Married By Challenge

Married By Challenge
Part 48


__ADS_3

Sarah menggeliat dan berusaha membuka mata nya yg terasa berat, bahkan kepala nya pun berdentum dentum, terasa sangat sakit seperti habis di pukul orang .


Saat Sarah hendak bangun dari tidur nya, ia tak bisa karena tangan Devano yg melingkar erat di perutnya. Itu bukan hal baru bagi Sarah, ia pun mencoba menyingkirkan tangan Devano namun saat duduk, hawa dingin langsung menyentuh kulit nya secara langsung yg membuat Sarah terbelalak karena saat ia menunduk, dirinya tak mengenakan sehelai benang pun. Sarah segera menarik selimut lagi dan menutupi tubuh nya, perlahan ia menoleh dan melihat Devano yg masih tertidur pulas dengan bertelanjang dada. Sarah hanya bisa menganga terkejut apa lagi saat melihat pakaian nya dan pakaian Devano yg tergeletak di lantai.


Jantung Sarah menjadi berdegup kencang, ia memijat kepala nya yg masih terasa sakit dan mencoba mengingat kembali apa yg terjadi semalam.


"Dev, Please..."


"I need you and I want you, please"


"I love you"


"Sial..." Sarah hanya bisa menggeram dalam diam, merutuki dirinya yg semalam terus memohon pada Devano. Samar samar Sarah mengingat bagaimana ia merengek dan bahkan menangis memohon pada Devano.


Sarah pun mencoba turun dari ranjang sambil berusaha menutupi dirinya dengan selimut itu yg juga menutupi Devano. Sehingga saat Sarah berhasil turun dari ranjang, itu malah menarik selimuti dan mengekspos tubuh Devano yg juga tak mengenakan apapun. Membuat Sarah semakin terbelalak dan dengan cepat ia kembali melempar selimut ke atas tubuh Devano, sementara Sarah mengambil kemeja Devano yg tergeletak di lantai dan segera memakai nya.


"Mati aku... Mati aku..." Sarah tak bisa berhenti mengumpati diri nya sendiri apa lagi saat berjalan ia merasakan sakit dan perih di seluruh tubuhnya terutama di bagian bawah sana. Membuat Sarah kian menyadari dengan pasti apa yg sudah terjadi semalam, apa lagi ranjang yg acak acakan tak karuan.


"Mama.. Hiks hisk... Anak mu"


Sarah berjalan sangat pelan agar tak membangunkan Devano, ia harus segera pergi sebelum Devano bangun. Sarah tak tahu harus menghadapi Devano seperti apa nanti.


Dengan sangat hati hati, Sarah membuka lemari pakaian nya dan ia mengambil pakaian dalam nya, kaos dan celana jeans.


Saat ia menutup pintu lemari yg terbuat dari kaca, hal mengejutkan kembali terjadi yg membuat Sarah melotot tak percaya saat melihat ada banyak bercak merah di leher dan dada nya. Sarah mencoba menggosok nya namun bercak itu tak hilang. Ia pun menoleh saat terdengar Devano yg mengerang, dengan hati yg berdebar, Sarah sangat berharap Devano tidak terbangun.


Dan syukurlah pria itu masih nyenyak, Sarah memperhatikan Devano sesaat. Devano sangat tampan meskipun ia sedang tertidur begini, apa lagi dengan rambut nya yg acak acakan seperti habis di jambak.


"Di jambak?" sekali lagi Sarah samar samar mengingat dia semalam memang menarik rambut Devano saat... "Ish, tau ah" Sarah segera menggelengkan kepala nya dan ia pun mengambil syal untuk menutupi leher dan dada nya. Setelah itu ia mengendap ngendap keluar kamar dengan langkah yg masih tertatih.


Hari masih sangat pagi, bahkan matahari hanya mengintip. Cuaca di luar juga pasti sangat dingin. Rumah pun masih sepi, pintu dan jendela masih tertutup rapat.


Sarah masuk ke kamar kosong yg ada di sebelah kamar nya untuk berganti pakaian disana. Setelah berganti pakaian, Sarah kembali mengendap keluar, ia harus kabur. Kabur...


Namun saat hendak mencapai pintu keluar, tiba tiba Bi Eni datang dan mengejutkannya.


"Nyonya Sarah..."


"Ah..." Sarah berteriak terkejut sambil memegang dada nya yg sejak tadi bergemuruh.


"Nyonya tumben sudah bangun pagi pagi" ujar Bi Eni "Mau kemana?"


"Eh... Itu... Em.. Mau..." Sarah bergerak gelisah di tempat nya.


"Ini kan hari minggu, Nyonya. Biasanya Nyonya bangun siang kalau minggu" ujar Bi Eni heran apa lagi melihat Sarah yg tampak bingung, cemas dan seperti panik.


"Minggu.. Hem iya, minggu...minggu..." Sarah memutar otak nya mencari alasan "Jogging..." seru nya kemudian "Hehe, iya, minggu mau jogging. Mau jogging mumpung minggu. Hehe" jawab nya sambil menggaruk kepala nya.


"Mau jogging kok pakek jeans. Terus sepatu nya mana?" Sarah menunduk dan ia baru menyadari kalau diri nya bertelanjang kaki.


"Emm... Tadi.. Tadi celana olahraga nya hilang"


"Hilang?" tanya Bi Eni semakin heran.


"Hilang? Eh bukan...engga ketemu" jawab Sarah sambil cengengesan.

__ADS_1


"Ya udah, tunggu dulu sebentar. Bibi ambilkan celana dan sepatu Nyonya" ujar Bi Eni namun Sarah mencegah nya.


"Engga usah, engga apa apa..." jawab Sarah "Sepatu, ambilkan sepatu Sarah aja" pinta nya.


Sarah sudah sangat gugup dan takut Devano keburu bangun. Dan ia sekarang ia lupa ponsel dan dompet nya masih ada di kamar nya. Kalau Sarah masuk lagi, Sarah takut itu akan membangunkan Devano.


Tak lama kemudian Bi Eni datang dengan membawa sepatu, kaos kaki dan sebotol air untuk Sarah.


"Oh Tuhan, air.. Kebetulan Sarah haus banget" ujar nya dan langsung mengambil air itu kemudian meneguk nya. Membuat kebingungan Bi Eni semakin menjadi. Semalaman suami nya yg aneh, sekarang istrinya. Fikir nya.


Setelah itu, ia segera memasang kaos kaki dan sepatu nya dan kemudian berpamitan akan jogging pada Bi Eni.


Sarah keluar dari rumah dengan langkah yg tertatih dan melihat itu Bi Eni langsung menghentikan Sarah.


"Nyonya, kenapa jalan nya begitu?"


"Emm.. Ini.. Ini..."


Dalam benak Sarah ia bertanya tanya berapa lama dan seberapa keras dan kasar Devano melakukan nya, karena ini membuat Sarah bukan hanya merasa pegal di seluruh tubuhnya tapi ia juga hampir tak bisa berjalan.


"Kesemutan aja, Bi. Ya udah Sarah jogging dulu ya" ujar nya cepat cepat dan ia pun segera keluar dari rumah.


Di pagi buta begini tak banyak taksi yg lewat, namun Sarah masih tetap menunggu. Walaupun ia tak punya uang dan tak membawa ponsel. Kemana tujuan nya sekarang? Rumah orang tuanya? Rasanya tak mungkin.


Naina, ah tentu saja itu pilihan yg tepat.


Setelah cukup lama menunggu akhir nya Sarah mendapatkan taksi dan ia langsung meminta sopir mengantar kan nya ke rumah Naina.


Di sepanjang perjalanan, benak Sarah terus memutar rekaman kejadian semalam.


Sekarang Sarah tak tahu apa yg akan Devano fikirkan tentang nya. Murahan? Nakal? Entahlah, Sarah benar-benar merasa malu bahkan ia merasa sudah tak punya wajah lagi jika harus berhadapan dengan Devano.


Sesampainya dirumah Naina, Mama nya Naina terlihat terkejut karena Sarah datang sangat pagi. Sarah berbohong dengan mengatakan ia memang janjian dengan Naina untuk jogging.


"Tapi Naina masih tidur, bangunin gih" ujar Mama nya. Sarah pun langsung buru buru masuk, bukan karena apa, tapi karena sopir taksi nya masih nunggu bayaran.


"Naina... Naina bangun..." Sarah mengguncang tubuh Naina yg masih bergelut dengan selimut. Tanpa permisi, Sarah mengambil uang dari dompet Naina dan ia pun segera keluar untuk membayar taksi nya.


Setelah itu ia kembali masuk ke kamar Naina dan Naina masih molor. Sarah pun membangunkan nya lagi sampai Naina terbangun.


"Sarah? Kamu ngapain di sini pagi pagi?" tanya Naina sambil menguap dan menggeliat.


"Aku kabur dari rumah..." ucap Sarah yg membuat Naina langsung membuka mata lebar lebar. Rasa kantuk nya pun sirna seketika.


"Maksudnya? Devano nyakitin kamu? Dia ngusir kamu?" tanya Naina dengan nada tinggi, Sarah menggeleng pelan "Terus kenapa kamu kabur?" tanya Naina bingung.


"We did it..." lirih Sarah tiba tiba yg membuat Naina mengerutkan kening nya tak mengerti.


"Did? Did what?" tanya Naina.


"Love.. Hikss.. Make love... Hiks hiks..." Sarah kembali menangis sementara Naina menganga tak percaya. Ia bahkan terdiam hampir satu menit namun kemudian ia tersenyum lebar dengan mata berbinar...


"Wow..." ucap nya yg membuat Sarah langsung menghentikan tangis nya.


"Kok wow sih?" tanya Sarah menggerutu kesal.

__ADS_1


"Its amazing, Bebs. Sekarang kalian benar benar sudah sempurna menjadi suami istri..." seru Naina girang tapi Sarah kembali mencebikan bibir nya dengan mata yg berkaca kaca.


"Kenapa?" tanya Naina yg melihat Sarah akan menangis "Devano maksa kamu?" Sarah menggeleng pelan sambil sesegukan "Terus?"


"Aku yg..... maksa dia... Hua... Hiks... Mama..."


"HAH????"


Naina kembali melotot tak percaya dan ia memandang Sarah dengan mulut yg terbuka. Namun kemudian Naina tertawa geli yg membuat Sarah langsung menghentikan tangis nya lagi dan mendengus kesal.


Naina terus tertawa terbahak bahak sambil memegang perutnya, membayangkan Sarah memaksa Devano bercinta. Yg benar saja? Bagaimana bisa?


Sarah menatap tajam Naina yg kini berusaha keras menghentikan tawa nya namun ia tak bisa.


"Diam atau ku sumpal mulut mu..." tegas Sarah.


"Sorry... Sorry, okey... Ehem..." Naina kembali berusaha tenang. Ia pun mengambil air yg ada di atas nakas dan meminum nya supaya ia lebih tenang.


"Okey... Jadi gimana ceritanya bisa kamu yg maksa?" tanya Naina masih menahan senyum geli nya. Ck, dasar remaja.


"Engga tahu..." jawab Sarah menggerutu dengan pipi yg mengembung "Engga tahu kenapa semalam itu aku benar benar merasa seperti... Seperti... Hiks hiks... "


"Oh cup cup, Sayang...." Naina merengkuh Sarah dan memeluknya padahal ia sendiri masih ingin tertawa setiap kali membayangkan Sarah memaksa Devano yg dalam benak Naina adalah Sarah memperkosa Devano?


Dan kedua nya di kejutkan dengan pintu kamar Naina yg terbuka tiba tiba. Muncul lah ibu nya Naina yg heran melihat dua remaja itu berpelukan, yg satu nya cemberut dan seperti menangis. Yg satu nya seperti menahan tawa geli.


"Kalian kenapa?" tanya Mama nya Naina.


"Ini, Ma... Sarah nonton film melow dia ceritain film nya sambil nangis" jawab Naina dan ibu nya pun hanya ber oh ria. Karena menang seperti itulah kelakuan dua remaja itu.


"Ya sudah, kata nya kalian mau jogging. Mama mau ke pasar" ujar nya.


"Iya, Ma. Hati hati..." seru Naina.


Setelah pintu tertutup kembali, Naina segera turun dari ranjang dan mengunci pintu nya atau nanti ayahnya pun akan masuk tiba tiba.


Setelah itu, ia kembali ke ranjang "Terus sekarang apa? Kamu marah sama Devano karena... Karena melayani kamu. Hihi hihi...." tanya Naina yg langsung mendapatkan tabokan bantal dari Sarah.


"Ya aku engga marah...." jawab Sarah kemudian ia membuang ingus nya dengan ujung syal nya. Membuat Naina meringis dengan tingkah konyol sahabat nya ini.


"Terus kenapa kamu kabur?" tanya Naina lagi.


"Malu...." cicit Sarah yg kembali membuat Naina ingin tertawa namun ia menahan nya.


"Ya udah lah, Bebs. Ngapain malu, you are Husband wife, love each other" ujar Naina berusaha menenangkan Sarah.


"Tapi kan tetap malu, Naina. Soalnya aku yg maksa... Hiks hiks..." Sarah kembali menangis cengeng. Ia memang sangat malu, dan rasa nya ia tak mau bertemu Devano lagi. Mau taruh dimana wajahnya nanti?


"Oh cup cup cup, Sayang... Sudah ya, sudah" ucap Naina menahan tawa geli nya.


Sekarang malu, awas nanti ketagihan, fikir nya.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2