Married By Challenge

Married By Challenge
Part 152


__ADS_3

Airin mendapatkan telpon dari ayahnya saat ia dalam perjalanan pulang setelah mengintai Sarah seharian.


"Apa?" tanya Karin ketus setelah menjawab panggilan ayahnya itu.


"Kamu dari mana? Dari tadi Papa telpon tapi engga di angkat" terdengar suara marah ayahnya dari seberang telpon.


"Banyak urusan" jawab Karin masih dengan nada tajam nya.


"Dengar, Karin. Sebaiknya kamu pulang sekarang juga, lagi pula apa yg kamu lakukan di Jakarta?"


"Sudah aku bilang kalau aku tuh kerja" bentak Karin dan terdengar suara ayahnya yg menghela nafas berat.


"Kamu engga perlu kerja, Karin. Biar papa yg kerja, sebaiknya kamu kuliah" ucap sang ayah dengan suara rendah.


"Kuliah? Mau dapat uang dari mana? Papa sudah kehilangan semua nya, jangankan kuliah. Untuk bayar rumah kontrakan saja Papa kesulitan" bentak Karin dan ia langsung mematikan sambungan telpon.


"Aaghh.... Sialan!" geram nya marah.


...... ...


Sementara itu, Sarah yg baru saja selesai mandi di kejutkan dengan kedatangan Dominic dan beberapa orang yang tak Sarah kenal.


"Hai, Om..." sapa Sarah ramah "Mereka siapa?"


"Mereka mau memasang cctv, Nyonya" jawab Dominic.


"Cctv? Kan sudah ada, memang nya ada yg rusak?" tanya Sarah sambil memperhatikan orang orang itu yg memasang cctv bahkan sampai di luar pagar.


"Ada sedikit penambahan" jawab Dominic santai. Sarah pun hanya mengangguk mengerti "Oh ya, mulai malam ini saya akan tinggal di sini sama Aldo"


Sekarang Sarah menatap curiga pada Dominic "Apa terjadi sesuatu?" tanya Sarah.


"Tidak, hanya ingin menjaga Nyonya dan calon tuan muda" jawab Dominic, awal nya Sarah tak mempercayai hal itu namun Sarah tak mau ambil pusing.

__ADS_1


"Oh ya, Om. Sarah kekurangan pembantu di rumah, soalnya Lolly sibuk ngurus Sarah. Jadi bisa engga nanti carikan orang lagi buat ngurus rumah?"


"Sudah bilang Tuan Devano?" tanya Dominic.


"Sudah, kata Devano nanti nanti terus. Kasian Lolly nya, Om. Kecapean. Soalnya akhir akhir ini Sarah manja dan cerewet, hehe..." jawaban Sarah membuat Dominica tertawa geli. Dan bersamaan dengan itu Devano datang dan sempat mendengar ucapan Sarah.


"Sudah mandi, Sayang?" tanya Devano kemudian mengecup pelipis Sarah.


"Sudah, oh ya Dev, kapan cariin pembantu baru? Kasian Lolly" rengek Sarah.


"Aku sudah menghubungi yayasan, Sayang. Besok mereka akan kirim orang" jawab Devano yg membuat Sarah tampak senang.


"Dom, tolong periksa lagi ya, apa cctv nya berfungsi dengan baik semua nya" titah Devano pada Dominic.


"Baik, Tuan..." jawab Dominic.


Sementara Devano dan Sarah bergegas ke kamar mereka. Seperti biasa, Devano langsung melepaskan pakaian nya dan berganti dengan baju rumahan.


"Dev, bagaimana soal Airin? Apa kamu sudah melakukan sesuatu?" tanya Sarah sambil menutup jendela kamar nya, hari sudah mulai gelap. Ia berjalan sambil memegang perut nya dengan satu tangan sementara tangan yg lain berada di pinggang nya. Melihat itu Devano menjadi merasa kasihan pada istrinya, kehamilan nya sudah mendekati kelahiran dan Sarah terlihat mudah letih.


"Biar aku saja yang tutup jendela" ucap Devano dan ia menutup jendela yang masih terbuka "Dan soal Airin, aku sudah membuat nya keluar dari perusahaan"


"Apa yg kamu lakukan?" tanya Sarah penasaran "Kamu engga melakukan sesuatu yg kejam kan? Jangan sampai apa yg kamu lakukan malah menimbulkan cerita balas dendam lagi" tutur nya khawatir, Sarah pun duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengelus perutnya.


"Engga akan, aku menyuruh nya mengundurkan diri dan aku memberi nya 500 juta. Seharusnya itu sudah menjadi cara terbaik kan?"


"Aku rasa bukan...." lirih Sarah "Jika yg dia inginkan adalah kamu, maka uang engga akan ada artinya"


"Sayang..." Seru Devano lembut, ia membelai pipi Sarah "Aku engga akan membiarkan siapapun menyakiti kita, terutama kamu dan Baby Neo. Aku akan selalu bersama kamu, selama nya"


Sarah tersenyum samar, ia menyadarkan kepala nya di dada Devano "Entah kenapa perasaan ku engga enak, Dev. Aku selalu merasa takut dan khawatir" lirih Sarah.


"Mungkin itu efek kehamilan, mungkin juga kamu gugup karena sebentar lagi akan melahirkan" ucap Devano sambil mengelus rambut Sarah, ia berusaha menenangkan istrinya itu.

__ADS_1


"Semoga saja..." ucap Sarah dan ia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Devano. Meraup kehangatan dan kenyamanan di sana.


....... ...


William yg juga baru saja pulang dari kantor langsung di sambut oleh Freya.


"Bagaiamana keadaan mu, Sayang?" tanya William sambil mengecup kening Freya.


"Baik baik saja" jawab Freya "besok waktu nya cek kehamilan"


"Okey, besok aku akan libur" jawab William yg membuat Freya senang.


Keduanya berjualan menuju kamar mereka, namun di ruang tengah mereka melihat Venita yg duduk termenung sendirian.


"Ma...." seru Freya dan hal itu seperti nya mengagetkan Venita "Ada apa? Nama sakit?" tanya nya.


"Engga, tadi... Em, engga. Engga apa apa" ujar Venita.


"Ma..." William duduk di samping ibunya "Ada apa? Mama ada masalah?"


"Mama... Mama mimpi Sarah, Will" ujar Venita "Mama takut Sarah kenapa napa"


"Mimpi itu cuma bunga tidur, Ma. Sarah baik baik saja" ucap Freya "Tadi kami video call dan Sarah sehat, dia juga aman bersama Devano"


"Sebaiknya sekarang Mama istirahat ya, Papa kayaknya lembur malam ini. Tadi Will ke kantor Papa dan pekerjaan dia masih banyak"


"Iya, tadi Papa juga telpon"


"Ya udah, ayo..." William membawa ibunya ke kamarnya.


Venita menatap foto Sarah yg ada di kamarnya, Venita tersenyum. Sebentar lagi putri kecilnya akan jadi ibu dan akan punya putra kecil, Venita mengambil foto Sarah dan membelai nya "Semoga kamu baik-baik saja dan selalu bahagia, Princess"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2