
Waktu terus berjalan, dan perjuangan William juga Devano pun masih berlanjut untuk menemukan gadis kecil mereka. Harus William akui, adik nya itu cerdas dan nekat. Sarah pasti memastikan tempat persembunyian nya tak dapat mereka jangkau, tapi dimana? Luar kota? Atau bahkan luar negeri?
Dan ini sudah berlangsung tiga minggu lebih, William tak tahu lagi harus mencari kemana. Walaupun begitu William sedikit tenang karena keadaan Mama nya berangsur membaik, Venita selalu meyakinkan diri nya sendiri dan juga yg lain bahwa Sarah pasti baik baik saja dan pasti akan segera pulang. William mengerti, ibunya melakukan hal itu untuk menekan rasa khawatir nya terhadap putri nya, sehingga ia terus menerus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sarah baik baik saja.
"Fe..." seru William yg melihat Freya berlari memasuki rumah. William mengerutkan kening nya dalam saat melihat raut ketakutan di wajah Freya bahkan istri nya itu berkeringat seolah baru saja lari dari bahaya yg besar "Ada apa, Sayang?" tanya William lembut sembari memeluk Freya.
"Tadi... tadi..." nafas Freya yg tersengal membuat Freya kesulitan berbicara.
"Ssshhtt, tenang ya. Kamu di rumah, aman. Hm.." William merangkul Freya menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar mereka, William memberikan sebotol air pada Freya agar istrinya itu lebih tenang. Dengan cepat Freya meneguk air itu.
"Sudah baikan?" tanya William lembut dan Freya mengangguk "Sekarang cerita sama aku, ada apa? Apa ada yg menyakiti mu?" tanya William. Freya tampak ragu untuk berbicara, namun ia seperti tertekan dan ketakutan. Hal itu membuat William menjadi sangat khawatir pada istrinya "Fe, kamu bisa cerita apapun sama aku. Aku ini suami kamu, Sayang. Kalau kamu ada masalah, aku ingin jadi orang pertama yg tahu. Kalau ada yg menganggu mu, aku ingin jadi orang pertama yang melindungi mu" tutur William tulus yg seketika membuat hati Freya menghangat.
Ia meneguk air itu sekali lagi, kemudian ia menarik nafas dan menatap William.
"Saat ini aku memegang kasus pemerkosaan, Will" ujar Freya pelan.
"Masih kasus nya anak SMA yg di perkosa teman teman nya itu? Hm siapa nama nya, Evy?"
"Ya, Evelyn..." jawab Freya.
"Terus kenapa? Bukan nya kasus nya sudah hampir tiga minggu ya? Udah dapat bukti baru?" tanya William.
"Bukan hanya bukti, kami sudah dapatkan pelaku nya" jawab Freya dan wajahnya tampak tegang.
__ADS_1
"Terus kenapa, Sayang?" tanya William lagi karena melihat gelagat Freya yg berbeda.
"Pelaku nya... Anak kepala sekolah nya sendiri dan guru olah raga nya" jawab Freya yg seketika membuat William langsung merinding ngeri.
"Oh Tuhan, bagaimana bisa..." gumam William tak percaya "Mereka harus di hukum dengan hukuman yg seberat berat nya, Fe" geram William marah. Ia tak habis fikir, bagaimana seorang guru bisa melakukan hal keji seperti itu pada anak didik nya.
"Aku juga menginginkan hal yg sama, Will. Bahkan aku ingin membakar mereka rasa nya, tapi..."
"Tapi kenapa?" tanya William dengan suara rendah. Sementara Freya langsung menunduk dan menangis, bahkan tubuhnya bergetar.
"Aku takut, Will..." lirih Freya dan William langsung memeluk Freya dan menenangkan nya, William menduga pasti Freya di ancam "Mereka mau aku mundur dari kasus ini dan kalau engga, mereka... Mereka bilang akan membuat ku bernasib sama seperti Evelyn. Bahkan mungkin lebih buruk..." ucap Freya sesegukan.
Hati William terasa panas mendengar hal itu, darah nya mendidih mendengar orang mengancam istri.
" Ssshhtt, jangan takut, Fe. Aku janji akan melindungi kamu, Sayang "ucap William kemudian mencium pucuk kepala Freya beberapa kali.
"Lalu bagaimana kalau mereka melukai kamu, Sayang?" tanya William khawatir. Freya melerai pelukan nya, ia mengusap air matanya dan berusaha menghentikan tangis nya.
"Kalau mereka bisa melukai ku, itu masih kalau, Will" ucap Freya "Tapi kalau aku engga menghukum mereka, sudah pasti gadis lain akan bersnasib sama seperti Evelyn"
"Ya, kamu benar" ucap William. Ia membelai pipi Freya dengan lembut "Lakukan apapun yg menurut mu benar, aku akan mendukung mu, Sayang. Dan mulai besok, aku akan menyewa sopir yg juga akan jadi bodyguard mu"
"Terima kasih, Will. Kalau kamu selalu mendukung ku, aku pasti akan berani menghadapi apapun"
__ADS_1
William tersenyum samar mendengar ucapan istri nya itu, ia mengecup kening nya dengan sayang "Aku ingin jadi perisai kamu, Fe. Karena aku sangat mencintaimu"
...... ...
Mia benar benar kawalahan mengurus kantor Devano, sementara Devano selalu sibuk dengan pencarian Sarah. Ia bekerja, namun pekerjaan nya tak pernah maksimal.
Ada begitu banyak meeting yg terpaksa Mia batalkan, bahkan client client Devano pun sudah terabaikan. Berbagai pekerjaan menumpuk dan tak terurus.
Devano sendiri masih tak ingin menyerah dan tak akan menyerah untuk menemukan Sarah. Ia mencari ke berbagai tempat, namun Sarah tak meninggalkan jejak sedikitpun. Ia menghilang seperti di telan bumi, berkali kali Devano menelusuri tempat terkahir kali Sarah terlihat, yaitu Di sekitar Villa Mama nya Juan, namun mereka kehilangan jejak. Mereka tak menemukan petunjuk apapun.
Devano sudah merasa sangat frustasi, bukan hanya perusahaan nya yg tak terurus. Bahkan dirinya sendiri pun sangat tidak terurus, entah kapan dia mandi dan entah kapan dia makan dan tidur.
"Saya yakin Nyonya Sarah baik baik saja, Tuan. Dia gadis yg kuat dan pemberani" ujar Dominic yg saat ini sedang menyetir, sekarang Dominic tak membiarkan Devano menyetir sendiri lagi karena tiga hari yg lalu Devano kehilangan fokus nya saat menyetir dan ia mengalami kecelakaan.
Namun syukurlah ia baik-baik saja dan hanya mengalami luka ringan.
"Aku tahu..." jawan Devano sambil memandang keluar sana, Devano teringat saat saat bersama Sarah. Dan ya, Sarah gadis yg kuat dan pemberani. Sarah takkan membiarkan siapapun menyakiti nya, Sarah akan selalu melindungi dirinya. Sarah akan baik baik saja, pasti. Itulah yg selalu coba Devano tanamkan dalam fikiran nya, berharap ia sedikit tenang.
Kedua mata Devano terlihat sangat sayu dan lingkaran hitam terlihat sangat jelas di bawah mata nya karena Devano benar benar kurang tidur. Tubuh nya pun tampak semakin kurus karena ia benar benar tak memperhatikan pola makan nya, sementara kini Devano sering merokok. Jika dulu satu bungkus rokok akan ia habiskan dalam waktu dua hari, sekarang ia menghabiskan dua bungkus rokok dalam waktu sehari.
Devano tak menghindahkan peringatan Dominic, Aldo maupun Bi Eni tentang kesehatan nya. Devano benar benar sudah kehilangan arah tujuan dalam hidup nya.
Tanpa Sarah, Devano tersesat dalam diri nya sendiri.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...