Married By Challenge

Married By Challenge
Part 160


__ADS_3

Lolly memasuki kamar nya setelah semua pekerjaan nya beres, kemudian ia membuka lemari dan mengambil sebuah tas. Lolly mengeluarkan sebuah botol kecil dan memasukan botol itu ke dalam tas yg ia pegang.


"Lolly..."


"Eh?" terkejut mendengar suara Nandini, Lolly tak sengaja menjatuhkan tas ia pegang.


"Lolly, kenapa kamu memegang tas ku?" tanya Nandini sambil berjalan mendekati Lolly. Sementara Lolly dengan cepat mengambil tas yg tergeletak di lantai dengan gugup.


"Em itu, tadi... Tadi aku buka lemari dan tas mu hampir jatuh" jawab Lolly kemudian ia mengembalikan tas Nandini ke tempat nya semula.


"Tapi kan itu lemari khusus tempat barang barang ku kata Nyonya Sarah. Apa yg kau cari disana?" tanya Nandini kemudian. Karena memang Lolly dan Nandini di tempatkan di kamar yg sama namun mereka di sediakan dua lemari besar yg berbeda, untuk menyimpan barang barang pribadi mereka.


"Em bukan apa apa, oh ya aku mau mandi dulu..." ucap Lolly dan ia hendak masuk ke kamar mandi namun langkah nya terhenti saat terdengar suara pintu yg di dobrak, membuat Lolly dan Nandini sangat terkejut.


Dominic dan Aldo masuk dan menampilkan wajah garang nya, Nandini tampak sangat gugup melihat wajah wajah galak itu sementara Lolly pun tampak sangat ketakutan. Bahkan ia berkeringat di kamar nya yg ber AC.


"Keluar kalian berdua!" titah Dominic sambil mengeluarkan revolver nya yg tentu saja membuat Nandini dan Lolly melotot terkejut dan langsung berlari keluar.


Sementara di luar, sudah ada tiga pria berotot besar yg membuat Nandini dan Lolly menelan ludah dengan susah payah. Di sana juga ada Bi Eni yg tampak kebingungan.


"Geledah kamar mereka!" titah Dominic pada tiga pria itu dan mereka pun segera melakukan tugas itu.


"Dom, untuk yg ke seribu kali nya aku bertanya, ada apa ini?" tanya Bi Eni.


Ketiga pelayan Devano itu berdiri berdampingan, Nandini tampak gugup, Bi Eni tampak kebingungan sementara Lolly tampak ketakutan.


"Siapa yg meracuni Nyonya Sarah?" tanya Dominic yg langsung membuat tiga wanita itu melotot terkejut.


"MERACUNI?" pekik Bi Eni dan Nandini bersamaan.


"Apa maksud mu meracuni Nyonya Sarah, Dom? Dimana Nyonya Sarah?" tanya Bi Eni dan mulai terlihat ke khawatiran di wajahnya.

__ADS_1


"Salah satu dari kalian atau mungkin kalian semua telah meracuni Nyonya Sarah. Dan saat ini, kalian bertiga adalah tersangka" ujar Dominic. Ia mengangkat revolver nya, menakuti ketiga nya "Jadi mengakulah atau Tuan Devano akan membakar kalian semua hidup hidup"


"Kamu menuduh kami?" pekik Bi Eni "Demi tuhan, Dom. Melihat Nyonya Sarah demam saja sudah membuat ku sangat khawatir, lalu bagaimana bisa..."


"Saat ini aku tidak mempercayai siapapun, kalian semua di curigai" tegas Dominic "Kamu...." Dominic mengangkat dagu Nandini dengan moncong pistol nya, membuat Nandini mendongak "Kamu yg melakukan nya?" tanya Dominic dengan sangat tajam, bahkan tatapan nya itu membuat seluruh tubuh Nandini gemetaran.


"Ti... Tidak, Tuan. Saya... Saya tidak mungkin melakukan itu" jawab Nandini dengan susah payah.


"Lalu bagaimana dengan mu?" Dominic meletakkan moncong pistol nya ke pipi Lolly, yg membuat keringat Lolly semakin mengucur deras.


"A... Apa? Saya tidak melakukan apa apa" lirih Lolly dengan suara yg gemetar.


Dominic tersenyum miring melihat respon Lolly, dan kemudian tiga pria tadi menghampiri Dominic dengan menentang sebuah tas.


"Kami menemukan ini, Tuan..." seru salah satu dari mereka sambil menyerahkan tas dan sebuah botol kecil pada Dominic.


"Tas siapa ini?" tanya Dominic.


"Jadi kamu yg meracuni Nyonya Sarah?" bentak Dominic yg membuat Nandini langsung terkesiap dan ia menggeleng cepat.


"Tidak Tuan, demi Tuhan saya tidak melakukan itu, saya bersumpah demi mendiang ibu ku"


Sementara Bi Eni yg melihat itu hanya bisa tercengang, ia tampak sangat terkejut "Dominic, apakah Sarah dan bayi nya baik baik saja?" lirih Bi Eni setengah berbisik, mata nya berkaca kaca dan membuat penglihatan nya menjadi rabun.


Dominic tak menjawab nya, sesuai perintah Devano. Dia tidak boleh lengah dan tidak boleh mempercayai siapapun termasuk Bi Eni. Walaupun dalam hati kecil Dominic ia yakin bukan Bi Eni pelaku nya, Dominic bisa melihat betapa Bi Eni sangat menyayangi Sarah.


"Ini tas mu, berarti barang yg ada dalam tas ini adalah barang mu, Bukan begitu?" desis Aldo tajam. Sementara Nandini, ia melirik Lolly yg saat ini hanya menunduk dalam "JAWAB!" bentak Aldo yg langsung membuat Nandini terisak, ia merasa sangat lemas dan hampir tidak bisa merasakan kaki nya.


"Itu milik saya, Tuan. Itu.... Itu...."


"Itu apa?" bentak Dominic, Nandini masih terus melirik Lolly "Tadi saya.... Saya liat Lolly memegang tas saya, Tuan" jawab nya sambil sesegukan.

__ADS_1


"BOHONG!" seru Lolly dengan suara nyaring "Saya tidak mungkin meracuni Nyonya Sarah"


..........


Helen tiba tiba saja ada pasien mendadak tadi sore sehingga ia tak tadi pulang lebih cepat, tentu dengan Juan yg setia menunggu nya.


Dan saat selesai menangani pasien nya, Helen dan Juan hendak pulang. Di lorong rumah sakit tiba tiba sayup sayup ia mendengar seseorang berkata tentang operasi mendadak Nyonya Lake. Membuat Helen dan Juan berhenti, ia melihat seorang suster dan Dokter yg sedang terburu buru.


"Tunggu..." teriak Helen pada Dokter itu "Apa maksud mu Sarah Fergueson Lake?" tanya Helen.


"Benar, Dok..." jawab nya itu dan mereka lanjut berlari.


Juan dan Helen pun mengikuti nya dari belakang hingga mereka sampai di depan ruang operasi.


"Dev..." seru Juan yg melihat Devano terududuk lemas di lantai, pipi Devano bahkan basah karena air mata, Devano menggenggam ponsel nya dengan sangat kuat seolah ingin meremukan ponsel itu "Ada apa? Kenapa Sarah tiba tiba operasi?" tanya Juan dan ia juga tampak sangat khawatir.


"Seseorang meracuni istri dan bayi ku" lirih Devano yg membuat Helen dan Juan menganga.


"Apa maksud mu? Siapa pelaku nya?" tanya Juan emosional.


"Entahlah, aku mencurigai semua orang, terutama orang yg tinggal bersama kami" ucap Devano dengan lemas, walaupun begitu sorot mata nya menunjukkan kemarahan yg sangat besar.


"Kita harus lapor polisi" ucap Helen.


"Engga perlu!" tegas Juan "Kita harus meng eksekusi nya dengan tangan kita sendiri"


"Pergilah ke rumah ku, Juan. Dan cari juga Airin dan Karin. Dua wanita itu pasti ada di balik semua ini" desis Devano "Aku... Aku mau di sini, menunggu istri dan anak ku" lirih Devano kemudian dan sekali lagi air matanya menetes tanpa bisa ia tahan.


"Helen, kamu disini temani Devano. Hubungi William dan Freya..." seru Juan dan ia bergegas pergi. Tak peduli teriakan Helen yg meminta Juan tidak bertindak gegabah.


"Aku akan menghabisi mereka semua, berani nya mereka..." desis Devano semakin mencengkram kuat ponsel yg di pegang nya.

__ADS_1


__ADS_2