
Sarah terus menerus menelpon Devano yg entah pergi kemana.
Ia harus pulang, Sarah harus pulang ke Indonesia dan membantu keluarga nya. Dan Kak William nya, dia sedang terkena kasus pelecehan seksual dan kekerasan. Sarah sangat tidak percaya dengan hal itu, dan tega sekali Devano menyembunyikan hal itu dari nya dan mengatakan bahwa keluarga nya baik baik saja.
"Sarah..."
"Dari mana sa..." ucapan Sarah terhenti saat ia melihat Devano yg datang dengan kue tart dan lilin yg ber angka 17. Seketika Sarah mematung, bukan terharu, tapi ia teringat pada keluarga nya. Di setiap ulang tahun nya, Sarah selalu mendapatkan kejutan dan hadiah yg luar biasa dari keluarga nya. Dan sekarang? Sarah sendirian dan ia bahkan lupa kalau malam ini ia sudah genap 17 tahun.
"Happy Birthday..." ucap Devano dengan senyum lebar namun Sarah menggeleng dan ia tak mampu menahan air mata nya.
"Kamu bohong, keluarga ku engga baik baik aja, Dev" ujar Sarah, ia memperlihatkan berita yg juga sedang viral yg di YouTube tentang kakak nya.
Devano tampak terkejut, ia lupa kalau Sarah bisa mengetahui kabar itu dari Internet. Devano mencoba tenang, ia meletakkan kue tart nya di meja, kemudian ia menghampiri Sarah.
"Aku minta maaf, Sarah. Aku cuma engga mau kamu khawatir" lirih Devano tapi Sarah tetap menangis dan terlihat kecewa.
"Aku mau pulang..." tegas nya sambil mengusap air mata nya.
"Jangan, Sarah. Akan lebih baik kalau kamu di sini"
"Aku bilang aku mau pulang, Devano" teriak Sarah marah yg membuat Devano juga terlihat marah.
"Aku bilang kamu akan tetap disini, Sarah. Jangan membantah ku" tegas nya dengan tatapan yg berkilat penuh amarah. Dan seketika itu membuat Sarah semakin tampak sedih.
"Ku mohon..." lirih nya kemudian, ia menatap memohon pada Devano namun Devano tak peduli dan malah meninggalkan nya, Devano bahkan menutup pintu dengan keras membuat Sarah terperanjat. Dan sekali lagi Sarah hanya bisa menangis.
Sarah tak mengerti kenapa Devano memperlakukan nya seenak hati, kenapa Devano memperlakukan Sarah seperti tahanna yg harus selalu mengikuti perintah Devano. Terkadang manis, terkadang pahit.
.
.
.
Sarah menghampiri Devano yg saat ini sedang merokok di balkon. Sarah membawa kue tart yg sudah Devano belikan dan ia juga sudah menyalakan lilin nya.
Devano yg menyadari kedatangan Sarah segera mematikan rokok nya.
"Maaf" ucap Sarah yg membuat Devano mengulum senyum samar "Makasih udah ingat ulang tahun aku"
"Aku cuma engga mau kamu sedih" tutur Devano setulus hati. Karena sungguh hatinya memang tak ingin Sarah sedih dan ia tak suka melihat Sarah sedih "So, sekarang make a wish dan tiup lilin nya. Setidaknya kita harus bahagia di hari ulang tahun mu, kan?" Sarah mengangguk, ia memejamkan mata dan satu satu nya yg ia minta adalah kebahagiaan untuk keluarga nya seperti dulu. Setelah itu ia meniup lilin nya, dan Devano bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum tipis nya.
__ADS_1
" Happy Birthday, my wife "ucap Devano yg membuat Sarah melongo, my wife? Apakah Devano sudah menganggap pernikahan mereka sesuatu yg serius? Ya meskipun Devano pernah mengaku cinta, tapi Sarah masih tak yakin dengan hal itu. Dan mungkin Devano hanya mempermainkan nya.
"Kamu beneran cinta sama aku?" tanya Sarah kemudian karena ia memang merasakan sikap Devano yg perlahan berubah pada nya, meskipun Devano memang masih membentak atau meneriaki nya karena seperti nya itu adalah kebiasaan Devano yg sudah mendarah daging. Apa lagi panggilan my wife itu yg seperti nya memiliki makna yg tulus.
"Kenapa? Kamu mau nagih perjanjian itu?" tanya Devano sambil tersenyum miring dan tentu saja Sarah mengangguk jujur.
"Kamu tahu, Little girl? Kalau aku membenci sesuatu, aku akan memsunahkan nya dari hadapan ku. Tapi kalau aku sudah mencintai sesuatu, maka aku akan mempetahankan nya untuk menjadi milikku" tutur nya yg membuat Sarah kebingungan "Dan kamu adalah sesuatu yg aku cintai, jadi aku akan menjadikan mu milikku. Selama nya" tegas nya yg membuat Sarah melongo. Ia sangat tidak percaya dengan apa yg baru saja di dengar nya.
"Tapi Dev, sejak awal kan..."
"Sebuah cerita bisa saja berubah di tengah jalan, Little Sarah" ungkap nya yg membuat Sarah kembali kesal.
"Kamu pasti bercanda kan? Kamu senang banget sih mempermainkan aku" gerutu Sarah.
"Aku engga lagi mempermainkan mu, Sarah. Aku serius. Aku mencintai mu" lirih Devano.
"Gila, kamu bener bener gila. Kamu sakit, tahu engga" seru Sarah kesal dan ia hendak pergi. Namun Devano menarik tantang Sarah hingga Sarah terjatuh kedalam pelukan Devano.
"Katakanlah aku memang gila, Sarah. Mungkin juga sakit, dan semua itu karena mu" bisik nya dengan suara parau nya. Devano mengangkat tangan nya dan menyelipkan anak rambut yg menganggu wajah Sarah ke belakang telinya nya. Sementara Sarah hanya bisa mematung menerima perlakuan manis Devano pada nya. Devano mendekatkan wajah nya ke wajah Sarah dan Sarah tak menghindari itu. Tatapan Devano yg begitu intents seolah membuat Sarah terpaku dan tersihir sehingga dia menerima saja saat Devano menyatukan bibir keduanya.
Sarah bahkan memejamkan mata saat Devano mulai memperdalam ciuman mereka, begitu lembut, membuai, dan seolah memuja rasa yg begitu indah.
"Kenapa?" tanya Devano dengan suara yg serak.
"Ehm... Itu, rasa rokok" jawab Sarah jujur yg seketika membuat Devano terkekeh.
"Jadi kalau engga rasa rokok, kamu mau aku cium lagi?" goda Devano yg seketika membuat Sarah melotot dan langsung mendorong Devano sekuat tenaga.
Setelah itu ia berlari masuk ke kamar nya dengan wajah yg memerah.
Ada apa dengan diri nya? Sarah merasa seperti wanita murahan sekarang, dan kenapa hubungan nya dam Devano begitu aneh?
"Hufff..."Sarah menarik rambut nya sendiri karena ia merasa frustasi dengan hidup nya sekarang, padahal tadi ia menghampiri Devano untuk membujuk nya supaya membawa Sarah pulang. Tapi kenapa mereka malah berdebat yg di akhiri dengan ciuman lembut yg memabukan. Seperti nya kegilaan Devano mulai menular pada Sarah.
"Aku harus pulang, bagaiamana pun cara nya aku harus pulang"
.
.
.
__ADS_1
Di tengah malam, Sarah terbangun sambil berteriak karena ia bermimpi kakak nya sedang dalam bahaya. Dan teriakan Sarah membangunkan Devano.
"Ada apa?" tanya Devano, ia menyalakan lampu dan melihat Sarah yg duduk dengan nafas tersengal dan keringat dingin yg membasahi kening nya.
Devano segera memberikan segelas air yg memang selalu di sediakan di sana. Sarah meneguk nya hingga habis.
"Kak Will...." ucap Sarah sambil berusaha mengatur nafas nya "Aku mimpi buruk, aku takut Kak Will kenapa napa, Dev" tutur Sarah dengan raut wajah yg ketakutan. Devano menghela nafas berat, ia memeluk Sarah dan mencoba menenangkannya.
"Itu hanya mimpi, Sarah. Bunga tidur" lirih Devano.
"Aku mau pulang, Dev. Aku mohon..." bisik Sarah di pelukan Devano.
"Sarah, please..."
"Please, Devano..." Sarah segera menyela "Aku benar benar engga tenang, Dev. Ku mohon bawa aku pulang, kak Will juga teman mu, kan? Memang nya engga khawatir juga sama dia?" tanya Sarah yg membuat Devano tak mampu menjawab. Devano bukan khawatir, justru ia sangat bersyukur.
"William sendiri pasti lebih tenang kalau kamu ada di sini, Sarah. Cobalah mengerti, kalau kamu ada di Indo, kami bisa kena imbas juga dari kasus kakak mu"
"Aku engga peduli, ku mohon Dev..." lirih Sarah.
"Sekarang tidurlah" tegas Devano dan ia memaksa Sarah kembali berbaring.
"Tapi Dev..." Sarah mencoba bangun namun Devano malah memeluk nya dan membawa nya kembali berbaring.
"Jangan membantah, Sarah. Ini demi kebaikan mu" Devano memeluk Sarah dengan begitu erat, membuat Sarah tak bisa bergerak.
"Aku cuma ingin tahu keadaan mereka, Mama juga pasti sakit" lirih Sarah dan ia mulai menangis.
"Besok kita telepon mereka, video call. Okey? Dan aku yakin mereka pasti akan lebih tenang kalau kamu menjauh untuk saat ini. Percaya sama aku" tutur Devano mencoba meyakinkan. Sarah hanya terdiam tak menjawab. "Aku janji, besok kita video call mereka. Dan Mama mu pasti baik baik saja" ujar nya lagi dan akhir nya Sarah mengangguk. Ia tak berdaya, dan saat ini hanya Devano tempat nya bersandar dan hanya Devano yg biasa ia percaya.
"Sekarang tidur lah, ini sudah malam" seru Devano dan ia semakin mendekap Sarah.
Sarah tak menjawab, namun saat Sarah mulai memejamkan mata, Devano menatap wajah polos Sarah lekat lekat. Devano tersenyum samar, untuk pertama kalinya ia tidur sembari memeluk Sarah. Dan ini memberikan perasaan yg sangat indah.
Namun di sisi lain jiwa nya berteriak mengejek Devano, Devano yg memberikan racun pada Sarah, namun ia juga bertindak sebagai penawar nya.
Sangat munafik, bukan?
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1