
Di cari tahu data dirinya bukanlah hal baru bagi Jacob, namun untunglah Jacob bisa memanpulasi semua nya dengan rapi sehingga takkan ada yg menyadari bahwa dirinya seorang hacker. Dan kini ia yg mencoba mencari tahu siapa orang yg mencoba mencari identitas nya.
"Dominic, tangan kanan Devano Lake. Wow" gumam Jacob. Cukup sulit baginya mencari tahu siapa Dominic, namun setelah usaha keras yg di lakukan nya, Jacob tahu siapa Dominic. Dan Jacob bisa mengerti kenapa jati dirinya di cari, pasti karena Jacob meretas cctv di rumah Devano.
Jacob pun tak mau ambil pusing, namun ia harus tetap hati hati.
.
.
.
Sementara itu, Sarah kembali melancarkan aksi nya untuk menarik perhatian Devano. Ia membuatkan kopi dan membawa nya ke ruang kerja Devano.
"Aku buatkan kopi" ujar Sarah sembari meletakkan kopi itu di meja kerja Devano. Devano tertawa kecil, ia menyingkirkan laptop nya dari hadapannya.
"Aku engga minum kopi, Little girl"
Sarah sangat kesal mendengar jawaban Devano itu, padahal dia sudah capek bikin kopi, dan sudah menyingkirkan ego nya. Namun Sarah tetap berusaha tenang dan menyunggingkan senyum nya.
"Kalau gitu, mau teh?" tanya Sarah dengan suara lembut nya. Devano menggeleng, dan ia malah menepuk paha nya sendiri, memberi isyarat pada Sarah. Sarah sangat kesal dengan hal itu, namun sekali lagi ia mencoba tenang. Ia pun berjalan mendekati Devano, dan Devano langsung menarik pinggang Sarah, membuat Sarah langsung jatuh ke pangkuan nya.
"Mau kamu" lirih Devano, yg membuat Sarah langsung merasa mual dan ingin mencekik Devano. Namun ia tetap berusaha menyunggingkan senyum manis nya.
"Aku di sini" ujar Sarah sok romantis. Devano sendiri menahan diri untuk tak tertawa terbahak bahak, ia ingin lihat sampai dimana keberanian Sarah Fergueson itu. Aksi Devano pun di lanjutkan, ia mulai menggerayangi tubuh Sarah, di mulai dari paha nya yg tertutup celana piyama nya. Dan hal itu sudah membuat Sarah merasa panas dingin, takut dan segala fikiran buruk mulai berkecamuk dalam benak nya.
"Tuhan, aku engga mau ngasih mahkota ku ke pria kaku ini" batin nya berdoa setulus hati. Kini tangan Devano telah sampai pada pinggang nya, Devano meremas pinggang ramping Sarah dengan gemas, Sarah terkesiap, dan saat tangan Devano sudah beranjak naik lagi, Sarah langsung melompat turun dari pangkuan Devano.
"Kenapa?" tanya Devano menaikan sebelah alis nya "Kita suami istri, Little girl. Lagi pula, kita belum melaksanakan malam pertama kita"
"Tapi aku masih 16 tahun, aku aja bahkan belum punya KTP, belum bisa buat credit card. Apa lagi gituan, pasti belum boleh" ujar Sarah panjang lebar dengan begitu serius, sekali lagi Devano hanya bisa menahan tawa nya.
"Ya boleh, kan sudah ada suami nya" jawab Devano.
"Tapi kalau aku hamil nanti gimana?"
"Aku engga akan menghamili kamu, karena aku engga mau terikat sama kamu" tegas Devano yg entah mengapa hati Sarah merasa tercubit dengan hal itu. Tatapan matanya menjadi sayu dan raut wajahnya pun tampak sedih.
"Segitu benci nya ya kamu sama aku?" lirih Sarah kemudian, menatap Devano dengan begitu sendu Devano yg mendengar pertanyaan Sarah itu pun langsung terdiam dengan ekspresi datarnya "Sampai kamu tega ngelakuin ini sama aku dan keluarga ku. Aku tahu aku salah, tapi hukuman mu berlebihan, Dev. Mama terkena serangan jantung, aku harus menikah dengan alasan yg gila, aku juga harus kehilangan keperawanan ku, dan itu semua hanya untuk sebuah perpisahan dan ego" lanjut nya. Dan untuk pertama kalinya ia memanggil Devano dengan nama depan nya.
__ADS_1
Devano yg mendengar penuturan Sarah itu pun merasa bersalah, sekejam itu kah yg dia lakukan?
"Berikan aku hukuman yg lain kalau kamu emang engga bisa maafin aku, Dev. Karena aku engga akan bisa membuat kamu jatuh cinta sama aku, dan aku engga mau jatuh cinta sama kamu"
"Kalau begitu itu bagus, berarti kita akan terus terikat dalam pernikahan ini" Devano berkata dengan enteng.
"Kenapa?" tanya Sarah lagi dengan begitu menuntut.
"Kembali ke kamar mu" perintah Devano yg membuat Sarah mengernyit bingung.
"Tapi..."
"Aku bilang kembali ke kamar atau aku harus nenyeret mu?" nyali Sarah menciut mendengar perintah tegas itu. Ia pun segera keluar dari ruangan Devano, namun ia tak kembali ke kamar nya.
Sarah pergi ke kolam renang, ia duduk di tepi kolam, memasukan kaki nya ke dalam air yg begitu dingin.
Sarah merasa ada yg salah dengan Devano. Pernikahan adalah sesuatu yg sangat besar, dan Devano menjadikan pernikahan sebagai hukuman dari kesalahan kecil Sarah.
Mencium dan menyentuh aset pria itu bukanlah hal yg besar, bukan?
Sementara Devano, pria itu memperhatikan Sarah lewat cctv di laptop nya.
Teringat kembali bagaiamana Sarah mencium nya saat itu dan bahkan menyentuh milik nya dan semua itu hanya untuk memuaskan rasa penasaran Sarah dan Naina apakah Devano pria normal atau gay. Devano merasa terlecehkan oleh gadis 16 tahun itu apa lagi gadis itu memang sangat berhasil membangkitkan gairah nya dan membuat Devano tak bisa melupakan ciuman panas mereka. Ciuman pertama mereka.
.
.
.
Pagi pagi sekali Sarah sudah terbangun dari tidur nya, dan ia melihat Devano yg tidur dengan posisi menyamping menghadap nya. Sekali lagi semalam Sarah tertidur sebelum Devano kembali ke kamar nya. Dan ini pertama kali nya Sarah melihat Devano yg terlelap.
Sarah memperhatikan wajah tenang Devano, saat tertidur pulas seperti ini Devano terlihat sangat tampan, manis, tanpa sadar Sarah menyunggingkan senyum namun sesaat kemudian ia segera kembali pada kesadarannya.
"Ingat, Sarah! Pernikahan ini adalah bentuk balas dendam Devano. Devano dengan hati batu nya"
Sarah segera bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri, dan bersiap pergi ke sekolah.
Sarah memanggil taksi untuk mengantar nya ke sekolah. Ia pergi tanpa pamit dan tanpa sarapan, bahkan ia tahu ini terlalu pagi untuk pergi ke sekolah namun Sarah tak mau bertemu dengan Devano.
__ADS_1
.
.
.
Devano terbangun saat matahari menyelinap masuk di sela horden dan menganggu tidur nya, semalam ia begadang untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Dan saat tak mendapati Sarah di sisi nya, Devano segera turun dari ranjang nya, Devano memeriksa kamar mandi namun Sarah tak ada disana, Dan lantai kamar mandi yg basah membuat Devano berfikir mungkin Sarah sudah mandi dan saat ini sedang sarapan.
Ia pun turun ke bawah namun tak mendapati Sarah di meja makan.
"Dimana Sarah?" tanya Devano pada Eni yg sedang menyiapkan sarapan.
"Belum turun, Tuan" jawab Eni.
"Dia engga ada di kamar"
"Mungkin di kamar mandi"
"Aku engga mungkin cari dia ke bawah kalau dia ada di atas" tegas Devano kemudian. Ia pun segera kembali ke kamar nya, mengambil ponsel nya dan menghubungi Sarah. Namun Sarah tak menjawab panggilan nya, Devano pun menelpon nya sekali lagi. Dan kali ini Sarah menjawab nya.
"Dimana kamu, Sarah?" tanya Devano dengan setengah panik.
"Kenapa? Takut di tinggalin istri nya?" tanya Sarah dari seberang telpon.
"Kenapa kamu pergi engga bilang pada siapapun?" Devano balik bertanya.
"Aku cuma pergi ke sekolah. Aku engga kabur"
Devano terdiam,ia bertanya tanya kenapa dirinya merasa panik saat tak mendapati Sarah dirumah.
"Kenapa? Mulai khawatir sama istri nya?" tanya Sarah lagi dengan nada mengejek. Devano malah tersenyum miring.
"Engga sopan, pergi tanpa izin suami" tegas Devano.
"Justru aku istri yg baik, karena engga ganggu suami nya yg lagi tertidur pulas" jawab Sarah dan saat Devano hendak menjawab nya, Sarah malah langsung memutuskan sambungan telpon nya. Membuat Devano hanya bisa menaganga.
"Gadis ini benar benar harus di ajari sopan santun dan harus di perlihatkan status nya"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...