
Devano dan Sarah menjenguk Nandini yg saat in ini sebenarnya sudah sangat sehat, namun Dokter masih harus melakukan pemeriksaan sekali lagi untuk memastikan bahwa tubuh nya benar benar bersih dari racun. Aldo pun dengan setia menemani Nandini dan menjaga nya.
Dan saat melihat Devano, Nandini langsung menunduk dalam. Tubuhnya gemetar, melihat itu Sarah langsung mendengus pada suami nya. Devano mendorong kursi roda Sarah hingga kini mereka berada di samping bangsal Nandini.
"Maafkan suami ku, Nandini" ucap Sarah lembut "Dia sama sekali bukan pria jahat, hanya saja dia tidak bisa mengontrol diri saat yg di cintai terusik"
Nandini yg duduk bersila di atas bangsal tetap tertunduk dalam sembari menautkan jari jemari nya "Dan sebagai permintaan maaf karena hampir saja membuat nyawa mu melayang, suami ku akan membiayai kuliah mu hingga lulus dan kamu tidak perlu bekerja selama kuliah. Semua biaya hidup mu akan di tanggung suami ku"
Mendengar hal itu Nandini langsung mendongak, ia menatap Sarah tak percaya. Dia memang sangat ingin kuliah namun ekonomi keluarga nya tidak memungkinkan dan memaksa nya harus bekerja
"Apa yg istri ku katakan itu benar" sambung Devano, dan Nandini kembali menunduk dalam saat mendengar suara berat Devano "Maafkan aku" lirih Devano yg membuat Nandini kembali mendongak, terasa tak percaya ia mendengar Devano meminta maaf pada nya.
"Tidak apa apa, Tuan" jawab Nandini dengan polos nya.
"Masak iya engga apa apa setelah Devano membuat mu menelan sebotol racun?" goda Sarah yg membuat Nandini kembali menunduk. Sementara Aldo terus saja memperhatikan Nandini dan hal itu tidak luput dari pandangan Sarah dan Devano.
"Tuan Devano tidak bermaksud meracuni saya, Nyonya. Saya faham" ucap Nandini lagi.
"Terima kasih, Nandini. Kalau begitu aku harus kembali ke kamar ku" ucap Sarah dan Devano pun membawa nya keluar.
Nandini menatap pintu kamar rawat nya cukup lama, seolah memperhatikan Sarah di sana.
"Ada apa?" tanya Aldo.
"Apakah benar Tuan Devano akan membiayai kuliah ku? Dan bagaimana dia tahu aku ingin kuliah?" tanya Nandini.
"Sangat mudah bagi Tuan Devano untuk mendapatkan informasi tentang mu, dan ya, mereka memang orang orang yg sangat baik asal jangan di usik. Karena sedikit saja mereka dan orang tercinta mereka terusik, maka jangan salahkan mereka yg akan berubah menjadi singa liar yg siap menerkam"
Nandini bergidik ngeri mendengar hal itu, karena ia sendiri sudah melihat betapa mengerikan nya Devano dan sekarang ia juga melihat betapa baiknya Sarah, istri Devano.
"Mereka sangat baik pada ku yg hanya di kenal mereka selama dua hari, bukankah mereka akan sangat baik pada Lolly yg sudah bekerja bertahun tahun? Lalu bagaimana bisa Lolly melakukan semua itu?"
__ADS_1
"Rasa takut, Nandini. Rasa takut membuat seseorang menjadi buta dan bodoh, tidak bisa berfikir jernih. Seperti itu lah Lolly, karena mendapatkan ancaman, Lolly bukan hanya bertindak bodoh tapi juga buta hati dan tak berperasaan. Apa lagi itu juga mengancam bayi yg bahkan belum terlahir"
"Kasihan sekali Nyonya Sarah, apa lagi itu buah hati pertama nya" lirih Lolly "Sepertinya saya akan tetap bekerja pada Nyonya Sarah, saya janji akan bekerja dengan jujur dan baik" ucap Nandini atusias sembari menyunggingkan senyum lebar, membuat Aldo juga tersenyum.
..........
Sarah yg baru saja akan samapi di kamar nya melihat Bi Eni yg berdiri dan hendak masuk ke kamar Sarah.
"Bibi En..." seru Sarah, seketika Bi Eni menoleh dan ia pun langsung berlari tergopoh gopoh menghampiri Nyonya muda nya, mata terlihat berkaca kaca dengan hidung memerah yg sudah kembang kempis menahan tangis.
"Oh Tuhan, Nyonya Sarah..." lirih Bi Eni dan pada akhirnya ia tak bisa membendung air matanya, Bi Eni langsung berlutut dan memeluk Sarah, Sarah pun membalas pelukan nya "Nyonya, kau sehat? Kau baik baik saja? Syukurlah, Bibi sungguh tidak sabar ingin melihat mu" tutur Bi Eni sembari melerai pelukan nya. Sarah tersenyum dan menghapus air mata Bi Eni di pipi keriput nya.
"Sarah baik baik saja, Bi. Bibi Eni dari mana saja?" tanya Sarah kemudian. Bi Eni melirik Devano sekilas, sebelum akhirnya bersuara.
"Bibi mengurus Margaret, Nyonya"
"Tante Margaret? Apa sudah di temukan?" pekik Sarah.
"Kejam sekali" lirih Sarah sedih "Padahal Kak William mencintai Caitlin"
"Iya, aku tahu. Karena itulah, Margaret saat ini harus mendapatkan perawatan intensif guna menghilangkan semua pengaruh Karin, supaya Margaret bisa kembali normal dan melihat fakta yg sesungguhnya"
"Nyonya jangan khawatir, semua badai ini akan segera berakhir. Bibi tidak sabar ingin menyambut Devano junior di rumah"
"Doakan saja, Bi" ucap Sarah.
"Sebaiknya sekarang kita masuk ke kamar mu dan kamu istirahat ya" pinta Devano dan Sarah mengangguk.
"Biar Bibi yg dorong, Tuan. Bibi rindu sekali dengan Nyonya Sarah" ujar Bi Eni yg membuat Devano tersenyum simpul, hati kecil nya merasa bersalah karena ia sudah mencurigai Bi Eni. Padahal Bi Eni sudah merawat nya sejak kecil, menjaga nya seperti seorang ibu yg menjaga anak nya.
"Maafin aku, Bi. Saat itu aku..."
__ADS_1
"Bibi akan memaafkan mu asal Nyonya Sarah dan Baby Neo segera sehat dan bawa pulang" potong Bi Eni yg mengerti kemana arah pembicaraan Devano.
"Apa Devano sangat menyeramkan saat marah, Bi?" tanya Sarah sembari Devano membawa nya ke ranjang nya "Karena seperti nya Nandini sangat takut pada Devano, seperti melihat monster"
"Sangat menyeramkan, Nyonya. Lebih menyeramkan dari pada kuntilanak yg berasal dari planet lain" jawab Bi Eni sambil tertawa, membuat Sarah ikut tertawa.
.........
Karin, Airin dan Lolly di tahan di sel yg berbeda. Mereka tinggal sendirian di sel yg dingin dan gelap.
Lolly tidak bisa berhenti menangis, menangisi kebodohan dan kejahatan nya. Lolly bahkan pasrah seandainya ia di bunuh atau di hukum mati, justru itu yg Lolly harapkan. Ia tidak bisa hidup dengan rasa bersalah seperti ini. Pada Nyonya nya yg begitu baik dan tulus pada nya.
"Maafkan saya, Nyonya" lirih Lolly.
Sementara Airin, ia termenung di pijok sel. Duduk memeluk lutut nya dengan mata yg sudah sembab. Ia menyesal karena telah mengikuti bujuk rayu Karin. Padahal sebelumnya hidup Airin sudah cukup baik, kedua adiknya mendapatkan pendidikan yg sangat baik juga. Tapi sekarang? Semuanya sudah hancur, dan semua itu karena mengikuti hawa ***** nya.
Benar kata Sarah, apa yg Airin lakukan sebelumnya setimpal dengan bayaran Devano. Dan itu sudah di sepakati mereka berdua.
"Sekarang aku benar benar akan menjadi seorang nara pidana" lirih Airin sembari menangis sesegukan.
Sementara Karin, ia duduk tegak bersila dengan tatapan tajam ke depan.
Apa yg kurang?
Rencananya begitu matang, ia menyusun semuanya dengan rapi. Tapi hanya satu hal yg menggagalkan nya, kepekaan Devano terhadap kondisi Sarah.
Seandainya Devano tidak peka terhadap rasa sakit yg di keluhkan Sarah dan menganggap nya hal biasa selama masa kehamilan, masa seribu persen rencana nya akan berhasil setidak nya sampai ia mendapatkan sejumlah uang.
Tapi sekarang?
Kebencian Karin yg sebesar gunung di kalahkan dengan begitu mudah karena cinta dan kepedulian orang orang di sekitar Sarah. Rencana kejahatan yg ia susun rapi, runtuh sekejap karena cinta dan kepedulian suami dan sahabat Sarah kepada Sarah. Semua orang mendukung Sarah, mencintai Sarah, menyayangi Sarah.
__ADS_1
"Sekali saja, aku ingin menang dari mu"