Married By Challenge

Married By Challenge
Part 110


__ADS_3

Sudah seminggu William di rawat di rumah sakit, kini kondisi nya sudah sangat lebih baik karena setelah melakukan pemeriksaan ulang di kepala nya, semua nya baik baik saja, tak ada luka dalam.


Bahkan hari ini William sudah di izinkan pulang, mereka pun tentu sangat senang dengan kabar itu.


Sesampainya di rumah, mereka di kejutkan dengan Bi Eni yg tampak nya menunggu mereka. Ia berdiri di gerbang masuk rumah itu.


"Bi, ada apa?" tanya Venita. Bi Eni tampak terkejut melihat kondisi William dimana kepala nya di perban dan wajah nya masih sedikit menyisakan lebam.


"Pak William kenapa?" tanya Bi Eni.


"Kecelakaan kecil" jawab Venita "Ada keperluan apa Bi Eni kesini? Apa Devano yg menyuruh?" tanya Venita dan Bi Eni menggeleng, ia tampak sangat sedih.


"Kita bicara di dalam" ujar Jason.


Setelah berada di dalam rumah, Venita mempersilahkan Bi Eni duduk, sementara Freya hendak membawa William masuk ke kamar nya untuk beristirahat.


"Engga usah, Sayang. Aku di sini aja" ucap William karena ia ingin mendengar ada keperluan apa Bi Eni kerumah nya.


"Jadi, ada apa, Bi?" tanya Venita kemudian.


"Saya..." suara Bi Eni tampak tercekat di tenggorokan nya, mata nya memerah seperti menahan tangis.


"Apa Devano baik baik saja?" tanya Venita kemudian yg membuat Bi Eni tersenyum karena ternyata Venita masih peduli pada tuan nya.

__ADS_1


"Tidak, Nyonya..." lirih Bi Eni sedih "Saya mohon..." tiba tiba Bi Eni melorot ke lantai dan bersimpuh di depan Venita sambil menangis, tentu itu mengejutkan semua orang.


"Bi, jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik baik..." ucap Venita memaksa Bi Eni kembali ke tempat duduk nya namun ia menolak.


"Saya mohon berikan kesempatan sekali lagi pada Tuan Devano, Nyonya. Tolong biarkan dia bertemu dengan Nyonya Sarah..." lirih nya.


"Masalah nya kami pun engga tahu dimana Sarah sekarang" sambung William "Memang nya apa yg terjadi dengan Devano?" tanya nya dan terselip nada khawatir dalam suara William.


"Sudah seminggu lebih Tuan Devano selalu berada di kamar nya, dia jarang makan dan juga minum. Dia hanya terus merokok, dia juga tidak pergi bekerja" tutur Bi Eni sedih. Semua yg mendengar itu pun sangat terkejut.


"Tapi kenapa?" tanya Freya.


"Dia sangat terpukul karena Nyonya Sarah meninggalkan nya, Nyonya Sarah adalah satu satu nya yg Tuan Devano miliki" tutur Bi Eni lagi "Saya tahu, apa yg Tuan Devano lakukan memang salah besar. Tapi itu karena dia tidak tahu kebenaran yg sebenarnya, dia memang pemarah dan pendendam karena latar belakang keluarga nya. Tapi saya tahu, Tuan Devano bukanlah orang jahat, ketika dia mengetahui kebenaran tentang Tuan William dan Nona Caitlin. Tuan Devano menghentikan aksi balas dendam nya, dia berusaha keras mengembalikan apa yg sudah dia hancurkan. Dan dia sangat tulus mencintai Nyonya Sarah... "


Melihat semua orang hanya diam, Bi Eni menangis sedih. Berfikir mereka benar benar sudah menutup pintu maaf untuk Devano.


"Jadi, dia seperti itu? Mengurung diri, engga makan, engga minum, engga kerja" ujar William kemudian dan Bi Eni mengangguk sembari mengusap air matanya "Dan dia hanya terus merokok?" tanya nya lagi, sekali lagi Bi Eni hanya mengangguk.


"Kekanak kanakan sekali" gumam William.


"Bi..." sekali lagi Venita menarik Bi Eni untuk kembali ke tempat duduk nya "Kami akan menemui Devano..."


"Ma..." tegur Jason tak setuju.

__ADS_1


"Sudah lah, Pa. Apa kita engga lelah dengan kebencian ini? Dan Devano sudah berusaha memperbaiki semua nya, dia selalu membantu kita dalam segala hal"


"Tapi yg dia lakukan sangat kejam, dia memfitnah William, menjebak ku menjadi koruptor dan bahkan menikahi Sarah hanya untuk balas dendam" tutur Jason marah.


"Tidak, Tuan..." sela Bi Eni dengan tegas "Tuan Devano memang pendendam tapi dia bukan penjahat tak berperasaan" ucap nya dengan tegas.


"Taun Devano memang menargetkan Tuan Jason, karena ia berfikir Tuan Jason membiarkan anak nya yg penjahat hidup bebas tanpa hukuman sedikitpun. Bagi Tuan Devano, yg bersalah harus di hukum namun yg tidak bersalah dia tidak akan menyakiti nya sedikitpun. Seperti dia mencintai anak hasil perselingkuhan ayahnya, karena dia tahu anak itu tak tahu apapun. Tapi dia sangat membenci ibu dari adik nya, karena ibunya lah yg jahat. Seperti itu juga Nyonya Sarah, Tuan Devano sangat mencintai nya dan tak sedikitpun ada niatan menyakiti nya. Tuan Devano memperlakukan Nyonya Sarah dengan sangat baik dan memenuhi apapun keinginannya, dia bahkan meminta Nyonya Sarah pindah sekolah karena di sekolah nya dia di bully. Dan karena Nyonya Sarah tak mau pindah, maka akhir nya pembully nya yg di keluarkan"


"Benar benar bodoh dan pendek akal" geram William "Menyakiti kami sama saja menyakiti Sarah"


"Itu.... Kekurangan nya, Tuan" cicit Bi Eni kemudian "Dia memang sering berfikir pendek dan mudah menyimpulkan sesuatu sekena nya"


"Sekarang sebaiknya Bi Eni pulang dan rawat Devano dengan baik, nanti aku akan kesana, Bi" ucap Venita yg membuat wajah Bi Eni tampak senang.


"Nyonya janji?" tanya nya penuh harap.


"Iya" jawan Venita pasti, sementara Jason yg masih pada ego nya langsung pergi dari sana dan berpamitan untuk ke kantor saja.


"Aku dukung Mama..." ujar Freya "Memang nya kakak mana yg engga akan meradang kalau adik nya mengalami kejahatan seperti itu" ujar nya melirik William. Dan William tampak sangat sedih, ia mengingat kembali bagaimana kejadian itu terjadi dan jika William ada di posisi Devano, mungkin William tak akan repot repot menyusun rencana balas dendam. Dia akan langsung menghabisi nya, hanya saja kesalahan terbesar Devano adalah tak melakukan penyelidikan sedikitpun.


"Ayo, Fe... Aku mau ke kamar"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2