Married By Challenge

Married By Challenge
Part 11


__ADS_3

Di jam istirahat, Sarah tetap di kelas bersama Naina. Sarah menceritakan segala nya tentang Devano, Sarah bahkan mengatakan Devano seperti sebuah objek yg bisa di lihat tapi tidak akan pernah di mengerti objek apa dan seperti apa. Dua hari tinggal bersama Devano sudah membuat Sarah merasa pusing, apa lagi dengan sikap nya yg selalu berubah namun seolah benar benar ingin nengausai Sarah.


"Mungkin dia benar benar merasa di lecehkan, karena itulah dia sangat marah" ucap Naina.


"Gara gara kamu sih" Sarah berkata sambil cemberut "Ini benar benar akan membawa perubahan dalam hidup ku, Naina" ia berkata dengan sangat serius kemudian. Apa lagi memikirkan bagaimana jika Devano benar benar menyentuh nya nanti, Sarah ketakutan memikirkan hal itu.


"Ini pasti akan segera berakhir, Sarah. Sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara nya supaya kamu dan Devano bercerai"


"Aku rasa dia engga akan pernah menceraikan aku sampai dia mendapatkan apa yg dia mau, dia seperti memendam sesuatu yg penuh ambisi"


"Kita akan cari tahu itu, okey? Sekarang lebih baik kita pergi ke kantin" ajak Naina dan tanpa menunggu persetujuan Sarah, ia langsung menarik Sarah ke kantin.


.


.


.


William yg baru saja selesai makan siang bersama klien nya di datangi oleh seorang wanita, wanita itu menyapa William seperti sudah kenal dekat, tak hanya itu, wanita itu terus berbicara seperti mengeluarkan unek unek yg tersimpan di hati nya.


"Apa aku mengenal mu?" tanya William dan wanita itu menggeleng "Lalu apa mau mu?" tanya William


"Apa kau lihat ada sesuatu di pundak ku?" tanya wanita itu dan William menggeleng "Ada, ada semut. Tolong singkirkan itu" pinta wanita itu, William menatap heran wanita itu dan tak melakukan permintaan nya, namun sekali lagi wanita itu meminta William menyingkirkan semut yg ada di pundak nya bahkan meminta tolong. Namun saat William hendak menyentuh pundak wanita itu, tiba tiba wanita itu menepis tangan William dan memeluk diri nya sendiri. Ia menatap William seolah William baru saja melecehkan nya. Wanita itu bahkan menangis dan segera berlari keluar dari sana.


William hanya tercengang, namun coba ia abaikan hal aneh itu "Mungkin dia pasien rumah sakit jiwa yg kabur" fikir nya.


.


.


.


Sementara itu, di perusahaan Jason sedang di adakan rapat mendadak para pemegang saham, apa lagi dengan banyak nya uang yg hilang dan saham yg di jual tanpa perencanaan apapun, tak hanya itu, rahasia perusahaan pun bocor ke luar dan bahkan ada yg di jual ke perusahaan asing. Dan mereka semua menuduh Jason karena semua bukti mengarah pada Jason.


Tentu Jason menbantahnya mentah mentah. Itu adalah perusahaan nya, perusahaan keluarga nya, untuk apa dia menggelapkan uang di perusahaan nya sendiri, apa lagi sampai menjual informasi perusahaan nya.


"Hanya ada dua cara, Tuan Fergueson. Ganti semua kerugian nya dan buat perusahaan kembali normal atau ini harus di bawa ke meja hijau dan semua yg kau miliki harus di pertaruhkan. Perusahaan ini memang milik mu, tapi ada saham kami di perusahaan ini, dan kami sangat di rugikan"


Jason hanya bisa menghela nafas berat, ia memijat pelipisnya, kepala nya terasa pusing dan sakit. Apa yg sebenarnya terjadi?


.


.


.


Sepulang sekolah, Jacob menjemput Naina, karena tak ada yg menjemput Sarah, Sarah pun ikut bersama mereka.


"Sarah, kamu kenal Dominic?" tanya Jacob namun ia tetap fokus menyetir.


"Engga, siapa tuh?" tanya Sarah.


"Tangan kanan Devano, dia mencoba mencari tahu tentang ku. Mungkin karena aku meretas cctv rumah nya"


"Uff, apa itu berbahaya?" tanya Sarah lagi. Karena ia sendiri tak mengenal sebenarnya seperti apa Devano apa lagi siapa Dominic.


"Entahlah" jawab Jacob.


"Bebs... Apa kamu bisa meretas data pribadi Devano?" tanya Nainai kemudian.


"Benar, Jacky. Aku penasaran dengan latar belakang Devano, dia itu aneh. Dan masak iya dia engga punya siapa siapa" sambung Sarah. Apa lagi mengingat di rumah Devano tak ada apapun yg menunujukan bahwa Devano memiliki sebuah keluarga. Yg Sarah dengar, orang tua Devano sudah meninggal sejak Devano masih kecil, tapi di dirumah itu tak ada foto keluarga satu pun.

__ADS_1


"Nanti aku coba ya" jawab Jacob.


"Sekarang kamu sibuk? Kalau engga, sekarang aja" bujuk Sarah.


"Okey, kalau gitu kita ke apartment"


.


.


.


Devano yg sedang sibuk dengan pekerjaan nya mendapatkan telpon dari sopir yg ia perintahkan untuk menjemput Sarah. Sopir nya mengatakan Sarah tak ada di sekolah, Devano berfikir mungkin Sarah sudah pulang naik taksi. Ia memerintahkan sopir nya untuk kembali kerumah dan melihat apakah Sarah sudah dirumah atau belum. Kemudian Devano kembali fokus pada pekerjaan nya.


Setengah jam kemudian sopir itu kembali menghubungi nya.


"Tuan, Nyonya Sarah tidak ada dirumah" Devano mengernyit bingung. Ia melihat arloji nya dan seharusnya Sarah sudah pulang dari sekolah sejam yg lalu.


"Ya sudah" jawab Devano, memutuskan sambungan telpon sopir nya dan kini ia menghubungi nomor Sarah. Namun tak ada jawaban, sekali lagi ia coba, namun masih tak ada jawaban.


"Dimana kau gadis kecil? Pulang sekolah seharusnya langsung kerumah" gumam Devano. Ia menutup laptop nya, mengenakan kembali jas nya yg tadi ia sampirkan di kursi nya.


"Mia, apa aku ada meeting siang ini?" tanya Devano pada asisten nya itu.


"Tidak ada, Pak. Siang sampai sore tidak ada meeting. Tapi nanti malam, jam 7.30 ada acara penggalangan dana bersama Global New Group untuk rumah sakit kanker Darmawan"


"Baiklah, terima kasih Mia. Aku akan pulang sekarang"


"Iya, Pak"


.


.


.


"Sudah ku duga" gumam Devano yg kini telah sampai di sebuah gedung apartment tempat tinggal Jacob. Devano mengingat nomor apartment Jacob dan tanpa buang waktu, ia pun langsung kesana.


Ia mengetuk pintu apartment dan Naina muncul dengan mulut yg menganga, terkejut dengan keberadaan Devano. Tanpa bersuara sedikitpun, Devano berjalan masuk dan Naina segera mengekorinya dari belakang.


"Hai, istri ku..." Sarah yg sedang menikmati segelas jus jeruk langsung terperanjat mendengar suara Devano. Tak hanya itu, Jacob yg mencoba mengunduh informasi tentang Devano di laptop nya pun juga sangat terkejut, ia langsung menutup laptop nya dan mendongak. Menatap Devano


"Apa yg kamu lakukan di apartment seorang pria, Little Sarah?" tanya Devano dengan tatapan mengintimidasi. Sarah balas menatap nya dengan berani.


"Hanya mengisi waktu kosong bersama teman teman ku" jawab Sarah tenang.


"Tanpa izin suami mu?" Sarah mendelik, benci sekali dengan kata 'suami' itu.


"Jadi aku harus selalu meminta izin gitu sama kamu kemana aku harus pergi?"


"Iyalah, sekarang aku kan suami mu"


"Hufff..." Sarah berdiri dengan kesal, ia mengambil tas sekolah nya "Ya sudah, ayo pulang" ujar nya kemudian menarik tangan Devano, membawa Devano keluar dari apartment Jacob. Devano ikut saja.


Sementara Sarah menoleh pada Jacob dan Naina, memberi isyarat untuk melanjutkan pencarian mereka tentang Devano.


.


.


.

__ADS_1


Di perjalanan pulang, Devano mampir ke sebuah butik. Ia meminta Sarah memilih beberapa gaun karena ia ingin mengajak Sarah ke penggalan dana nanti malam. Tentu Sarah langsung menolak, ia tak mau ada yg tahu hubungan mereka.


"Aku bilang kita akan pergi, artinya kita akan pergi. Kamu engga bisa nolak"


"Tapi, Dev..."


"Apa ini bagus?" Devano mengambil sebuah gaun berwarna peach tanpa lengan dan menempelkannya di tubuh Sarah. Sarah hanya memberengut dan tak merespon.


"Kamu engga suka? Mau yg lain?" Sarah masih enggan menjawab. Ia hanya terus memberengut sembari bersandekap.


"Sarah!" tegas Devano, seolah memerintah Sarah untuk menagggapi nya.


"Terserah!" bentak Sarah. Dan mendapatkan bentakan, bukan nya marah Devano malah tersenyum licik, ia mengambil sebuah gaun merah berbahan sutera, gaun itu memiliki panjang hingga lutut dengan lengan hingga siku. Dan Devano manarik Sarah ke ruang ganti. Membuat Sarah panik dan ia langsung melepaskan tangannya dari tangan Devano.


"Iya, itu bagus. Aku akan coba sendiri" ucap nya.


"Aku akan membantu mu" seru Devano kembali menyeret Sarah ke ruang ganti. Sarah celengokan ke kiri kanan, takut takut ada yg melihat mereka. Tapi Syukurlah di butik itu tak ada pelanggan lain dan hanya ada satu karywan butik di kasir.


Eh tunggu... Kenapa butik nya sepi? Bahkan tak ada karywan selain kasir?


"Kenapa?" tanya Devano yg melihat Sarah seperti kebingungan.


"Engga ada siapapun di butik ini kecuali kasir" ucap Sarah. Devano tertawa kecil dan berkata.


"Aku sudah sewa butik ini, supaya engga ada orang lain yg melihat kita disini" Sarah hanya bisa melotot tak percaya.


Dan tanpa sadar, kini mereka berdua sudah ada di ruang ganti, Devano bahkan sudah mengangkat tangan nya dan bersiap melepaskan kancing seragam Sarah. Syukurlah Sarah segera mencegah itu dan memelototi Devano.


"Aku bisa sendiri, Devano. Sekarang keluar!" perintah Sarah tegas dan ia memeluk dirinya sendiri. Devano hanya terkekeh namun ia malah bersandar pada dinding sembari memasukan tangan nya ke saku celana nya.


"Kenapa? Kalau kita berantem terus, engga ada romantis romantis nya, gimana salah satu dari kita bisa jatuh cinta... Ah lebih tepat nya, kamu. Karena aku engga mungkin jatuh cinta sama kamu" bukannya merasa terintimidasi atau marah, Sarah malah tersenyum miring. Ia menatap intens Devano. Bahkan kini ia menggigit bibir nya dengan sensual, sementara tangan nya dengan gerakan sensual membuka kancing seragam sekolah nya.


Baru satu kancing, dan ia berhenti. Sarah mendekati Devano, membusungkan dada nya dan tubuh Devano yg tinggi membuat Sarah harus terus mendongak, tatapan kedua nya bertemu.


"Lakukan sisa nya..." lirih Sarah, mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat ia tak akan mencegah Devano kali ini.


Devano menelan ludahnya dengan susah payah, antara yakin dan tidak yakin dengan apa yg di lakukan Sarah. Sarah menantang nya, dan Devano pasti akan melakukan tantangan ini.


Devano pun mengeluarkan tangan nya dari saku celana nya.


"Oh God, aku merasa gemetar" seru batin Devano, ia memang gemetar, namun Devano mencoba mengontrol dirinya. Devano juga ingin melihat sampai dimana keberanian Sarah.


Devano mulai melepaskan satu persatu kancing seragam Sarah sementara tatapan nya tetap beradu pandang dengan tatapan Sarah.


"Aku merasa akan pingsan, kuatkan aku, Tuhan. Toh dia suami ku, engga dosa kan?" hati Sarah pun bergejolak, namun sekuat tenaga ia mencoba tenang.


Kini semua kancing kemeja Sarah sudah terlepas, dan Sarah memakai kaos dalam pengen pendek yg berbahan sangat lembut. Sarah selalu mengenakan kaos dalam karena takut dalaman nya terlihat, dan teman teman nya akan menggoda nya. Karena seperti itulah remaja di sekolah nya. Kadang mereka blak blakan mengatakan dalam siswi berwarna apa.


Devano menggigit bibir nya tanpa sengaja, pandangan nya pun mulai kabur dan tak fokus. Sarah selalu berhasil membuat nya tak bisa mengontrol diri.


Sementara Sarah juga sudah merasa panas dingin, hatinya bergetar, jantung nya berdetak lebih cepat, bahkan ia menahan nafas tanpa sadar.


Dan saat Devano hendak melepaskan kemeja Sarah, ponsel nya berdering.


Dimana itu berhasil membuat kedua nya tersadar.


"Ini penting, aku menunggu mu di luar" seru Devano dengan suara serak nya setelah ia melihat siapa yg menelpon nya.


Setelah Devano keluar, Sarah langsung menghembsukan nafas kasar. Ia memegang dada nya, dimana jantung nya berdebar dan ia bahkan merasa akan pingsan.


"Oh Tuhan..."

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2