
Merasa lapar, Sarah menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri. Ayam goreng dan nasi. Wes, itu saja. Melihat menu makan nya, Sarah tersenyum geli. Di rumah nya, Sarah tak pernah di sajikan ayam dan nasi tanpa menu yg lain. Dan bicara soal dessert, Sarah tak ada waktu membuat nya, belum lagi Sarah harus menghemat duit nya.
"Tambahin sup deh, biar ada sayuran nya. Kasian Baby Neo ya, Sayang. Baby Neo pasti suka sayur kan?" tanya Sarah pada bayi dalam perut nya itu.
Sarah sangat penasaran dengan jenis kelamin bayi nya, dan saat ia membicarakan hal itu dengan Bu Asih, Bu Asih mengatakan kemungkinan besar Sarah akan melahirkan anak laki laki. Menurut ilmu orang orang zaman dulu, kalau perut nya sangat bulat maka kemungkinan besar anak nya laki laki. Ilmu itu bahkan masih sering di gunakan oleh orang oreng desa untuk menebak kehamilan seseorang.
Dan Sarah sangat bahagia mendengar ia akan punya anak laki laki, Sarah bahkan sudah menyiapkan nama untuk calon bayi nya itu. DevaNeo Fergus Lake. Sarah sendiri tak tahu kenapa hanya nama DevaNeo yg terbersit dalam benak nya, mungkin karena ia merindukan suami nya atau sangat mencintai ayah dari bayi nya itu. Dan di desa ini, ada seseorang yg membuat liontin dari ukiran kayu pilihan yg sangat cantik, Sarah pun memesan nya dengan nama calon bayi nya.
Baru saja Sarah hendak memasak sup sayur nya, terdengar suara ketukan di pintu. Sarah yakin itu adalah pesanan liontin nya, akhir nya, jadi juga liontinya, Sarah sangat tak sabar ingin melihat nya
"Akhir....." Sarah tercengang saat ia membuka pintu. Mulut nya terbuka lebar, mata besar nya melotot sempurna dan ia bahkan menahan nafas, bagaimana bisa? Apa ini mimpi?
"Dasar gadis kecil, ngerepotin aja kamu neh..."
"Auch..." Sarah memegang kepala nya yg di getok begitu saja oleh Jacob, dan itu terasa sakit dan sangat nyata. Berarti ini bukan mimpi?
"Wow, perut mu sudah besar, Dek... Halo keponakan..." kali ini William yg menunduk dan berbicara dengan perut Sarah. Sarah hanya bisa mematung, ia bahkan menahan nafas.
__ADS_1
Orang orang yg sangat ia rindukan ada di depan nya, berdiri dengan begitu nyata di depan nya. Dan Devano... Pria itu juga mematung, menatap Sarah tanpa berkedip sedikitpun. Nafas nya terasa berat, tatapan nya turun ke perut Sarah yg besar. Sudut bibir Devano tertarik, membentuk seutas senyum samar.
Devano melangkah dengan langkah yg terasa sangat berat "Dasar gadis bodoh..." geram Devano dan ia mengangkat nya, seolah hendak memukul Sarah yg refleks membuat Sarah langsung menunduk. Namun yg terjadi selanjutnya, Devano menarik Sarah kedalam pelukan nya. Sementara Sarah masih mematung, tak tahu harus bereasksi seperti apa.
"Kamu benar benar bodoh, Sarah. Sangat bodoh, apa kamu tahu itu?" lirih Devano sambil mempererat pelukan nya yg bahkan membuat Sarah merasa sesak, namun Sarah tak bisa menolak, ia tak mampu menolak pelukan sang suami yg selama ini ia rindukan. Hangat nya pelukan Devano, aroma nya yg selalu mampu membuat Sarah tak bisa berfikir jernih.
"Aku rasa bayi kalian sesak...." ujar William yg melihat Devano memeluk Sarah dengan begitu erat, seolah ingin membuat tubuh mereka menyatu. Sarah pun hendak melepaskan pelukan nya, namun Devano masih enggan. Ia melonggarkan pelukan nya tanpa melepas nya.
"Aku merindukanmu..." Lirih Devano lagi sembari menghirup aroma manis istri nya. Jantung Sarah berdebar kencang, bahkan Devano bisa merasakan nya dan itu membuat nya tersenyum. Dengan sekuat tenaga, Sarah berusaha melepaskan diri dari Devano.
"Kalian bagaimana bisa....?" tanya Sarah menatap pria pria itu di depannya, oh jangan lupakan Dominic yg juga tampak sangat merindukan Nyonya kecil nya itu "Om..." Sarah malah memeluk Dominic sambil tersenyum, Dominic pun tersenyum lebar dan menyambut Sarah dalam pelukan nya seperti ia memeluk putri nya sendiri.
"Entahlah" jawab Sarah lirih, kemudian ia menatap Jacob dan Jacob pun langsung memeluk sahabat kecil nya itu.
"Kamu membuat semua orang menjadi gila, Sarah" ucap Jacob sambil mengelus pucuk kepala Sarah. Sarah hanya tersenyum dan kini ia memeluk William. Dan entah bagaimana Sarah langsung menangis di pelukan kakak nya itu. Ia melingkar lengan nya yg sedikit berisi di pinggang William dengan sangat erat. William pun memeluk Sarah tak kalah erat nya, ia juga menghujani pucuk kepala Sarah dengan kecupan kecupan kecil.
"Kami datang untuk menjemput mu, Sarah" lirih William sambil mengusap ngusap punggung Sarah yg bergetar karena tangis nya.
__ADS_1
Devano pun tak mau kalah, ia memeluk William dan Sarah juga "Aku mohon, pulang ya, Sayang" pintu Devano.
"Aku..." mereka bertiga melerai pelukan nya, Sarah menghapus air matanya "Aku akan pulang tapi engga sekarang, sebaik nya kalian kembali" pinta Sarah.
"Jangan gila, Sarah. Berbulan bulan kami mencari mu, dan sekarang kamu minta kami kembali?" tanya Devano sedikit emosi. Sarah tak bisa menjawab, ia sendiri juga ingin pulang.
Devano mengenggam tangan Sarah dan mengecup nya berkali kali, bahkan tanpa terasa air mata nya tumpah hingga memabasahi tangan Sarah. Hal itu membuat Sarah kembali tercengang, Melihat Devano yg menangisi dirinya "Aku tahu aku salah, kamu pantas membenci ku. Tapi bagaimana dengan bayi kita? Dia engga tahu apa apa, Sayang" lirih Devano dengan suara rendah. Sarah pun tak bisa lagi membendung air mata nya, Sarah menggigit bibir nya guna menahan isak tangis nya "Aku mohon, Sarah. Kasian Mama, Papa, mereka selalu mikirin kamu, khawatir dengan keadaan kamu dan cucu mereka"
"Itu benar, Sarah..." William mengelus kepala adik nya itu "Aku tahu ini engga mudah buat kamu, begitu juga buat kita. Tapi kamu harus bisa bersikap dewasa, sekarang kamu bukan Sarah kecil lagi. Kamu seorang istri dan calon ibu, berikan kesempatan kedua pada Devano, Dek. Mama sama Papa, dan aku juga sudah maafin Devano" tutur William dengan lembut. Sementara Sarah masih terdiam menunduk.
"Nyonya..." kali ini Dominic yg berbicara, ia mengangkat wajah Sarah dan menghapus air matanya "Tuan sangat mencintai Nyonya, dia hampir gila saat Nyonya pergi. Dia tidak makan, tidak minun, tidak mandi apa lagi pergi bekerja. Dia hanya mengurung diri di kamar dan merokok tanpa henti. Bahkan perusahaan nya hampir bangkrut" tutur Dominic "Om mohon, Sarah..." ucap Dominic kemudian menyingkirkan segala formalitas nya, berharap Sarah mau mendengar ia sebagai Om nya seperti yg selalu di katakan Sarah bahwa ia menganggap Dominic Om nya sendiri "Devano sangat mencintai mu, Nak"
Sarah kembali menangis, ia juga sangat mencintai Devano dan sangat merindukan nya.
"Masuk lah..." Sarah membuka pintu rumah nya dengan lebar, mempersilahkan ke empat pria itu masuk "Kita bicara di dalam"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...