
Devano terbangun saat terdengar suara ayam berkokok, perlahan ia membuka mata dan seketika senyum mengembang di bibir nya melihat sang kekasih hati yg terlelap cantik di pelukan nya.
Harus Devano akui, tubuh Sarah yg lebih berisi atau bahkan sedikit gemuk membuat ia tampak sangat cantik dan dewasa. Tak terlihat seperti gadis 18 tahunan, dia juga begitu menggoda bahkan saat tertidur seperti ini. Tak tahan, Devano mengecup bibir Sarah membuat Sarah mengerang kesal karena tidur nya yg terganggu. Namun ia kembali terlelap kemudian, Devano pun kembali mengecup bibir Sarah yg sedikit terbuka itu, kecupan yg berubah menjadi sebuah ciuman dan ******* yg menuntut. Memaksa Sarah membuka mata dan tatapan nya bertemu dengan tatapan Devano yg terlihat begitu sendu.
"Selamat pagi..." ucap Devano serak.
"Ini masih tengah malam..." balas Sarah dan ia semakin mendesakan tubuh nya ke tubuh Devano, memeluk nya dan mencari kehangatan yg sudah lama tak ia dapatkan.
"Aku engga bisa tidur, Sayang..." ucap Devano kemudian, Sarah kembali membuka mata. Devano memang tak bisa tidur, dan ia hanya tertidur sekitar satu jam yg lalu namun kemudian ia harus terbangun karena suara ayam berkokok itu.
"Kenapa?" tanya Sarah lirih.
"Ada dua alasan aku engga bisa tidur, yg pertama karena suara ayam sialan itu dan tempat nya yg jujur saja membuat ku engga nyaman. Yg kedua, aku terlalu bahagia..." Devano kembali mengecup sudut bibir Sarah, seolah itu adalah morfin yg membuat nya benar-benar kecanduan. Selalu ingin lagi dan lagi, dan ia tak akan pernah merasa puas.
"Maaf..." lirih Sarah yg merasa bersalah. Ia pun berusaha duduk dan Devano membantu nya.
Sarah membelai rahang Devano, dan bulu bulu halus tumbuh di sana. Rambut Devano juga panjang, Sarah mengusap rambut Devano ke belakang, hanya sentuhan seperti itu dan Devano merasa sangat bahagia. Ia memejamkan mata, menikmati belaian belahan jiwa nya yg sempat hilang.
"Berapa lama kamu engga potong rambut dan engga cukur?" tanya Sarah.
"Entahlah, aku engga bisa melakukan apapun tanpa mu" lirih Devano, ia mengambil tangan Sarah mengecup telapak tangan nya yg terasa dingin "Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Sarah. Ku mohon..." pinta Devano dengan tatapan sayu nya.
"Aku..."
"Sarah, Devano...." ucapan Sarah terpotong saat terdengar suara William dari luar kamar mereka, bahkan pintu kamar nya juga di gedor.
Sarah pun merangkak turun dari ranjang sempit itu, ia membuka pintu dan mendapati tiga pria itu sudah berdiri di depan kamar nya.
"Ada apa?" tanya Sarah.
"Kita pulang sekarang?" tanya William seolah ia benar benar tidak betah di tempat itu.
"Itu jalanan masih gelap, Kak. Aku juga masih harus ke sekolah dan berpamitan ke Bu Asih dan juga guru guru yg lain" ujar Sarah yg langsung membuat William memberengut kesal. Begitu juga Dominic dan Jacob.
"Di sini sangat dingin, Nyonya Sarah" ujar Dominic.
"Dan juga banyak nyamuk, engga ada sinyal juga" sambung Jacob.
"Kalau kalian kedinginan kan bisa saling pelukan...." seru Devano sambil tertawa dari dalam.
__ADS_1
Ketiga pria itu saling pandang dan kemudian menggeleng geli "Ogah" seru Jacob
"Engga, aku engga mau menodai pernikahan ku dengan Fe" lanjut William.
"Saya juga engga mau, menggelikan" sambung Dominic.
"Ya udah, sekarang mending kalian mandi. Jadi nanti kita bisa langsung pergi" ujar Sarah kemudian "Aku mau packing barang barang ku dulu..." lanjut nya.
"Packing barang apa?" tanya Devano yg sudah turun dari ranjang.
"Pakaian ku..."jawab Sarah.
Devano memperhatikan Sarah dari atas ke bawah "Engga usah, Sayang. Buat apa? Baju Lolly dan Bi Eni aja lebih bagus dan lebih mahal dari baju mu ini..." seru Devano menarik pinggiran daster Sarah.
"Benar banget, apa kata Papa Mama nanti kalau kamu pakek daster beginian? Masak iya putri dari pemilik Fergus Group baju nya gitu amat"
"Dan jangan lupa, kamu itu istri Devano Lake. Ibu dari pewaris Lake's Corp"
Sarah hanya menggelengkan kepala nya sambil terkekeh kecil "Ya udah, sekarang kalian masak air, mandi nya jangan lama lama. Soalnya air mahal di sini, sama masak air nya jangan sampai benar benar mendidih, asal hangat aja. LPG juga mahal di sini" tutur Sarah yg membuat pria pria itu kembali menghela nafas lesu.
Tapi benar kata Sarah, setidaknya hal ini membuat mereka lebih mensyukuri hidup mereka di kota. Dominic dan Jacob memang tak sekaya Devano dan William, tapi hidup mereka lebih dari kata berkecupan dan lebih dari kata layak.
Sarah berpamitan dengan murid murid dadakan nya itu, mereka tampak keberatan dan sedih saat Sarah mengatakan ia harus pergi dan berhenti mengajar. Mereka mengatakan sangat menyukai Sarah yg cantik dan pintar, mereka suka belajar bahasa Inggris yg kata mereka itu terdengar sangat keren.
Setelah memberikan sedikit nasehat sebagai guru, Sarah pun berpamitan tentu setelah anak anak itu berhambur untuk memeluk Sarah.
Devano dan yg lain nya menjadi sangat terharu saat melihat hal itu, mereka juga sangat prihatin dengan keadaan sekolah yg jauh dari kata 'baik'. Sarah bahkan mengatakan kelas banyak yg bocor, sehingga saat hujan mereka harus menumpuk di tempat yg tidak bocor.
Papan pun masih menggunakan papan hitam dan kapur tulis. Mata pelajaran mereka juga masih terbatas, terutama dalam bahasa asing dan teknologi.
Setelah menemui murid murid nya, Sarah menemui Bu Asih. Sarah memperkenalkan Bu Asih dengan Devano, William, Jacob dan Dominic yg Sarah perkenalkan sebagai Om nya.
"Terima kasih banyak sudah membantu adik saya, Bu" ucap William.
"Sarah gadis yg pintar dan berani, saya tidak menyangka ternyata dia masih SMA" tutur Bu Asih setelah tahu yg sebenarnya. Awalnya Bu Asih mengira Sarah kabur dan berhenti sekolah karena dia hamil, tapi setelah Sarah bercerita jujur tentang rumah tangga dan keluarga nya, Bu Asih menjadi mengerti. Walaupun ia sedikit heran bagaimana bisa Sarah menikah di usia yg sangat muda dan mereka berasal dari keluarga kaya raya. Yg sangat tidak mungkin Sarah menikah karena mau bayar hutang atau sudah tak sanggup sekolah lagi. Namun Sarah mengatakan ada kisah tersendiri di balik pernikahan nya yg Sarah tak bisa menceritakan nya secara detail.
"Dan ini ada sedikit dana untuk sekolah..." Devano menyerahkan satu lembar cek pada bu Asih, Bu Asih yg melihat nominal di cek itu langsung menganga lebar. Ia kemudian menatap Devano dan Sarah bergantian, seolah ia tak percaya dengan apa yg baru saja di dapatkan nya.
"Lima ratus juta?" tanya Bu Asih setengah berbisik, ia benar benar tak menyangka sekolah nya dapat dana sebesar itu.
__ADS_1
"Iya, jika nanti ada keperluan sekolah lagi, Ibu bisa menghubungi asisten pribadi saya, nama nya Mia. Dan dana ini dari Saya dan William. Saya dan dan William akan selalu siap membantu sekolah ini" Dominic memberikan nomor Mia pada Bu Asih.
Bu Asih meneteskan air matanya tanpa sadar, ia sangat terharu dengan bantuan ini...
"Terimakasih banyak, Pak... Ini... Ini sangat berarti buat sekolah kami" ujar Bu Asih "Terimakasih banyak, Sarah. Kamu pembawa rezeki ternyata" ujar Bu Aisah sambil terkekeh.
"Kembali kasih, Bu Asih. Semoga ini bermanfaat untuk sekolah"
Ujar Sarah yg ikut bahagia, ia sendiri tak menyangka Devano dan William akan memberikan bantuan sebesar itu dan ia sangat bangga pada suami dan kakaknya itu.
Setelah berpamitan, Sarah dan yg lain nya pun bersiap pergi dari desa itu. Sarah benar benar tak membawa apapun dari sana, ia pergi seperti ia datang, tak membawa apapun.
Sarah terlihat sedih meninggalkan desa tempat ia tinggal itu, di desa itu ia belajar banyak hal. Bagaimana menjadi mandiri, menghargai uang karena ternyata mencari uang sangat lah sulit. Ia juga harus banyak banyak bersyukur, ada begitu banyak orang yg ingin memiliki pendidikan yg tinggi, tapi Sarah dengan enteng nya meninggal kan sekolah nya yg sangat elit itu. Ada begitu banyak orang yg ingin tinggal bersama keluarga nya dalam keadaan berkecukupan. Tapi Sarah malah meninggalkan keluarga yg telah memberikan Sarah segalanya.
"Ternyata ada banyak orang yg hidup nya tidak lebih baik dari kita..." ujar Jacob.
"Iya, mereka kesulitan. Kasian sekali..." sambung Dominic yg saat ini sedang menyetir.
"Terima kasih, Sayang. Sudah memberikan pelajaran dalam hidup kami" ujar Devano dan ia mengecup pelipis Sarah.
Setelah menempuh perjalanan yg cukup jauh, Dominic menghentikan mobil nya.
"Kenapa berhenti?" tanya Sarah.
"Gantian nyetir nya..." jawab William dan kini ia yg menyetir "Kalau engga gantian, bisa patah tangan Dom" lanjut nya yg membuat Sarah tertawa kecil. Dominic sendiri menguap.
Seperti itulah perjalanan mereka, mereka bergantian menyetir dan sesekali menepi. Dan mereka juga membawa persediaan bensin, karena sebelumnya mereka kehabisan bensin dan ternyata tak ada pom bensin di sana. Ada tapi pom mini dan jarak nya cukup jauh, karena itulah mereka membuat persediaan. Saat melewati toko toko kecil, mereka berhenti untuk berbelanja dan membeli beberapa roti serta air mineral untuk mengganjal perut mereka.
"Ini perjalanan terbaik dan terburuk dalam hidup ku" ujar Jacob yg kini giliran nya menyetir, sementara William sudah tertidur pulas karena semalam ia tak bisa tidur begitu juga yg lain nya.
"Kenapa gitu?" tanya Sarah yg masih segar, karena ia adalah satu satu nya orang yg tertidur nyenyak. Tentu saja, siapa yg tak nyenyak tidur dalam pelukan suaminya?
"Perjalanan nya sulit, tapi ini pengalaman baru dan rasanya menyenangkan"
"Kamu engga ngantuk, Sayang?" tanya Devano dan Sarah menggeleng "Aku ngantuk" ucap Devano sambil menguap.
"Ya udah, tidur sini..." Sarah menepuk pundak nya dan Devano langsung menyenderkan kepalanya di pundak Sarah.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc....