Married By Challenge

Married By Challenge
Part 42


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Devano mengabari Sarah bahwa dia akan pulang. Sarah senang mendengarnya dan Sarah sendiri sudah pulang kerumah Devano.


"Om, mau jemput Devano jam berapa?" tanya Sarah kepada Dominic yg saat ini mengantar nya ke sekolah karena Aldo sedang flu sejak dua hari yg lalu. Dan entah apa yg merasuki Devano karena Aldo di liburkan selama flu dengan alasan takut Sarah ketularan. Alhasil, Dominic lah yg menjadi sopir Sarah sampai Aldo sembuh total.


Ck, Devano tuan arogan yg berlebihan, fikir Sarah.


"Jam 10.30" jawab Dominic.


"Sarah ikut ya, Om" pinta Sarah.


"Jangan, kan masih jam sekolah"


"Nanti Sarah izi pulang lebih awal. Pokok nya Sarah ikut ya" Dominic melirik Sarah yg duduk di jok depan.


"Iya" jawab Dominic pada akhirnya yg tak mampu menolak Sarah yg manis.


Sarah pun tersenyum senang dan saat sampai di sekolah nya, Sarah kembali mengingatkan Dominic agar menjemput nya nanti sebelum jam 10.30.


Saat berada di kelas, Vino kembali mendekati Sarah namun Sarah berusaha menghindar karena jika sampai Deevano tahu soal itu, maka Devano pasti sangat marah.


"Udah cinta banget ya sama suami" bisik Naina yg membuat Sarah tersipu tanpa sadar namun ia menggeleng dan bibir nya pun berdusta.


"Engga lah. Masak iya cinta sama dia" ucap nya yg membuat Naina mencebikan bibir nya.


"Terus kenapa engga suka kalau Vino deketin kamu?"


"Ya karena nanti Devano marah"


"Hm peduli nih yee"


"Apaan sih"


Kedua gadis itu tertawa centil dengan tingkah mereka sendiri dan hal itu tak luput dari perhatian Vino yg masih memperhatikan Sarah. Vino memandangi Sarah sambil menyunggingkan senyum misterius nya.


"Kenapa? belum berhasil juga?" tanya salah satu teman geng Vino.


"Sebentar lagi" jawab Vino sambil tersenyum miring.


"Jadi benar ya, Sarah itu gadis yg sulit di taklukan" ujar temannya yg lain.


"Engga lah, semua cewek mah sama aja. Ku deketin sedikit lagi juga pasti bakal ngejar ngejar aku sama seperti yg lain" ucap Vino penuh percaya diri.


"Jangan cuma ngomong aja, kita kita udah penasaran banget Sarah itu masih gadis atau udah engga. Secara kita engga pernah lihat dia pacaran sejak kelas 11. Ini udah mau lulus, masak iya dia belum pacaran juga" tutur teman nya yg lain.


Ya, seperti itulah sebagian remaja kota. Salah satu nya seperti Vino. Sejak acara ulang tahun Vino waktu itu, Vino menjadi sangat tertarik dengan Sarah. Dan Vino ingin sekali mengencani Sarah namun ternyata Sarah tak se mudah itu di buat terkesan. Bagi Vino, gadis itu seperti memiliki dan asyik dengan dunia nya sendiri. Dari dulu sewaktu dia yg masih kaya sampai ayah nya bangkrut. Sarah tak berubah sama sekali, ia tetap dengan karakter dan gaya nya sendiri.


Dan yg membuat Vino semakin tertarik dengan Sarah adalah saat Sarah tanpa ragu membuang tas dan sepatu nya ke selokan padahal kedua barang itu sangat tidak murah. Walaupun dengan keadaan keluarga nya yg bangkrut, Sarah tetap bersikap layaknya the real sultan dan jujur saja itu membuat Vino dan yg lainnya bingung apa lagi setiap hari Sarah di antar jemput oleh sopir dengan mobil yg cukup mewah.

__ADS_1


Selain Vino, Karin juga memperhatikan Sarah diam diam. Sama seperti Vino dan yg lain, Karin juga penasaran dengan siapa yg sebenarnya ada di belakang Sarah. Bahkan ayah Karin pun memerintahkan Karin untuk menjauhi Sarah.


....


Sarah dan Dominic menunggu Devano dengan tak sabar. Dan saat Devano muncul di antara kerumunan orang, Sarah langsung tersenyum senang dan menyambut Devano.


Devano yg tak tahu Sarah ikut menjemputnya sangat terkejut melihat Sarah di bandara apa lagi Sarah masih mengenakan seragam sekolah nya.


"Kamu ngapain disini?" tanya Devano terlihat tak suka melihat Sarah di sana membuat Sarah cemberut. Kemudian Devano melepaskan jaket yg ia kenakan dan memakaikan nya pada Sarah.


"Ya pengen jemput kamu aja" jawab Sarah "Aku engga kedinginan, ngapain pakein aku jaket"


"Menurut mu apa yg akan orang fikirkan melihat gadis SMA di jam sekolah berada di bandara menunggu pria dewasa seperti ku? jangan jangan mereka akan berfikir kalau kamu sugar daddy"


Sarah langsung tertawa mendengar penuturan Devano yg menurutnya sangat konyol.


"Biasanya, orang yg mengira orang lain akan berfikir buruk tentang nya karena dia lah yg berfikir buruk tentang orang lain" ucap Sarah yg tak di tanggapi Devano.


Dominic mempersilahkan Tuan dan Nyonya nya masuk ke dalam mobil dan setelah itu ia langsung tancap gas meninggalkan bandara. Sarah bisa melihat Devano yg tampak nya kurang sehat, wajahnya kusut dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata nya.


Devano menyandarkan kepala nya di bahu Sarah dan saat itu Sarah bisa merasakan suhu tubuh Devano yg panas. Sarah menempelkan punggung tangan nya ke dahi Devano dan benar saja, sepertinya Devano demam.


"Dev, sepertinya kamu demam tinggi. Kita kerumah sakit ya" pinta Sarah namun Devano menggeleng dan ia memejamkan mata.


"Om, kita kerumah sakit" ujar Sarah pada Dominic karena ia mengkhawatirkan Devano apa lai setelah Sarah perhatikan Devano tampak pucat.


"Kita kerumah sakit" tegas Sarah.


"Engga usah, Sarah..."


"Aku bilang kita kerumah sakit artinya kita harus kerumah sakit!" tegas Sarah sekali lagi yg membuat Devano tersenyum tipis, ia merasa senang karena sepertinya Sarah mengkhawatirkan nya. Dominic pun juga hanya bisa tersenyum samar melihat Tuan dan Nyonya muda nya.


Dominic mampir ke rumah sakit dimana ia memiliki kenalan seorang Dokter disana.


Devano pun di periksa dan Sarah menemani nya.


Setelah di periksa, Dokter mengatakan bahwa Devano kurang tidur, dehidrasi dan demam nya cukup tinggi. Dokter menyarankan agar Devano di rawat inap tapi Devano mengatakan ia benci rumah sakit dan bersikeras ingin pulang. Dokter pun tak bisa memaksa dan ia meresepkan obat untuk Devano. Dokter juga meminta Sarah agar mengompres Devano supaya demam nya cepat turun.


"Kamu kenapa sih benci rumah sakit? kamu di rawat juga demi kebaikan mu" ujar Sarah sambil membawa Devano kembali ke mobil setelah mereka menebus obat nya.


"Dirawat di rumah juga sama aja" jawab Devano bandel. Dominic pun langsung membawa mereka pulang supaya Devano bisa istirahat.


Sesampainya di rumah, Sarah langsung membawa Devano ke kamar nya.


Kemudian Sarah meminta Lolly menyiapkan air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Devano.


Devano mandi sebentar untuk menyegarkan diri, kemudian ia berganti pakaian dan merebahkan diri nya di ranjang.

__ADS_1


Sarah datang dengan membawa baskom kecil yg berisi air hangat.


"Buat apa itu?" tanya Devano.


"Buat kompres lah" jawab Sarah.


"Engga usah, Sarah. Tadi aku sudah minum obat penurun panas nya" ujar Devano namun Sarah tak memperdulikan nya.


Sarah meletakkan baskom itu di atas meja. Mencelupkan handuk, memeras nya dan kemudian ia letakkan handuk itu di dahi Devano membuat Devano tersenyum geli.


"Kenapa?" tanya Sarah yg melihat Devano seperti itu.


"Aku rasa seumur hidup baru kali ini aku di kompres, mungkin waktu kecil pernah tapi aku engga ingat" ujar nya dan hal itu membuat Sarah merasa sedih dan bersimpati.


Ternyata di balik sifat arogan nya, Devano adalah sosok yg kekurangan kasih sayang dan mungkin juga kesepian.


"Jangan pasang muka bersimpati begitu, aku membenci nya" lirih Devano dengan wajah yg kembali datar.


"Aku engga mau buang buang tenaga dengan bersimpati sama orang arogan seperti mu" jawab Sarah.


"Tapi kamu khawatir sama aku dan kamu juga peduli" ujar Devano dan kali ini ia tersenyum tipis.


"Yaaa sesama manusia aja" jawab Sarah yg membuat Devano terkekeh.


"Sesama manusia atau karena kamu udah cinta?" goda Devano yg membuat Sarah jadi tersipu namun ia mencoba mengontrol ekspresi wajah nya.


" Aku engga cinta dan sepertinya engga akan cinta. Jadi kalau mimpi jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakit lho" jawab Sarah yg masih enggan mengkui perasaan nya.


"Kalau kamu engga cinta, cium aku..."


"Hah???" Devano kembali terkekeh dengan reaksi Sarah.


"Ayo, aku ma tahu kamu udah cinta apa belum" desak Devano yg msih terbaring. Dan untuk menutupi salah tingkah nya, Sarah kemali mengambil handuk di dahi Devano dan memasukan nya kembali ke dalam baskom yang kemudian dia angkat, peras dan di letakkan kembali ke dahi Devano. Namun tiba tiba Devano mencekal pergelangan tangan Sarah, menarik tengkuk Sarah dengan tangan yg lain dan langsung mencium lembut bibir Sarah membuat Sarah terkesiap dengan serangan tiba tiba itu.


Sarah bisa merasakan nafas Devano yg juga terasa panas.


"Dev..." lirih Sarah mencoba menghentikan ciuman lembut Devano yg kian berubah menjadi ciuman yg menuntut "Kata Dokter kamu harus isirahat" ucap Sarah setelah berhasil menyudahi ciuman yg mulai Sarah sukai itu.


Devano mengulum senyum samar dan ia mengusap bibir sarah dengan ibu jari nya.


"Aku merindukan mu" lirih Devano dengan tatapan yg begitu dalam dan itu membuat hati Sarah bergetar. Devano menggeser tubuh nya sedikit ke tengah dan kemudian ia menarik tangan Sarah dan meletakkan nya di belakang leher Devano, membuat Sarah mau tak mau harus ikut berbaring dengan posisi menyamping. Devano pun juga berbaring menyamping dan berhadapan dengan Sarah "Temani aku" bisik Devano dan perlahan Devano memejamkan mata nya.


Sarah hanya terdiam, seolah ia di hipnotis dan dengan suka rela melakukan apa yg Devano mau.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2