Married By Challenge

Married By Challenge
Part 155


__ADS_3

Devano menjemput Sarah yg saat ini sedang berada di rumahnya, Devano merasa tidak tenang sejak tadi dan ia memutuskan untuk pulang lebih cepat.


"Dev, gimana keadaan mu?" tanya Venita saat melihat menantu nya datang.


"Aku baik, Ma. Mama sendiri gimana?"


"Mama juga baik" jawab Venita "Oh ya, kata Sarah kamu sedang ada masalah dengan rival bisnis mu ya? Sampai sampai Sarah harus di kawal sama Dominic dan Aldo"


"Iya, Ma. Demi keamanan Sarah. Mama kan tahu dunia bisnis itu seperti apa" ujar Devano berbohong.


Sementara Sarah saat ini sudah bersiap siap untuk pulang "Sayang, padahal aku fikir kita bisa menginap di sini malam ini" ujar Devano.


"Engga deh, aku pengen pulang" seru Sarah "Ma, Sarah pulang dulu ya" ia mencium pipi Mama nya.


"Iya, hati hati..."


"Naina pulang dulu ya, Tante" ujar Naina dan ia juga mencium pipi Venita.


"Iya, kamu juga hati hati. Apa lagi cuma berdua saja di apartemen dengan Jacob"


"Itu mah memang mau nya, Ma. Biar engga ada yg ganggu..." seru Sarah yg membuat Naina tersenyum malu. Sementara Venita hanya geleng geleng kepala.


Sarah dan Devano pun mengantar Naina ke apartemen lebih dulu.


Baru setelah itu mereka pun pulang.


Sesampainya di rumah, Devano langsung menegur Sarah karena sudah tak menuruti perintah nya.


"Lain kali jangan gitu lagi ya, kalau aku bilang jangan terima orang, berarti itu yg harus kamu lakukan" tegas Devano.


"Aku sudah periksa semua berkas nya, Dev. Bahkan ID card nya. Semua nya sesuai kok" ujar Sarah membela diri "Memang nya kenapa sih? Apa situasi kita benar benar dalam bahaya ya?" tanya Sarah serius.


Devano terdiam, ia tahu saat ini seharusnya Sarah tidak boleh banyak fikiran "Engga, Sayang..." ujar Devano kemudian, ia mendekati Sarah dan membelai pipi nya "Aku cuma khawatir saja, kamu tahu kan dunia bisnis itu kejam. Dan aku memiliki musuh bisnis yg tidak sedikit, ada beberapa dari mereka yg tidak bersaing sehat. Aku cuma khawatir..." tutur Devano bersungguh sungguh. Tampak sekali ia sangat mengkhawatirkan Sarah.

__ADS_1


"Aku minta maaf sudah membuat mu khawatir" ucap Sarah kemudian "Aku janji mulai sekarang akan menuruti apapun yg kamu katakan"


"Good girl" seru Devano, ia sudah mendekatkan wajah nya ke wajah Sarah untuk mencium nya. Namun tiba tiba Nandini datang menghentikan aksi mereka.


"Ada apa?" tanya Devano dingin.


"Em saya mau menaruh pakaian yg sudah di setrika" jawab Nandini dan ia tampak gugup saat di tatap dengan begitu tajam oleh Devano. Sementara Sarah hanya bisa menghela nafas panjang, ia melangkah menghampiri Nandini.


"Kan sudah aku bilang, apapun yg berurusan dengan kamar ku itu urusan Lolly. Kalian punya pekerjaan masing masing dan lakukan itu" tegas Sarah sembari mengambil beberapa pakaian nya dari tangan Lolly.


"Iya, tapi..."


"Silahkan lanjutkan pekerjaan mu yg lain" ujar Devano tajam dan Nandini hanya bisa mengangguk kemudian segera pergi.


"Aneh, padahal aku sudah bilang pekerjaan dia tuh cuma bersih bersih itu pun selain kamar kita dan ruang kerja mu" gerutu Sarah.


"Lupakan saja, dia masih baru" ujar Devano dan ia membantu Sarah meletakkan pakaian mereka di lemari.


Setelah itu, Devano menyiapkan air hangat untuk Sarah mandi.


Setelah Sarah berada dalam kamar mandi, Devano langsung mengecek cctv dari ponsel nya. Ia memperhatikan gerak gerik Nandini.


Tak ada yg mencurigakan, gadis itu juga terlihat polos seperti Lolly. Bahkan usianya juga sama dengan Lolly.


Selanjutnya Devano mengecek cctv bagian luar rumah, sama,tak ada yg mencurigakan.


"Semogalah Karin engga macam macam..."


"Karin?" seru Sarah yg mendengar ucapan Devano. Sarah kembali keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk "Apa maksud mu Karin engga macam macam?" tanya Sarah penasaran.


"Kamu sudah selesai mandi nya? Cepat amat" ujar Devano mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tadi tiba-tiba perut ku sakit, jadi aku keluar takut jatuh di dalam" jawab Sarah karena memang ia merasakan kram di perut nya.

__ADS_1


Mendengar itu Devano langsung mendekati Sarah, kemudian ia menggendong nya dan membawa nya ke ranjang "Aku panggil Dokter dulu..." ujar Devano sudah mencari kontak Dokter kandungan Sarah.


"Engga usah, Dev. Tadi anak kita cuma menendang cukup keras dan rasa nya sakit" ucap Sarah.


"Kamu yakin?" tanya Devano menatap Sarah khawatir dan Sarah mengangguk "Nak, jangan bikin Mommy sakit ya, kasian Mommy" Devano berbisik di dekat perut Sarah.


"Jadi, kenapa dengan Karin?" tanya Sarah penasaran.


"Sayang, itu..."


"Tadi aku dengar kamu nyebut nama Karin" sela Sarah. Devano menghela nafas berat, ia duduk di depan Sarah.


"Sebenarnya aku takut Karin maupun Airin mencelakai mu karena mereka mencelakai ibunya Talitha" tutur Devano yg membuat Sarah sangat terkejut.


"Dengan sengaja?" tanya Sarah memastikan.


"Iya, Jacob meretas ponsel Airin sebelum Airin keluar dari perusahaan. Jacob bisa melihat percakapan Airin dengan orang orang di kontak nya. Kamu benar, Airin bukan wanita yg baik" tutur Devano "Dan yg membuat aku khawatir, karena seperti nya dia bekerja sama dengan Karin. Aku takut Karin menyakiti mu sebagai bentuk balas dendam apalagi ayahnya bangkrut dan William membeli saham mereka dan membuat mereka tidak punya apa apa. Aku fikir Karin tipe yg pendendam"


"Sama seperti kamu..." ucap Sarah sekena nya.


"Beda, Sayang... Tapi ya... Sama" ucap Devano lirih "Tapi aku sudah tidak seperti dulu lagi, sekarang aku masih berfikir ribuan kali sebelum bertindak. Karna aku takut jika aku salah langkah maka itu akan berdampak pada keluarga kecil kita"


Saran pun hanya bisa menghela nafas berat "Aku juga sudah kenal Karin sejak lama, aku tahu dia nakal tapi aku engga nyangka dia bisa nekat. Dia tega mencelakai orang"


"Karena itulah aku selalu mengkhawatirkan mu" ucap Devano.


Ia menatap Sarah dengan begitu dalam "Aku takut kamu kenapa napa, Sayang. Cuma kalian yg aku punya"


"Kami akan baik baik saja" ujar Sarah meyakinkan Devano. Devano memeluk Sarah dan mengecup pucuk kepala nya.


"Kalian harus selalu baik baik saja"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2