
"Sial... Sial...sial..." hanya itu yang bisa Devano gumamkan saat ia menghubungi Sarah namun malah di reject, saat mencoba nya sekali lagi malah ponsel Sarah sudah tak aktif.
"Dom, aku akan membunuh mu" gumam Devano, ia berfikir seandainya Margaret di bunuh maka hal ini takkan terjadi. Tapi Om Dom nya Sarah itu malah tak mematuhi perintah nya.
Rasa takut akan di tinggalkan Sarah begitu besar menyeruak dalam hati Devano. Ia segera keluar dari kantor nya dan menyetir seperti orang gila untuk mencari Sarah.
Devano berfikir Sarah pasti pulang kerumah nya, dan entah apa yg akan terjadi selanjutnya.
.........
Setelah membayar taksi, Sarah langsung berlari masuk ke rumah nya dan kebetulan saat itu William hendak keluar. William sangat terkejut melihat Sarah yg datang sambil menangis.
"Dek, Sarah..." Sarah langsung berhambur ke dalam pelukan William dan tangis nya semakin pecah.
"Sarah, ada apa? Apa ada yg menyakiti mu? Apa Devano menyakiti mu?" cecar William namun Sarah hanya bisa menangis.
Ada rasa kecewa dalam hati nya, dan juga rasa takut. Takut pada Devano yg tampak seperti monster karena berniat membunuh Margaret. Sarah tak tahu apakah yg Margaret katakan itu benar atau tidak, tapi ia sangat yakin Margaret tak mungkin berbohong. Sarah juga mengingat semua kebohongan Devano, Devano tak pernah jujur. Tak pernah sekalipun.
"Sshhtt, engga apa apa, Dek. Sekarang kamu di sini, kamu akan baik baik saja" gumam William mencoba menahan diri tak mencecar Sarah dengan pertanyaan lagi. William pun membawa Sarah masuk.
Venita yg melihat putri nya pulang dalam keadaan menangis sangat terkejut, ia langsung menghampiri Sarah.
"Ada apa, Nak?" tanya Venita sambil mengusap air mata Sarah. Wajah Sarah sudah sangat berantakan, mata nya bengkak, bibir nya bergetar, hidung nya sudah memerah.
"Mama..." Sarah kini memeluk ibu nya dengan erat. Punggung nya gemetar karena isak tangis nya, Venita pun mengelus punggung putri nya dengan sayang.
"Apa yg harus aku lakukan? Haruskah aku memberi tahu keluarga ku tentang Devano?" hati Sarah bertanya tanya. Ia tak tahu bagaimana cara nya menghadapi masalah ini.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada yg nyakiti kamu?" tanya Venita lembut, Sarah masih tak bisa menjawab nya.
"Sarah engga mau ketemu Devano..." hanya itu yg bisa Sarah ucapkan, setelah itu ia langsung berlari ke kamar nya dan mengunci pintu nya.
Sementara William, ia mengernyit bingung. Ia dan Venita bertanya tanya apa yg terjadi sebenarnya?
"Jika sampai Devano yg membuat Sarah menangis, aku akan menghabisi nya" gumam William marah. Ia tak pernah melihat adik nya sesedih ini, menangis hingga tubuhnya gemetar seperti ini.
"Mungkin mereka cuma punya sedikit masalah, Will. Hal itu biasa dalam hubungan" ujar Venita mencoba tetap berfikir postif meskipun ia sendiri sangat mengkhawatirkan Sarah lebih dari siapapun karna ia adalah seorang ibu.
Dan benar saja, terdengar suara mobil di luar yg segera di susul suara langkah kaki yg sangat cepat. Devano dan Dominic datang bersama, dan itu membuat William semakin merasakan firasat buruk.
"Apa yg kamu lakukan pada adik ku, Devano?" geram William.
Devano tak menjawab nya, ia malah berlari naik tangga untuk berbicara dengan Sarah. Dominic, William dan Venita mengikuti nya dari belakang.
"Sarah..." terdengar suara lirih Devano, dan hal itu membuat Sarah semakin menangis. Berfikir bahwa selama ini ia hidup dengan seorang monster yg ingin menghancurkan keluarga nya.
__ADS_1
"Sarah, ku mohon, Sayang. Buka pintu nya, aku akan menjelaskan semuanya pada mu. Aku janji engga akan ada lagi yg aku sembunyikan" tutur Devano penuh penyesalan.
"Apa maksud mu?" tanya William.
"Dev, apa yg sebenarnya terjadi?" Venita ikut mendesak nya.
Devano menatap dua orang itu penuh rasa bersalah. Ia tahu seharusnya sejak awal Devano mengakui semuanya, tapi ketakutan Devano menghalangi ia berkata jujur.
"Dev..." geram William sembari menarik kerah kemeja Devano. Ia sudah sangat marah sejak tadi adik nya pulang dalam keadaan menangis, ia semakin marah saat mendengar Devano menyembunyikan sesuatu.
"Aku, Will, aku..." lidah Devano terasa kelu, namun ia harus mengakui semuanya sekarang.
"Aku apa, Dev? Kamu apain adikku?" teriak William saat kesabaran nya sudah berada di puncak.
"Will..." Venita mencoba menenangkan putra nya, kemudian ia menatap Devano "Apa yg terjadi?" tanya Venita yg sebenarnya juga menahan sedih dan amarah.
"Sebenarnya aku..." ucapan Devano teropotong saat ponsel William terus berdering, William pun menjawab panggilan itu karena itu dari Papa nya.
"Ya, Pa?" tanya William.
"Will, liat berita sekarang" terdengar suara panik ayah nya dari seberang telpon.
"Berita? Berita apa, Pa?" tanya William.
"Ada apa, Will?" tanya Venita. Tanpa menjawab, William segera turun dan menyalakan tv.
Betapa terkejut nya William saat melihat sebuah rekaman video seorang wanita yg mengakui ibu dari seorang gadis bernama Caitlin Lake, dimana Caitlin di perkosa dan di bunuh di London oleh... William Fergueson?
William merasa seperti ada tombak tajam yg menusuk hati nya mendengar berita itu, William bahkan tidak mengenal wanita itu apa lagi gadis bernama... Tunggu, Caitlin Lake?
Lake?
"Devano..." teriak William marah dan itu mengagetkan Venita yg masih berada di depan kamar Sarah bersama Devano. Ia hendak naik namun berita selanjutnya lebih mengejutkan William. Dimana ada pengakuan dari Roy, Harris dan Airin. Bahwa apa yg mereka lakukan sebelum nya atas perintah Devano Lake. Membuat William semakin meradang, darah nya terasa mendidih, amarah nya sudah berada di puncak. Berita itu ada di semua chanel tv, seolah memang ingin di sebarkan ke seluruh penjuru negara.
"Devano..." teriak William sambil berlari naik, dan tanpa berfikir panjang William langsung menyerang Devano dengan membabi buta tak peduli Dominic yg mencoba menghalangi.
"William, Hentikan..." seru Venita.
Mendengar suara perkelahian di luar, Sarah segera keluar dan ia mendapati kakak nya yg sedang memukuli Devano.
"Kak, Will. Stop..." seru Sarah yg seketika membuat William berhenti.
"Dia..." William menunujuk Devano dengan tatapan yg memerah "Dia adalah dalang di balik semua masalah kita" seru William dengan nafas yg memburu.
"Apa maksud kakak?" tanya Sarah yg kembali menangis. Sementara Devano hanya bisa menatap nanar Sarah nya, ia sangat menyesal.
__ADS_1
"Dia membayar orang untuk memfitnah Papa dan menjebak kakak, Sarah" Sarah yg mendengar hal itu kembali merasakan sakit yg teramat di hati nya. Ia hanya bisa menatap Devano dengan sayu, dengan air mata yg terus mengalir tanpa bisa di cegah. Ia menatap Devano penuh dengan luka dan rasa sakit, membuat hati Devano terasa tercabik cabik. Benar, berita ini terlihat mengkonfirmasi bahwa Devano adalah seorang monster.
"Apa?" bisik Venita tak percaya.
"Itu benar..." terdengar suara tegas Jason yg kini sudah datang. Jason segera naik dan ia menatap tajam Devano.
Dan saat berada di hadapan Devano...
PLAKKKK...
Tamparan yg sangat keras mendarat di pipi Devano yg sudah memar akibat pukulan William sebelum nya.
"Kami menyayangi mu, Devano. Kami menganggap mu putra kami sendiri, pernikahan mu dengan Sarah membuat kami semakin menyayangi mu" desis Jason dengan tatapan kebencian, amarah dan kecewa yg menjadi satu "Tapi ternyata kamu monster, Devano. Monster"
"Om, aku..."
"Keterlaluan..." desis William dan ia kembali menyerang Devano namun Dominic segera melindungi tuan nya itu.
"Dom, menyingkir..." lirih Devano "Aku pantas mendapatkan semua ini..." ucap nya sambil menatap William penuh penyesalan namun William tak peduli, takkan peduli.
"Dia seorang monster, Sarah..." ucap Jason pada putri nya yg masih menangis, bahkan air mata nya terasa sudah akan habis. Jason juga merasakan sakit di hati nya harus memberi kabar buruk ini pada putri nya, tapi fakta tak bisa lagi di sembunyikan "Dia menikahi mu hanya untuk balas dendam, Sayang..." ucap Jason sedih. Mendengar itu Venita pun tak kalah terkejut nya, air mata nya juga tak bisa ia bendung. Venita masih tak percaya dengan apa yg terjadi saat ini.
"Itu tidak benar..." tegas Devano, ia menatap memohon pada Sarah "Sarah, Sayang. Itu..."
PLAAAKKKK
Sekuat tenaga Sarah melayangkan tamparan nya pada Devano membuat telapak tangan nya terasa panas "Sarah, dengerin...."
PLAKKKK....
Sekali lagi, Sarah tak mau mendengar Devano berbicara "Pergi..." desis Sarah tajam namun Devano menggeleng. Ia bertekuk lutut di hadapan Sarah, dan ia menangis... Devano menangis, masih menatap memohon dengan berlinang air mata.
"Kamu boleh menghukum mu,tapi aku mohon..."
"PERGI..."teriak Sarah histeris dan seketika itu Venita kembali drop, ia jatuh pingsan membuat kondisi semakin rumit.
"Mama..." teriak Sarah dan William panik. Jason segera membopong Venita untuk membawa nya kerumah sakit, sementara William menyeret Devano keluar dari rumah nya.
Dominic yg melihat itu tanpa sengaja meneteskan air mata nya, ia tak pernah melihat Tuan nya menderita seperti ini, tak pernah melihat tuan nya di perlakukan se kasar dan sehina ini. Tak pernah melihat Tuan nya selemah ini.
"Jangan pernah lagi muncul di hadapan kami..." desis Sarah penuh kebencian.
▫️▫️▫️
Tbc....
__ADS_1