Married By Challenge

Married By Challenge
Part 47


__ADS_3

Juan berbicara dengan wanita paruh baya dan mereka tampak bertengkar, Juan bahkan hampir menangis namun ia segera mengusir wanita itu dan meminta nya agar tak menemui Juan lagi.


Setelah itu ia kembali ke dalam dan bergabung dengan Angeline dan Sarah, Devano pun juga bergabung dengan mereka.


"Is everything alright?" tanya Angeline karena melihat raut wajah Juan yg tampak tegang.


"Of course, everything alright" jawab Juan dengan suara nyaring dan dalam hitungan detik kini ekspresi wajahnya tampak normal bahkan sangat baik.


"So, berapa lama kalian pacaran?" tanya Juan yg sebenarnya mengalihkan perasaan dan fikiran nya sendiri. Sarah melirik Devano, ia tak tahu harus menjawab apa.


"Sejak lama, sebenarnya kami sudah menikah" jawab Devano jujur yg membuat Sarah terpaku. Apa dia serius?


Juan sendiri sangat terkejut bahkan mata nya sampai melotot sempurna "Ya belum di resmikan karena Sarah masih sekolah" lanjut nya.


"Apa kalian kebablasan?" pekik Juan yg kini membuat Sarah yg melotot terkejut apa lagi itu menarik perhatian orang di sekitar mereka.


"Bukan bukan..." jawab Sarah cepat namun seperti nya Juan tak peduli.


"Wow, apakah dia hebat di ranjang?" tanya Juan frontal yg membuat Sarah melongo sementara Angeline hanya terkekeh "Kamu engga pakek pengamanan, Dev? Oh ya, Sarah apa favourit mu? Jeruk atau strawberry?"


"Hah?" Sarah hanya melongo karena tiba tiba Juan malah berbicara buah.


"Tutup mulut mu karena dia masih remaja, otak nya masih dalam masa pertumbuhan dan aku engga mau otak nya tercemar dengan kata kata kotor mu itu" ujar Devano panjang lebar. Juan dan Angeline terkikik.


Sarah yg masih bingung dengan apa yg sebenarnya mereka bicarakan, kini ia semakin bingung karena tiba tiba ia merasa tubuhnya panas dan ia bergerak gelisah.


"Ada apa?" tanya Devano karena Sarah terlihat tak nyaman di tempat duduk nya.


"Seperti nya aku demam" lirih Sarah dan perlahan nafas nya pun terasa berat, seketika Juan dan Devano baru menyadari sesuatu.


Mereka semua bertukar tempat duduk dan saat melihat gelas di depan Sarah, gelas nya sudah kosong, begitu juga dengan gelas yg ada di depan Angeline.


Juan melongo sementara Devano tampak sangat marah apa lagi melihat Angeline yg tampak baik baik saja.


"Ada apa?" tanya Angeline karena kedua pria itu tampak aneh.


"Dev..."Sarah meringis dan tanpa sadar ia meremas lengan Devano. Juan pun hanya bisa menatap sedih karena ia salah sasaran.


" Kita pulang, Sayang. Ayo" ucap Devano dan ia pun membantu Sarah berdiri. Angeline masih menatap bingung karena baru beberapa menit yg lalu Sarah tampak sangat sehat.


Juan mengantar Devano dan Sarah ke mobil nya dan Devano pun memasukan Sarah ke dalam mobil sementara ia masih harus bicara dengan Juan.


"Sialan kamu, Juan" desis Devano marah "Apa yg harus ku lakukan, dia...dia masih kecil, oh Tuhan"


"Maaf, kawan. Aku tahu dia masih kecil dan otak nya masih dalam masa pertumbuhan. Tapi ya mau gimana lagi, waktu nya praktekin ilmu pembuahan" tutur Juan antara merasa bersalah dan merasa geli, karena di lihat dari gelagat Devano seperti nya mereka masih sama sama suci. Tentu Juan sangat mengenal Devano yg tak pernah dekat apa lagi menyentuh perempuan, karena itulah Juan sangat terkejut saat Devano membawa seorang gadis yg ia akui sebagai istri nya.


"Apa engga ada cara lain buat hilangin efek nya?" desis Devano lagi sambil sesekali melirik ke dalam mobil, Devano tak mau mereka bercinta dalam keadaan seperti ini. Devano mau nya mereka sama sama suka, sama sama sadar.

__ADS_1


"Sayang nya engga ada, kawan. Dia akan tersiksa sampai kamu memberi nya kepuasan" bisik Juan yg membuat Devano mengepalkan tangan nya.


"Sialan kau, awas saja nanti kamu..."


"Dev..." Sarah mengintip Devano dan tampak sekali gadis nya itu tersiksa dan bahkan seperti nya akan menangis. Devano semakin kalang kabut dan panik.


"Sudahlah, rezeki mu. Tapi kalau kamu engga mau, aku bisa menggantikan mu...."


"Aku bunuh kau..."desis Devano tajam saat Juan hendak melangkah. Juan terkekeh dan ia membukakan pintu untuk Devano.


"Have a great night, Sarah" ujar Juan misterius yg membuat Sarah mengerutkan kening nya namun ia tak sanggup berfikir lebih keras. Ia merasa gelisah, jantung nya berdegup kencang dan bahkan kening nya berkeringat.


Devano memerintahkan Aldo menjalankan mobil nya dengan kecepatan tinggi.


"Om, nyalakan AC mobilnya dong, panas banget neh" ujar Sarah. Bahkan ia ingin sekali melepaskan gaun nya yg terasa gatal di kulit nya namun akal sehat nya masih bekerja.


"Sudah nyala, Nyonya" jawab Aldo. Sementara Devano hanya bisa meringis sembari memandangi Sarah. Ia terus berfikir bagaimana cara menghilangkan efek obat perangsang itu? Devano benar benar tidak punya pengalaman kalau soal seperti ini.


Sarah benar benar sudah seperti cacing kepanasan, ia bergerak tidak karuan bahkan membuat Aldo sampai bingung.


"Aldo, lebih cepat lagi" perintah Devano dan Aldo pun mengemudi lebih cepat.


Sarah meringis dan merengek tak karuan, ia merasa tersiksa tapi Sarah sendiri bingung apa yg terjadi dengan diri nya. Otak nya pun sudah blank dan akhir nya ia menangis.


Syukurlah mereka sudah sampai, Devano langsung menggendong Sarah bergegas ke dalam kamar nya. sementara Bi Eni yg melihat itu tampak bingung.


"Seperti nya sakit" jawab Aldo. Bi Eni pun bergegas menyusul Devano dan Sarah.


"Tuan, apa Nyonya Sarah sakit?" tanya Bi Eni yg membuat Devano gelagapan. Sementara Sarah semakin merengek di atas ranjang.


"Engga, Bi. Dia baik baik saja, Bibi En istirahat saja. Pekerjaan sudah selesai, kan?" Bini Eni mengangguk pelan "Ya sudah, kalian semua boleh istirahat" jawab Devano sambil mendorong Bi Eni keluar kamar dan kemudian Devano mengunci kamar nya. Membuat Bi Eni semakin bingung namun ia pun kembali ke kamar nya sendiri.


Saat Devano berbalik, Sarah sudah melepaskan gaun nya yg membuat tubuh nya semakin terasa panas. Ia meringkuk di tengah ranjang dan menatap Devano dengan tatapan memohon karena Sarah sudah seperti akan mati karena siksaan yg tak ia mengerti.


"Dev, hiks hikss..." ia merengek tak karuan. Wajah nya memerah dan ia benar benar tersiksa.


Melihat Sarah yg sudah melepaskan gaun nya pun kini membuat Devano ikut tersiksa.


"Sshtt, tenang, Sayang" bisik Devano kemudian menutupi tubuh Sarah dengan selimut namun Sarah menendang nya.


"Panas" rengek nya masih menangis "Help me, please" pinta Sarah memohon dan Devano pun mengangguk, seperti nya tak ada cara lain.


Ia pun membelai pipi Sarah dan seketika Sarah merasa seperti tersengat listrik namun entah mengapa ia merasa sangat membutuhkan sentuhan Devano.


Hingga tanpa segan Sarah menarik tangan Devano dan meletakkan nya di pipi Sarah.


"I need you and I want you, please" bisik Sarah meskipun ia tak benar benar faham kebutuhan apa yg ia maksudkan namun sentuhan Devano membuat ia merasakan sesuatu yg aneh dan seperti nya itu lah yg ia butuhkan.

__ADS_1


"I will help you, Baby. But don't angry with me and don't hate me okey? " pinta Devano.


"I love you" bisik Sarah dengan nafas yg mulai terengah. Sementara Devano tercengang, untuk pertama kalinya Sarah mengungkapkan cinta nya "So I will never ever hate you" ucap nya di sela tarikan nafas nya yg kian memberat. Devano sudah gila saat melihat Sarah yg sudah melepaskan gaun nya, dan sekarang ia semakin gila setelah Sarah mengungkapkan perasaan yang selama ini Devano tunggu. Sekarang memang saat nya, tak bisa di tunda lagi. Persetan dengan otak Sarah yg masih dalam masa pertumbuhan, Persetan dengan usia nya yg baru menginjak 17 tahun. Toh dia istri nya dan mereka saling mencintai.


Devano mencium kening Sarah dan hanya ciuman seperti itu sudah membuat Sarah mengerang dan semakin bergerak gelisah.


"Sshtt, Relax, Sayang. Relax" bisik Devano karena Sarah bergerak seolah tak sabar.


Sarah kembali menangis, ia merengek seperti anak anak yg ingin meminta es krim namun tak di perbolehkan. Jika tadi Devano panik dan takut, sekarang ia justru senang dan suka, Devano suka saat Sarah merengek dan menatap nya memohon.


Devano menurun kan ciuman nya, ia mencium sudut mata Sarah, menghapus air matanya dengan ciuman nya yg lembut membuat Sarah meremang dan semakin merasa kepanasan. Di waktu yg bersamaan, justru ia menginginkan yg lebih. Lebih dari ciuman Devano yg selembut kapas.


"Devano, please..." sekali lagi Sarah merengek.


"Sabar, Sayang. Pelan pelan saja, hem..." Devano mendaratkan bibirnya di bibir Sarah dan hal itu membuat Sarah kembali mengerang, membuat Devano semakin bergairah. Ia tersenyum senang dalam ciuman nya. Apa lagi ketika Sarah membalas ciuman nya dengan lebih panas dan agresif, bahkan seperti tak tahu malu, Sarah mengajak lidah Devano menari bersama lidah nya yg tentu membuat Devano ikut menggila.


Devano melepaskan ciuman nya saat di rasa keduanya sudah hampir tak bisa bernafas.


Wajah Sarah yg sudah berantakan dan tatapan nya yg penuh hasrat di tambah nafasnya yg terengah membuat Devano hampir tak bisa menahan diri. Nafas Devano pun memburu dengan tatapan yg menggelap. Ia juga tak sabar namun ia tahu ini pertama kali bagi kedua nya. Devano ingin melakukan nya dengan pelan, penuh cinta dan kelembutan. Devano ingin penyatuan pertama cinta nya berkesan dan indah, dan takkan pernah terlupakan.


"Devano, please..." lagi dan lagi Sarah kembali memohon.


"Iya, Sayang" jawab Devano dengan bisikan yg lembut. Ia merebahkan tubuh Sarah dengan perlahan.


Sejenak akal sehat Sarah kembali namun tubuhnya benar benar mengkhianati akal sehat nya sehingga Sarah diam saja bahkan mendesah saat tangan panas Devano menyusup ke balik punggungnya dan melepaskan sisa pakaian nya.


Sarah berusaha menutupi dirinya namun Devano mencegah nya.


"Jangan membenci ku, Sarah. Ini tidak salah, dari segala sudut pandang ini memang hak kita, Sayang" lirih Devano sebelum ia melanjutkan aksi nya. Sarah terdiam dan tak tahu harus menjawab apa karena tubuhnya sudah mengambil alih dan akal sehat nya sudah hilang. Setiap inci tubuhnya mendambakan sentuhan dan ciuman Devano.


Sarah menarik tengkuk Devano dan mencium bibir nya dengan lembut. Seolah memberi lampu hijau pada Devano.


Devano pun kembali tersenyum dan ia membalas ciuman Sarah sembari dengan cekatan ia melepaskan pakaian nya sendiri.


Hingga saat penyatuan terjadi Sarah memekik tertahan dan ia meneteskan air matanya. Seluruh tubuhnya begitu sakit dan perih hingga terasa sampai ke ubun ubun nya. Melampiaskan rasa sakit itu tanpa sadar Sarah mencakar punggung Devano membuat Devano meringis merasakan perih di punggung nya.


Sarah menangis terisak dan Devano mencoba menenangkan nya dengan ciuman yg begitu lembut dan mesra. Devano kembali menghapus air mata Sarah dengan ciuman nya. Sementara posisi keduanya masih diam tak bergerak sedikitpun.


"I'm sorry, Baby. I didn't mean to hurt you" bisik Devano dan ia mengusap kepala Sarah dengan lembut. "And I love you, I love you so much" lanjut nya yg di balas senyuman Sarah. Devano kembali mengecup kening Sarah penuh cinta.


"I love you" bisik Sarah yg membuat Devano semakin senang, gila dan hilang akal namun ia tetap berusaha mengontrol diri agar tak menyakiti Sarah. Devano pun bergerak perlahan sembari mengungkapkan cinta nya.


"I love you more than you know, Sarah"


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2