
Pria pria tampan itu mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut rumah yg Sarah sewa, mereka semua meringis, bahkan Dominic harus garuk garuk kepala melihat rumah yg sangat sederhana itu. Kamar pembantu di rumah Nyonya muda nya itu bahkan jauh lebih baik dari ini.
Apa lagi melihat dinding dari kayu, jendela dari kayu dan hanya ada kaca yg kecil.
"Sarah, kamu bisa hidup di sini berbulan bulan sendirian?" tanya William sangat prihatin dengan kondisi rumah itu.
"Memangnya Nyonya Sarah tidak takut? Maling bisa masuk dengan mudah lho ke rumah ini, tendang dikit, roboh semua" ujar Dominic yg membuat Sarah langsung tertawa, dimana tawa itu tak luput dari pandangan Devano karena sejak tadi ia memang selalu memandangi istri nya itu dan ia tak tertarik sama sekali untuk memandangi tempat tinggal istrinya.
"Kayaknya maling kalo mau ke sini juga mikir ribuan kali, apa nya yg bisa di curi dari tempat ini?" sambung Jacob, ia memperhatikan barang barang di sana dan memang tidak ada apapun, selain perabotan masak.
"Ini memang rumah sewaan, Jack. Maka nya kosong" ujar Sarah.
"Kamu makan apa, Dek? Dan..." William menarik ujung rambut Sarah "Rambut kamu kusut, wajah kamu kusam, kulit kamu gelap..." Sarah cemberut mendengar hinaan total Kakak nya itu.
"Memang benar, kulit Nyonya jadi gelap, padahal dulu putih dan halus seperti kapas" ujar Dominic.
Sementara Devano masih tak bersuara, ia terus memandangi Sarah. Sarah bukan nya tak tahu itu, namun ia berusaha keras mengabaikan hal itu, karena entah mengapa Sarah merasa seperti bertemu pacar setelah LDR an beberapa waktu. Ia menjadi gugup dan salah tingkah.
Kini mereka ada di dapur Sarah "Astaga, Sarah... Ini makanan mu?" tanya William lagi saat melihat satu potong ayam goreng dan satu centong nasi, sementara masih ada sayuran yg belum di masak.
"Iya, tadi nya mau masak sup sayur juga..."
"Apa kabar bayi ku kalau kamu kasih makan itu aja?" tanya Devano yg akhir nya bersuara, ia mendekati Sarah dan Sarah hanya diam saja. Bahkan saat Devano membungkuk di depan nya dan kini wajahnya sejajar dengan perut Sarah "Sayang, kamu sehat kan di sana? Mommy kasih kamu vitamin engga? Kasih kamu susu engga? Kamu tumbuh dengan baik kan?"
"Aku minum susu kok" lirih Sarah kemudian, dan jawaban singkat itu membuat hati Devano berbunga, ia senang karena akhirnya Sarah mau berbicara dengan nya.
"Aku liat di sini engga ada rumah sakit, engga ada apotek, engga ada apapun. Kamu periksa bayi kita kemana? Beli vitamin sama susu nya dimana? Vitamin dan susu nya yg bagus kan?"
"Ini...." seru Jacob menunjukan kotak susu dan vitamin.
"Ini yg bagus apa engga?" tanya Devano kemudian ia mengambil kotak susu itu dan memperhatikan nya.
"Ya mana aku tahu, aku bukan Dokter kandungan" jawab Jacob ketus dan hal itu kembali membuat Sarah tertawa kecil. Melihat hal itu Devano tak bisa menahan diri, ia menarik Sarah dan langsung mengecup bibir nya sekilas. Membuat Sarah langsung melotot terkejut, merasakan tubuhnya panas dingin dan itu terasa seperti ciuman pertama mereka. Sementara Devano hanya terkekeh melihat Sarah yg tersipu seperti itu.
"Huh, liat situasi dan kondisi, Bos..." seru Jacob.
"Sayang, besok kita pulang ya..." bujuk Devano tanpa memperdulikan Jacob.
"Kita harus pulang!" sambung William tegas "Kalau bisa, malam ini juga kita pulang"
"Engga bisa, Kak..." jawab Sarah kemudian "Kalian kan sudah liat jalan kesini kayak apa, besok aja" lanjut nya yg tentu membuat mereka semua bersorak gembira.
"Jadi kita semua menginap di sini?" tanya Dominic kemudian.
"Iya, Om. Tapi kita harus lapor RT dulu, apa lagi kalian semua laki laki. Takut nya di kira warga...."
"Okey okey..." seru Devano dengan senyum sumringah nya "Sekarang kamu makan ya, sebenarnya kita juga lapar. Belum makan dari siang"
"Iya, tapi makanan mu ini aja..." ujar Jacob.
"Masih ada beras dan telur kok"
__ADS_1
"Beras dan telur?" tanya William seolah tak percaya, Sarah mengangguk "Cuma beras dan telur?" sekali lagi Sarah mengangguk.
"Ya udah engga apa apa, yg penting makan dulu" seru Jacob yg sudah merasa kelaparan "Emang di sekitar sini engga ada toko apa gitu?"
"Semua toko tutup saat matahari tenggelam" jawab Sarah.
"Kasian bayi ku hidup di tengah hutan" lirih Devano melirik Sarah, Sarah tak menanggapi nya walaupun sebenarnya ia ingin tertawa geli.
"Jadi, kita cuma makan nasi dan telor?" Dominic pun angkat bersuara.
"Iya, biar aku masakin..." seru Sarah.
"Jangan, Sayang...." Devano berkata dengan cepat "Biar Jacob dan Dominic aja yg masak"
"Iya, William engga mungkin bisa masak, apa lagi Devano..." ujar Jacob menghela nafas berat.
"Kalau gitu aku mau mandi dulu, badan ku lengket semua..." ujar William sambil membuka kemeja nya.
"Kamar mandi nya di sana..." Sarah menunjuk ke belakang dapur, kemudian ia mengambil handuk bersih dan memberikan nya pada William.
William bergegas ke kamar mandi, sementara Jacob dan Dominic memasak. Dan Devano menemani Sarah duduk di ruang tengah.
"Sarah..." teriak William dari kamar mandi, Sarah pun menghampiri nya.
"Ada apa, Kak?" tanya Sarah dari luar.
"Engga ada air hangat?" tanya William dan seketika Sarah tertawa, pertama kali ia tinggal di desa ini ia juga mengalami hal yg sama. Tak ada air hangat.
Dan semua yg mendengar itu pun terkejut "Jadi kita kalau mau mandi harus masak air dulu?" tanya Jacob sambil mengocok telur.
"Iya" jawab Sarah, sekali lagi Jacob menghela nafas berat.
"Bagaiamana bisa tuan putri seperti mu hidup seperti ini Sarah... Sarah..."
Sementara itu, Devano yg berada di ruang tengah mendengar suara ketukan pintu. Ia pun bergegas membuka nya, seorang wanita paruh baya menatap terkejut pada Devano.
"Siapa kau?" tanya wanita itu.
"Saya suami nya Sarah, yg tinggal di rumah ini" jawab Devano tegas. Wanita itu tampak tak percaya dan menatap curiga pada Devano "Saya Devano Lake, kamu siapa? Ada perlu sama istri saya?" tanya Devano masih dengan nada tegas nya.
"Devano Lake?" wanita itu mengulang nama Devano "DevaNeo Fergus Lake..." gumam nya kemudian.
Sarah pun juga keluar "Bu Asih..." sapa Sarah dengan cepat.
"Sarah, dia..."
"Dia... Dia suami saya" jawab Sarah dan Bu Asih pun mengangguk mengerti.
"Jadi suami mu datang menjemput mu, pantas ada mobil mewah di sini" ujar nya dan Sarah hanya menanggapi nya dengan senyum lebar "Oh ya, liontin pesanan mu sudah jadi..." Bu Asih menyerahkan liontin itu dan Sarah segera menerima nya.
"Terimakasih, tapi kenapa Bu Asih yang mengantar ke sini?"
__ADS_1
"Tadi sekalian lewat saja"
"Liontin apa??" tanya Devano sementara Sarah langsung memasukan liontin itu ke dalam saku daster nya.
"Sarah memesan liontin dengan nama calon putra nya" jawab Bu Asih dengan antusias.
"Putra?" tanya Devano tak kalah antusias nya.
"Iya, kemungkinan besar Sarah akan melahirkan anak laki-laki. Sarah bahkan sudah menyiapkan nama yg sangat bagus"
"Oh ya? Siapa?" tanya Devano pada Sarah.
"Terimakasih, Bu Asih. Devano, sebaik nya kamu masuk" ucap Sarah cepat cepat karena ia tak ingin menjawab pertanyaan Devano.
"Namanya mirip dengan nama mu, Tuan. Devaneo Fergus Lake" jawab Bu Asih yg membuat Sarah menghela nafas lesu, sementara Devano. Jangan tanya bagaimana perasaan nya saat ini, sangat berbunga bunga, ia menatap Sarah dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan, tak peduli Sarah yg membuang muka.
"Oh ya, kalau suami mu mau menginap, harus lapor RT ya"
"Iya, pasti. Ada keluarga saya yg lain juga di dalam..." jawab Sarah.
"Kalau gitu saya permisi, Sarah. Besok kita bertemu di sekolah ya"
"Iya, terima kasih"
Setelah Bu Asih pergi, Devano sekali lagi langsung menarik tubuh Sarah, kali ini bukan untuk memeluk nya, tapi untuk merebut liontin yg ada di saku nya.
"Dev... Kembalikan..." seru Sarah kesal.
"Wow, kamu sangat mencintai ku, hm? Sampai anak kita pun mengambil dari nama ku" goda Devano namun Sarah tak menanggapi.
"Devano..." seru Sarah namun Devano malah berlari masuk.
"Perhatian semua nya..." seru Devano sambil memukul kelas dengan sendok. William sudah selesai mandi dan i tampak mengiggil, Jacob masih menggoreng telur, sementara Dominic terus memperhatikan rice cooker mini Itu. Tampak nya ia sudah sangat lapar...
"Ada apa?" tanya William yg masih menggiggil.
"Aku dan Sarah akan punya anak laki laki, nama nya Devaneo Fergus Lake...." seru Devano seperti mengumumkan sebuah proyek besar dalam meeting. Ia memperlihatkan liontin dari ukiran kayu itu, di di liontin itu terukir nama devaneo Fergus Lake dengan tulisan yg cukup kecil.
Semua orang terlihat sangat bahagia dengan kabar itu, mereka bahkan berpelukan tanpa sadar saking bahagianya. Seperti memenangkan sebuah tender yg besar.
Dan melihat itu, hati Sarah tersentuh. Sebegitu berarti diri nya dan bayi nya bagi mereka. Apa lagi melihat kebahagiaan di mata Devano, bahkan Sarah melihat Devano mengucek mata nya yg berkaca kaca. Devano begitu bahagia dan terharu, ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup nya, anugerah terbesar dalam hidup nya.
Devano menghampiri Sarah yg masih diam memperhatikan pria pria itu, Devano langsung memeluk Sarah dan Sarah merasakan sebuah tetesan air mata di pundak nya.
Devano tak mampu bersuara, namun satu isakan kecil lolos dari bibir nya, itu adalah tangis kebahagiaan nya. Sarah pun tak bisa bersuara, namun ia juga meneteskan air mata nya, Sarah melingkarkan lengan nya di pinggang Devano dan ia membalas pelukan Devano. Membuat Devano semakin tak mampu menghentikan air matanya bahagianya.
Untuk saat ini, mereka membiarkan bibir mereka bungkam. Namun pelukan serta air mata itu telah mewakili segala perasaan yg mereka rasakan. Kerinduan, kasih sayang, cinta dan mensyukuri anugerah yang sangat besar itu bersama.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1