
"Sarah..." Freya menepuk pelan pipi Sarah yg masih lembab akibat air mata nya, Freya bisa memastikan Sarah pasti menangis semalaman.
William masih di rumah sakit untuk menjaga Venita, sementara Jason membawa Freya dan Sarah pulang. Apa lagi keadaan Sarah yg tampak sangat kacau dan memprihatinkan, membuat mereka semua justru lebih mengkhawatirkan Sarah dari pada Venita.
"Dek, ayo bangun. Nanti kamu terlambat ke sekolah nya" ucap Freya. Sarah membuka matanya yg bengkak dan terasa berat, semalaman ia tak bisa tidur dan hanya terus menangis.
"Sarah engga mau ke sekolah, Kak Fe" lirih Sarah menunduk "Sarah udah capek, semua orang pasti akan bully Sarah lagi karena berita yg tersebar" lanjutnya dengan suara yg kembali bergetar, bahkan air mata nya memaksa mengalir walaupun sekuat tenaga Sarah mencoba menahan nya.
"Ya sudah, engga apa apa. Kamu istirahat dirumah, kakak mau ke rumah sakit sama Papa" ujar Freya yg tak ingin memaksa Sarah, Freya tahu ini pukulan yg berat untuk mental Sarah yg masih sangat muda.
"Sarah ikut..." ujar Sarah yg sangat mengkhawatirkan Mama nya.
"Jangan, Dek. Kamu butuh istirahat, nanti kalau kamu sakit Papa sama Mama akan semakin khawatir. Oh ya, tadi Naina nyariin kamu, kamu belum aktifin hp mu?"
"Engga" jawab Sarah malas kemudian ia kembali masuk ke dalam selimut nya dan merebahkan diri.
"Ya udah, nanti kak Fe buatkan surat izin mu, kakak udah siapain sarapan di meja makan, kamu makan ya"
"Makasih, Kak Fe" hanya itu jawaban Sarah. Sejak kemarin ia belum makan apapun, Sarah merasa sangat lapar namun nafsu makan nya lenyap.
Setelah kakak ipar dan ayahnya pergi kerumah sakit, Sarah kembali menangis. Ia meredam suara tangisan nya dengan bantal karena tak ingin di dengar oleh Bi Inem.
Bahkan Sarah tak mengindahkan Bi Inem yg sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar nya dan menawarkan sarapan. Semua rasa sakit ini membuat Sarah berfikir seandainya ia mati saja.
Devano dengan segala cinta yg pria itu tunjukkan untuk Sarah ternyata sandiwara belaka, mengingat hal itu membuat Sarah ingin berteriak dan melampiaskan semua rasa sakit dan sesak di dada nya.
Lelah menangis, Sarah jatuh tertidur dengan bantal yg basah karena air matanya. Hingga ia merasakan sentuhan yg begitu lembut mengusap sisa air mata di sudut mata nya.
Sarah tak mampu membuka matanya yg lelah karena terus menerus menangis, namun sebuah kecupan hangat terasa di pipi nya dan Sarah memaksakan diri untuk membuka mata...
__ADS_1
"Kamu..." Sarah langsung terduduk dengan tatapan penuh amarah pada pria yg telah berani mengecup nya "Keluar...!" tegas Sarah dengan emosi yg kembali mendidih.
"Sarah, please... Dengarin penjelasan ku dulu, Sayang"
"Penjelasan apa, Devano? Penjelasan bahwa kamu ingin menghancurkan keluarga ku?" teriak Sarah sambil melompat dari ranjang nya dan berjalan menuju pintu kamar nya dan membuka nya lebar lebar "Keluar sekarang juga, Devano!!!" teriak nya marah, mata nya kembali terasa panas dan pandangan nya mulai rabun akibat air mata yg coba ia tahan.
"Sarah, ku mohon..." Devano berjalan gontai menghampiri istrinya yg membuang muka. Penampilan Devano sendiri tak kalah kacau nya dengan Sarah, bahkan Devano tak berganti pakaian dari kemarin dan Sarah bisa mencium aroma rokok yg menyengat dari tubuh Devano.
"Aku engga mau denger apapun, semua nya sudah jelas. Dan aku, aku mau kita cerai..." tegas Sarah namun terdapat getaran luka dalam nada bicara nya. Mendengar kata cerai dari istrinya membuat hati Devano semakin terluka, ia bertekuk lutut di hadapan Sarah.
"Jangan katakan itu, Sayang. Ku mohon..." lirih Devano dengan ia pun tak bisa lagi membendung air mata nya. Melihat Devano menangis menjadi pukulan tersendiri bagi Sarah, namun rasa kecewa dan kebencian di hati Sarah sudah menguasai akal sehat dan hati nurani nya.
"Pergi dari sini karena semuanya sudah berakhir, aku engga mau liat muka kamu lagi. Aku benci sama kamu..." desis Sarah sambil mengucek mata nya.
Devano menggeleng dan ia mengenggam tangan Sarah dengan paksa, tak peduli Sarah yg mencoba melepaskan nya.
Namun Sarah malah tertawa sinis namun tatapan nya masih penuh luka dan air mata nya semakin deras mengalir.
"Ya, Devano... Kamu bisa dengan mudah mengembalikan harta kami, lalu bagaimana dengan harga diri kami, huh?" desis Sarah di depan wajah Devano, tatapan keduanya yg sama sama penuh luka karena penyesalan dan kebencian itu bertemu.
"Bagaiamana dengan perasaan kami, Dev? Apa kamu tahu gimana rasanya saat semua orang memandang kami hina karena mengira keluarga kami seorang koruptor? Apa kamu tahu gimana rasanya di tuduh melecehkan wanita dan di anggap pemerkosa? Apa kamu tahu gimana rasanya jadi Mama yg harus melihat nama suami dan anak nya tercemar? Apa kamu tahu gimana rasanya jadi aku, Devano. Satu sekolah memandang ku dengan begitu rendah, memanggil ku anak koruptor, adik penjahat kelamin. KAMU TAHU ENGGA RASANYA DI HINA SEPERTI ITU?"
Devano hanya bisa menjawab pertanyaan beruntun Sarah dengan air mata penyesalan. Ia tak mampu bersuara, bahkan nafas nya tercekat di tenggorokan nya. Sarah kembali menangis sesegukan, teringat kembali hari hari sulit yg ia jalani karena kasus keluarga nya yg ternyata ulah dari suami nya sendiri.
"Rasanya sakit, Devano. Aku merasa seperti ingin mati..." lirih Sarah kemudian "Mama sakit, Papa terpuruk, Kak Will di penjara dan aku cuma bisa menangis. Aku bahkan menangis di kamar orang yg menyebabkan keluargaku hancur" ucap Sarah dan tangis nya semakin pecah "Setiap kali kami ada masalah, Papa selalu mengandalkan mu. Setiap kali keluarga kami terjatuh, Papa masih bersyukur karena ada yg menjaga ku yaitu kamu. Tapi nyata nya apa, Devano? Semua ini skenario dari kamu, kamu benar benar jahat..."
"Sarah..."
"KELUAR...!!!" teriak Sarah lagi namun Devano menggeleng dan ia menatap memohon pada Sarah, air mata pun juga mengalir deras di pipi nya.
__ADS_1
"Ku mohon, Sarah..."
"Keluar atau aku akan memanggil polisi" ancam Sarah.
"Panggil militer sekalian, aku engga peduli" lirih Devano yg membuat Sarah semakin geram.
Karena tahu Devano takkan pergi, Sarah pun memutuskan dia yg akan pergi. Sarah turun dari kamar nya dan Devano segera mengejar nya. Sarah segera mengambil kunci mobil Freya dan ia pergi menggunakan mobil Freya. Devano yg melihat itu segera berlari ke mobil nya untuk mengejar Sarah, apa lagi Devano merasa Sarah tak benar benar pandai menyetir dan ia juga tak punya surat izin mengemudi.
Sarah menyetir dengan kecepatan tinggi, ia menangis sejadi jadi nya di dalam mobil. Kenapa semua ini harus terjadi pada nya dan keluarga nya?
Sementara Devano yg melihat Sarah menyetir dengan kecepatan tinggi pun segera menambah kecepatannya untuk menghentikan Sarah.
Devano takut terjadi sesuatu dengan istri tercinta nya itu.
Devano menekan klakson nya berulang kali, meminta Sarah berhenti. Namun Sarah lagi dan lagi menambah kecepatan mobil nya dan....
"SARAH..." Devano begitu histeris melihat Sarah yg menabrak pembatas jalan.
Ia segera mempercepat mobil nya dan berhenti tepat di samping mobil Sarah. Orang orang pun sudah mulai berdatangan melihat ada sebuah kecelakaan tunggal.
Devano segera melompat dari mobil nya dan membuka pintu mobil Sarah. Sementara Sarah sudah tak sadarkan diri dengan luka di bagian kepalanya.
Devano segera mengeluarkan Sarah dan membawa nya ke mobil nya. Tak peduli orang orang yg meminta Devano untuk menunggu ambulance saja.
"Sayang, bertahan ya..." gumam Devano tiada henti dan ia segera menancap gas untuk membawa Sarah ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan Devano terus bergumam supaya Sarah bertahan.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1