
Atas permintaan Jason, Devano benar benar harus menahan rasa gatal di tangan nya untuk membunuh tiga wanita yg hampir membuat nyawa istri dan anak nya melayang. Selain itu, ia juga merasa apa yg di katakan Jason itu ada benar nya juga.
Sangat mudah bagi Devano untuk mengumpulkan bukti dan saksi, selain itu Lolly juga adalah saksi kunci dari kejahatan mengerikan ini, dimana otak dari semua rencana busuk ini adalah Karin.
Laporan Devano dan keluarga Sarah akan sera di proses hukum, sementara Sarah dan Venita belum tahu fakta yg terjadi.
Sementara semakin hari kondisi Sarah semakin baik, semua orang ada untuk nya dan mendukung nya. Membuat semangat juang nya untuk bertahan semakin besar.
Dan saat ini, ia sedang merengek pada suaminya agar di antarkan untuk menjenguk putra nya.
"Besok ya, Sayang" bujuk Devano dan seketika air mata Sarah menetes.
"Aku kangen, Dev" rengek nya bahkan sesegukan.
"Tapi kan tadi sudah jenguk, kamu juga harus istirahat" ucap Devano lembut. Sarah menggeleng dan tangis nya semakin menjadi, membuat Devano hanya bisa menghela nafas berat dan ia pun mau tak mau harus menuruti keinginan istrinya.
Devano pun menggendong Sarah kemudian mendudukan nya di kursi roda. Sementara jarum infus masih setia menancap di punggung tangan Sarah.
Devano mendorong kursi roda Sarah pelan pelan, dan sesampainya di depan ruang NICU mata Sarah langsung berbinar terang. Ia mengintip putra nya dari balik pintu.
Sudah beberapa hari sejak ia melahirkan, namun Sarah hanya bisa mengintip dari balik pintu. Membuat hati nya terasa sakit dan perih, ia ingin menggendong putra nya, menimang nya, menyusui nya.
__ADS_1
"Dev, kapan Neo bisa aku gendong? Memang nya dia engga haus? Menang nya dia engga butuh ASI ku?" tanya Sarah dengan suara bergetar, air mata kembali mengalir bebas di pipi nya.
Devano berlutut di depan sang istri, mengecup punggung tangannya dengan mesra "Nanti, kamu bisa menyusui nya, menimang nya dan menggendong nya, Sayang. Jangan sedih ya, nanti Baby Neo juga sedih" Devano berkata dengan begitu lembut sembari mengusap air mata di pipi Sarah.
"Sebenarnya apa yg terjadi dengan ku, Dev?" tanya Sarah dan ia menatap Devano lekat lekat.
"Tidak ada yg terjadi, Sayang" jawab Devano dan Sarah menggeleng.
"Kamu bohong, terkahir kali yg aku ingat aku merasakan sakit yg luar biasa di perut ku. Dan saat itu aku tidak mengalami kontraksi, lalu saat aku bangun, putra ku sudah terlahir ke dunia ini. Dan aku merasakan sesuatu yg berbeda dalam tubuh ku, Devano. Aku memang tidak pernah melahirkan, tapi aku sangat yakin apa yg aku rasakan bukan karena aku melahirkan. Sekarang jujur sama aku, apa yg terjadi sebenarnya?"
Pertanyaan dan tatapan Sarah begitu menuntut, dan Devano tahu tak selamanya ia bisa menyembunyikan fakta ini dari Sarah. Apa lagi nanti pasti pengadilan akan memanggil Sarah dan yg lain untuk memberikan kesaksian. Apa lagi korban di sini adalah Sarah yg sedang mengandung.
"Baiklah, Sayang. Sekarang kita ke kamar mu ya, aku akan ceritakan semua nya" ucap Devano dan Sarah hanya mengangguk kecil.
Sementara Nandini kini sudah sangat baik baik saja, racun yg ia telan tidak sampai menyebar ke seluruh pembuluh darah nya. Walaupun begitu, justru kini Nandini trauma akan kejadian yg sebelumnya.
"Ada apa? Kenapa melamun?" Nandini yg masih duduk di atas bangsal nya menoleh dan mendapati Aldo yg datang dengan membawa samangkuk sup panas.
"Tidak apa apa, Tuan" cicit Nandini takut "Saya sudah merasa baikan, sebaiknya saya akan pulang dan saya mau berhenti bekerja" ucap Nandini sambil menunduk takut. Dan Nandini berfikir tidak mungkin ia bekerja pada singa liar seperti Devano.
"Itu terserah kau saja, tapi kau tidak akan bisa keluar dari rumah ini sebelum Dokter menyatakan kau boleh keluar. Semua biaya di tanggung Tuan Devano"
__ADS_1
"Saya tidak bersalah" ucap Nandini menangis terisak. Dan seketika Aldo menghapus air matanya dengan lembut.
"Kami tahu, Tuan Devano juga tahu. Sebenarnya Tuan Devano adalah orang yg sangat baik, tapi ketika istri yg sedang mengandung buah hati pertama nya di racuni, tentu saja dia akan sangat murka. Ayah mana yg mau anak nya dalam bahaya? Suami mana yg terima istrinya di celakai?" tukas Aldo dengan nada yg lebih lembut dengan biasa nya. Nandini masih tidak percaya kalau Devano orang baik mengingat bagaimana ia menyiksa Lolly dan memaksa nya menelan racun.
"Setiap hari Tuan Devano selalu memantau keadaan mu, kamu bahkan di rawat di ruang VVIP dan di tangani Dokter terbaik di rumah sakit ini, yg juga menangani Nyonya Sarah"
Mengingat Sarah, hati Nandini seperti sedikit tenang. Karena walaupun cuma dua hari ia mengenal Sarah, Nandini bisa merasakan Sarah orang baik. Tidak adil memang jika orang sebaik Sarah di racuni dengan begitu kejam, fikir Nandini.
"Makan lah, biar ada tenaga dan bisa kembali bekerja"
.........
Sementara itu, Sarah hanya bisa menangis tersedu sedu mendengar apa yg baru saja Devano ceritakan pada nya. Ingin rasanya Sarah tidak percaya, ingin rasanya Sarah menyangkal semua itu. Tapi kenyataan ini begitu pahit.
"Lolly, Oh tuhan..." gumam Sarah yg masih sesegukan, Devano membawa Sarah kedalam pelukan nya dan menenangkan nya "Bagaiamana bisa Lolly mau membunuh ku dan anak ku, Dev? Bagaimana bisa? Aku menyayangi nya seperti aku menyayangi Naina, aku menganggap nya saudara ku, aku peduli pada nya. Tapi dia...." Sarah terus terisak kuat
"Shhtt, tenang lah, Sayang. Semua bukti dan saksi suda di kumpulkan. Ketiga orang itu akan di hukum dengan berat, mereka akan membayar semua ini" lirih Devano.
"Putra kita, Devano... Putra kita, hiks hisk... Kejam sekali meraka"
"Putra kita sangat tangguh, sama seperti mu. Bahkan sejak dalam rahim mu saja dia bisa melawan kematian, dia sangat tangguh, Sayang"
__ADS_1
Devano membelai kepala Sarah dengan lembut, dan Sarah terus saja menangisi fakta yg begitu menyakitkan. Dua kali, sudah dua kali ia di khianati oleh orang yg ia sayang, rasanya begitu menyakitkan. Sementara Devano terus membisikan kata kata yg menenangkan, mencoba menghibur Sarah dan menguatkan nya.