Married By Challenge

Married By Challenge
Part 151


__ADS_3

Hari sudah ini Airin pergi ke kantor dengan penampilan yg lebih seksi, rambut yg semua panjang kini ia potong pendek. Ia mengenakan kemeja berwarna merah terang dan membiarkan beberapa kancing atas nya terbuka.


Saat Devano datang, Airin menyapa nya dengan centil.


"Keruangan ku!" ucap Devano datar.


Mendengar hal itu Airin langsung bersorak girang dalam hati dan berfikir rencana nya telah berhasil untuk menggoda Devano.


Ia pun bergegas ke ruangan Devano setelah menambahkan olesan lipstik di bibir nya.


"Pak..." sapa Airin saat berada di dalam ruangan Devano.


Devano memberikan sebuah cek pada Airin dengan nominal 500 juta.


"Silahkan mengundurkan diri, aku rasa uang ini bisa memberi mu kehidupan baru di luar kota. Jika tidak ada yang menerima mu bekerja, kamu bisa membuka usaha" tegas Devano yg seketika membuat Airin melongo.


Ia merasa di hinakan oleh Devano dan merasa begitu sakit hati atas perlakuan nya.


"Maksud nya ini apa?" tanya Airin menahan rasa kesal nya "Saya sudah bekerja dengan baik, bukan?"


"Airin, aku tidak suka drama" seru Devano "Aku tahu apa yg kamu rencanakan, aku sudah tahu tentara kamu dan Karin. Aku tahu kamu bekerja di sini bukan untuk mendapatkan uang melainkan untuk mendapatkan sesuatu yg lain, aku juga tahu seluruh gaji mu di berikan kepada Talitha"


Airin hanya bisa membuka mulut nya lebar mendengar semua itu, apakah semudah itu rencana nya di gagal kan?


"Saya tidak mengerti anda bicara apa, Pak" ujar Airin mencoba mengelak dan berpura pura tak mengerti.

__ADS_1


"Sudah ku katakan aku tidak suka drama" seru Devano dengan nada yg lebih tinggi dan tatapan yg menajam "Aku memberi mu imbalan atas apa yg kamu lakukan waktu itu, ingat Airin! Jika bukan karena aku, kedua adik mu tidak mungkin bisa sekolah di sekolah yang elit. Dan ingat, aku juga membayar mu dengan sangat mahal saat itu. Dan sekarang, aku kembali membayar mu untuk pergi dari kota ini"


Mata Airin memerah, tangan nya mengepal, ia menggeram tertahan "Aku tidak haus akan uang, Devano. Dimana kamu selalu bisa menyuruh ku ini dan itu dengan bayaran uang" seru Airin kesal "Ya, aku memang menyuruh Talitha pergi karena aku ingin bekerja dengan mu. Aku ingin dekat dengan mu, itu saja" teriak Airin marah.


"Aku tidak mengerti arti kata dekat itu. Aku tidak pernah tertarik dengan dengan siapapun" jawab Devano santai "Dan kamu membuat istri ku tidak nyaman, dua kali kamu hampir mencelakai nya. Aku bisa saja membalas mu dengan kejam, aku masih Devano yg dulu, Airin. Tapi Sarah mengajarkan ku untuk tidak menjadi pendendam" seru Devano.


"Itu bohong! Sarah bohong, Devano. Aku engga pernah berusaha mencelakai dia..."


"Aku tidak perduli siapa yg bohong dan siapa yg jujur, aku cuma mau kamu pergi. Itu saja, lagi pula kamu pergi tidak dengan tangan yg kosong..." Devano menyodorkan cek itu.


Airin mengambil cek itu dan me robek nya, membuat Devano menaikan sebelah alis nya dan memandang heran pada Airin.


"Aku engga mau uang mu, Devano. Aku mau kamu..." lirih Airin dengan nada yg terdengar menjijikan di telinga Devano. Bahkan Airin melangkah mendekat, mengangkat tangan nya dan hendak membelai pipi Devano namun Devano mencekal pergelangan tangan Airin.


"Memang apa yg kurang dari aku, Devano? Aku jelas lebih baik dari pada gadis kecil itu" seru Airin masih mencoba merayu Devano.


"Gadis kecil itu adalah gadis terbaik di dunia ini" jawab Devano "Sekarang pergi dengan suka rela, atau haruskah aku memanggil security dan menyeret mu dengan paksa?" ancam Devano yg membuat Airin semakin terlihat marah.


Ia pun segera keluar dari ruangan Devano dan ia tanpa sengaja menabrak Jacob yg hendak masuk ke ruangan Devano, ponsel Airin tanpa sengaja terjatuh. Dan saat itu Jacob seperti men scan ponsel Airin dengan ponsel nya sendiri dalam beberapa detik.


"Hati hati kalau jalan, Tante..." ujar Jacob yg membuat Airin semakin marah dan ia segera pergi dari sana.


Setelah itu, Jacob masuk keruangan Devano.


"Berhasil mengusir nya?" tanya Jacob sambil sibuk memainkan ponsel nya.

__ADS_1


"Ya, dengan berbagai macam ancaman" jawab Devano malas.


"Kenyamanan dan keamanan Sarah yg terpenting, apa lagi kita semua tahu Karin yang itu punya jiwa psycho" ujar Jacob dan tiba tiba ia mengernyit, dahi nya mengkerut Sangat dalam dan ia mendekatkan layar ponsel nya ke wajah nya "Memang psycho..."seru Jacob kemudian.


"Maksud mu?" tanya Devano.


"Lihat ini..." Jacob menunujukan layar ponsel nya, dimana ia telah berhasil meng akses ponsel Airin secara keseluruhan "Talitha engga berhenti bekerja dengan suka rela, ibu nya di celakai. Pantas saja dia langsung menghilang"


"Astaga, bagaimana bisa?" gumam Devano. Ia sendiri sangat terkejut membaca pesan antara ketiga gadis itu. Yg ternyata Karin mencelakai ibunya Talitha sehingga Talitha harus segera kembali ke kampung nya di Kalimantan Barat.


"Bagaiamana jika mereka nekat mencelakai Sarah?" Devano bertanya tanya dengan khawatir.


"Semoga saja tidak, Devano" ucap Jacob padahal ia sendiri merasa khawatir.


.........


Sementara itu, Karin sedang memata matai Sarah yg saat ini sedang melakukan senam hamil bersama Lolly di halaman rumahnya.


Karin berada dalam sebuah mobil hitam, Karin memperhatikan rumah Devano yg sangat megah dan mewah. Sarah juga terlihat sangat bahagia hidup di sana, seperti nya hidup Sarah sangat sempurna.


"Lalu bagaimana dengan hidup ku? Aku kehilangan semua nya karena suami dan kakak mu, sialan" geram Karin dan ia memukul setir dengan keras "Kami harus tinggal di rumah yg kecil, bekerja pada orang dan kami sangat miskin sekarang. Apa yg harus aku lakukan pada mu, Sarah? Merebut kekayaan mu?"


▫️▫️▫️


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2