
William merasa aneh karena ia tak bisa tidur, ia merasa seperti ada sesuatu yg membuat hati nya resah dan gelisah. Ia bahkan merasa sedih tanpa tahu sebab nya. Ia pun melirik jam dinding yg menunjukkan pukul 1. 15.
Sambil menyetel musik, William kembali mencoba tidur namun ia masih tak bisa. Akhir nya ia pun memilih menelpon Freya.
"Ada apa, Will? Kamu baik baik aja kan?" terdengar suara khawatir sang kekasih dari seberang telpon.
"Engga, aku...entahlah, Fe. Aku merasa engga tenang. Hati ku resah, seperti ada sesuatu hal buruk terjadi" ucap William.
"Mungkin kamu cuma lelah aja, Will"
"Ya, semoga saja begitu" lirih William "kamu udah mau tidur?"
"Tadi nya iya, tapi sekarang engga. Mending kita ngobrol, mau video call?"
"Ide bagus, Sayang"
.
.
.
Sementara itu, Sarah yg tidur terbangun saat ponsel nya berdering. Dan saat di lihat Devano yg menelepon, Sarah langsung menjawabnya.
"Halo, Dev..." seru Sarah sambil duduk dan kemudian menyalakan lampu di samping tempat tidur nya.
"Dev..." panggil Sarah lagi karena Devano hanya diam saja dan itu membuat Sarah khawatir "Are you okey?" tanya Sarah dengan suara rendah.
"I let her go..." terdengar suara bisikan Devano dari sana dan seketika Sarah terdiam saat memahami apa maksud Devano "Dia sudah pergi, Sarah. Sekarang aku udah engga punya siapa siapa lagi" Devano kembali berbicara dengan suara yg tercekat.
"Jangan bilang begitu, Dev" lirih Sarah "We are here for you. Dan kamu masih punya aku, your wife" lirih nya.
Devano tak menjawab nya, hanya terdengar helaan nafas yg berat, Sarah bisa membayangkan betapa terluka nya Devano sekarang karena dia sudah melepaskan Caitlin.
"Dev, haruskah aku menyusul mu kesana?" tanya Sarah yg sudah tak tahu lagi harus menghibur Devano seperti apa.
"Engga, Sayang" Sarah bernafas lega karena Devano menjawab nya "Aku akan pulang beberapa hari lagi"
__ADS_1
Dan setelah mengucapkan hal itu, Devano kembali terdiam dan terdengar suara isakan kecil yg membuat hati Sarah terkesiap. Devano menangis? Sarah tak percaya seorang Devano bisa menangis dan jika Devano menangis itu berarti dia memang benar benar terluka sekarang.
"Dev, its okey" ucap Sarah lembut "Everything will be alright, kamu sudah melakukan hal benar, Dev"
"I hurt her, I can't be good brother" lirih Devano "Aku seharusnya bisa menjaga nya, Sarah. Seharusnya aku engga pernah mengirim dia ke London" ucap Devano di sela isak tangis nya dan tanpa sadar Sarah juga meneteskan air matanya membayangkan seorang kakak yg kehilangan adik satu satu nya.
"Aku benar-benar menyesal, Sarah. Aku... Aku engga mau dia pergi"
"Dev, engga ada yg perlu di sesali. She loves you, dan aku yakin Catty engga mau kamu sedih dan menyalahkan diri sendiri"
"Tapi...tapi aku sudah sangat jahat, kan?"
"Engga, kamu kakak terbaik yg ada di dunia dan suami terburuk di dunia" hibur Sarah dan terdengar kekehan hambar dari seberang telpon.
Kemudian Kedua nya terdiam, namun sudah tak terdengar lagi isak tangis Devano. Sarah pun ikut merasakan sedih karena Caitlin sudah tak ada meskipun ia tak pernah benar benar mengenal Caitlin, tapi Sarah merasa ada ikatan tersendiri antara dirinya dan Caitlin.
"Dev..." panggil Sarah lagi karena Devano yg terdiam cukup lama. Terdengar Devano yg menggumam dari sana "You still cry?" bisik Sarah.
"No" jawab Devano.
Hati Sarah seperti di cubit melihat Devano yg seperti pria tak berdaya.
Keduanya sama sama diam, Sarah terus memandangi Devano tapi Devano terus menghindar tatapan Sarah.
"Berapa lama kamu engga tidur?" tanya Sarah kemudian dan Devano hanya mengedikan bahu nya "Sebaiknya sekarang kamu tidur" pinta Sarah lagi namun Devano hanya menggeleng. "Ayo lah, Dev. Aku engga mau kamu sakit" bujuk nya dengan wajah sedih. Dan terlihat Devano yg merebahkan dirinya.
"Ya udah aku mau tidur, kita bicara lagi nanti" ucap nya dengan suara parau tapi Sarah menggeleng.
"Jangan matikan ponsel nya" pinta Sarah yg membuat Devano mengerutkan dahi nya.
"Kenapa?"
"Ikuti saja mau istri mu ini, letakkan ponsel mu di sisi mu. Aku mau liat kamu benar benar tidur apa engga" ucap Sarah dan terlihat Devano yg mengulum senyum dan tentu hal itu membuat Sarah senang.
"Apa ini gaya pacaran ala remaja?" tanya Devano yg membuat Sarah tersenyum geli.
"Aku engga tahu, aku engga pernah pacaran sama remaja. Karena di masa remaja ku, aku sudah menikah dengan lelaki tua"
__ADS_1
"Aku belum tau, aku baru akan menginjak 26 tahun. Aku adalah pria dewasa" jawab Devano yg tak mau kalah. Dan melihat Devano yg kembali ke habitat nya membuat Sarah merasa senang.
"Okey, pria dewasa. Sebaiknya kamu tidur, aku akan mengawasi dari sini" seru Sarah dan Devano mengangguk. Ia meletakkan ponsel nya di sisi tempat tidur dengan kamera yg masih mengarah pada nya.
Devano memandang Sarah dan Sarah pun melakukan hal yg sama, hingga perlahan Devano memejamkan mata nya dan Sarah masih setia memperhatikan suaminya itu.
.
.
.
London...
Devano tak bisa tidur namun ia merasa lebih baik setelah berbicara dengan Sarah apa lagi sekarang Sarah memperhatikan nya walaupun hanya lewat layar ponsel.
Devano kembali membuka matanya dan Sarah masih setia memperhatikan nya.
"Tidur, Dev" seru Sarah yg membuat Devano merasa seperti bocah yg di suruh tidur suster nya.
Devano pun kembali memejamkan mata dengan bayangan akan Sarah dan adiknya.
Devano merasa begitu kehilangan dan ia bahkan menangis untuk pertama kalinya setelah kematian kedua orang tua nya. Devano juga merasa sangat bersalah karena telah menyiksa Caitlin, maksud hati ingin menyembuhkan Caitlin tapi ternyata itu malah menyiksa nya.
Dan sekarang, yg dia miliki hanyalah Sarah. Dan apa Sarah bilang tadi? Your wife?.
Devano seperti mendapatkan semangat baru, cahaya baru dalam hidup nya. Benar, sekarang dia masih memiliki Sarah, istrinya. Dan Devano akan selalu menjaga Sarah, mencintai nya sepenuh hati dan tak akan membiarkan Sarah pergi dari nya.
Devano terbangun setelah satu jam lebih tertidur, dan saat bangun tidur, yg ia fikirkan adalah Sarah dan itu membuat nya tersenyum. Devano mengecek ponsel nya dan ternyata masih menyala.
Dan kini gantian Devano yg melihat Sarah sedang tertidur pulas dengan mulut yg sedikit terbuka, membuat Devano tersenyum dan ingin sekali ia mengecup bibir itu dan ******* nya seperti yg dia lakukan di mobil waktu itu.
"I love you, Little girl. Mimpi indah, Sayang".
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1