
Devano menghampiri Sarah yg saat ini sedang mengerjakan tugas sekolah nya di meja belajar nya.
"Sarah..." panggil nya. Sara pun memutar kursi nya dan ia tersenyum melihat Devano yg tampak sangat seksi dengan rambut nya yg acak acakan, sedangkan kancing atas kemeja nya sudah terbuka dan lengan nya di lipat.
"Apa, Beb?" tanya Sarah menggoda, membuat Devano terkekeh.
"Aku mau nanya sesuatu.." Devano menarik tangan Sarah dan membawa nya ke sofa. Mereka duduk berhadapan.
"Nanya apa? kayaknya serius banget"
"Iya, ini tentang William..." Sarah langsung menatap heran Devano dan ia juga sangat penasaran apa yg ingin di tanyakan Devano "Saat di London, waktu William mengejar gadis itu..." ucap Devano ragu ragu. Sarah adalah harapan terkahir nya untuk mendapatkan petunjuk sekecil apapun tentang penyerangan pada William dan Caitlin dulu.
"Kenapa?" tanya Sarah yg sudah tak sabar ingin tahu pertanyaan Devano.
"Apa kamu ingat sesuatu? Seperti mobil apa yg di pakai, plat nya mungkin. Atau sesuatu yg lain nya"
Sarah semakin merasa bingung dengan pertanyaan Devano.
"Dulu polisi di London juga menanyakan hal yg sama" jawab Sarah "Tapi masalahnya aku engga ingat karena mobil itu melaju sangat cepat. Aku engga memperhatikan mobil itu sama sekali, aku dan Kak William menoleh karena mobil itu melaju sangat cepat dan itu menarik perhatian kita. Saat itulah Kak Will menyadari ada gadis itu disana, aku juga melihat nya cuma engga jelas" jawab Sarah. Devano langsung menghela nafas lesu. Padahal hanya Sarah yg bisa memberikan petunjuk pada Devano, hanya Sarah yg tahu kejadian itu.
"Tapi kenapa kamu tiba tiba nanya soal itu, Dev?" tanya Sarah yg kemudian membuat Devano sedikit bingung harus menjawab apa.
"Engga apa apa, cuma Tante Venita bercerita kalau kasus itu belum terpecahkan" jawab Devano.
"Ya belum dan engga akan pernah terpecahkan, Dev. Selama Kak William masih hilang ingatan dan gadis itu engga muncul. Aku yakin banget Kak William bersama gadis itu, tapi gadis itu menghilang seperti di telan bumi" ujar Sarah. Devano menatap Sarah dengan sayu.
Memang benar, gadis itu sudah di telan bumi sekarang.
Dan Devano menyesal karena tak mengusut kasus ini sejak dulu.
__ADS_1
"Ya udah, kamu lanjut belajar nya. Aku mau mandi..." seru Devano kemudian yg membuat Sarah semakin merasa heran.
"Kamu kenapa sih?"
"Engga apa apa, Sayang" Jawab Devano sambil menepuk pelan pipi Sarah. Ia menyunggingkan senyum hambar nya.
Sarah hanya bisa terdiam sampai Devano masuk ke kamar mandi.
Ia pun kembali ke meja belajar nya dan melihat layar ponsel nya yg menyala. Ada email masuk dan Sarah segera membuka nya.
Sarah mengernyit bingung saat email yg tak ia kenal mengirim foto Devano dan Caitlin. Sarah membalas email itu dan bertanya siapa dia.
"Orang iseng kali ya. Ngapain ngirim foto Dev dan Catty. Wong di sini foto mereka sudah banyak" gumam Sarah. Dan ia pun melanjutkan belajar nya.
.........
Juan yg baru saja menyelesaikan pekerjaan nya segera bersiap pulang. Ia benar benar merasa lelah dengan pekerjaan yg tak ada habis nya.
"Juan Juan... Sebenarnya kamu ini kenapa sih?" tanya Juan pada diri nya sendiri. Naina memiliki sifat yg sama seperti Helen, membuat Juan sangat tertarik pada nya. Tapi sudah pasti, setelah Juan mendapatkan nya maka Juan pasti akan menampakkan nya sama seperti yg ia lakukan pada Helen.
Seandainya Naina bukanlah teman Sarah, sudah pasti Juan akan melancarkan aksi nya tak peduli Naina punya pacar atau suami sekalipun.
Sementara Naina tampak senang karena bisa selalu menghabiskan waktu bersama Jacob.
"Sayang, sebenarnya ada yg ingin aku bicarakan" ujar Jacob dengan suara lirih. Membuat Naina langsung menghentikan langkah nya, ia menatap Jacob lekat lekat.
"Apa kamu ada masalah, Beb?" tanya Naina khawatir. Jacob menggeleng, kemudian ia membawa Naina duduk di sebuah kursi yg ada di pinggir jalan.
"Sebenarnya aku dapat tawaran pekerjaan yg sangat bagus..." ucap Jacob sambil terus menatap mata Naian.
__ADS_1
"Ya bagus dong" jawab Naina senang.
"Tapi pekerjaan ku di Jerman"
"Apa?" pekik Naina, ia tak tahu haruskah merasa senang atau sedih dengan kabar ini. Perasaan nya bercampur aduk.
"Sayang..." lirih Jacob yg melihat ekspresi tak terbaca Naina.
"Terus?" tanya Naina sambil menatap mata Jacob.
"Aku pengen banget kerja di sana, tapi aku belum menerima nya. Aku fikir perlu membicarakan nya dengan mu dulu..." ujar Jacob yg membuat hati Naina merasa tersentuh "Aku engga punya siapapun selain kamu, jadi apapun yg ingin aku lakukan aku fikir aku harus membicarakan nya dengan mu"
"Aku..." Naina tak tahu harus menjawab apa, di satu sisi ia tak mau berpisah dengan Jacob apa lagi dengan jarak yg sejauh itu. Tapi di sisi lain, Naina tak ingin egois apa lagi itu kesempatan bagi karir Jacob.
"Kalau aku engga setuju gimana?" tanya Naina lirih sambil tetap menatap mata Jacob dengan tatapan memelas. Naina berfikir Jacob akan membujuk nya dan mencoba meyakinkan nya, namun yg Jacob lakukan justru sebaliknya.
"Ya udah engga apa apa. Kerja di sini juga gaji nya lumayan, pasti cukup lah buat hidup kita sama anak anak kita nanti" jawab Jacob yg langsung membuat Naina meneteskan air matanya tanpa sadar. Melihat itu Jacob langsung menghapus air mata Naina.
"Kenapa kamu nangis, Sayang? Maaf ya kalau aku udah nyakitin kamu" lirih Jacob dengan tatapan merasa bersalah nya. Naina langsung berhambur ke pelukan Jacob.
"Apa kamu akan melakukan apapun untuk ku bahkan melepaskan kesempatan emas untuk pergi ke Jerman?" tanya Naina di sela isak tangis nya yg semakin menjadi. Jacob melingkarkan tangan nya di punggung Naian dan menarik Naina semakin dekat ke tubuhnya yg membuat pelukan mereka semakin erat.
"Bahkan aku bersedia menyerahkan nyawa ku untuk mu, Naina" jawab Jacob sambil tersenyum "Sudah ku bilang, aku engga punya siapapun selain kamu. Kamu segalanya bagi ku" tutur Jacob yg membuat rasa cinta di hati Naina semakin menggelora.
Mereka tarus beperlukan, dan sesekali Jacob mengelus punggung Naina hingga perlahan isak tangis Naina mereda.
Sementara Juan masih ada di mobil nya dan memperhatikan Jacob dan Naina. Juan tak tahu apa gg mereka bicarakan, tapi Juan bisa melihat itu sesuatu yg mengharukan. Terlihat dari bagaimana Naina menangis dalam pelukan Jacob.
"Beruntung sekali kamu anak muda, entah sudah berapa kali kalian bercinta melihat bagaimana keromantisan kalian"
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...