan gitu"


"Ya aneh sih memang, apa lagi selama ini semua orang ngira pak Devano itu gay"


"Tapi beruntung ya cewek nya, dapat Pak Devano, bayangkan... Pak Devano" Mia tertawa geli sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Ya bayangkan aja lah sesuka mu, aku mau kerja"


..........


"Dev, emangnya aku keliatan banget ya kalau masih kecil?" tanya Sarah sambil memutar badannya di depan Devano yg saat ini sedang menyantap makanan nya "Kayaknya 17 tahun itu sudah menjelang dewasa"


"Kenapa?" tanya Devano sambil mengunyah.


"Tadi resepsionis mu panggil aku 'Dek'" gumam Sarah tak suka.


"Ya engga apa apa, Sayang. Kamu kan emang lebih muda dari dia" jawab Devano sambil tertawa geli.


"Iya sih, tapi sekarang jadi ketahuan ya kalau kamu engga gay. Aku jadi khawatir" ujar Sarah dan ia duduk di samping Devano.


"Kenapa?"


"Ya sekarang pasti banyak wanita yg mau sama kamu"


"Ya sudah pasti"


Sarah langsung melotot marah mendengar jawaban percaya diri Devano itu.


"Jangan macan macam ya" tegas Sarah memperingatkan yg membuat Devano kembali terkekeh.


Setelah merasa kenyang, ia pun menyudahi makan nya. Sarah memberikan segelas air yg ada di meja Devano pada Devano.


"Terima kasih" ucap Devano manis yg membuat Sarah tersenyum dan membalas nya dengan manis pula.


"Sama sama"


"Oh ya, bagaimana Karin disekolah? Apa dia berulah?"


"Engga, dia engga nyapa juga"


"Bagus lah" gumam Devano.


Sementara Sarah kini sudah berdiri di dekat jendela kaca yg sangat besar itu, memperhatikan kota dari atas sini sangatlah menakjubkan.


Devano pun menghampiri nya dan langsung memeluk Sarah dari belakang.


"Pemandangan nya indah ya" ucap Sarah yg hanya di tanggapi gumaman Devano. Devano menyingkap rambut Sarah yg terurai, dan tanpa aba aba ia langsung memberika kecupan basah di nadi nya yg membuat Sarah terperanjat dan meremang seketika.


Apa lagi kini kecupan Devano sudah menjalar ke setiap inci leher nya, Devano bahkan menjilat dan memberikan gigitan gemas di leher Sarah membuat Sarah menggeliat geli namun ia juga mendesah tanpa sengaja.

__ADS_1


"Dev, jangan meninggalkan bekas" pinta Sarah di tengah desahan yg coba ia tahan, namun Devano justru memberikan ciuman yg lebih panas lagi dan sudah di pastikan itu akan meninggalkan bekas. Sarah hanya bisa menggelinjang, menutup mata dan coba menahan desahan nya.


"Jangan di tahan, Little girl. Mendesahlah" pinta Devano yg kini tangan nya pun sudah travelling ke sekujur tubuh Sarah membuat Sarah merasa lemas dan pandangan nya pun mulai buyar.


"Dev, ini..." Sarah mencoba menghentikan aksi suaminya itu, Sarah pun berbalik badan dan menatap suaminya"Ini di kantor" bisik nya dengan nafas yg tersengal dan pandangan yg sudah di selimuti gairah.


"So what..." balas Devano sembari tangannya membelai pipi Sarah dengan lembut, kemudian ia gantikan tangan nya itu dengan bibir nya "I want you. Right now, right here" bisik nya di telinga Sarah yg membuat Sarah memejamkan mata saat merasakan terpaan nafas hangat Devano di telinga nya.


"Tapi...."


"Sshhtt, nikmati saja, Sayang" bisik Devano lagi dan kini ia mulai melepaskan jaket Sarah, yg di susul dengan tank top nya. Devano pun mulai melancarkan ciuman nya ke leher, turun ke tulang selangka Sarah dan pada akhir nya berakhir di dada nya dan ia membuat beberapa tanda kepemilikan disana. Membuat Sarah hanya bisa pasrah dan menikmati sentuhan suaminya itu. Akal sehat nya meneriakinya supaya berhenti, tapi tubuh nya malah merespon dengan sangat baik bahkan meminta lebih.


Sarah di kagetkan dengan Devano yg entah bagaimana sudah melepaskan Jeans Sarah dan memelorotkan nya.


"Dev, are you kidding me?" tanya Sarah yg tak percaya jika Devano benar benar ingin bercinta saat ini dan di sini.


"No, Baby..." jawab Devano dengan nafas yg mulai memberat. Sarah menoleh ke belakang nya. Ini bukanlah dinding dengan tembok yg besar, tapi jendela dari kaca.


"Nanti ada yg lihat, auchh..." ujar Sarah bersamaan dengan Devano yg sudah membawa tangan nya ke tempat favorit nya. Sarah langsung meremas lengan Devano dan berusaha menahan gejolak di perut nya. Bibir nya pun sudah tak bisa lagi menahan desahan nya.


"Engga akan" jawab Devano dengan suara berat "kamu juga menginginkan ku, di sini sudah sangat siap"bisik nya kemudian dan ia menjilat daun telinga Sarah membuat Sarah semakin hilang akal ketika tangan dan lidah Devano berbagi tugas di tempat nya masing masing.


Sementara tangan Devano bekerja, Sarah hanya bisa memejamkan mata dan ia langsung mengalungkan lengan mungil nya di leher Devano saat ia merasakan kedua kaki nya yg semakin lemas dan tubuh nya pun bergetar.


Hingga kemudian kerja keras Devano tak sia sia ketika sang istri memekik tertahan dengan otot otot yg menegang dan nafas yg terputus putus. Matanya yg merem merem melek dan mulut nya yg terbuka membuat Devano merasa kepanasan sendiri.


Devano tersenyum bangga melihat ekspresi terpuaskan sang istri. Dan Devano pun melepaskan celana nya sendiri, mengeluarkan aset nya yg sudah sangat menegang dan juga sudah sangat ingin mampir di sarang kesukaan nya.


Saat penyatuan terjadi, Sarah secara reflek langsung mengaitkan kaki nya di pinggang Devano dan itu membuat penyatuan keduanya semakin dalam membuat Devano dan Sarah mengerang bersamaan.


"Seriously, Dev? Posisi berdiri begini? Kaki ku lemas" ujar Sarah di tengah erengan seksi nya membuat Devano semakin merasa gila apa lagi melihat wajah memerah Sarah.


"Kaitkan di pinggang ku, Sayang" geram Devano sembari memegang paha Sarah dan Sarah pun melingkarkan kedua kaki nya di pinggang Devano. Dan hal itu membuat keduanya semakin gila, dimana sentuhan itu semakin dalam dan semakin terasa panas. Semakin menuntut untuk di puaskan. Seolah menemukan titik ternikmat nya sendiri.


Mereka pun menikmati penyatuan itu dan seperti nya lain kali mereka akan suka melakukan nya dengan posisi yg terasa menantang dan intim seperti ini.


"You like it?" tanya Devano sembari bergerak mencari kenikmatan yg sudah di janjikan.


"I love it..." jawab Sarah susah payah.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2