Married By Challenge

Married By Challenge
Part 116


__ADS_3

Naina mendatangi apartment Juan dengan membawa pancake yg ia buat sendiri, Naina tahu alamat Juan dari Vino.


Sementara Juan, pria itu sangat terkejut saat melihat yg bertamu kerumah nya adalah Naina.


"Ada apa?" tanya Juan heran.


"Permintaan maaf..." ucap Naina sembari mengangkat papar bag yg di dalam nya berisi pancake.


"Kamu engga lagi merencanakan sesuatu kan?" tanya Juan lagi sambil menatap Naina penuh selidik.


"Maksud mu? Seperti menaruh obat perangsang di pancake ini?" tanya Naina sambil tertawa renyah, dan tawa itu menular pada Juan. Ia pun membuka pintu nya lebih lebar dan mempersilahkan Naina masuk.


Awalnya Naina merasa gugup, ia bertamu sendirian ke sarang buaya namun Naina jiwa nakal Naina sedang mendominasi saat ini. Apa lagi ia benar benar merasa bosan tanpa Jacob dan Sarah, ini juga pengalihan dari segala fikiran dan perasaan nya yg terus bekecamuk memikirkan sahabat dan kekasih nya.


"Kamu tinggal sendirian?" tanya Naina sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang yg ada di ruang tamu, sementara Juan mengambil piring untuk menikmati pancake Naina.


"Iya, tenang aja. Kalau kamu mau kesini setiap hari engga masalah" jawab Juan menggoda.


"Ide bagus, tapi bukannya kamu adalah orang yg sibuk? Secara kamu itu big bos"


"Aku selalu ada waktu untuk wanita...." Juan duduk berdekatan dengan Naina dan mencoba menyentuh pundak Naina "Ku" lanjut nya.


"Aku bukan wanita mu..." ujar Naina dengan cepat namun ia tak menunujukan kemarahan nya karena Juan telah menyentuh pundak nya.


"Aku tahu, kamu tipe yg setia..." ucap Juan dengan nada mengejek, ia pun duduk sedikit menjauh.


"Kata Papa, kamu bilang kamu menyukai ku" ujar Naina lagi sambil menata pancake nya di piring dan menyiram nya dengan saus cokelat, terlihat sangat menggairahkan.


"Ya, aku memang menyukai mu. Aku fikir Papa mu akan senang kalau anak gadis nya di sukai bos seperti ku"


"Lalu?"


"Lalu... Papa mu bilang kamu sudah bertunangan dan kamu sangat mencintai tunangan mu"


"Lalu?"


Juan tersenyum miring, kini ia kembali mendekati Naina.


"Lalu aku engga pernah melepaskan apa yg aku suka, aku selalu mendapatkan apa yang ingin aku dapatkan"

__ADS_1


"Karena itulah aku di sini sekarang, Juan..." jawab Naina santai yg tentu membuat Juan tampak tak mengerti "Aku tahu apa yg kamu mau, tubuh ku, bukan? Kamu selalu menatap semua wanita itu sama seperti ibu mu, dan kamu selalu berfikir semua hubungan sama seperti hubungan kedua orang tua mu" tutur Naina yg membuat Juan terdiam, karena apa yg katakan itu sangat benar.


Bagi Juan, semua wanita itu sama. Dan semua hubungan itu sama, hanya untuk berenang senang dan sebuah perselingkuhan itu hal yg biasa.


"Kamu tahu, mungkin saja ibu mu itu juga korban dari pria seperti mu. Yg tak percaya hubungan, cinta, dan hanya merayu dan mempermainkan wanita. Dan kalau kamu begini terus, kamu bahkan engga ragu merayu wanita yg sudah punya suami dan punya anak, lalu saat anak wanita itu tahu apa yg ibu nya lakukan, maka dia akan sama seperti Juan Barnard. Kamu membuat dia merasakan apa yg kamu rasakan, kamu membuat dia akan menjadi seperti kamu, engga percaya hubungan dan menjadi bajingan. Dan korban dia pun pasti akan sama, intinya itu akan terus berlanjut "


Naina berkata sambil terus menatap Juan yg saat ini juga menatap nya. Juan tampak tak terima dengan apa yg Naina katakan, namun hati kecil Juan membenarkan itu. Juan memang pernah tidur dengan seorang wanita yg sudah bersuami dan memiliki anak, dan itu bukan hanya satu atau dua wanita.


"Simpan saja semua ceramah mu, Naina. Aku sudah engga tertarik lagi sama kamu" Juan berkata dengan sangat dingin pada Naina.


Naina menanggapi nya dengan senyum lembut, kemudian ia mengulurkan tangan nya pada Juan dan berkata "Friend?"


"What?"


"I want to be friends with you"


Juan tertawa sinis mendengar ucapan Naina "Aku engga berteman dengan wanita, aku cuma berkencan" ucap Juan lagi.


"Ayo lah, Juan. Aku akan senang kalau menjadi wanita pertama yg menjadi teman mu"


"Kamu engga takut jatuh cinta sama aku, Naina? Aku pandai membuat wanita bertekuk lutut di hadapan ku"


"Kalau aku takut, aku pasti akan jatuh cinta"


"Ayo kita lihat, apa kamu memang pandai membuat wanita bertekuk lutut atau jangan jangan wanita wanita itu memang sedikit murah?"


Gelak tawa Juan pecah mendengar ucapan Naina, ia benar benar tak menyangka Naina akan mengatakan seperti itu. Dan ini justru membuat Juan semakin tertarik dengan Naian.


"Friend..."Juan mengulurkan tangan nya dan Naina langsung menyambut nya.


"Friend..." jawab nya dengan senyum yg mengembang di bibir nya.


.........


Devano turun untuk makan malam setelah di panggil oleh Venita. Di meja makan semua sudah berkumpul termasuk Jason, Juan duduk di samping Venita. Dan Jason memperlihatkan ketidak sukaan nya.


Bahkan, Jason langsung bangkit berdiri, menunjukkan ia enggan makan satu meja bersama Devano. Namun Devano malah tampak santai, ia bahkan meminta Venita mengambilkan sayur untuk nya. Membuat Jason menggeram kesal.


"Makasih, Ma..." ujar Devano sambil mengulum senyum. Venita dan Freya tampak sedih dengan sikap dingin yg di tunjukan Jason, namun William dan Devano malah tampak sangat santai.

__ADS_1


"Ma, tambah nasi nya..." pinta Devano lagi saat Jason hendak pergi. Jason langsung berbalik dan kembali ke meja nya, ia berfikir ini rumah nya dan kenapa harus dia yg pergi?


"Ma, ambilin nasi dan lauk pauk nya..." pinta Jason menyodorkan piring pada Venita, Venita hanya terkekeh dan menuruti permintaan suaminya.


"Kami semua bersama sama di sini, Sarah. Dimana kamu? Apa kamu engga kangen sama kami? Apa kamu engga mikirin bagaimana hidup kami tanpa mu? Setiap hari saat membuka mata, aku selalu berharap aku bisa melihat mu, Sayang"


Devano mengerjap berkali kali guna menghilangkan air mata yg sudah menumpuk di pelupuk mata nya, kebersamaan ini bukan nya mengobati rasa rindu akan istrinya justru malah membuat rasa rindu itu semakin besar.


"Mau tambah ikan nya, Dev?" tanya Venita basa basi, karena ia melihat Devano melamun.


"Engga, Ma. Makasih" ucap Devano dan ia melanjutkan makan malam nya.


Selama makan malam, tak ada yg bicara. Mereka memang bersama, namun mereka tak merasakan kebahagiaan tanpa gadis kecil mereka. Terutama Venita, tiada hari dan malam yg ia lewati tanpa memikirkan putri kecilnya yg sedang mengandung. Namun ia bisa apa selain berdoa dan berharap?


Setelah makan malam, Devano kembali ke kamar nya. Ia membuka lemari pakaian Sarah, Devano menyentuh setiap baju yg tergantung rapi di sana. Membayangkan Sarah mengenakan pakaian pakaian itu. Devano tersenyum tipis dan matanya kembali terasa panas, hingga suara pintu yg terbuka mengejutkan nya.


William masuk dan ia juga memperhatikan barang barang Sarah "Dia gadis yg pemberani, dan cerdas" lirih William.


"Ya, sangat cerdas. Sampai sampai kita tidak tahu lagi harus mencari dia kemana" ucap nya kemudian membuka jendela kamar nya lebar lebar, seketika angin pun berhembus masuk.


"Dan adik mu, Caitlin..." ujar William lagi dengan suara yg tercekat "Dia sangat manis" Devano langsung menoleh dan mendapati raut wajah William yg tampak sangat sedih.


"Kamu ingat dia?" tanya Devano karena William memang belum bercerita bahwa sebagian ingatan nya kembali.


"Ya" jawab William lirih "Maaf, Devano... Aku engga bisa menyelamatkan Caitlin, aku tahu aku berdosa karena membiarkan Caitlin mengalami semua itu. Aku benar benar minta maaf" lirih William lagi dengan mata yg berkaca kaca. Devano hanya terdiam, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa "Aku merasa malu menyebut diri ku sebagai laki laki, tapi aku engga bisa...."


"Itu sudah berlalu" jawab Devano dengan cepat karena ia melihat raut wajah William yg tampak tersiksa saat membicarakan Caitlin "Terima kasih sudah berusaha menyelamatkan nya, William. Kamu bahkan mempertaruhkan nyawa mu untuk adik ku"


"Aku mencintai nya..." lirih William sambil menunduk dan ia menjatuhkan diri nya di tepi ranjang.


Devano tertawa kecil mendengar pengakuan William itu, ia tahu William mengatakan yg sebenarnya dan ia tertawa karena William mencintai gadis yg hanya beberapa kali ia temui.


"Bagaiamana dengan Freya?"


"Tentu aku juga mencintai nya, sebesar aku mencintai Freya sekarang, sebesar itulah aku mencintai Caitlin dulu. Walaupun kami cuma bertemu beberapa kali"


"Kamu gila, William. Itu engga masuk akal"


"Cinta memang gila, karena itu lah cinta engga akan pernah bisa masuk akal"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2