Married By Challenge

Married By Challenge
Part 120


__ADS_3

William dan Devano menyusuri rel kereta bawah tanah dimana insiden itu terjadi, tempat nya sudah sedikit berubah namun samar samar William bisa mengingat bagaimana insiden itu terjadi di sana. William menuju sebuah tempat dimana ia dan Caitlin bersembunyi.


"Caitlin mengatakan pria itu mabuk..." ujar William berusaha keras mengingat kejadian malam itu. Ia menutup mata dan kembali membayangkan apa yg terjadi "Aku... Aku di pukul dari belakang..." ia memegang kepalanya seolah merasakan pukulan itu sekarang "Aku melawan tapi aku kalah jumlah, mereka ada...."


Devano masih setia memperhatikan William yg masih berusaha mengingat kejadian itu "Empat"


"Apa?" Devano langsung merasakan sesak di dada nya membayangkan empat orang pria.... Tidak, Devano tak sanggup membayangkan nya.


"Kita akan membuat perhitungan" ujar William tajam "Dengan sangat berat"


"Kamu mengingat mereka?" tanya Devano dan William menggeleng "Will, jangan pergi dari sini sebelum kamu mengingat merek!" tegas Devano.


William yg sudah berjalan hendak pergi pun menghentikan langkah nya "Aku sudah berusaha, Devano. Tapi aku engga bisa ingat wajah mereka dengan jelas"


"Ku mohon, William. Mumpung kita sudah di sini..." William menghela nafas berat dan ia menatap Devano dengan wajah sedih nya.


"Setiap kali aku mencoba mengingat wajah mereka, yg aku ingat justru wajah Caitlin, aku engga sanggup" lirih William kemudian.


Ia berbalik dan hendak pergi namun tiba tiba ia tersandung dan terjatuh. Devano mencoba membantu William berdiri, William mendongak da saat itu ia teringat bagaimana Caitlin memohon agar pria pria jahat itu tak menyakiti William.


"Kita pulang, maaf sudah memaksa" ucap Devano.


"Aku janji akan mengingat wajah wajah mereka, Devano. Aku janji"


"Aku tahu"


.........


Jacob merasakan jantung nya seolah berhenti berdetak melihat Juan tanpa baju di rumah Naina.


Sementara Juan, ia juga sangat terkejut dengan kedatangan Jacob namun dengan cepat Juan menetralkan ekspresi wajah nya bahkan ia berlagak lelah dan senang.


"Apa yg kamu lakukan di sini?" tanya Jacob dengan dengan tatapan yg seolah ingin membakar Juan hidup hidup.


"Mengunjungi wanita ku yg sedang sendirian" jawab Juan tenang.

__ADS_1


"Sialan..." geram Jacob marah dan ia langsung mendorong Juan, menyingkirkan ia dari jalan nya.


"NAINA..." teriak Jacob dengan emosi yg menggebu gebu, darah nya terasa mendidih dan hatinya terasa sangat perih.


"Dia sedang tidur, dan sebaik nya kamu pergi dari sini..." ujar Juan dingin namun Jacob tak mengindahkan nya. Jacob sudah hendak naik ke lantai dua dan berniat mencari Naina di kamar nya yg ada di lantai dua, namun ia melihat pintu kamar orang tua Naina yg sedikit terbuka.


Seketika Jacob merasa ada yg tak beres, jika orang tua Naina ada di rumah. Tak mungkin Juan dan Naina melakukan sesuatu yg tidak tidak.


Jacob pun berjalan dengan langkah lebar menuju kamar orang tua Naian dan ia mendapati Naina yg sedang tertidur di sana.


"Ku bilang apa? Dia tidur karena dia kelelahan" ucap Juan mencoba memancing emosi Jacob. Jacob jelas merasa ada yg salah, ia menatap Juan dengan sangat tajam.


"Kelelahan kenapa?" tanya Jacob dengan nada yg juga sangat dingin.


"Menurut mu?" Juan bertanya sembari menyunggingkan senyum iblis nya.


Jacob dan Juan saling menatap selama beberapa saat, Juan sangat yakin Jacob akan berfikir bahwa Juan dan Naina sudah berhubungan. Namun Jacob malah melesak masuk ke kamar orang tua Naian dan menarik selimut Naina.


"Bangun, Naina!" tegas Jacob namun Naina hanya menggumam tak jelas, Juan masih setia menunggu reaksi Jacob selanjutnya. Jacob melihat Naina yg masih berpakaian lengkap, dan ia juga melihat baskom dan handuk kecil di sisi Naian.


"Beb..." gumam Naina yg perlahan membuka matanya, senyum samar terukir di bibir Naina yg mengira ia sedang bermimpi bertemu Jacob.


"Iya, aku di sini. Kamu sakit? Sudah minum obat?" tanya Jacob lembut dan hal itu membuat Juan melongo tak percaya.


Sementara Naina, ia memaksakan mata nya terbuka lebar untuk memastikan apakah itu mimpi atau bukan. Karena Jacob terasa sangat nyata di depan nya.


"Jacob..." lirih Naina dengan suara parau "Kamu..."


"Kita pindah ke kamar kamu ya..." ujar Jacob dan ia menyelipkan tangan nya di bawah leher dan lutut Naina. Jacob menggendong Naina dan membawa nya ke kamar Naian yg ada di lantai dua.


Sementara Juan... Juan tak bisa berkata apa apa, ia tak habis fikir dengan pasangan remaja ini. Bagaimana bisa Jacob tak marah dan pergi dengan amarah? Bagaimana bisa Jacob masih memperhatikan Naina dan memperlakukan nya dengan begitu lembut?


"Juan... Panggil Dokter, sialan. Panas Naina benar benar tinggi..." teriak Jacob dari atas dan tentu saja hal itu membuat Juan semakin tak bisa berkata apa apa. Ia bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Juan..." teriak Jacob lagi.

__ADS_1


"IYA IYA ..." Juan balas berteriak dan ia segera menghubungi dokter nya kembali. Dan bersamaan dengan itu bel kembali berbunyi, Juan pun membuka kan pintu dan akhirnya sang Dokter datang juga.


Juan segera membawa Dokter itu ke atas, disana Juan melihat Jacob yg sedang membereskan barang Naina yg berserakan. Sementara Naina sudah terbaring cantik di ranjang nya.


"Dokter..." seru Jacob yg melihat Dokter sudah datang "Panas nya sangat tinggi dan Naian menggiggil"


"Biar saya periksa dulu..." ucap Dokter itu dan ia segera memeriksa Naina.


Sementara Juan, ia memperhatikan Naina dengan seksam. Betapa beruntung nya Naina memiliki Jacob, fikir nya. Juan juga mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut kamar Naina, ada banyak foto keberasamaan Sarah, Jacob dan Naina yg terpajang di sana.


"Dia tidak apa apa, hanya demam biasa dan dehidrasi. Perbanyak minum air putih dan perhatikan makanan nya juga" ujar Dokter Itu "Aku akan memberikan obat penurun panas, jika panas nya masih berlanjut sebaik nya di bawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut" tutur sang Dokter.


"Terima kasih banyak, Dok" ucap Jacob. Ia merapikan rambut Naina di dahi nya dengan sayang "Juan, antar Dokter ke bawah. Jangan lupa bayar" ujar Jacob yg membuat Juan menganga tak percaya. Namun ia melakukan hal itu.


.........


Sarah memeriksakan kondisi janin nya ke bidan yg ada di desa itu, dan apa yg di katakan sang bidan membuat nya sangat khawatir.


Janin nya lemah, Sarah terlalu kelelahan dan juga janin nya kurang gizi. Padahal Sarah sudah mati matian menjaga kesehatan nya dan hal itu masih terjadi pada diri nya?


"Sebaiknya ibu jangan terlalu lelah, harus banyak istirahat dan jangan stress. Itu bisa berbahaya bagi janin ibu" ujar bidan itu. "Dan jangan lupa minum vitamin nya ya, biar kandungan ibu kuat"


"Terima kasih, Dok" ujar Sarah.


Setelah membeli vitamin yg di resepkan bidan itu, Sarah langsung bergegas pulang kerumah nya.


Ia terus memegang perut nya dan ia kembali menangis.


Sarah bukan orang tak punya, apa lagi ayah dari janin nya. Tapi Sarah membuat bayi nya kekurangan gizi dan ia juga kelelahan.


"Maafin Mama, Nak" ucap Sarah sambil mengelus perut nya dengan lembut "Kita pulang ya, biar kamu bisa Mama rawat dengan baik. Maaf karena Mama bukan pejuang yg hebat dan mandiri, Mama masih manja dan kesulitan dalam menjalani hidup sendirian. Maaf ya, Sayang. Karena ego Mama, kamu jadi kena dampak nya"


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2