
Jam 12 lewat acara pernikahan baru selesai, keluarga William pun kembali ke kamar hotel mereka masing masing.
Untuk sesaat, William melupakan masalah teror foto gadis itu. Ia terlalu bahagia malam ini karena akhir nya bisa bersama Freya dalam ikatan yg lebih kuat.
William yg baru keluar dari kamar mandi melihat Freya yg sedang melepaskan tatanan rambut nya. William pun menghampiri nya, memeluk nya, dan menghirup aroma dari Freya yg membuat nya merasa tegangan. Dua tahun lebih menjalin kasih, namun William dan Freya tetap menjaga batasan nya. Mereka lakukan hal itu agar merasa istimewa di malam pertama mereka.
"Masih lama?" tanya William sambil menciumi leher jenjang Freya.
"Kamu tidur duluan aja, pasti capek kan?" tanya Freya sambil berbalik dan menatap William.
"Engga kok, masih ada cukup tenaga buat malam ini" goda William. Tiba tiba Freya memasang wajah meringis nya dan menatap William dengan rasa bersalah.
"Lagi dapet, Will. Hehe" ujar nya yg membuat wajah bahagia William langsung berubah datar "Ya maaf, mau gimana lagi" gumam Freya sambil cemberut. Namun tiba tiba William kembali tersenyum.
"Happy birthday, my wife..." ucap nya. Ia berjalan ke belakang Freya. Mengeluarkan sebuah kalung berlian dan memakaikan nya pada Freya. Membuat Freya sangat terkejut sekaligus terharu.
Hari ini, ada banyak sekali kejutan dari William "Ini adalah hadiah pertama mu sebagai istri ku,kamu suka?" tanya William dan ia mengecup leher Freya setelah mengaitkan kalung nya. Ia memutar tubuh Freya hingga berhadapan dengan nya.
"Tapi, Will... Ini pasti sangat mahal kan?"
"Buat wanita yg selalu menemani ku dalam keadaan apapun, hadiah ini engga ada apa apa nya" lirih William yg kembali membuat Freya terharu. Ia langsung berhambur kedalam pelukan William dan William pun menyambut nya.
Freya mencium bibir William dan sudah pasti William juga sudah menyambut nya. Freya mengalungkan lengan nya di leher William saat William semakin memperdalam ciuman nya. Membuat Freya mabuk kepayang, ia mendesah dalam ciuman itu saat William mulai membuka satu persatu kancing kebayanya dan meloloskan kebaya itu.
Memperlihatkan tubuh Freya yg ternyata tak memakai apa pun lagi. Freya langsung memeluk William dengan erat, ia merasa malu. Untuk pertama kalinya William melihat nya half naked. Dingin nya udara pun langsung menyentuh kulit nya namun darah nya terasa berdesir hangat.
William meraba punggung mulus istri nya. Sembari ia mengecup pundak Freya, mencium nya dan meninggalkan jejak kemerahan disana.
"Will..." desah Freya saat tangan William sudah menjalar ke bagian depan tubuhnya. Memegang dengan lembut bagian yg begitu tentu sensitif. William memperhatikan wajah Freya yg memerah dengan nafas yg mulai memburu. William sangat menyukai ekspresi terangsang Freya.
"So beautiful..." lirih William dengan nafas yg berat. Mata nya pun menggelap sarat akan gairah.
__ADS_1
"Will, aku.. Lagi... Will..." Freya ingin menghentikan ini, tapi William terus merangsang nya, menyentuh setiap senti kulit nya yg membuat Freya merasa kepanasan.
"Cuma pemanasan, Fe" ucap William yg mengerti apa yg ingin Freya katakan "Apa masih sangat berdarah?" tanya William dan Freya menggeleng.
William pun menghentikan aksi nya.
"Jadi, kalau udah engga berdarah bisa kan?" tanya William yg tampak nya tak sabar ingin menikmati lembah surga Freya.
"Engga bisa, Will. Maksud ku, udah engga berdarah tapi belum benar benar bersih. Biasanya aku 8 hari, ini hari ke 7. Jadi tunggu sampai hari ke 9 ya...." minta Freya malu malu. Semburat merah di pipi nya membuat nya semakin tampak cantik.
"Bisa dengan jari kan?" tanya William tiba tiba yg langsung membuat Freya melotot terkejut. Freya tak percaya William bisa se mesum ini ternyata "Ayo lah, Fe. Aku engga tahan..." rengek William.
Freya terdiam sesaat, namun dengan malu malu kemudian ia mengangguk pelan yg membuat William langsung melompat girang. Sekali lagi, Freya baru tahu sisi William yg konyol ini.
Sekarang Freya berfikir William versi pacar dan William versi suami akan sangat berbeda.
.........
Devano takut Sarah meninggalkan nya jika tahu apa yg sudah ia lakukan. Tapi Devano juga tak mungkin menyembunyikan kebenaran ini dan hidup dengan perasaan was was setiap saat.
Devano menatap Sarah yg tertidur pulas di sisi nya. Devano membelai wajah Sarah, menyingkirkan anak rambut yg menganggu wajah cantik nya. Devano mengecup pipi Sarah sebelum akhirnya ia merangkak turun dari ranjang, mengambil rokok dan korek api nya. Kemudian ia berjalan menuju balkon.
Devano merokok di balkon sembari memperhatikan kota di malam hari. Dan saat asyik menyesap rokok nya, Sarah datang dengan hanya memakai kemeja nya yg menjadi daster di tubuh mungil Sarah.
"Aku hamil..."
"Apa... Agh..." Sarah mengucapkan kabar itu dengan sangat tenang dan dengan ekspresi datar namun itu membuat Devano sangat terkejut bahkan tanpa sengaja ia menjatuhkan rokok nya yg masih menyala dan mengenai punggung kaki nya.
"Kamu lupa minum pil?" tanya Devano yg membuat Sarah mendengus.
"Jadi gitu ya respon suami saat tahu istri nya hamil..." ucap Sarah ketus dengan ekspresi marah dan kecewa. Ia pun berjalan masuk dengan menghentakan kaki nya. Devano pun segera menyusul Sarah dengan melangkah lebar.
__ADS_1
Sarah duduk di tepi ranjang, ia menatap tajam Devano. Devano pun bertekuk lutut di depan Sarah. Ia menggenggam tangan Sarah dan mengecup nya berkali kali sementara Sarah masih memasang wajah cemberut nya.
"Bukan gitu, Sayang... Aku senang kalau kamu hamil, tapi kan kita sudah merencanakan itu sebelumnya. Tadi aku cuma refleks karena kaget, Little girl. Jangan marah ya" tutur Devano dengan sangat lembut.
"Jadi aku harus gimana?" tanya Sarah lagi mash dengan nada ketus.
"Ya kita akan rawat bayi kita sama sama, kalaupun kamu mau berhenti sekolah engga apa apa" ujar Devano sangat serius dan tiba tiba tawa Sarah pecah seketika. Membuat Devano mengernyit bingung.
"Dev, maaf... Aku engga hamil" ujar Sarah yg kini gantian membuat Devano menatap tajam Sarah.
"Kamu ngerjain aku?" tanya Devano marah.
"Ya habis nya sejak tadi aku liat kamu kayak punya beban segunung. Udah kayak bapak bapak yg punya anak 5 dan engga punya pekerjaan" tutur Sarah. Kemudian ia pun membingkai wajah Devano dengan tangan mungil nya. Membuat Devano menatap nya "Kamu kalau ada masalah cerita sama aku, Dev. Meskipun aku engga bisa bantu tapi mungkin dengan bercerita bisa buat kamu sedikit lebih tenang" ujar Sarah serius.
Devano bangkit dan kini ia merangkak naik ke atas ranjang. Ia merebahkab tubuhnya dengan dan mengulurkan tangannya pada Sarah. Sarah pun menerima uluran tangan Devano dan Devano langsung menarik Sarah kedalam pelukan nya.
"Nanti, aku akan ceritakan semua nya. Sekarang sudah malam, jadi tidurlah" Devano membelai rambut Sarah.
"Tapi, Devano..."
"Tidur, Sayang... Atau haruskah kita berlomba dengan William dan Freya? Siapa yg bisa bergulat sampai pagi? Hm?" goda Devano yg membuat Sarah langsung mencubit pinggang Devano.
"Tapi boleh juga..." ujar nya kemudian yg membuat Devano tercengang sesaat. Namun kemudian ia segera bergerak dan membuat Sarah berada di bawah nya.
"Are you sure?"
"Why not?" goda Sarah
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1