Married By Challenge

Married By Challenge
Part 82


__ADS_3

Sarah pulang kerumah dengan perasaan yg tak karuan, sekarang ia tak lagi berfikir bahwa pesan yg ia terima itu adalah ulah orang asing.


Sarah di sambut oleh Bi Eni "Mau saya buatkan makan malam apa, Nyonya?" tanya Bi Eni.


"Apa aja, Bi" ucap Sarah kemudian ia naik ke kamar nya. Namun tak lama kemudian ia kembali turun.


"Bibi..." panggil nya pada Bi Eni dan Bi Eni pun dengan cepat menghampiri nya.


"Ada apa?" tanya Bi Eni.


"Bi, boleh minta album foto Devano dan Caitlin?" tanya Sarah. Bi Eni sedikit mengerutkan kening nya namun kemudian ia mengangguk.


"Tunggu sebentar..." ucap Bi Eni, kemudian ia pergi dan tak lama kemudian datang lagi dengan membawakan album foto yg berisi foto Caitlin dan Devano.


"Makasih, Bi..." ucap Sarah kemudian ia kembali naik ke kamar nya.


Sarah menjatuhkan duduk di tepi ranjang dan ia terus memperhatikan foto Caitlin satu persatu. Sarah mencoba memutar ingatannya kembali pada gadis itu, Sarah sudah berusaha sangat keras namun ia tak bisa mengingat nya.


Sementara di bawah, Devano baru saja pulang dan ia di sambut Bi Eni.


"Sarah sudah pulang?" tanya Devano.


"Sudah, Taun. Lagi kamar..." jawab Bi Eni. Devano pun bergegas ke kamar nya.


Dan saat masuk, ia mendapati Sarah dengan ekspresi wajah yg sangat serius.


"Sayang..."


"Eh..." Devano terkekeh karena melihat Sarah yg tampak terkejut karena kedatangan nya.


"Kamu lagi ngapain sih?" tanya Devano sambil melepaskan jas nya dan melempar nya ke sofa. Ia menghampiri Sarah dan Devano sedikit terkejut melihat Sarah memegang album foto "Kamu liat apa?" lirih Devano.


Sarah meletakkan album foto itu, ia duduk tegap menghadap Devano.


"Ada yg ingin aku bicarakan, Dev..." ucap Sarah serius.

__ADS_1


"Tentang?" tanya Devano dan ia pun memasang wajah serius nya.


"Sebenarnya sebelum kamu kasih tahu kalau kamu punya adik, aku..." Sarah menatap takut pada Devano. Ia takut Devano marah, namun Sarah harus jujur karena ia ingin Devano juga jujur.


"Kenapa?" tanya Devano yg tak sabar, apa lagi ini mengenai mendiang adik nya.


"Aku sudah tahu kalau kamu punya adik, nama nya Caitlin Lake. Kuliah di London University. Kampus yg sama dengan kampus Kak William" ucap Sarah yg membuat Devano tercengang. Seluruh tubuh nya terasa tegang, ia bertanya tanya apakah Sarah sudah tahu siapa Caitlin? Dan bagaimana Sarah tahu soal itu?


"Aku juga tahu, di semester awal, Caitlin hilang jejak. Dia menghilang dari kampus nya" ucap Sarah lagi yg membuat Devano semakin tercengang.


"Apa maksud mu?" tanya Devano akhirnya.


Sarah menarik nafas dan mengembuskan nya perlahan.


"Aku hanya ingin jujur, Dev. Bahwa sebenarnya aku dan Jacob pernah mencari tahu tentang kamu dan semua yg berhubungan dengan mu" cicit Sarah. Devano terdiam sejenak kemudian ia tertawa sinis, membuat Sarah merasa bersalah "Aku minta maaf..." ucap Sarah cepat cepat. Ia menggenggam tangan Devano dan memberanikan diri menatap Devano.


"Jadi, Jacob bukan hanya bisa meretas cctv?" tanya Devano "Dia juga bisa meretas informasi pribadi seseorang?" Sarah mengangguk pelan.


"Tapi jangan marah, Dev. Ku mohon..." pinta Sarah memelas "Saat itu aku penasaran dengan kamu dan latar belakang mu, karena kamu sahabat kakak ku dan menikahi ku. Aku ingin tahu siapa pria yg menjadi suami ku, sementara kamu selalu tertutup bahkan pada Kak Will. Kamu bahkan engga kasih tahu dia kalau kamu punya adik... " tutur Sarah sambil tetap mempertahankan tatapan nya dengan Devano.


"Jadi?" tanya Devano sambil menatap tajam Sarah.


"Jadi yaaa aku mau minta maaf Karena sudah melakukan hal itu" lirih Sarah pelan.


"Apa lagi yg kalian tahu?" tanya Devano lagi.


"Cuma itu..." jawab Sarah setengah berbisik.


"Okey..." ucap Devano yg membuat Sarah langsung menaikkan alis nya kaget.


"Kamu engga marah?" tanya Sarah bingung. Devano malah terkekeh.


"Marah sih engga, terkejut iya. Apa lagi mengetahui fakta kamu berteman dengan seorang hacker" ucap Devano sambil tertawa kecil.


Lagi pula, apa yg di lakukan Sarah tak salah sama sekali. Justru, apa yg di sembunyikan Devano lah yg mungkin akan membuat Sarah sangat marah.

__ADS_1


"Makasih...." ucap Sarah dan ia langsung berhambur ke pelukan Devano. Devano pun menyambut nya "Dan sekarang aku ingin kamu juga jujur..." pinta Sarah sambil melepaskan pelukan nya.


"Soal?" tanya Devano sembari menyelipkan anak rambut ke telinga Sarah.


"Soal Caitlin..." ucap Sarah sambil menatap Devano seolah ingin mengorek informasi. Devano kembali terkejut mendengar pertanyaan Sarah.


"Kenapa dengan dia?" tanya Devano.


Sarah kemudian mengambil ponsel nya dan menunujukan pesan yg ia terima. Devano semakin terkejut melihat itu, dan entah kejutan apa lagi yg akan ia terima saat ini. Jantung Devano bahkan sudah lelah rasanya terus berdebar debar dengan pernyataan dan pertanyaan Sarah.


"Sayang, ini..."Devano tak tahu harus berkata apa.


"Awalnya aku fikir itu cuma kerjaan orang iseng, Dev. Tapi sudah tiga pesan dan itu sudah memberi petunjuk itu sesuatu yg serius" ucap Sarah.


"Maksud mu?" tanya Devano pura pura tak mengerti.


"Dev, kamu bilang Caitlin di perkosa. Pelaku nya menghilang dan engga ada petunjuk sampai sekarang. dan kejadian nya bersamaan dengan penyerangan terhadap Kak Will" tutur Sarah yg membuat Devano menahan nafas. Apakah ini sudah saat nya?


"Terus?" tanya Devano. Sarah terdiam beberapa saat.


"Aku merasa kasus Kak William ada hubungan dengan Caitlin. Mungkin mereka di temukan di tempat yg berbeda, tapi itu engga menutup kemungkinan bahwa gadis yg Kak William kejar malam itu adalah Caitlin" tutur Sarah yg kembali membuat sekujur tubuh Devano menegang "Kamu pasti tahu sesuatu kan tentang kasus Caitlin? Dan kamu juga pasti tahu apa maksud pesan pesan ini?" tanya Sarah.


"Dev..." seru Sarah yg melihat Devano malah melamun.


"Sarah, itu..." Devano tak tahu harus menjawab apa. Sementara Sarah menunggu dengan tak sabar.


"Devano, apa yg kamu ketahui?" desak Sarah.


"Iya" jawab Devano.


"Iya? Iya apa nya?" tanya Sarah lagi.


"Gadis yg William kejar malam itu adalah adik ku, Caitlin"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2