
William dan Devano mendarat di London. Di sana sudah ada Seorang pria yg selalu melayani Devano setiap kali Devano pergi ke London. Pria itu menyambut William dan Devano dan langsung membawa mereka ke apartemen Devano.
Di sepanjang perjalanan, William memperhatikan setiap jalan yg ia lewati. Semenjak insiden yg terjadi pada nya dan Caitlin, ini adalah kali pertama William kembali ke London.
Sesampainya di apartemen, Devano membawa William ke kamar Caitlin dan menempatkan William di sana atas permintaan William sendiri.
"Gadis ku yg malang..." gumam William sedih saat ia melihat foto Caitlin di kamar itu. Di foto itu Caitlin terlihat sangat bahagia dan ia tersenyum lebar.
"Foto ini di ambil saat pertama kali Caitlin ke London, saat itu ia mengatakan suka sekali dengan London. Karena itulah aku mengirim nya ke sini untuk sekolah musik" ujar Devano juga sedih.
"Seandainya aku bisa mengulang waktu..." gumam William lagi, ia membelai foto itu dengan penuh kerinduan. Seoalah sebelum nya mereka memang sepasang kekasih.
"Lebih baik kamu istirahat, Will. Besok kita akan mulai mencari petunjuk" seru Devano.
"Apa kita bisa ke makam Caitlin sekarang?" tanya William sembari menoleh pada Devano.
"Okey, ayo. Sekalian cari makan"
.........
"Kamu sudah bertunangan? Helen, jangan percaya sama laki laki. Dia itu cuma mempermainkan kamu, memang nya kamu cinta sama dia?"
Ingin sekali rasanya Helen merobek mulut seksi Juan itu dengan pisau bedah, sejak tadi pria itu mengikuti nya seperti anak anjing dan itu benar benar mengganggu Helen yg sedang sibuk di rumah sakit.
"Kami bahkan akan segera menikah, nanti aku kirim undangan nya ya dan aku sangat mencintainya. Sekarang kamu pergi dari sini, ku mohon...." pinta Helen untuk yg kesekian kalinya.
Juan mendengus kesal "Aku cuma kasian sama kamu, hubungan itu cuma beban. Percaya deh sama aku"
"Iya, bagi kamu itu beban. Ya terserah, aku engga peduli. Dan bagi aku hubungan itu penting, pasangan itu bukan cuma teman tidur untuk melampiaskan hasrat seksual. Tapi teman hidup, tapi ya pria seperti kamu mana mungkin mengerti" ujar Helen yg lagi lagi membuat Jaun merasa sangat kesal.
"Terus nanti kalau suami kamu selingkuh gimana?"
"Engga akan" jawab Helen tegas.
"Engga mungkin engga akan" Juan berkata lebih tegas lagi.
__ADS_1
"Juan...." geram Helen yg emosi nya sudah mencapai puncak "Kamu engga liat, gadis remaja seperti Naina dan Jacob aja bisa menjaga hubungan. Itu bukan masalah dalam hubungan nya, tapi tergantung orang nya, pribadi nya" ucap Helen penuh emosi "Berapa lama kamu deketin Naina? Engga ada hasil nya kan? Karena cinta sejati itu ada, hubungan yg erat dan pasangan yg setia itu ada, Juan. Naina dan Jacob contoh nya, Devano dan Sarah juga"
"Kamu tahu dari mana aku deketin Naina?"
"Itu sudah tertulis jelas di jidat mu!" seru Helen kemudian ia pergi meninggalkan Juan yg memberengut kesal.
"Helen...." Juan berteriak sembari berlari mengejar Helen kemudian ia menghalangi jalan wanita itu "Aku akan buktikan kalau engga ada cinta sejati, engga ada hubungan tanpa perselingkuhan. Lihat saja nanti" ujar Juan tegas dan hal itu membuat Helen merasa terheran, ia sangat mengenal kegilaan mantan kekasih nya ini. Dan setelah mengucapkan hal itu, Juan langsung pergi tak peduli Helen yg terus memanggil nya.
"Juan...." teriak Helen untuk yg kesekian kali nya namun Juan tetap berlalu tanpa menoleh sedikitpun.
.........
William menatap sendu nisan yg terukir nama Caitlin Lake, ia tak bisa membendung air mata nya. William membelai nisan itu "Maafin aku, Sweetie Catty" lirih William. Ia teringat saat pertama kali melihat Caitlin, gadis pendiam yg selalu menyendiri "Kita bahkan belum berkenalan dengan resmi saat itu, nama ku William, William Fergueson" lirih William dengan suara yg tercekat sambil terus membelai nisan itu.
"Dan juga, aku kakak ipar dari kakak mu yg bodoh ini" ucap nya lagi.
"Berhenti menangis, bodoh. Jangan seperti perempuan" ujar Devano padahal ia sendiri sudah hampir tak sanggup lagi menahan air mata nya apa lagi mengingat bagaimana keadaan Caitlin dulu, bagaimana kondisi nya dan bagaimana perjuangan Devano untuk membuat Caitlin kembali sembuh. Dan semua itu sia sia.
"Dan sebentar lagi kamu akan punya keponakan, apa kamu senang?" tanya William seolah ia benar benar berbicara dengan Caitlin "Tapi karena kebodohan kakak mu ini, adik ipar mu jadi pergi padahal ia sedang mengandung. Kenapa takdir kita seperti ini, Sweetie Catty?" lirih William lagi. Devano pun segera pergi dari sana karena ia sudah tak sanggup lagi menahan air matanya melihat William seperti itu. Devano tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yg sangat di sayangi. Dan William benar, kenapa takdir mereka seperti itu?
Seandainya bukan karena Caitlin, Devano takkan pernah mengenal William yg artinya ia juga takkan pernah mengenal Sarah. Tapi ia mengenal William dan Sarah karena hal buruk yg menimpa adik nya. Takdir mempermainkan mereka dengan permainan sangat complicated.
Dan tak lama kemudian William menyusul Devano, Devano segera menghapus air matanya dan ia masuk ke dalam mobil nya yg segera di ikuti William.
Devano masih tak menjalankan mobil nya, ia terdiam membisu begitu juga dengan William.
"Maaf, Devano..." hingga akhirnya William kembali bersuara lirih "Maaf karena aku engga bisa melindungi adik mu"
"Maaf juga... " jawab Devano dengan suara yg tak kalah lirih nya "Maaf juga karena aku sudah mengacaukan keluarga mu dan membuat adik kesayangan mu berada dalam posisi yg sangat sulit"
"Masa lalu sudah berlalu, saat nya kita move on dan fokus ke masa depan. Masa depan mu adalah Sarah dan anak kalian, masa depan ku adalah Freya. Tapi di tengah itu semua, kita masih harus mencari bajingan bajingan itu. Aku ingin membunuh nya dengan tangan ku sendiri.
"Kita berdua akan membunuhnya"
..........
__ADS_1
Naian mendesah berat saat merasakan suhu tubuhnya yang sangat panas, sementara kedua orangtua nya sedang berada di luar kota saat ini dan baru akan kembali nanti malam, mungkin tengah malam.
Ia berjalan ke dapur dengan terhuyung karena merasa pusing dan saat itu juga terdengar suara bel rumah nya.
Naina sangat berharap itu orang tua nya yg pulang lebih cepat, namun saat membuka pintu... Pria buaya ini yg muncul.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Naina lemah.
"Menjenguk teman yg sedang sendirian" jawab Juan. Naina memicingkan mata nya, menatap Juan curiga.
"Kata siapa aku sendirian?"
Tanpa menjawab, Juan langsung melesat masuk ke dalam dan itu membuat Naina semakin merasa pusing.
"Kamu kenapa?" tanya Juan kemudian karena ia melihat Naina yg tampak sangat pucat dan ia terus memegang kepalanya.
"Aku...." belum sempat Naina menjawab ia sudah ambruk ke lantai.
"Naina..."pekik Juan terkejut dan ia langsung membopong Naina, kemudian menidurkan nya ke sofa, Juan menepuk nepuk pipi Naina dan ia merasakan pipi Naina yg sangat panas. Juan menempelkan punggung tangannya di kening Naina "Astaga, dia demam... " gumam Juan bingung dan khawatir.
Ia pun hendak menelpon Dokter namun tiba tiba Naina menggumam dan menggigil. Juan pun kembali menggendong Naina dan membawanya masuk ke kamar yg ternyata itu adalah kamar orang tua nya Naina. Juan tak peduli, ia langsung menyelimuti Naina.
"Naina, ya ampun... Aku panggil Dokter ya" ujar Juan namun Naina tak menanggapi.
Juan pun menelpon Dokter dan memberi tahu keadaan Naina, Dokter itu menyuruh Juan untuk mengkompres Naina dengan air hangat sambil menunggu kedatangan nya.
Juan pun dengan cepat pergi ke dapur untuk mengambil air hangat, ia menyiapkan nya di baskom kecil. Setelah itu ia mencari handuk kecil, dan ia mendapatkan handuk kecil yg padahal itu adalah kain lap.
Juan duduk di sisi Naina dengan meletakkan baskom kecil itu di pangkuan nya dan ia mulai mengkompres Naina dengan pelan pelan. Juan memperhatikan Naina lekat lekat, dan seketika ia teringat bagaimana Naina dan Vino berceloteh di restaurant waktu itu. Seketika Juan merasa Naina memang masih gadis kecil yg tak seharusnya ia incar. Ia teman bahkan sahabat adik nya, ia juga sahabat dari istri sahabat nya. Bagaimana bisa Juan berfikiran untuk meniduri Naina seperti saat saat ini? Naina jelas bukan lah wanita seperti itu.
Dan kepergian Papa dan Mama nya keluar kota tentu itu juga rencana Juan. Juan ingin sekali membuktikan pada Helen bahwa Naina tak setia pada Jacob, Naina bisa di rayu sama seperti wanita lain nya. Dan Jacob juga pasti melakukan hal yg sama di luar sana, Juan sangat yakin tak ada hubungan tanpa sebuah perselingkuhan.
Saat Juan hendak mencelupkan handuk nya ke baskom nya lagi, tanpa sengaja Naina menyenggol nya saat ia hendak menarik selimut nya. Dan Juan pun terpekik kaget karena pakaian nya terkena air hangat itu. Juan pun keluar untuk melepaskan kemeja nya dan mengeringkan nya. Ia juga mengambil handuk kering dan mengelap celana nya yg juga basah, dan bersamaan dengan itu bel rumah bernyanyi. Juan yg mengira itu adalah Dokter segera berlari dan membuka pintu dan seketika....
"Jacob??????"
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc....