
Devano menepati janji nya, ia membeli kembali rumah keluarga Fergueson dan menyerahkan rumah itu pada Jason. Jason sangat berterima kasih pada menantu nya itu dan itu membuat Jason dan Venita semakin sayang pada Devano yg dulu hanya teman William tapi sekarang adalah menantu nya yg baik hati.
Sarah pun sangat berterima kasih atas bantuan Devano, dan Sarah mengatakan ia tak tahu harus membalas kebaikan Devano dengan apa.
"Dengan cinta" jawab Devano yg seketika membuat Sarah terdiam dan memandangi Devano.
Saat ini keduanya sedang menonton film Titanic di laptop Sarah. Lebih tepatnya, Devano bergabung dengan Sarah yg sedang rebahan sembari menonton film legend itu.
"Emang kamu engga bosan dengan film itu?" tanya Devano kemudian.
"Engga, masih baper" jawab Sarah seolah melupakan topik mereka sebelumnya.
"Baper atau on?" bisik Devano tepat di telinga Sarah membuat Sarah meremang. Dan saat menoleh kembali ke laptop nya, ternyata menampilkan scene dimana kedua pemeran itu yg sedang memadu kasih. Sarah langsung menutup laptop nya dan berdeham dengan wajah memerah.
"Apaan sih" gumam nya kemudian ia hendak berdiri tapi Devano malah menarik tangan nya hingga Sarah terjatuh ke atas tubuh Devano yg kini sudah terlentang.
"Tadi kamu nanya kan harus membalas kebaikan ku dengan apa? Aku engga mau apa apa, Little girl. Aku cuma mau kamu cinta sama aku dan selalu bersama ku" tutur Devano yg sepertinya akan terus mencoba meyakinkan Sarah.
"Kamu pantang menyerah juga ya, dan pintar berusaha membuat ku mencintai mu supaya kamu bisa menang dan ninggalin aku" ujar Sarah yg masih mengira apa yg di lakukan Devano hanya sebuah permainan. Devano menggeleng sambil mengulum senyum tulus, senyum dari hati dan itu membuat hati Sarah bergetar.
"Aku memang sedang berusaha membuat mu mencintai ku, tapi bukan karena tantangan mu itu apa lagi supaya aku bisa ninggalin kamu. Justru aku mau kamu mencintai ku supaya kita selalu bersama dan pernikahan kita menjadi pernikahan sungguhan. Dan aku mencintai mu, Sarah. Demi tuhan, aku mencintai mu tulus dari hati dan aku engga ma kamu ninggalin aku"
Mendengar isi hati Devano, Sarah hanya bisa menelan ludah nya. Hati nya semakin bergetar dan jantung nya berdegup kencang dan itu membuat Sarah tak mampu berkata apa apa.
"Kamu membuat ku bingung, Dev" gumam Sarah kemudian yg saat ini masih ada di atas tubuh Devano. Devano berguling sehingga kini Sarah yg berada di bawah nya namun Devano menyangga tubuh nya dengan tangan nya supaya ia tak menindih Sarah. Sarah merasa tak nyaman dengan posisi yg sangat intim ini. Sarah mencoba mendorong Devano tapi Devano tak bergeming sedikitpun.
"Katakan pada ku, apakah aku pernah menggoda mu sebelum nya dengan cara seperti ini? Apakah pernah aku bersikap lembut, hangat dan sok manis sebelum nya?" Sarah menggeleng, karena memang benar selama ini Devano bersikap dingin, kasar dan Devano baru bersikap nakal dan liar hanya jika Sarah yg memulai nya" Itu karena aku memang engga punya perasaan apapun sama kamu dan aku juga engga pernah terfikir untuk membuat mu mencintai ku. Karena.... " Devano menatap Sarah lekat lekat "Karena entah ada yg jatuh cinta atau tidak, aku sudah berniat menceraikan mu saat keluarga mu hancur"
"Karena apa? " tanya Sarah yg malah melihat Devano terdiam dan menggantungkan kata kata nya.
"Karena aku engga tahu bagaiamana caranya membuat gadis kecil seperti mu jatuh cinta" lanjut Devano "Tapi sekarang aku benar benar mencintai mu, jadi kan ku lakukan apapun untuk membuat mu mencintai ku" teselip ketegasan dn sebuah keinginan yg kuat dalam nada bicara Devano, seolah apa yg ia katakan harus terjadi. Menyadari hal itu, Sarah semakin bingung dengan perasaan dan firasat yg mulai tak nyaman.
"Aku merasa engga nyaman setiap kali kamu menuturkan perasaan seperti itu" ujar Sarah sejujur nya "Dan aku engga bisa menebak keseriusan mu, Devano"
"Jangan menebak, Little gilr. Tapi ketahuilah dengan pasti" tegas Devano kemudian ia berdiri.
"Besok kita akan kerumah orang tua mu, mereka pasti kangen sama anak gadis nya" seru Devano sambil mengulum senyum samar kemudian ia pergi dari kamar nya, meninggalkan Sarah dengan segala perasaan dan fikiran yg tak karuan.
Seiring berjalan nya waktu, hubungan pernikahan mereka semakin aneh karena kini kedua nya semakin dekat dan mulai merasa nyaman satu sama lain. Namun Sarah masih takut itu bagian dari permainan Devano.
.
.
.
__ADS_1
Naina dan Jacob hanya bisa garuk garuk kepala mendengarkan cerita sahabat nya itu.
"Fix, kalian sebenarnya itu sudah saling mencintai" ujar Naina yg membuat Sarah menganga kemudian menampol Naina dengan satu potong kentang goreng.
Saat ini, ketiga remaja itu sedang berada di mall untuk menghabiskan waktu bersama seperti biasa nya.
"Engga mungkin lah, Nina bobo..." elak Sarah.
"Itu mungkin banget, Sarah " sambung Jacob" Ya mungkin kamu nya aja yg engga sadar"
"Selama ini Devano tuh sangat menyebalkan, egois, kasar, gila, penuh misteri. masak iya aku jatuh cinta sama orang seperti itu" Sarah kembali mengelak.
"Ya cinta kan engga bisa di cerna dengan logika, Sarah. Bahkan banyak kok orang yg awalnya musuhan tapi akhir nya jatuh cinta. Cinta itu itu aneh, engga masuk akal dan ajaib" sambung Naina lagi yg membuat Sarah semakin bingung dengan perasaan nya.
"Terus aku harus gimana dong? Kita nikah kan gara gara dia mau balas dendam sama aku gara gara aku jadikan dia bahan tantangan"
"Semua cerita bisa saja berubah di tengah jalan" ujar Jacob "Tapi aku saranin, coba jalanin pernikahan kalian dengan baik. Lagian kan Om dan Tante mengira kalian menikah karena cinta, bahkan mereka bela belain menikahkan kamu yg masih sekolah karena mereka kira hubungan kamu dan Devano sudah sangat jauh. Hal itu juga sudah buat Tante jantungan, kalau misalnya nanti kalian ceria, gimana perasaan Om dan Tante?"
Sarah menghela nafas berat mendengar penuturan panjang lebar Jacob yg memang sangat benar. Permainan ini bukan hanya melibatkan Sarah dan Devano. Tapi juga kedua orang tua Sarah.
Ah, kenapa Sarah harus terjebak dalam hal seperti ini di usianya yg masih sangat muda?
.
.
.
Jason dan Venita menyambut hangat putri dan menantu nya itu. Bahkan begitu juga William, kini William sudah sangat bisa menerima pernikahan adik dan teman nya itu, bahkan William berterima kasih karena Devano sudah merawat Sarah dan memenuhi semua kebutuhan nya dengan sangat baik.
Dan di saat makan malam, Devano tiba tiba membuka topik tentang Fergus Corp. Devano mengatakan ia akan membangun perusahaan itu kembali.
"Rasa nya percuma, aku sudah kehilangan kepercayaan dari orang orang. Aku rasa aku akan membuat usaha yg lain" ujar Jason.
Devano terdiam, mengingat kembali ia bukan hanya mengambil harta kekayaan Fergueson tapi juga nama baik nya. Sangat mudah bagi Devano mengembalikan harta mereka, tapi bagaimana dengan nama baik nya.
"Temukan dulu siapa yg korupsi sebenarnya di perusahaan, Pa" sambung Sarah "Kalau kita bisa menemukan pengkhianat yg sebenarnya, itu akan membuktikan kalau memang bukan Papa pelaku nya dan nama baik Papa akan kembali, karena semua ini memang fitnah"
"You're so smart, Little girl" ujar William sambil mengacak rambut Sarah dengan gemas.
Devano kembali memikirkan hal itu. Dan itu artinya, Devano harus kembali membuat orang suruhan nya mengaku bersalah agar Jason di bebaskan dari segala tuduhan.
"Biar itu jadi urusan Papa dan William" sambung Venita "Gimana sekolah kamu, Sarah?"
"Lancar, Ma" jawab Sarah.
__ADS_1
"Oh ya, berhubung sekarang kamu udah kelas tiga, sebaiknya kamu belajar yg serius dan juga mulai fikirkan kamu akan melanjutkan kuliah kemana"
Sarah hanya mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulut nya. Sementara Devano tiba tiba memperhatikan Sarah dengan sangat serius.
"Apa?" tanya Sarah yg menyadari tatapan Devano.
"Kamu engga ada niatan kuliah ke luar negeri, kan?" tanya Devano yg membuat Sarah mengernyit.
"Kenapa? Tenang aja, aku bisa mendaftar beasiswa jadi kamu engga perlu keluar duit banyak" ujar Sarah dengan bar bar nya yg membuat Venita dan Jason melongo. Tak menyangka anak nya sangat tidak sopan dengan suaminya.
"Sarah, kenapa bicara begitu sama suami mu?" tegur sang ibu dan Sarah hanya cengengesan.
"Engga apa apa, Tante. Dia emang begitu" sambung Devano "Dan aku memang engga mau kamu kuliah ke luar negeri bukan karena biaya. Tapi karena aku engga mau kita pisah jauh begitu" tutur Devano sejujur nya. Sarah terdiam sambil melirik kedua orang tua nya dan juga William. Tampak mereka mengulum senyum.
"Dasar raja tukang bohong" batin Sarah berteriak kesal karena ia masih menganggap itu adalah kebohongan Devano sama seperti saat Devano datang untuk menikahi Sarah.
Sarah menatap tajam Devano namun ia enggan membalas ucapan Devano.
Mereka pun makan dalam diam, dan setelah makan, Devano langsung pamit pulang tak peduli Sarah yg masih rindu keluarga nya.
"Jaga sikap mu sama suami" bisik Venita saat ia mengantar Sarah hingga depan. Sarah hanya bisa menggumam dan mengangguk "Mama serius, Sarah. Devano itu sangat mencintai mu, kamu nya malah jutek begitu"
"Engga lagi lagi deh, Ma" ujar Sarah untuk menenangkan mama nya.
"Kami pulang dulu" seru Devano kemudian ia membukakan pintu mobil untuk Sarah di susul dengan dirinya.
Selama di perjalanan pulang, Sarah terus memberengut dan tampak sangat kesal pada Devano.
"Kenapa sih?" tanya Devano yg sudah tak tahan Sarah mendiamkan nya.
"Kamu pintar banget akting di depan Mama Papa" ujar Sarah masih cemberut.
"Akting apanya?" tanya Devano tak mengerti karena ia merasa tak pernah akting lagi sekarang.
"Tadi tuh, pakek bilang engga mau pisah jauh"
"Oh itu, aku engga akting, Sarah. Aku serius" tegas Devano.
"Bohong" tuduh Sarah.
"Demi Tuhan, aku serius" tegas nya lagi dan kali ini Sarah tak menuduh lagi karena Devano sudah bersumpah begitu.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1