
Saat William hendak tidur setelah di berikan obat oleh Freya, ponsel nya berdering dan dan William pun segera meraih ponsel nya yg ada di atas nakas. William mengernyit heran saat tertera nomor asing di ponsel nya namun ia pun menjawab nya dengan perasaan yg berdebar, berharap itu Sarah.
"Hallo..." sapa William.
"Halo, Pak. Saya Mia, sekretaris nya Pak Devano" William semakin kebingungan mendapatkan telpon dari sekretaris Devano itu.
"Ada apa, Mia?" tanya William kemudian.
"Jadi begin, Pak. Ada meeting yg sangat penting dengan klien dari luar negeri tentang proyek nya Pak Devano yg sudah di rencanakan sejak setahun yg lalu. Saya tidak bisa menghubungi Pak Devano dan meeting ini sudah dua kali saya cancel, kalau sekarang harus di cancel lagi maka proyek ini akan batal. Sementara Pak Devano sudah mengeluarkan banyak dana untuk proyek besar ini " ucapan panjang lebar Mia itu terselip nada panik, karena seperti nya proyek ini memang sangat penting.
"Jadi?" tanya William kemudian.
"Apa bisa Pak William mewakili Pak Devano? Karena klien nya itu hanya ingin bertemu dengan Pak Devano atau orang yg langsung di wakilkan oleh Pak Devano. Saya mohon, Pak..."
"Teman nya Devano yg bernama Juan?"
"Saya memang menghubungi Pak Juan tadi, tapi dia sedang mengadakan meeting juga. Pak Juan meminta saya menghubungi anda, Pak"
William memijat pelipis nya dengan kuat, ia hanya bisa menghela nafas berat.
"Selain bodoh, menyebalkan, ternyata Devano merepotkan juga" gumam William kesal.
"Bagaiamana, Pak? Saya mohon, Pak. Perusahaan akan rugi besar kalau proyek ini di batalkan" terdengar suara Mia yg tampaknya sudah sangat putus asa.
"Kapan meeting nya? Masalah nya aku engga faham dengan proyek itu, Mia"
"Masih satu setengah jam lagi, Pak. Saya sudah siapkan file untuk meeting, sangat detail. Pak William tinggal pelajari sedikit, dan tolong sekali, Pak. Katakan kalau Pak William mewakili Pak Devano atas perintah langsung dari Pak Devano"
"Iya, kirimkan ke email ku sekarang" ujar William.
"Baik, Pak. Terimakasih banyak"
William langsung memutuskan sambungan telpon nya dan bersamaan dengan itu Freya kembali masuk ke kamar nya.
"Loh, belum tidur?" tanya Freya.
"Aku mau ke kantor, Sayang. Tolong siapkan kemeja dan jas ku ya"
"Will, jangan kerja dulu. Kamu masih harus istirahat" pinta Freya.
__ADS_1
"Cuma sebentar, Fe. Ini penting"
"Tapi, William...."
"Ayolah, Sayang. Cuma meeting setelah itu aku langsung pulang, okey? Atau kamu mau anterin aku ke kantor Devano?"
"Kok kantor Devano?"
"Nanti aku ceritain, sekarang siapkan pakaian ku"
Freya pun sudah tak bisa lagi menolak keinginan suaminya itu, sementara William yg sudah mendapatkan email dari Mia langsung mempelajari proyek yg di maksud. Dan William sedikit terkejut karena proyek itu memang sangat penting dan juga butuh dana yg sangat besar, William tak habis fikir bagaimana bisa Devano mengabaikan hal itu.
Setelah William siap, ia pun segera keluar dan mendapati Mama nya yg sudah tampak siap juga untuk pergi.
"Mau kemana, Ma?" tanya William.
"Mau kerumah Devano, Mama khawatir dengan keadaan nya" ujar Venita.
"Engga usah, Ma. Biar aku yg kesana" seru William.
"Tapi kan kamu lagi sakit, Will"
Freya dan William langsung menuju ke kantor Devano, mereka langsung di sambut oleh Mia dan Mia membawa kedua nya ke ruangan William.
"Berapa lama Devano engga ke kantor?" tanya William sambil mendaratkan bokong nya di kursi kebesaran Devano itu.
"Sekitar dua minggu" jawab Mia "Dan ini untuk membantu meting nanti, Pak" ia menyerahkan lagi sebuah berkas pada William.
Dan saat meeting akan segera di mulai, William merasa ragu bahwa ia bisa memimpin jalan nya meeting ini dan memberikan hasil yg memuaskan. Karena ia tidak tahu menahu soal proyek Devano ini namun dari yg ia pelajari, William bisa memahami secara garis besar nya.
Meeting pun di mulai dengan William yg di dampingi Mia, dan benar dugaan William, ia tak bisa mendapatkan hasil yg memuaskan dari meeting itu. Namun setidak nya ada titik terang bahwa proyek itu tak akan di batalkan. William juga berhasil meyakinkan mereka bahwa minggu depan mereka akan meeting secara langsung dengan Devano.
Setelah mencapai kesepakatan itu, mereka pun mengakhiri meeting dan William bisa bernafas lega.
"Awas saja bocah bodoh itu..." geram William.
"Terima kasih banyak, Pak" ucap Mia dan ia tampak senang dengan bantuan William ini "Sejak sebulan yg lalu, Pak Devano membuat saya kewalahan, Pak. Tapi yg paling parah sejak dua minggu terakhir, Pak Devano benar-benar meninggalkan perusahaan dan hanya saya dan Dominic yg mengurus nya sebisa kami" tutur Mia sedih.
William dan Mia kembali ke ruangan Devano dan Freya sudah menunggu di sana.
__ADS_1
"Aku akan pastikan bos mu itu akan kembali bekerja besok pagi" tegas William yg membuat Mia semakin senang.
"Bagaiamana meeting nya?" tanya Freya.
"Berjalan lancar walaupun aku sedikit kesulitan" jawab William "Sayang, sekarang kita kerumah Devano"
"Dengan satu syarat!" tegas Freya dengan cepat "Jangan ada baku hantam lagi, okey?"
"Okey, lagian aku engga punya tenaga buat berantem" jawab William yg tentu membuat Freya sedikit tenang.
.........
Sesampai nya di rumah Devano, mereka langsung di sambut Bi Eni dan Lolly.
"Apa Nyonya Venita tidak ikut?" tanya Bi Eni.
"Engga, Mama butuh istirahat. Biar aku yg bicara dengan Devano" ucap William dan mendengar itu Bi Eni justru tampak khawatir, ia takut dua pemuda yg masih berdarah panas dengan emosi menggebu itu malah menambah masalah. Namun Bi Eni tak punya pilihan lain, ia hanya berharap William bisa membujuk Devano dan kedua nya bisa menurunakan ego masing masing.
Saat masuk ke rumah Devano, William dan Freya mengibaskan tangan nya di depan wajah mereka karena mereka mencium bau asap rokok yg sangat menyengat.
"Apa kalian engga bersih bersih rumah?" tanya William.
"Bersih bersih, Tuan. Tapi Tuan Devano merokok tiada henti" jawab Lolly.
"Memang nya dia mau mati karena kanker apa" gumam William kemudian ia dan Freya pun naik ke lantai dua menuju kamar Devano dengan di ikuti Lolly dan Bi Eni.
Sesampai nya di depan kamar, William langsung menggedor pintu nya dengan keras.
"Devano, keluar, Dev..." teriak William, Freya pun menarik William mundur karena William bukan nya tampak akan membujuk Devano malah ia lebih terlihat seperti ingin baku hantam lagi.
"Bukan begitu cara nya..." bisik Freya, kemudian ia mengetuk pintu dua kali dan memanggil Devano "Dev, ini Freya. Buka pintu nya..." seru Freya lemah lembut. Mereka menunggu namun tak ada tanda tanda Devano akan membuka pintu.
"Mundur..." seru William yg enggan dengan cara lemah lembut, kemudian ia pun mendobrak pintu itu dan seketika hal itu membuat Devano langsung terbangun dari tidur nya.
Saat pintu terbuka, mereka semua di kejutkan dengan kamar Devano yg di penuhi asap rokok karena jendela nya di tutup rapat buhkan horden nya pun tak di buka, membuat kamar itu sangat pengap apa lagi dengan asap rokok yg memenuhi kamar itu. Mereka bahkan harus menutup mulut dan hidung mereka akan tak menghirup asap rokok yg sangat tak sehat itu.
"Ngapain kamu kesini, Huh?" teriak Devano pada William...
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...