Married By Challenge

Married By Challenge
Part 178


__ADS_3

Kini Baby Neo sudah tumbuh dengan jauh lebih baik, setidaknya ia mulai menyusu dan tidak lagi Sarah memberikan nya susu formula.


Sarah merasa begitu bahagia atas perubahan ini, dan tentu saja Devano juga sangat bahagia. Dan tinggal di Villa membuat Devano bisa menghabiskan waktu yg lebih banyak bersama keluarga kecil nya. Sementara pekerjaan kantor nya selalu Mia kirimkan lewat email.


Naina dan Jacob sudah memberi tahu bahwa urusan Jacob dan ibu nya sudah menemukan titik terang, membuat Sarah merasa lebih bahagia lagi.


"Hidup kita sudah sangat sempurna, bukan?" lirih Devano yg saat ini memperhatikan Baby Neo sedang menyusu. Devano mencubit gemas Baby Neo, mengganggu nya membuat Baby Neo mencebikan bibir nya hendak menangis, namun Sarah langsung menghibur putra nya itu.


"Oh, cup cup cup, Sayang. Di gangguin Daddy ya..."


"Dev, Om Aldo itu sudah lama menduda ya?" tanya Sarah tiba tiba yg membuat Devano sedikit terkejut.


"Kenapa memang nya? Kamu tertarik sama Aldo?" tanya Devano yg seketika membuat Sarah tertawa geli.


"Kayaknya Om Aldo deketin Nandini terus"


"Masak? Aldo itu sudah tua, terlalu tua buat Nandini"


"Jangan gitu lah, Dev. Coba tanyain baik baik, kasian kan Om Aldo hidup nya cuma bekerja terus"


"Okey, aku tanyain tapi dengan satu syarat"


"Apa?"


"Malam ini titip Baby Neo ke Bi Eni aja ya, dua jam aja cukup kok... Aduh..." Devano meringis saat Sarah menjewer telinga nya.


"Kambuh lagi mesum nya ya..."


"Kangen, Beb..." Devano merengek dan memelas.


Sementara itu, Nandini yg tadi nya hendak mengantarkan makanan ke kamar Sarah langsung mengurungkan niat nya saat ia mendengar suara rengekan Devano. Nandini mengernyit bingung, apa lagi setelah tinggal bersama mereka selama beberapa waktu ini membuat ia melihat sisi lain dari seorang Devano yg sudah menghajar seorang gadis habis habisan bahkan membuat nya sampai sekarat.

__ADS_1


Nandini kembali ke dapur dengan membawa kembali makanan nya.


"Kenapa kembali?" tanya Aldo yg juga sedang makan di dapur.


"Tuan Devano itu... Aneh ya, seperti orang yg punya ke pribadian ganda" cetus Nandini yg membuat Aldo langsung tersedak. Bukan karena pernyataan Nandini, melainkan karena tiba tiba saja Devano datang dari belakang Nandini.


"Dulu, aku liat dia tuh seperti monster yg murka. Sangat menyeramkan dan menakutkan, bahkan itu sampai membuat ku bermimpi buruk selama beberapa malam" Aldo mengedipkan mata nya, memberi isyarat pada Nandini agar ia diam, namun Nandini masih terus berbicara "Terus, setelah itu aku melihat dia yg berbeda. Seperti tadi, dia merengek manja pada Nyonya Sarah. Bukan nya Nyonya Sarah jauh lebih muda dari nya ya? Kenapa yg manja malah yg tua? Mereka membicarakan kalau nanti malam mau menitipkan Baby Neo pada Bi Eni, dua jam saja cukup kata nya. Memang nya mereka mau kemana selama dua jam? "


"Bukan urusan mu..." sambung Devano dengan suara khas nya yg tentu saja membuat Nandini langsung terbelalak. Ia langsung berbalik badan kemudian menunduk dalam


"Matilah aku.... Matilah aku" gumam Nandini takut.


Namun Devano hanya mengambil makanan yg tadi Nandini bawa, setelah itu Devano kembali ke kamarnya.


Bi Eni pun juga datang ke dapur bersama Aldo dan suster nya Margaret. Mereka hendak makan siang.


"Kenapa kamu, Din? Kok kayak habis liat setan begitu? Muka nya merah begitu" ujar Bi Eni dengan suara parau nya.


"Habis ketangkep basah sama Tuan Devano pas lagi bicarain Tuan Devano" sambung Aldo sembari terkekeh geli, apa lagi melihat ekspresi Nandini yg tampak sangat menggemaskan.


"Kata nya Tuan Devano seperti orang yg punya ke pribadian ganda, kadang seperti monster yg sedang murka, kadang juga merengek manja pada Nyonya Sarah" lagi lagi Aldo yg menjawab.


"Oh, itulah keuniakan Tuan Devano. Cuma Nyonya Sarah yg bisa melembutkan hati nya, dia tidak jahat, Din. Asal jangan di usik" Bi Eni menjawab sembari menyajikan makanan di piring kemudian memberikan nya pada Nandini "Sudah jangan takut, sampai gemetaran begitu. Ini makan lah, kamu benar benar kurus"


"Terima kasih" ucap Nandini lirih.


Ia pun duduk di samping Aldo, membuat Aldo tersenyum samar.


Saat mereka makan siang bersama, Devano kembali datang membuat Nandini langsung berhenti makan. Setiap kali melihat Devano, Nandini akan teringat pada kebringasan nya.


"Nandini, Aldo. Apa kalian pacaran?" tanya Devano tanpa basa basi yg membuat Aldo dan Nandini melotot terkejut.

__ADS_1


"Keliatan nya begitu" jawab Dominic santai sembari masih menikmati makan siang nya.


"Benarkah? Sarah juga bilang begitu" ujar Devano.


"Itu tidak benar, Tuan" seru Nandini gugup.


"Oh, baguslah. Aldo sudah bekerja dengan ku cukup lama dan dia pria yg kuat dan berani, jadi aku tidak mau dia punya istri gadis kecil dan penakut" seru Devano yg membuat Aldo menghela nafas panjang, sementara Nandini semakin menunduk dalam. Karena jauh dalam hati kecil nya, ia menyukai Aldo karena saat ia di rumah sakit, Aldo lah yg selalu menemani nya dan merawat nya. Nandini merasa begitu nyaman berada di dekat Aldo.


"Istri mu sendiri masih gadis kecil" seru Bi Eni yg juga masih menikmati makan siang nya.


"Tapi cerdas dan berani" seru Devano tak mau kalah.


"Nandini juga cerdas, tapi kamu melukai mental nya di hari kedua saat dia bekerja" bantah Bi Eni. Ia sudah menyelesaikan makan nya kemudian Pergi mencuci piring.


Sementara Sarah yg tadi keluar dari kamar setelah putra nya tertidur tak sengaja mendengar obrolan para pegawai nya dan juga suaminya.


Sarah langsung mencubit lengan Devano membuat Devano terkejut dan langsung menoleh.


"Sudah, restui saja Nandini dan Om Aldo. Mereka saling mencintai" ujar Sarah.


"Apa itu benar, Aldo? Memang nya kamu tidak malu mencintai gadis yg jauh lebih muda dari mu?"


"Perbedaan usia kami hanya 11 tahun, sementara perbedaan usia Tuan dan Nyonya 9 tahun. Saya rasa itu sama saja" jawab Aldo yg membuat semua orang tertawa tak terkecuali Sarah.


"Okey, terserah kalian. Asalkan dia bisa di percaya" tegas Devano kemudian ia kembali ke kamar nya.


Bi Eni yg melihat bagaimana orang orang rumah nya kembali tertawa pun merasa begitu bahagia, setelah apa yg mereka alami, ketegangan, ketakutan, kemarahan. Akhirnya, kini mereka sampai pada titik dimana hanya ada canda dan tawa, kebahagiaan yg selalu di impikan.


Seperti masalah yg bisa berakhir, kebahagiaan pun juga ada masa nya. Begitulah hidup, selang seling antara tawa dan tangis. Canda dan amarah, dan seterusnya. Hidup akan terus berjalan, masalah takkan berakhir, namun kebahagiaan bisa di ciptakan dan di jemput.


Sarah dan Devano kembali ke kamar nya, kedua nya berbaring menyamping di sisi Baby Neo yg terlelap.

__ADS_1


"Apakah ini akhir dari perjuangan kita, Devano?" tanya Sarah lirih sembari menatap putra nya yg terlelap indah.


"Tidak, Sayang. Tidak ada yg berakhir selama kita masih melangkah di bumi ini, walaupun begitu, kita pasti bisa melewati setiap permainan takdir ini"


__ADS_2