
Sarah meminta kedua orang tuanya untuk pulang saja supaya mereka bisa istirahat. Sementara William dan Devano akan tinggal dan menemani Sarah, sementara Naina sudah pulang karena orang tua nya juga pasti khawatir pada Naina.
Jason, William dan Devano sangat ingin melaporkan Karin pada polisi karena apa yg di lakukan nya adalah tindak kekerasan yg bahkan bisa merenggut nyawa. Namun Sarah meyakinkan mereka bahwa tak perlu melibatkan polisi yg hanya akan memperpanjang masalah.
Tapi bukan berarti Sarah mau melepaskan Karin begitu saja, ia akan mengadukan hal itu pada kepala sekolah dan juga Sarah meminta Papa Mama nya menemui orang tua Karin untuk memberikan peringatan. Sarah berharap setelah ini Karin jera dan tak menganggu nya lagi karena Sarah sudah sangat bermurah hati pada nya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Sarah sudah tertidur sementara William tampak mengerjakan sesuatu di laptop nya. Sementara Devano, pria itu merasa gatal dan geram karena tidak bisa melampiaskan amarah nya pada Karin. Seandainya bukan karena Sarah yg meminta nya tak main hakim sendiri, Devano sudah pasti menjebloskan Karin ke penjara dengan tuduhan yg lebih berat yg memastikan Karin di hukum seumur hidup.
"Mau kemana, Dev?" tanya William yg melihat Devano mengambil kunci mobil nya.
"Mau pulang sebentar, jagain Sarah ya" ujar Devano dan William mengangguk saja.
Sementara Devano bukan pulang, melainkan tujuan nya adalah menemui Agus. Sarah sangat berarti dalam hidup nya dan Karin telah dengan sangat lancang melukai nya, Devano tak bisa berdiam diri saja. Setidaknya dia harus memberikan peringatan yg keras, yg takkan bisa di berikan oleh orang tua Sarah karena mereka terlalu baik.
Sesampainya di rumah Agus, Devano langsung mengklakson mobil nya dengan sangat nyaring membuat Satpam rumah itu terkejut dan segera menghampiri Devano. Devano pun membuka kaca mobil nya.
"Panggil boss mu itu dan katakan Devano Lake ingin bicara, sekarang juga" tegas Devano.
"Tapi, Pak. Ini sudah ma...."
"Katakan saja Devano Lake" tegas Devano sekali lagi dan ia tampak sangat marah. Satpam itu pun segera melakukan tugasnya.
Tak lama kemudian pintu rimah terbuka dan Agus keluar dengan wajah yg tampak heran.
Devano langsung keluar dari mobil nya, melangkah lebar dan langsung menghadiahkan bogem mentah ke wajah Agus yg membuat Agus langsung tersungkur. Satpam itu mencoba melerai namun di cegah oleh Agus. Agus segera berdiri dan ia mengusap sudut bibir nya gy berdarah saking keras nya pukulan Devano.
"Apa apa in ini, Dev?" seru nya marah.
"Bersyukurlah karena aku hanya memukul mu bukan putri mu yg kurang ajar itu..." desis Devano tajam.
"Apa maksud mu?" tanya Agus yg tak mengerti.
"Harus berapa kali aku bilang supaya putri mu harus menjauhi Sarah, tapi dia malah mencelakai Sarah sampai Sarah masuk rumah sakit"
"Apa?" desis Agus yg tak percaya "Engga mungkin Karin mencelakai orang"
"Tanyakan itu pada anak mu, aku bisa saja menyeret Karin dan mengubur nya hidup hidup di hutan karena apa yg sudah dia lakukan. Tapi aku menahan nya karena permintaan Sarah" ucap Devano tajam dan setelah itu ia kembali ke mobil nya. Agus pun berusaha mencegah Devano dan berusaha meminta maaf tapi Devano tak peduli dan langsung pergi.
Agus tampak sangat frustasi dan ternyata Karin berdiri tak jauh dari sana. Ia terlihat takut namun juga marah dengan perlakuan Devano pada ayahnya.
Agus yg melihat Karin segera menghampiri nya dan langsung menampar nya, membuat Karin meringis.
__ADS_1
"Harus berapa ribu kali harus Papa kasih tahu supaya kamu menjauhi Sarah, huh?" teriak Agus marah dan Karin hanya meneteskan air mata nya merasakan perih di pipi nya.
"Papa nampar aku cuma karena Sarah?" lirih Karin.
"Karena Papa peduli sama kamu, Karin. Devano itu bisa berbuat apa saja jika ada yg menganggu nya. Kenapa kamu engga ngerti sih, huh?" teriak Agus yg sudah merasa putus asa dengan anak nya ini. Kemudian ia pun masuk ke dalam meninggalkan Karin dengan emosi yg meluap. Berfikir kenapa ayahnya takut sekali pada Devano?
..........
Ke esokan hari nya, Devano masih setia menemani Sarah di rumah sakit. Ia bahkan membatalkan semua meeting nya, dan jika pun ada pekerjaan yg mendesak, Devano meminta Mia mengantarkan nya kerumah sakit.
Mia juga mengatakan ada Juan ke kantor nya, Mia memberi tahu Juan bahwa Sarah kecelakaan dan Devano menemani nya di rumah Sakit dan Juan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Venita juga datang menemani Sarah dan ia membawa kan makanan untuk putri nya itu.
"Gimana keadaan mu, Nak?" tanya Venita.
"Lebih baik, Ma. Paling besok sudah bisa pulang ya kan, Kak Dokter?" tanya Sarah pada Helen yg sedang memeriksa nya.
"Iya, asal keadaan mu terus membaik. Tapi nanti harus pintar rawat diri dirumah ya, luka nya jangan sampai terkena air dan harus di ganti setiap hari perban nya" ujar Helen.
"Siap" seru Sarah nyaring yg membuat Helen geleng geleng kepala, memanglah kelakuan Sarah tak pernah berubah fikir nya.
"Gimana keadaan mu, Bebs?" tanya Naina sembari melempar tas nya ke sofa.
"Baik, paling dua hari lagi sudah bisa sekolah"
"Asyik dong, bosan di sekolah engga ada kamu" jawab Naina.
Sementara Helen yg sudah selesai memeriksa keadaan Sarah pun hendak keluar, dan saat ia membuka pintu. Itu bersamaan dengan orang lain yg juga membuka pintu dari luar.
Helen tampak terkejut namun kemudian ia memasang wajah dinginnya.
"Oh, Helen sayang..." ujar pria itu yg tak lain adalah Juan, ia sudah merentangkan tangan nya hendak memeluk Helen namun Helen menampar nya. Membuat semua orang terkejut dan meringis membayangkan perih nya pipi Juan sekarang.
Naina yg melihat Juan disana juga terkejut karena mereka pernah bertemu sebelum nya.
"Dia siapa?" bisik Naina pada Sarah.
"Juan, teman nya Devano yg aku ceritakan waktu itu. Obat perangsang..." bisik Sarah dan seketika Naina melotot terkejut.
"Kamu ngapain sih di sini, huh?" tanya Helen marah.
__ADS_1
"Buat jenguk istri teman ku..." jawab Juan santai dan ia mengintip Sarah karena sejak tadi Juan pandangan nya terhalang oleh Helen yg berdiri di depan nya sedangkan mereka memiliki tinggi badan yg sama. Dan betapa terkejut nya juga Juan saat melihat Naina.
"Dan juga buat ketemu mantan terbaik ku..." lanjut Juan sembari mengelus pipi Helen membuat Helen langsung menjauhkan wajahnya dan mengusap pipi nya seolah tangan Juan ada bakteri nya.
"Cih, najis aku ketemu kamu" jawab Helen dan ia pun segera pergi dari sana dengan wajah marah.
Kemudian Juan masuk, menyapa Venita.
"Hai, Tante. Pasti Mama nya Sarah ya?" sapa nya sopan.
"Iya, kok tahu?" tanya Venita dengan polos nya.
"Cantik nya sama, Tante. Engga ada obat" jawab Juan dengan modus nya yg membuat Venita terkikik geli, sementara Sarah dan Devano hanya geleng geleng kepala. Dan Naina? Ia meringis ngeri.
"Dan kamu pasti kakak nya Sarah ya? karena engga mungkin pacar nya" ia berbicara dengan William sembari mengulurkan tangannya. William tersenyum misterius, ia menerima uluran tangan Juan dan tiba tiba menarik nya dan memberikan tonjokan di perut Juan membuat Juan meringis kesakitan.
Semua orang pun sekali lagi menjadi sangat terkejut terutama Devano.
"Oh bung,... Kakak ipar mu... Egh" Juan menggeram kesakitan sembari memegang perut nya.
"Jadi kamu JB itu, huh? Yg buat Helen nangis berhari hari, sampai aku dan Freya harus menghibur nya setiap hari seperti remaja yg baru putus cinta" ujar William tajam yg membuat semua orang semakin bingung.
"Apa Dokter Helen salah satu korban buaya ini?" tanya Devano.
"Iya, belum ngerasain karma aja dia" jawab William tajam dan Juan malah cengengesan.
"Jadi.. Juan teman nya Devano adalah mantan Kak Helen temannya Kak Will?" tanya Sarah pada dirinya sendiri "Wah, dunia sempit juga ya" ujar nya kemudian yg membuat Juan terkekeh dan ia berjalan mendekati Naina yg sejak tadi hanya diam.
Naina menjadi salah tingkah di deketi Juan, bukan karena apa? Tapi karena waktu itu ia membicarakan Juan di depannya langsung.
"Hai, sweety. Aku JB, Juan Barnard. Kakak nya AlVino Barnard, kita saudara se ayah dan se ibu" ujar Juan yg membuat Naina semakin kikuk mengingat saat itu ia bukan hanya membicarakan Juan, tapi juga Vino dan ayah ibunya.
Tamatlah riwayatnya...
"H.... Hai.." sapa Naina berusaha tenang dan pura pura tak mengenal Juan. Dalam hati ia berdoa supaya ia di berikan kekuatan untuk menghilang, kali ini saja.
Sarah yg melihat ekspresi Naina sudah bisa menebak bahwa ada sesuatu yg tak beres. Namun ia akan tanyakan itu nanti.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1