
Airin menyerah, ia tak ingin lagi berurusan dengan Devano. Bagi nya ini sudah cukup, Airin juga sangat mengenal seperti apa seorang Devano Lake jika kehidupannya di usik.
"Pengecut banget sih kamu, Rin.." ujar Karin kesal. Ia sangat kesal melihat Airin yg tampak marah, sedih dan sudah putus asa.
"Kamu engga tahu aja rasanya di rendahkan sama orang yg kita cintai itu seperti apa" jawab Airin sesegukan.
"Ya maka nya jangan bodoh lah" seru Karin "Kalau kamu engga bisa dapetin Devano, maka seharusnya Sarah juga engga kan?" Karin selalu berusaha mempengaruhi nya,Airin tak menjawab nya "Ayo lah, Airin... Atau setidaknya kamu bisa membalas rasa sakit hati mu, kamu di penjara karena Sarah dan keluarga nya"
"Memang kamu punya rencana apa lagi?"
.........
Devano yg hendak berangkat ke kantor masih menyempatkan diri memeriksa cctv di setiap sudut rumah nya. Dan untuk saat ini semua nya terlihat masih aman.
"Sayang..." seru Devano pada Sarah yg baru saja selesai mandi "Nanti kalau ada orang dari yayasan datang, jangan langsung terima dulu ya. Tunggu aku pulang, aku masih harus memeriksa semua berkas berkas dia" ujar Devano.
Sarah menatap Devano lekat lekat, ia tidak bodoh. Sarah tahu seperti nya terjadi sesuatu, karena itulah Aldo dan Dominic bahkan harus tinggal bersama mereka, ada penambahan cctv dan Devano selalu memantau keadaan rumah lewat cctv itu.
"Apa ini masalah bisnis?" tanya Sarah "Apa musuh bisnis mu mengincar ku?" Devano tersenyum, Sarah nya memang cerdas.
"Ya" jawab Devano berbohong, Sarah menghela nafas berat. Ia tahu dunia bisnis itu kejam "Dan kemana pun kamu pergi, Aldo dan Dominic akan menjaga mu, okey? Biarkan mereka mengikuti mu"
"Hari ini aku berencana mau kerumah Mama sama Naina, kasian juga dia bosan di apartemen sendirian" ujar Sarah sambil mengeringkan rambut nya.
__ADS_1
"Baiklah, ingat. Hati hati, jangan percaya pada siapapun, dan jangan menemui siapapun tanpa Aldo dan Dominic. Ya"
"Iya, Devano. Engga usah khawatir" jawab Sarah meyakinkan.
Devano pun bersiap siap pergi ke kantor "Aku pergi dulu, hubungi aku jika kau butuh sesuatu"
Sarah hanya mengangguk, mengecup pipi Devano dengan mesra. Devano pun memberikan ciuman hangat nya.
"Dom, tolong awasi semuanya. Pantau cctv juga, dan jangan biarkan siapapun masuk kerumah"
"Baik, Tuan" jawab Dominic.
Devano pun pergi ke kantor. Sementara Dominic pergi ke ruangan kerja Devano dan memantau ccct dari sana, sementara Aldo berjaga di luar.
"Bisa kau datang nanti sore?" tanya Aldo sopan.
"Siapa, Om?" tanya Sarah yg mendengar percakapan mereka.
"Halo, Nyonya..." sapa wanita itu "Nama saya Nandini. Saya di kirim dari yayasan untuk bekerja di sini, ini berkas berkas saya" wanita itu memberikan berkas yg ia bawa.
Sarah memeriksa nya dengan teliti "Bisa lihat ID card nya?" tanya Sarah.
"Bisa, Nyonya. Ini..." Sarah mengambil ID card yg di sodorkan Nandini.
__ADS_1
"Baiklah, masuk..." ujar Sarah.
"Nyonya Sarah, kata Tuan Devano harus menunggu Tuan Devano dulu" ujar Aldo.
"Ini berkas nya lengkap sudah lengkap, Om" jawab Sarah sambil membawa wanita itu masuk.
Aldo pun segera melaporkan itu pada Dominic.
Sementara Sarah memanggil Lolly dan Bi Eni.
"Nandini, ini Bi Eni. Dia memasak di sini dan aku harap kamu menghormati nya, karena dia sudah seperti nenek ku dan suami ku. Dan ini Lolly, aku harap kalian bisa berteman, dan untuk tugas... Bi Eni hanya memasak, Lolly membersihkan kamar ku dan ruang kerja suami ku. Sisanya, adalah tugas mu untuk membersihkan nya, termasuk kolam, dan kamar Bi Eni juga" tutur Sarah dan Nandini mengangguk.
"Baik, Nyonya..."
"Kalau kamu masih ada yg engga ngerti, bisa tanya Bi Eni maupun Lolly"
"Baik, Nyonya. Saya faham..."
...... ...
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1