Married By Challenge

Married By Challenge
Part 112


__ADS_3

Devano yg baru saja tertidur di kejutkan dengan seseorang yang mendobrak pintu nya, emosi nya meluap di kala ia melihat siapa pelaku nya. Kakak ipar nya yg sangat dia benci, karena gara gara dia lah Devano tak bisa bertemu dengan Sarah sewaktu dirumah sakit dan Sarah menghilang sampai sekarang.


"Ngapain kamu kesini, Huh?" teriak nya marah.


"Kamu yg ngapain hidup seperti ini, Dev. Mau mati kamu, huh?" William balas teriak marah.


"Sudah sudah..." kini Freya yg berseru nyaring "Engga usah teriak teriak, pendengaran kalian masih berfungsi baik kan?" tanya nya kemudian sambil berjalan menuju jendela, Freya membuka horden hingga cahaya matahari langsung masuk ke kamar Devano, di lanjutkan dengan semua jendela yg Freya buka lebar lebar sehingga angin pun berhembus masuk.


Sementara Devano, dia malah mengambil rokok nya lagi dan menyalakan nya.


"Berhenti merokok, Dev!" tegas William hendak merebut rokok itu dari tangan Devano namun Devano tak memberikan nya.


"Pergi dari sini, sialan. Puas sekarang liat aku begini, huh? Puas?" tanya nya dan ia menyesap rokok nya.


Devano tampak sangat kurus, matanya cekung, bulu bulu halus tumbuh di sekitar pipi nya dan bahkan rambut nya sudah panjang. Keadaan itu sebenarnya membuat Freya dan William merasa sangat prihatin.


"Dev..." seru Freya lembut. Ia duduk di tepi ranjang dan berusaha mendekati Devano yg masih duduk di tengah ranjang sambil merokok. Bahkan bukan hanya asbak rokok nya sudah sangat penuh dengan puntung rokok, tapi juga tempat sampah nya "Kamu engga boleh kayak gini, Dev. Kalau Sarah tahu kamu hidup engga sehat begini, dia pasti sedih"


Devano seolah tak mendengarkan apapun, dia bahkan enggan melirik Freya, William atau pun Bi Eni dan Lolly. Dia masih terus menyesap rokok nya.


"Devano, berhenti melakukan hal bodoh, okey? Jangan kekanak kanakan. Kamu itu sudah dewasa!" seru William lagi, Devano hanya melirik William sekilas. Kemudian ia turun dari ranjang "Keluar dari sini..." geram Devano dan ia mendorong William keluar dari kamar nya "Kalian semua juga keluar!" teriak nya.


Freya menghela nafas berat, ia mencoba mendekati Devano untuk menenangkan nya.


"Dev, kita bisa bicara baik baik..." ucap nya.


"Keluar, Fe. Sebelum aku berbuat kasar" ucap nya.


Freya pun berjalan keluar dan menjauhi Devano, sementara Devano kembali ke tengah ranjang. Bi Eni dan Lolly pun juga mengikuti Freya keluar kamar.


Dan saat keluar, mereka tak mendapati William disana "Dimana William?" tanya Freya.


Dan tiba tiba William malah kembali dengan membawa ember yg penuh dengan air "Kamu mau ngapain, Will?" tanya Freya heran, namun William tak menjawab nya.


Ia menendang pintu kamar Devano dengan kaki nya, membuat Devano kembali terkejut. Dan ia semakin terkejut saat William menyiram nya dengan se ember air hingga membuat Devano basah kuyup berikut ranjang nya, ah jangan lupa kan juga rokok nya yg langsung mati.


"WILLIAM...." geram Devano marah, ia langsung melompat dari ranjang nya dan langsung menyerang William. Tak mau kalah, William pun langsung menyerang balik Devano.


Kedua nya bergulat di lantai, saling memukul, saling menindih, saling berusaha menghindari serangan satu sama lain hingga terdengar teriakan Freya.


"STOP..." teriak Freya yg melihat kedua pemuda ini kembali baku hantam. Namun kedua pemuda itu tak mau mendengar, William berhasil menindih tubuh Devano dan hendak meninju wajahnya namun Devano menangkis nya dan dengan cepat ia menjatuhkan William hingga kini Devano yg berada di atas tubuh William.


"Gara gara kamu aku engga bisa ketemu istri dan anakku..." geram Devano dan ia melayangkan tinju nya ke wajah William.


Freya yg melihat itu menjadi sangat panik apa lagi William yg masih terluka, luka tusukan di perut nya juga masih belum kering dan Freya takut jahitan nya kembali robek.


"Ku mohon berhenti!!!" teriak Freya sekencang mungkin namun kedua pemuda itu benar benar sudah tak peduli apapun.


"Dan gara gara kamu masa remaja Sarah hancur, keluarga kami juga hancur" geram William sambil berusaha melawan Devano hingga kini ia yg memimpin pertarungan itu.


Freya, Bi Eni dan Lolly pun berusaha memisahkan kedua pemuda itu, namun apalah daya. Mereka hanya gadis muda dan wanita tua yg tenaga nya tak ada apa apa nya di bandingkan tenaga pemuda yg sedang di kuasai amarah.


Terdengar deru mobil di luar, Freya segera berlari keluar berharap ia bisa mendapatkan bantuan.


"Hai..." yg datang adalah Juan, ia menyapa Freya dengan senyum manis nya.

__ADS_1


"Mereka... Mereka kelahi" ujar Freya dengan nafas tersengal, Juan mengerutkan dahi nya tak mengerti apa maksud Freya. Namun belum sempat ia bertanya, Freya langsung menarik Juan masuk dan membawa nya ke kamar Devano.


"Wow..." hanya satu kata itu yg terucap dari bibir seksi Juan saat melihat Devano dan William yg masih asyik baku hantam bahkan sampai membuat barang barang di kamar Devano berserakan dimana dimana.


"Malah wow, hentikan mereka!" teriak Freya yg mulai frustasi.


"Nanti kalau capek juga berhenti sendiri" ujar Juan santai.


Ia melihat sebungkus rokok di meja Devano, ia pun mengambil nya satu batang. Juan mencari cari korek untuk menyalakan rokok nya, dan ia menemukan korek nya yg basah di tengah ranjang.


"Di dapur ada korek kan? Ambilin dong" pinta nya dengan santai pada Lolly. Freya melongo mendengar hal itu, kini ia tahu bahwa para pria muda itu gila.


"Taun, hentikan mereka..." pinta Lolly memelas.


"Benar, Tuan Juan. Mereka bisa mati..." sambung Bi Eni khawatir.


"Engga akan, perkelahian seperti itu normal bagi pria muda" jawab Juan santai.


"Tapi William itu terluka, Juan. Jahitan di perutnya belum kering" teriak Freya.


"Jahitan?" tanya Juan dan bersamaan dengan itu William mengerang kesakitan saat Devano memukul nya tepat di pinggang nya, dan saat Devano hendak memukul nya lagi ia mengentikan aksi nya karena melihat kemeja William yg berdarah.


"William..." teriak Freya dan ia segera menghampiri suami nya yg mengerang kesakitan.


"Will, kamu kenapa?" tanya Devano panik. Ia membawa William duduk di sofa, Devano menyingkap kemeja William dan betapa terkejutnya dia melihat pinggang William yg jahitan nya robek dan mengeluarkan banyak darah.


Mereka semua pun menjadi panik begitu juga dengan Juan.


"Kita kerumah sakit sekarang!" ujar Juan. Freya dan Devano memapah William turun, sementara Juan menyiapkan mobil nya.


Devano mengelap bibir nya yg berdarah akibat pukulan William tadi, bahkan wajah nya pun babak belur begitu juga dengan wajah William.


"Cepetan, Juan..." seru Devano pada Juan, ia melihat William yg terus merintih kesakitan sementara Freya tampak sangat ketakutan.


"Aku bilang juga apa? Berhenti berkelahi" seru Freya antara kesal dan khawatir.


"Dia yg mulai..." seru William menunjuk Devano.


"Siapa suruh kamu nyiram aku?" balas Devano yg tak mau di salahkan.


"Supaya kamu tuh bangun dari kebodohan mu" seru William lagi dan kali ini Devano tak membalas nya.


Sementara Juan hanya geleng geleng kepala melihat tingkah saudara ipar ini.


Dan sesampainya dirumah sakit, beberapa perawat segera datang untuk menangani William dan juga Devano. Karena bagaimanapun pun juga luka di wajah Devano harus di obati.


Dan kebetulan sekali Helen sedang bekerja di sana dan ia yg menangani William.


Helen bertanya pada Freya bagaimana bisa jahitan William robek "Aku kan sudah bilang, luka nya engga boleh robek"


"Dia kelahi sama Devano" jawab Freya.


Helen yg mengerti masalah dua pria itu hanya bisa menghela nafas panjang.


Setelah keduanya sama sama di obat, mereka bersiap untuk pulang.

__ADS_1


"Oh My dear Helen..." seru Juan yg membuat Helen mendelik kesal.


Helen memperhatikan wajah Devano yg babak belur bahkan sebelah matanya juga bengkak, keadaan yg tak jauh berbeda dengan wajah William.


"Emang nya dirumah kamu engga ada pisau, Devano? Atau paling engga golok gitu. Jadi kalau kalian ada masalah, tinggal langsung saling tebas aja. Engga usah capek capek saling pukul" ucap Helen sarkastik yg membuat Freya dan Juan bergidik ngeri. Sementara Devano dan William hanya mendengus.


"Bagaiamana dengan luka William?" tanya Devano pada Helen.


"Cukup parah, tapi dia masih kuat kalau mau baku hantam satu atau dua ronde lagi" ucap nya lagi sambil melirik tajam William.


"Udah dong marah nya, Sayang. Kamu itu udah kayak ibu ibu aja tahu, cerewet. Cocok banget jadi ibu anak anakku" ujar Juan sambil mengedipkan bahu nya.


Helen tersenyum tipis, ia mengangkat tangan nya dan mengelus pundak Juan. Membuat Juan tersenyum namun tiba tiba...


"Aaghh..." Juan meringis dan langsung menyingkirkan tangan Helen dari pundak nya saat ia merasakan seperti di gigit semut namun lebih perih. Ternyata Helen menusuk pundak Juan dengan sebuah jarum suntik yg masih kosong.


"Makan tuh ibu anak anak mu" desis Helen.


"Ya udah, kami pulang dulu ya" ujar Freya pada Helen dan Helen mengangguk.


"Kami pulang dulu, My lovely Helen, kalau kamu kangen aku, call me, hm?" ucap nya sambil menaik turunkan alis nya. Helen mengangkat jarum suntik nya lagi dan mengarahkan nya ke mata Juan


"Mau di sini? Hm??" ancam Helen yg membuat Juan menelan ludah nya dengan susah payah dan ia langsung bergegas pergi.


Juan pun mengantar William pulang lebih dulu.


"Luka di perut mu itu kenapa? Kepala mu juga di perban" tanya Devano saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Kecelakaan" jawab William singkat.


"Mungkin kepala mu pecah karena kecelakaan, tapi luka tusukan di perut mu engga mungkin kecelakaan" ujar Devano lagi dan mendengar itu Juan langsung melirik William dari kaca mobil. Saat melihat luka William, Devano sudah tahu kalau itu luka tusukan.


"Luka tusukan? Memang nya apa yg terjadi?" tanya Juan.


William tak ingin menceritakan kejadian yg sebenarnya tapi Freya malah sebaliknya.


"Aku dan Mama di culik seminggu yg lalu, luka yg William dapatkan itu karena berusaha menyelamatkan kami"


"Kalian di culik? Kenapa? Sama siapa?" tanya Devano panik.


"Karena kasus yg aku tangani, ada pihak yg engga mau kasus ini terkuak"


"Bisa cerita lebih detail nya, Fe?" tanya Devano. Karena jujur saja, mendengar Mama mertua nya di culik membuat Devano menjadi sangat khawatir. Ia sangat menyayangi Venita seperti ibunya sendiri. Ia juga khawatir melihat kondisi William. Walaupun Devano masih marah kerana William tak mengizinkannya bertemu dengan Sarah waktu itu, tapi Devano masih menyayangi William sebagai teman nya.


"Lain kali..." jawab Freya karena kini mereka sudah sampai di rumah William.


"Jaga diri, Dev. Dan tolong jaga kesehatan mu, supaya kita bisa sama sama mencari Sarah" ujar William sebelum keluar dari mobil. Devano mengangguk dengan tatapan yg sayu.


Devano tak tahu lagi harus mencari nya kemana, Devano sudah putus asa dan ia merasa sangat frustasi. Setiap detik yg ia jalani hanya memikirkan Sarah dan bayi mereka, setiap detik yg jalani dalam hari hari nya hanya menunggu kedatangan istri dan anak mereka.


"Besok kita ketemu di kantor mu" ucap William lagi setelah ia dan Freya turun dari mobil, Devano tak langsung menjawab nya "Kamu harus urus perusahaan mu, Devano. Atau kamu akan bangkrut, kalau kamu bangkrut terus Sarah dan bayi nya nanti pulang, kamu mau kasih makan apa istri dan anak mu itu, Huh?" tanya nya yg seketika membuat Devano mengulum senyum samar.


"Jalan, Juan..." pinta nya tanpa berniat menjawab kata kata William. Namun dalam hati Devano merasa senang, arti dari ucapan William adalah Sarah masih istri nya dan keluarga nya akan mengembalikan Sarah pada Devano.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2