Married By Challenge

Married By Challenge
Part 180


__ADS_3

Devano membawa Sarah dan Neo kerumah William, tentu saja Neo sangat senang bahkan ia sampai berlari lari saat memasuki rumah kakek nenek nya itu.


"Hai... Halo..." teriak nya nyaring yg langsung membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Margaret yg kini menggendong seorang anak perempuan "Halo Catty...." teriak Neo lagi sembari mencubit pipi anak perempuan yg di panggil Catty itu.


"Neo, jangan begitu. Nanti adik mu bangun" tegur Margaret.


"Ah nenek, masak lebih sayang Catty" rengek Neo manja, bahkan mata nya sudah berkaca kaca dan di detik selanjutnya langsung berair. Hidung nya sudah kembang kempis dan juga memerah.


"Oh Baby Neo Sayang.. Nenek juga sayang sama Neo.. Cup cup cup... Jangan menangis ya" bujuk Margaret, bahkan ia sampai harus memberikan Catty pada Sarah dan ia sendiri langsung menggendong Neo.


"Manja sekali Prince Lake ini..." gerutu Freya yg baru saja turun, ia pun menggendong putri nya yg bernama Caitlin itu.


"Sudah periksa kandungan mu, Dek?" tanya Freya kemudian.


"Sudah, bayi kami sehat. Oh ya, kata Mama Catty demam"


"Iya, maka nya rewel" jawab Freya sembari menimbang anak nya yg masih tidur itu.


"Ini benar benar kejutan karena anak kalian benar benar perempuan" ujar Devano sembari mencubit gemas pipi Catty.


"William sangat menginginkan anak perempuan, setiap malam dia berdoa minta anak perempuan" ujar Freya.


"Aku juga sangat menginginkan anak perempuan" jawab Devano sembari mengelus perut buncit Sarah.


"Seharus nya memang perempuan, karena kalian sudah punya anak laki laki" sambung Margaret yg masih menggendong Neo. Putra Sarah itu menyenderkan kepala nya di pundak sang nenek.


"Nanti kalau adik sudah lahir, Baby Neo jangan manja lagi ya" seru Freya sembari hendak mengelus pipi Neo tapi Neo malah menghindar.


"Anty sayang Neo apa Catty?" tanya Neo dengan suara serak nya.


"Anty sayang semua nya" jawab Freya namun seperti nya ia malah memberikan jawaban yg salah Karena Baby Neo kembali mencebikan bibir nya dan hendak menangis.


"Sayang Neo saja...." rengek nya yg membuat Freya meringis.


"Sayang... Sini, Mommy bisikin sesuatu" seru Sarah. Ia membisikan sesuatu yg langsung membuat mata lebar Neo berbinar.

__ADS_1


"Sungguh, Mommy?" tanya Neo dengan antusias.


"Sungguh, Sayang" jawab Sarah.


"Yeeey..." sorak Neo dan ia menggeliat ingin turun dari gendongan Margaret.


"Neo sayang semua, semua sayang Neo.. Yeeeeyy" sorak nya dan ia pun berlari larian di sana.


"Kamu bisikin apa sama Neo, Sayang?" tanya Devano heran.


"Aku cuma bilang, kalau rahasia nya supaya di sayang semua orang maka harus sayang sama orang" jawab Sarah yg membuat Freya dan Devano tertawa.


Tak lama kemudian William datang karena hari memang sudah sore, sedangkan Jason dan Venita sedang check up kesetahan Venita di rumah sakit.


"Hey boy...." teriak William pada Neo.


"Uncle Will...." Neo balik berteriak dan berlari ke arah William. William berjongkok guna menyambut Neo "Neo punya lahasia...." seru nya dengan percaya diri yg malah membuat William tertawa.


"Rahasia, bukan lahasia" seru William yg malah membuat Neo cemberut.


"Secret, bukan seclet" sekali lagi William mengejek nya.


"Mommy...." rengek Neo manja menatap Sarah dan sekali lagi ia sudah hendak menangis, bibir nya bergetar dan mata nya sudah memerah.


Semetara William dan Devano hanya tertawa geli, karena Neo benar benar manja dan mudah sekali menangis.


"Jangan menangis, Nak. Jelaskan sama uncle Will kenapa Baby Neo tidak bisa mengucap R" ucap Sarah lembut, Neo pun mengangguk. Kini ia menatap uncle nya itu dengan percaya diri.


"Uncle Will, Neo masih kecil, gigi Neo hilang, jadi L nya juga hilang di ganti L" ucap nya yg malah membuat William tertawa terbahak bahak dan hal itu malah membuat Neo langsung menangis histeris. Seperti di cubit saja, bahkan Baby Neo langsung sesegukan dan tubuh nya bergetar.


"Kak..." tegur Sarah kesal dengan kakak nya itu, sementara Devano malah ikut tertawa namun ia juga segera menggendong putra nya itu. Sementara Freya juga tertawa namun ia segera kembali ke kamar nya di Karena kan catty yg terbangun karena suara tangis Neo.


"Neo, jangan menangis, Nak" bujuk Devano dan bersamaan dengan itu Jason dan Venita juga datang.


Suara tangis Neo yg terdengar sampai keluar rumah membuat Venita mempercepat langkah nya.

__ADS_1


"Cucu Granny kenapa?" tanya Venita dan Neo langsung menggeliat dari gendongan Devano dan meminta gendong pada nenek nya "Kenapa, Sayang? Cup cup.... Anak tampan jangan menangis ya" bujuk Venita yg kini sudah menggendong Neo, ia menghapus air mata Neo yg membanjiri pipi nya.


Semnatar William masih berusaha menghentikan tawa nya.


"Uncle Will nakal...." Neo mengadu sembari menunjuk William.


"Oh begitu, biar Granny bilangin dulu ke uncle Will ya supaya jangan nakal" ujar Venita dan Neo mengangguk dan tangis nya pun langsung berhenti seketika.


"Maafin uncle ya, Sayang. Uncle tidak akan nakal lagi" ucap William dan Neo mengangguk namun masih memasang wajah kesal nya.


"Malam ini makan malam di sini ya, Dev. Mama masih kangen sama Neo" pinta Venita yg langsung di setujui Sarah dan Devano.


Venita membawa Neo untuk bermain bersama nya dan Jason, sementara Devano bergegas ke kamar nya untuk berganti pakaian. Begitu juga dengan William yg juga pergi ke kamar nya untuk membersihkan diri.


Tinggal Sarah dan Margaret yg ada di ruang keluarga. Sarah duduk berselonjor di sofa kemudian ia menyalakan TV.


"Sarah.." seru Margaret dan ia memberikan bantal untuk di letakkan di punggung Sarah.


"Terima kasih, Tante" ucap Sarah sembari tersenyum.


"Aku yg berterima kasih" ucap Margaret lirih "Terima kasih sudah menerima ku, terima kasih sudah menyembuhkan ku"


"Seorang anak akan melakukan itu pada orang tua nya" ucap Sarah yg membuat Margaret tersenyum bangga "Dan mereka sudah di adili...." Sarah memberikan ponsel nya pada Margaret, dan Margaret membaca sebuah berita di sana, dimana ada 4 pria yg meninggal dengan cara yg sangat tragis. Berita ini dari berbagai negara.


"Jadi mereka pelaku yg sebenar nya?" tanya Margaret dengan mata yg berkaca kaca, Sarah mengangguk sembari mengusap pundak Margaret.


"Sekarang Caitlin akan beristirahat dengan tenang"


"Apa Devano yg melakukan semua ini?" tanya Margaret dan Sarah menggeleng.


"Kak Will yg melakukan nya, Devano dan Jacob hanya sedikit membantu untuk menemukan lokasi mereka"


"Terima kasih banyak, Sarah. Neo sangat beruntung di lahirkan oleh wanita seperti mu. Dan ajaran mu benar, jika ingin di sayangi semua orang, maka harus menyayangi semua orang"


Sarah hanya tersenyum simpul menanggapi pujian Margaret itu.

__ADS_1


__ADS_2