Married By Challenge

Married By Challenge
Part 37


__ADS_3

Sarah menggeliat dan mengerang malas saat weker nya terus berbunyi. Ia mencoba bangun namun tubuh nya tak bisa bergerak. Sarah pun berusaha mengumpulkan seluruh kesadaran ya dan seketika mata nya terbuka lebar saat menyadari ia tak bisa bergerak karena tangan kekar Devano yg melingkar dengan begitu posesif di perut nya.


Sarah menahan nafas saat dengan sangat perlahan ia mencoba menyingkirkan tangan Devano dari diri nya.


"Good morning, My Little wife" gumam Devano dengan suara serak nya khas bangun tidur. Rupanya percuma Sarah bergerak perlahan karena Devano tetap terbangun.


Sarah pun dengan kasar langsung menghempaskan tangan Devano dan ia segera bergegas turun dari ranjang. Sarah benar benar tak menyangka kini Devano berani memeluknya seperti itu.


Devano masih tertidur dengan posisi menyamping


seperti tadi bahkan setelah Sarah selesai mandi.


Sarah mengabaikan hal itu dan ia segera bersiap siap untuk ke sekolah.


.


.


.


Devano terbangun sekitar jam 9 dan ia melihat Sarah sudah tak ada, tentu saja Sarah pasti sudah ke sekolah fikir nya.


Setelah mencuci muka, Devano turun dan ternyata Dominic sudah menunggu nya di bawah.


"Kamu sudah menghubungi mereka?" tanya Devano langsung.


"Sudah, Tuan. Jam 11 mereka akan menemuimu di kantor" jawab Dominic.


"Baguslah. Lalu bagaimana dengan kedua adik Airin?"


"Sudah ku urus, Tuan. Semua nya berjalan dengan baik"


Setelah melaporkan hal itu, Dominic di persilahkan pergi sementara Devano kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap siap pergi ke kantor.


.


.


.


Jam 11, tiga orang pria datang menemui Devano. Mereka adalah staf Fergus Corp. Harris, HRD Fergus Corp. Roy, manager keuangan dan juga rekan bisnis Fergus Corp, Agus. Agus lah yg selama ini juga menjadi mata mata Devano karena Agus sangat dekat dengan Jason dan tahu banyak tentang bagaimana cara Jason mengelola perusahaan nya.


Harris dan Roy lah yg sebenarnya menggelapkan uang di Fergus Corp. Mereka melakukan aksi itu bukan karena permintaan Devano, tapi mereka memang lah orang orang korup yang tamak. Dan Devano mengetahui itu setelah Devano mencoba menyelidiki seluk beluk perusahaan Jason dan juga semua staf nya diam diam supaya Devano bisa menemukan orang dalam yg bisa dia manfaat kan. Devano mematai matai semua nya selama ini. Dan akhir nya ia menemukan apa yg ia cari.


Devano juga mengumpulkan semua bukti tentang kejahatan mereka yg kemudian Devano mempergunakan hal itu untuk memeras mereka agar mereka mau melakukan apapun yg Devano minta. Harris dan Roy sempat mengira yg Devano inginkan adalah bagian dari hasil korupsi itu,. Namun ternyata bukan, yg Devano inginkan adalah agar mereka mengambil uang dari semua investor dan memanipulasi agar terlihat Jason lah yg menggelapkan uang itu. Mereka sempat terkejut dengan permintaan Devano karena yg mereka tahu Devano adalah teman William, dan mereka selama ini memang mencuri dan memanipulasi keuangan perusahaan tapi mereka tak pernah memfitnah siapapun apa lagi boss mereka. Dan saat mereka bertanya kenapa Devano melakukan itu, Devano hanya menegaskan lakukan saja dan Devano bahkan bersedia membayar mereka jika mereka berhasil melakukan nya dengan baik.


"Ada apa kami di panggil kesini?" tanya Harris, .


"Kejahatan kalian akan terekspos" jawab Devano dengan santai nya yg membuat ketiga orang itu terkejut.


"Apa maksud mu?" tanya Roy.

__ADS_1


"Aku memanggil kalian hanya untuk memberi tahu hal itu. Akui kesalahan itu dan mungkin hukuman kalian akan di ringankan. Jika kalian mencoba kabur, akan ku pastikan kalian dan keluarga kalian tidak akan mendapatkan tempat berteduh dimana pun" Roy dan Harris tertawa sinis mendengar ancaman Devano. Sementara Agus hanya terdiam karena ia tahu Devano tak pernah main main dengan kata-kata nya.


"Kalau kami terekspos, kamu juga terekspos" ujar Roy namun Devano malah menyunggingkan senyum ejekan nya.


"Memangnya apa yg ku lakukan? Apa aku mengambil uang Jason?" tanya Devano sarkastik.


"Tapi kamu yg menyuruh kami agar menuduh Jason dan memanipulasi semua bukti" sanggah Harris.


"Apa ada bukti aku melakukan itu?" Devano kembali menyunggingkan senyum licik nya yg membuat Harris dan Roy sadar ternyata Devano cukup licik dan jahat.


"Aku akan mengatakan pada Jason kalau kamu yg menyuruh kami memfitnah nya. Selama ini kami memang mencuri dari perusahaan tapi kami tidak pernah bermaksud mengkambing hitamkan oran lain"


"Bukti nya mana? Dan apa menurut kalian Jason akan percaya?"


Harris dann Roy terdiam, mereka memang tak punya bukti keterlibatan Devano dalam kehancuran Jason dan perusahaan nya.


"Kamu benar benar licik" desis Harris menahan amarah.


"Lebih tepat nya, cerdik" ujar Devano sambil berseringai.


"Kami tidak akan pernah mengaku" tegas Roy.


"Padahal aku memanggil kalian untuk berbicara baik baik dan kalian mengaku tanpa paksaan, itu akan meringankan hukuman kalian"


"Tidak akan pernah" tegas Harris kemudian ia dan Roy segera pergi dengan amarah yg memuncak.


Kini tinggal Agus sendirian dan ia masih terdiam.


"Lalu apa yg harus ku lakukan?" tanya Agus kemudian.


"Aku punya satu permintaan, Devano" ujar Agus kemudian "Karin di tolak di semua sekolah swasta gara gara gosip yg beredar di sekolah sebelum nya. Ku mohon, Devano. Biarkan Karin kembali ke sekolah nya yg dulu"


Devano terdiam beberapa saat, kemudian ia mengangguk.


"Tapi dengan satu syarat, jauhi Sarah dan jangan pernah berani berbicara dengan Sarah" Agus langsung mengangguk setuju.


.


.


.


Sarah termenung sembari memikirkan hubungan nya dengan Devano. Naina dan Jacob sudah memvonis ia jatuh cinta pada Devano. Keluarga nya mengira Sarah dan Devano saling mencintai, dan Devano sudah sering mengutarakan perasaan nya.


Ah, semua hal itu membuat Sarah benar benar pusing. Bagaimana jika Devano memang mencintai nya? dan bagaimana jika Sarah juga mencintai nya? akan jadi setia aap hidup Sarah nanti?


"Melamun terus nih" ujar Naina sambil membawakan semangkuk bakso untuk Sarah dan semangkuk bakso untuk diri nya "Samapek engga sadar kalau ada yg perhatiin" lanjut nya yg langsung membuat Sarah mengernyit. Kemudian Naina memberi isyarat dan saat Sarah menoleh, terdapat Vino yg duduk tak jauh dari sana sedang tersenyum pada Sarah.


Dan beberapa saat kemudian Vino berdiri dan berjalan menghampiri Sarah.


"Boleh duduk di sini?" tanya Vino.

__ADS_1


"Bebas, nih kursi bukan punya ku" ujar Naina yg langsung membuat Sarah tertawa begitu juga dengan Vino.


"Tumben kamu mau dekat dekat sama kita" Ujar Sarah kemudian "Engga takut di goisipin juga?"


"Aku yakin Papa kamu bukan orang seperti itu" ucap Vino yg membuat Sarah mengangkat alis nya.


"Itu baru teman" sambung Vino. Kemudian Vino pun juga memesan bakso pada ibu ibu kantin dan mereka mengobrol sambil menikmati bakso mereka.


Selama ini mereka tak pernah dekat dengan Vino si cowok most wanted di sekolah itu, Vino sangat pilih pilih dalam berteman. Tapi entah ada angin apa Vino sekarang mau berteman dengan Sarah dan Naina.


.


.


.


Sepulang nya dari sekolah, Sarah mampir ke toko roti dan membeli beberapa roti dengan berbagai varian rasa.


Sesampainya dirumah, ia membagi roti itu ke Bi Eni, Lolly dan juga ke Aldo.


Setelah itu Sarah bergegas ke kamar nya karena ia merasa lelah dan mengantuk. Sarah segera berganti pakaian dan naik ke atas tempat tidur dan ia tertidur sampai lupa memakan roti nya.


Di sore hari, Sarah terbangun tepat saat Devano mesuk ke kamar nya. Belum sempat Sarah mendapatkan kesadaran sepenuh nya, tiba tiba ia mendapatkan kecupan mesra di kening nya yg langsung membuat Sarah melotot.


"Apa apaan sih, Dev" teriak Sarah yg sudah mulai jengah karena Devano terus memperlakukan nya seperti seorang istri.


"Hanya merindukan istri ku" ujar Devano kemudian ia melemparkan jas nya ke sofa. Menggulung lengan kemeja nya hingga siku dan ia melihat roti yang masih terbungkus di meja.


Devano sudah hendak mengambil nya namun Sarah menyuruh nya cuci tangan dulu.


"Jorok banget" gerutu Sarah yg membuat Devano terkekeh. Devano pun bergegas ke kamar mandi untuk cuci tangan. Setelah selesai ia kembali dan mendapati Sarah yg sedang merapikan kembali ranjang nya.


"Kamu yg beli?" tanya Devano sembari membuka bungkus roti itu dan langsung memakan nya.


"Hem" jawab Sarah kemudian gantian ia yg ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Baru saja ia mennyiramkan air ke wajahnya, Sarah di kejutkan dengan suara gelas yg seperti nya jatuh. Sontak Sarah langsung berlari ke luar dan ia mendapati Devano yg terkulai di lantai dengan wajah memerah.


"Devano..." teriak Sarah berlari ke arah Devano. Devano tampak kesulitan bernafas dan ia memegang dada nya. Wajah nya sudah sangat merah seperti terbakar matahari, Sarah memangku kepala Devano sambil terus berusaha membuat Devano tersadar.


"Dev, kamu kenapa?" Sarah mencoba membuat Devano berdiri namun ia tak sanggup. Apa lagi nafas Devano yg kini semakin berat.


"Bibi En... Lolly...." teriak Sarah sekuat mungkin berharap kedua pembantu nya itu mendengar nya.


"Bibi En.... Devano pingsan!" teriak Sarah lagi dan ia benar benar ketakutan melihat Devano yg seperti orang sekarat.


Tak lama kemudian Bi Eni dan Lolly datang, keduanya sangat terkejut melihat Devano yg tergelatak di lantai.


"Tuan..." Bi Eni segera menghampiri Devano dan ia melihat sepotong roti di samping Devano "Dia makan roti ini? Dia alergi kacang Nyonya Sarah" ujar Bi Eni yg langsung membuat Sarah terperangah. Ia mengambil sisa roti Devano dan memang itu yg isi nya kacang.


"Lolly, panggil Aldo sekarang! Kita harus membawa Tuan Devano kerumah sakit"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2