
Dominic mengejar Devano hingga ke mobil nya.
"Ada apa?" tanya Devano menahan amarah nya.
"Jangan membunuh, Tuan" pinta Dominic.
"Kamu kasian sama wanita itu?" desis Devano.
"Saya cuma tidak mau tuan nanti menyesal, masih ada cara lain"
Devano terdiam sementara tatapan nya begitu tajam pada Dominic "Aku engga mau ada pengganggu dalam hidup ku lagi, terutama dalam hidup Sarah dan keluarga nya"
"Saya tahu, tapi setidaknya jangan membunuh Margaret. Kita bisa mengirim nya ke suatu tempat dimana dia tidak akan bisa kembali ke sini"
"Terserah kau saja. Setelah ini, urus Agus!"
.........
Sarah meraba raba sisi tempat tidur nya dan ia tak menemukan Devano disana. Sarah bangun sambil mengucek mata nya yg terasa mengantuk.
"Dev...."panggil Sarah namun tak ada jawaban. Sarah melirik jam dinding yg menunjukkan pukul 23.15.
Setelah percintaan panas mereka di kamar mandi, mereka melanjutkan nya di ranjang hingga kelelahan dan akhir nya Sarah tertidur tak berdaya di pelukan Devano. Tapi dimanapun Devano sekarang?
Saat Sarah hendak turun dari ranjang nya, ia mendengar deru mobil dan Sarah mengernyit bingung. Ia pun mengintip dari jendela dan melihat mobil Devano disana.
Sarah pun segera memakai kaos Devano yg ada di belakang pintu kemudian berlari turun dan di bawah sudah dalam keadaan tamaran, semua orang pasti sudah tidur, fikir nya.
Pintu terbuka dan Devano terlihat terkejut melihat Sarah yg tampak seperti menunggu nya.
"Sarah, kenapa kamu di bawah?" tanya Devano sambil melemparkan kunci mobil nya dan melepas jaket nya. Sarah memandang nya dengan tatapan yg tajam, curiga dan marah.
"Kamu dari mana malam malam begini?" tanya Sarah dengan nada yg menusuk.
"Hanya ada sedikit urusan" jawab Devano dan tiba tiba Sarah langsung terisak bahkan air mata nya langsung menetes begitu saja. Membuat Devano panik dan langsung menghampiri istri nya itu "Ada apa, Sayang? Kamu sakit, hm?" tanya Devano Khawatir.
__ADS_1
"Kamu selingkuh" itu terdengar seperti pernyataan bukan pertanyaan. Devano yg mendengar itu langsung terkekeh membuat Sarah semakin menjadi tangis nya.
"Sayang, Sarah.... Shhhtt" Devano menarik Sarah kedalam pelukan nya namun Sarah malah memukul dada nya "Aku engga selingkuh dan engga akan pernah selingkuh" ucap Devano menahan pukulan Sarah yg cukup keras di dada nya.
"Terus kenapa pergi malam malam begini? Diam diam lagi" tuduh Sarah lagi.
"Kan sudah aku bilang, ada urusan tadi"
"Bohong, mana ada urusan malam malam begini"
"Little girl..." Devano menangkup pipi Sarah dan membuat nya mendongak "Uf, aku benci melihat mu menangis, Sarah" lirih Devano. Ia menghapus air mata Sarah di pipi nya.
"Ya kamu buat aku menangis" ujar Sarah.
"Aku engga selingkuh, aku pergi bersama Dominic. Tadi kami... Kami dapat laporan kalau pabrik yg aku beli itu kata nya...kebakaran" ucap Devano terbata bata.
"Bohong" seru Sarah sambil mengucek mata nya. Pandangan nya mulai buram karena air mata "Dominic kan anak buah kamu, pasti kalian kerja sama lah" tuduh Sarah lagi. Devano hanya bisa menghela nafas berat.
"Sarah, istri ku, cinta pertama dan terakhir ku. Aku engga akan pernah berpaling dari kamu bahkan jika aku mati" ucap Devano dengan tatapan yg begitu dalam. Sarah tertegun mendengar itu, apa lagi tatapan Devano menyiratkan ketulusan dan keseriusan.
"Aku engga akan membiarkan kamu mati duluan, atau aku akan ikut kamu mati" ucap Devano lagi lagi dengan pandangan yg membuat Sarah bergidik "Sekarang kita istirahat, sudah malam" ucap Devano kemudian ia langsung menggendong Sarah seperti bayi.
"Kamu engga pakek daleman?" tanya Devano saat merasakan dada Sarah yg lembut di dada nya. Apa lagi kaos Devano yg tampak terlihat seperti mini dress itu menampilkan paha Sarah yg sangat mulus namun ada bercak merah disana yg tadi di tinggalkan oleh Devano.
"Engga sempat" jawab Sarah dan ia menyadarkan kepala nya di dada Devano.
Sesampainya di kamar mereka, Devano mendorong pintu dengan kaki nya dan menutup nya dengan kaki nya lagi.
Ia menidurkan Sarah di ranjang dengan pelan, setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan piyama dan ikut berbaring. Memeluk Sarah dengan begitu posesif.
..........
Karena sudah merasa lebih baik, Sarah kembali ke sekolah. Vino dan Naina menyambut sahabat mereka itu dengan senang hati.
"Sarah, kamu udah putuskan belum mau kuliah kemana nanti?" tanya Vino pada Sarah.
__ADS_1
Saat ini keduanya sedang ada di kantin setelah ulangan pertama selesai, sedangkan Naina sedang ke toilet dan akan segera menyusul.
"Belum, Vin" jawab Sarah.
"Mau ke Harvard engga?" tanya Vino dengan tatapan yg tak bisa Sarah artikan.
Sarah teringat pada Devano, tak mungkin rasanya ia kuliah di luar negeri dan hidup terpisah dari suami tercinta nya.
"Engga, Vin. Aku mau kuliah di Jakarta aja" jawab Sarah dan rupanya jawaban Sarah itu membuat Vino tampak kecewa.
"Ngomongin apa sih? Serius amat" seru Naina yg baru saja bergabung dengan mereka.
"Ngomongin mau lanjut kemana nanti" jawab Vino lesu.
"Oh gitu, kalau Sarah pasti cuma di Jakarta aja. Wong sua..."
"Naina..." seru Sarah sambil melotot, hampir saja sahabat bar bar nya ini membocorkan rahasia nya.
"Wong sau apa?" tanya Vino penasaran.
"Wong suaka bumi..." jawab Naina asal sambil pandangan nya menerawang ke atas sana. Dan itu malah mengundang tawa Vino, Sarah bernafas lega karena Vino tak curiga.
Baru beberapa menit mereka mengobrol, sudah terdengar bel berbunyi.
Kelas pun kembali di mulai dengan ulangan di mata pelajaran yg berbeda.
Vino yg duduk di samping Sarah terus memperhatikan Sarah.
Vino merasa sudah sangat sangat jatuh cinta pada Sarah, bahkan saat mendengar Sarah sakit, Vino menjadi sangat khawatir. Namun ia mencoba menahan perasaan nya itu mengingat Sarah sudah punya tunangan. Apa lagi tunangannya adalah seorang Devano Lake, yg tak mungkin bisa Vino saingi dalam hal apapun.
Vino hanya berharap, ada kesempatan bagi nya untuk mengungkapkan cinta nya pada Sarah.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1